"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 28, 2012

Eight Drama - Chapter 2



“Pagi Ji Han, pagi Bu..” sapa Ji Jeong pagi itu.

“Tidur kalian nyenyak?” sambungnya lagi.

“Pagi kakak.. tidurku nyenyak, bagaimana denganmu?” Ji Han sedang membantu ibunya di dapur memasak sarapan pagi untuk mereka.

“Tidurku juga nyenyak. Masak apa nih? Wangi sekali. Masakanmu?” tanyanya sambil mencuil sepotong daging dari piring.

“Iya, aku yang masak pagi ini. Ibu sedang berbelanja di pasar, sebentar juga pulang. Kamu makanlah dulu” jawabnya saat meletakan semangkok nasi untuk Ji Jeong.


“Kamu cakep sekali kak, pakaianmu keren.. Kamu kerja dimana?” tanya adiknya terpesona.

“Haha.. baru kali ini ada wanita yang mengatakan aku cakep, mereka biasanya menyebutku tampan tahu” candanya sambil memasukan sebuah kentang kedalam mulutnya dengan sumpit aluminium.

Di Korea, penduduknya tak memakai sumpit berbahan kayu atau bambu, mereka lebih memilih memakai sumpit yang berbahan aluminium. Selain untuk mencegah penimbunan sampah kayu dan bambu yang berlebih, sumpit aluminium juga mampu untuk mendeteksi adanya racun didalam makanan.

“Yah.. apa bedanya cakep dan tampan sih?” kata Ji Han merajuk. Dia meletakan sebuah gelas berisi air untuk kakaknya.

“Iya..Iya.. ngomong-ngomong kamu sekarang kelas berapa?” tanya kakaknya lagi masih dengan mulut penuh berisi makanan.

“Kamu sendiri belum jawab pertanyaanku kak..” jawab Ji Han.

“Pertanyaan yang mana? Aku kan sudah jawab. Aku tampan bukan cakep” kikiknya geli.

“Yah.. kamu ngerjain aku ya? Aku tadi tanya, kamu kerja dimana? Bajumu keren” kata nya lagi sambil menunjuk kakaknya dengan sumpit ditangan.

Kakaknya tertawa terbahak-bahak, bukannya menjawab pertanyaan adiknya, dia malah menyodorkan sebuah kentang yang telah dikupas ke mulut adiknya. Ji Han pun memakannya dengan lahap.

“Makan pelan-pelan, nanti tersedak. Nih, minum dulu” Ji Jeong memberikan gelasnya pada Ji Han.

“Aku kerja di Pabrik penggilingan, dekat sawah tempat kita sering menangkap belut dulu, ingat tidak?” tanya kakaknya.

Mulut Ji Han membentuk huruf “O”. Katanya “Oooo.. wah, hebat donk. Kamu kerja dibagian apanya kak? Jadi sopir seperti ayah?” tanya Ji Han antusias.

“Ya.. masak pakaian sekeren ini, pakai dasi, jas dan setampan ini jadi sopir truk? Ada-ada saja kamu Ji Han” sungut kakaknya.

“Terus jadi apa donkkk kakk? Aku kan tidak tahu. Kamu susah sekali sih ditanya pertanyaan simpel gitu” jawab Ji Han mulai kesal.

“Hehe.. sudah jangan ngambek. Aku beri tahu. Aku bekerja di kantor pusat. Baru dibangun lima tahun yang lalu di samping pabrik. Dari sana lah semua pengaturan dan perintah keluar. Semua keputusan di ambil dari sana” kata Ji Jeong.

“Kenapa semua keputusan diambil dari sana kak? Memangnya tempat apa itu?” tanya Ji Han bodoh.

“Hh.. ehm.. bagaimana ya bilangnya. Jadi disana, dikantor pusat tempat CEO berada. Kamu tahu kan CEO? Bahasa kerennya Presiden Direktur” tawanya melihat wajah Ji Han yang melongo.

“Presiden Direktur? Seperti Presiden Korea?” tanya Ji Han semakin takjub dengan penjelasan kakaknya.

“Yah, lebih kurang lah. Kalau Presiden Korea kan memimpin negara. Kalau Presiden Direktur ya memimpin suatu perusahaan. Dan Presiden Direktur ini memimpin beberapa perusahaan dan anak perusahaan yang dia miliki. Mereka sangat kaya, kamu tahu” jelas kakaknya lagi. Kini nasi di mangkuknya telah habis.

“Cukup denganku, kamu belum jawab pertanyaanku juga. Sudah kelas berapa sekarang?” tanya Ji Jeong sambi menaruh mangkoknya di atas meja dan meneguk air di gelasnya hingga habis.

“Aku sudah tamat kak, baru saja. Sekarang aku ingin bekerja, agar bisa membantu ibu” wajah Ji Han bercahaya saat mengatakan hal itu.

“Coba aku tanyakan pada temanku ya, siapa tahu ada lowongan yang cocok untukmu disana. Aku berangkat dulu”

“Kamu baik-baik ya dirumah, jaga ibu” lanjutnya.

Ji Jeong kemudian bangkit dari duduknya dan mengecup pipi adiknya sebelum berangkat ke tempatnya bekerja dengan bus khusus milik pabrik.

~~~~

“Ji Han.. makan siang dulu. Nanti lanjut menjahit lagi” panggil ibunya pada Ji Han yang sedang menjahit kancing baju kakaknya yang terlepas.

“Kakakmu pasti sangat senang melihat bajunya bisa dipakai lagi. Ibu sudah suruh dia mencari seorang wanita untuk dinikahi agar ada yang mengurusnya. Sekarang usianya sudah tiga puluh satu tahun dan dia tak pernah memperkenalkan satu wanita pun pada ibunya. Jangan-jangan kakakmu tidak tertarik pada wanita?” tanya ibunya sambil bergidik.

“Amit-amit jabang bayi” lanjut ibunya sebelum berlalu ke depan, ke toko mereka.

Ji Han hanya tertawa mendengar lelucon ibunya tentang kakaknya. Kakaknya memang sudah cukup umur untuk menikah, namun dia tak tahu mengapa kakaknya belum juga ingin menikah.

“Apakah ada hubungannya dengan dia sibuk mencariku selama ini hingga dia melupakan keinginannya untuk menikah?” keluh Ji Han dalam hatinya.

Ji Han telah selesai menjahit dua buah baju milik kakaknya, tinggal dua potong lagi saat seorang pelanggan berbelanja di toko milik keluarganya. Dia sedang berada dibalik tirai penyekat tipis di bagian belakang rumahnya hingga tak terlihat dari depan ataupun sebaliknya.

“Ibu.. aku ingin beli air mineral. Panas sekali nih” suara laki-laki muda terdengar dari depan toko.

Dia mengipas-ngipaskan tangannya dengan sia-sia karena keringat masih mengucur dari tubuhnya.

“Dari mana saja kamu? Kok keringatan begini?” teriak ibu Ji Han pada laki-laki muda yang merengut di depannya.

“Ayo masuk dulu, duduk disini disamping kipas angin” kata nya lagi sebelum mengambilkan sebotol air mineral dingin dari kulkas dan membukanya untuk laki-laki itu.

Setelah menengguk airnya dengan nikmat, laki-laki itu menoleh ke arah belakang toko. Menyadari sosok Ji Han yang sedang duduk dilantai.

“Siapa itu bu dibelakang? Aku tak tahu kalau Ji Jeong sudah menikah, dia tak pernah memberitahuku” tanyanya sedikit kecewa.

“Haha siapa bilang Ji Jeong sudah menikah? Itu Ji Han. Adik Ji Jeong. Dia sudah kembali” setitik air mata keluar dari wajah si ibu.

“Adik Ji Jeong? Ji Han?” tanya nya lagi.

“Kamu mungkin tidak tahu, saat usiamu sepuluh tahun, kalian pergi ke Seoul dan menetap disana lama sebelum kembali kesini. Suamiku membawanya dengan paksa dan memisahkan kami. Kini suamiku sudah meninggal, kami bisa berkumpul kembali” jawabnya haru.

“Hoo.. begitu. Pantas aku tak pernah melihatnya. Cantik gak bu anakmu? Kenalin donk. Hehehe” dia tertatawa terkekeh merayu si Ibu untuk mengenalkannya pada Ji Han.

“Jung Nam!! Anakku masih kecil... cari cewek lain sana” canda si Ibu riang.

“Yah.... aku kan juga masih kecil bu. Jung Min baru sudah tua tuh..” rengeknya mengoreksi kata-kata si Ibu.

“Oh ya, Tuan Jung Min kemana? Sudah lama aku tak melihatnya” tanya si Ibu dengan penasaran.

Jung Nam memandang si ibu cemburu. “Kenapa cuma dia yang ibu panggil tuan sih? Aku kan adiknya. Ibu pilih kasih” jawab Jung Nam manja.

“Memang kamu mau dipanggil Tuan Jung Nam?” tanya si Ibu serius.

Jung Nam hanya terkekeh sambil mengangkat tangannya. “Tidak tidak.. biarkan saja si Perfeksionis Jung Min yang mendapat panggilan Tuan. Dia lebih cocok karena tak ada yang berani padanya. Hahahaha..”

“Dasar kamu... Gitu-gitu dia kakakmu lho Jung Nam. Tapi kenapa aku selalu merasa gugup diampingnya ya? Dari dia kecil aura itu sudah ada, meski dia tak mengatakan sesuatu, hanya dengan matanya saja dia mampu membuat orang lain membuang muka karena takut padanya” geleng-geleng si Ibu heran.

“Jangan heran bu.. Jung Min dilatih begitu oleh ayah kami. Meski terlihat garang, dia anak yang baik” Jung Nam tersenyum lembut membayangkan kakaknya yang dingin.

Sejak kematian ayah mereka, Jung Min telah memimpin perusahaan Park dengan sangat baik. Dia membangun perusahaan mereka dengan lebih baik dari ayahnya. Anak-anak perusahaan dan pabrik-pabrik baru dibangun dibawah perintahnya. Kini mereka telah menguasai pasar Asia dan bersaing dalam pasar Internasional. Hanya tangan besi seorang Jung Min lah yang mampu memimpin perusahaan dengan sangat baik. Jung Nam sangat mengagumi kakaknya.

“Jung Nam, aku tahu ini terlihat buruk karena aku langsung meminta padamu, tapi apakah kamu tahu ada lowongan pekerjaan yang cocok untuk Ji Han?” si Ibu menatap Jung Nam dengan ekspresi memohon, mencoba untuk meluluhkan hati laki-laki muda itu agar mau mencarikan pekerjaan untuk Ji Han.

“Mungkin ada pekerjaan di pabrik, bila Ji Han mau dia bisa langsung datang kesana dan mencariku. Aku akan menyuruh direktur tenaga kerja untuk mengurusnya” kata Jung Nam sambil membuka sebuah biskuit dan memakannya dengan sekali lahap.

“Di pabrik? Tapi dia masih kecil. Kalau pekerjaan selain di pabrik tidak adakah?” tanya ibunya cemas.

Dia tak ingin anaknya bekerja di pabrik dan mengurusi gandum sepanjang hari. Tangannya yang halus akan menjadi kasar sehingga tak ada laki-laki yang akan menyukai tangannya itu.

“Hmm.. coba aku tanyakan teman-temanku ya bu. Siapa tahu mereka tahu pekerjaan di dekat sini, mungkin penjaga toko? Atau pelayan restoran?” tanya Jung Nam mencari izin bila pekerjaan itu disetujui oleh si Ibu.

“Ya..ya.. pekerjaan itu tak apa-apa. Dia tak perlu untuk bekerja seharian penuh dan kelelahan. Maaf aku meminta banyak padamu Jung Nam” kata si Ibu malu.

“Haha tak apa-apa bu. Aku dan Ji Jeong berteman dan kita sudah mengenal lama, apapun, pasti akan aku bantu. Apalagi untuk adik Ji Jeong. Siapa tahu nanti kami boleh berkenalan, kan?” canda Jung Nam pada si Ibu.

Jung Nam pun berpamitan dari sana dan mengendarai motor MV Agusta hitam miliknya. Melaju dengan kencang dengan suara yang memekikkan telinga. Dari jarak 5kilometer pun suaranya masih terdengar. 

9 comments:

  1. we want more
    we want more
    eh tpi tunggu aku teriak2 sendiri kok
    ganti2...
    i want more
    i want more
    hehehehe
    piss mbae...
    cha yo mbae...

    ReplyDelete
  2. mba shin, ni crita klo di jadiin sinetron drama korea pasti aku nnton ni, bru baca bab 2 udh suka bgt..xixixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi sist... kl sampe cerita ini dijadiin drama korea, kyk nya pasti karena di korea udah kehabisan penulis deh ^__^

      Delete
    2. hahahaha....critanya g kalah bgus kok mba am drama koreanya sndiri

      Delete
    3. hahah makasi... ^__^ kira2 siapa ya yg cocok jd jung min n ji han? lol...

      Delete
    4. waduuuuhh..aku artis2 korea g tw nama2nya mba,xixixi

      Delete
    5. sama sist, aku jg gak banyak tahu ahahhaha

      Delete
  3. Mbak shin chapter 1 nya gak bisa di bukak :( aq lgsung baca ke chap 2

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.