"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 29, 2012

Eight Drama - Chapter 3



“Maaf kalian menungguku lama. Sudah memesan makanan?” tanya Jung Nam pada kakaknya.

“Biar Jung In saja yang memesan, pesta hari ini khusus untuk merayakan kelulusannya dari high school” sela ibunya.

“Kemana saja kamu? Kami sudah menunggumu satu jam lebih” kata kakaknya dingin.

Jung Nam menjatuhkan pantatnya pada kursi yang empuk. Punggungnya bersandar santai, lengannya memeluk bahu ibunya dengan lembut.

“Yah, Mr. Presiden Direktur, rileks... hari ini santailah sebentar. Aku sudah capek mengendara motor dari jauh dan begini sambutanmu. Benar-benar tak COOL” katanya bercanda.


“Sialan kamu. Aku ada janji rapat dengan Presiden Direktur EcoProduct sebentar lagi dan kamu telah menyia-nyiakan waktuku yang berharga” jawabnya gusar.

“Sudah..sudah.. kalian selalu saja seperti kucing dan anjing. Bertengkar dimana-dimana. Sekarang semuanya diam dan kita nikmati pesta kali ini. Kalau tidak, kalian tidak boleh pulang kerumah malam ini. Mengerti?” ancam ibu mereka galak.

Mereka pun tertunduk diam dan membisu, mata mereka masih bertarung dan saling melemparkan pandangan mengancam “awas kamu nanti malam”

Jung In menutup mulutnya dan tertawa mengikik.
“rasakan..” cetusnya pelan.

Kakak-kakaknya hanya melotot padanya.

Oppa.. kalian benar-benar seperti anak kecil. Kalian sudah berjanji makan denganku, jadi anak baiklah. Untukku, OK?” bujuk adiknya.

Mereka pun melunak. Mereka memang tak sanggup untuk menolak permintaan adik mereka itu. Dia sungguh manis dan manja, namun dia bisa menjadi sangat emosi bila kewalahan menghadapi kakak-kakaknya yang selalu bertengkar meskipun mengenai masalah kecil.

Tapi pertengkaran kakak-adik itu tak pernah berlangsung lama, mereka akan segara akur kembali karena memang tak ada yang dipertengkarkan. Mereka hanya terlalu dekat hingga mengetahui sifat masing-masing sehingga ingin saling menjaga satu sama lain.

“Kemana saja kamu hari ini?” tanya Jung Min pada Jung Nam disela-sela makan mereka.

“Aku melihat pabrik di Incheon kemudian langsung terbang ke sini, namun aku mampir dulu ke pabrik di Desung, ada kebocoran pipa disana namun masalahnya sudah beres. Sebelum berangkat ke sini, aku mampir ke tempat biasa. Ibu Sung menanyaimu. Dia kangen padamu” gelak tawa Jung Nam menggoda kakaknya.

Jung Min memelototinya. “Oh ya, kamu ingat bayi kecil adiknya Ji Jeong yang dulu berisik waktu kita berbelanja kesana? Dia sudah besar sekarang” lanjut Jung Nam.

“Bayi kecil? Memang dimana kamu melihatnya?” tanya Jung Min pura-pura tertarik.

“Dia baru saja pulang, waktu kita di Seoul, ternyata banyak kejadian terjadi disini” jawabnya lagi.

“Oh..” jawab Jung Min singkat, dia tak ingin memperpanjang obrolan itu lagi. Tak penting baginya untuk tahu tentang adik Ji Jeong atau bayi kecil yang mungkin dulu pernah dilihatnya. Hal itu bukan urusannya.

Jung Min bangkit dari kursinya dan menyeka mulutnya dengan napkin sebelum berdiri.

“Aku pergi dulu, nanti mungkin aku pulang agak malam” katanya sambil mengecup pipi ibunya.

“Jung In. Selamat atas kelulusanmu. Hadiahmu sudah menanti di dalam kamarmu, OK?” mata kakaknya mengedip untuknya.

Jung In pun memeluknya dan berterimakasih pada kakaknya itu.

“Jung Nam, aku duluan” katanya sambil mengangguk pada adiknya yang masih sibuk dengan makanan di mulutnya.

“Yoa..” jawabnya dengan mulut penuh.

~~~~

“Aku pulang..”

“Selamat datang kak.. Sini aku bawa tas mu. Kamu pasti kelelahan. Duduklah dulu, akan aku buatkan minuman untukmu” sambut Ji Han pada kakaknya.

“Ibu mana?” tanya Ji Jeong sambil memandang sekeliling kamar mereka.

“Ibu sedang mengobrol dengan bibi sebelah, mereka suka bergosip” Ji Han tertawa geli.

“hahaha... yah kebiasaan Ibu-ibu, ha” kakaknya ikut tertawa geli bersamanya.

“Bagaimana hari mu kak?” Ji Han memandang wajah kakaknya dengan pandangan memuja.

“Ah.. not bad. Tidak buruk. Hanya ada beberapa masalah kecil namun sudah beres. Bagaimana denganmu. Apa yang kamu kerjakan dirumah?” Ji Jeong merebahkan tubuhnya di atas lantai kayu, Ji Han mengambilkan sebuah bantal dan meletakan dibawah kepala kakaknya.

“Aku berhasil menjahit beberapa pakaianmu, beberapa kancing sudah copot. Dan aku membantu ibu di toko, cukup banyak yang berbelanja hari ini” katanya sambi mengingat apalagi yang dia kerjakan.

“Kamu menjahit bajuku? Baik sekali. Aku harus memberikanmu hadiah kalau begini. Apa yang kamu inginkan Ji Han?” tanya kakaknya gembira.

“Benar kakak mau memberikanku bila aku ingin?” tanya Ji Han semangat.

“Yup, asal jangan mahal-mahal, pasti akan kakak berikan untukmu” senyumnya. Untuk adiknya yang telah lama berpisah dengannya, membelah lautan pun Ji Jeong akan lakukan.

“Aku ingin.. kakak segera menikah..” tatap Ji Han serius pada wajah kakaknya.

Ji Jeong hanya terbengong mendengar perkataan adiknya. Kemudian dia tertawa keras hingga seekor tikus jatuh dari atap.

“Ups..” ketusnya.

“Kenapa kamu tertawa kak? Apa ada yang lucu?” tanya Ji Han cemberut.

Ji Jeong pun memanggil adiknya untuk mendekatinya. “Sini..”

“Apa..” Ji Han menggeser pantatnya agar mendekati tempat kakaknya berbaring.

“Bila nanti.. kamu sudah menemukan pria yang akan menjadi suamimu, yang akan menjagamu sebaik aku menjagamu, maka saat itu kakakmu ini akan menikah. Oke?” jawabnya tegas tak ingin dibantah.

“Tapi.. tapi.. aku kan masih kecil, paling tidak sepuluh tahun lagi mungkin aku baru menikah. Kalau kakak menungguku sepuluh tahun lagi, kakak sudah tua dan tak akan ada yang mau pada kakak lagi” protes Ji Han pada kakaknya yang tersenyum geli mendengar jawaban adiknya.

“Ya.. kamu meragukan kakakmu ini? Meski umurku nanti sudah empat puluh tahun, pasti masih banyak yang mau denganku. Jangan khawatir, kalau tidak aku akan menikahi wanita manapun yang kamu inginkan, oke?” bujuknya lagi.

“Tapi..tapi kak...”

“Tak ada tapi.. tapi.. Aku tahu apa yang aku lakukan Ji Han. Jangan merasa kamu bersalah karena aku belum juga menikah. Aku hanya belum menemukan wanita yang sesuai untukku. Ya.. jangan cemas kakakmu ini tak akan laku” kedip kakaknya.

Ji Han pun merajuk, dia menyuruh kakaknya untuk mandi karena sebentar lagi mereka akan bersiap untuk makan malam.

~~~~

“Jung Nam dikamarnya?” tanya Jung Min pada bibi Nam pembantu rumah tangganya yang telah bekerja selama empat puluh tahun pada keluarganya.

Bibi itu sudah tua renta, namun karena menyayanginya, keluarga Park masih mempekerjakan wanita tua itu. Namun belakangan kesehatan bibi Nam mulai memburuk dan anaknya telah memintanya untuk berhenti bekerja dan mengundurkan diri.

“Iya tuan, tuan Jung Nam telah masuk dikamarnya tiga jam yang lalu” jawab bibi Nam.

Ketika Jung Min hendak membuka pintu kamar Jung Nam, bibi Nam menyelanya.

“Tuan Park. Tentang pengunduran diri saya... apakah saya bisa mengundurkan diri dalam minggu ini? Keluarga saya di kampung akan menjemput saya pada hari sabtu” tanya bibi Nam.

Jung Min berpikir sejenak sebelum menjawab. “Baiklah. Lakukan seperti yang kamu mau Bi. Jangan lupa berpamitan dengan yang lain sebelum kamu pergi” jawabnya tersenyum.

Perempuan tua itu pun tersenyum, jarang sekali dia bisa melihat Tuan mudanya tersenyum. Dia hanya melihat wajah datar tanpa ekspresi nya bila laki-laki itu pulang dari pekerjaanya. Dia akan tenggelam dalam ruang kerjanya hingga dini hari dan saat pagi tiba, dia akan kembali bekerja hingga malam tiba. Di hari libur pun Jung Min tetap mengurung diri dalam ruang kerjanya. Dia hanya akan keluar bila ibunya memanggilnya.

Bibi Nam telah bekerja di rumah keluarga Park sejak usianya dua puluh tahun, kini dia berusia enam puluh tahun dan siap untuk pensiun. Dia mengenal Jung Min sejak dia lahir. Dia tahu bagaimana anak yang periang itu kemudian berubah menjadi anak yang pendiam dan suka mengurung diri. Meski banyak orang menyayanginya, Jung Min terlalu larut dalam dunianya dan tak memperdulikan perhatian yang diberikan orang lain untuknya.

Dia takut orang lain mengambil kesempatan darinya. Dia takut orang lain menggunakannya. Dia takut orang lain memperalatnya. Maka dari itu dia mengurung dirinya dan hanya bertemu dengan rekan-rekan bisnis yang telah mengetahui sifatnya yang kejam dan dingin.

“Kamu belum tidur?” tanya Jung Min saat masuk ke dalam kamar Jung Nam.

Jung Nam sedang bermain internet dengan laptopnya.

“Belum” jawabnya acuh.

“Lihat apa kamu di internet?” tanya Jung Min sambil menoleh pada layar laptop diatas pangkuan Jung Nam yang sedang berbaring santai di atas ranjang.

“Porno??” teriak Jung Min.

“ssshh.. teriakanmu. Nanti Ibu dan Jung In dengar” pelotot Jung Nam.

“Memang kamu tak pernah buka situs porno di internet? Jangan sok suci lah” kata Jung Nam tersinggung.

“Ehem.. bukan itu yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa bicara sebentar?” katanya saat mengambil kursi di depan meja belajar Jung Nam yang berantakan.

“Kamarmu amburadul, tak pernah dirapikan?” tanya Jung Min lagi.

“Ya.. jangan sentuh barang-barangku. Kamu kira dengan rumah sebesar ini dua orang pembantu rumah tangga bisa membereskan semuanya? Belum lagi bibi Nam yang sudah tua. Kasian tahu” jawabnya ketus.

“Kamu ingin berbicara apa padaku?” tanya Jung Nam serius saat melihat wajah kakaknya berubah keruh.

“Aku ingin membicarakan tentang pabrik di Incheon. Aku ingin kamu mengambil alih pabrik itu selama dua bulan. Direktur yang menangani pabrik itu sedang menemani ibunya berobat keluar negeri, sehingga kursi pemimpin disana kosong. Bila tak di urus, semua jadwal akan terganggu. Kamu bisa?”

Jung Nam membuang muka dari kakaknya. “Seperti aku punya pilihan? Ya..ya.. aku akan melakukannya. Tapi naikkan gajiku. Kalau tidak aku tak akan datang kesana” ancam Jung Nam sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.

Kakaknya hanya menghela nafas. “Beres...” “Oh ya, satu lagi. Bibi Nam mau pensiun, minggu ini dia pergi. Carikan penggantinya” perintah Jung Min pada adiknya.

“Apa? Tapi minggu ini hanya tersisa tiga hari lagi, dimana aku harus mencari penggantinya? Memangnya aku agen tenaga kerja apa? Heyy Jung Min kesini kamu!!” teriak Jung Nam sambil melempari Jung Min dengan bantalnya namun bantal itu hanya mengenai pintu yang telah tertutup dibelakang tubuh Jung Min yang menghilang. Senyum terlukis diwajahnya. Dia berhasil membalas adiknya.

1 comment:

  1. mbaaaa seruuuu bgttttt
    akuu sukaaaa ceritanyaaaa
    pdhal dilla gag suka loh cerita koreaaa tpi dilla sukaaaa bgt yg ini ahahahaha

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.