"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, November 30, 2012

Eight Drama - Chapter 5



Ji Han berjalan menghampiri sebuah rumah bertembok putih yang terlihat megah diluarnya. Masih pukul tujuh pagi saat itu. Dia tak bisa melongok ke dalam rumah itu.

Temboknya melingkar dengan rapat tanpa menyisakan lubang kecil untuk tempatnya mengintip ke dalam. Satu-satunya jalan masuk dan keluar rumah itu hanyalah dari gerbang baja berwarna coklat yang berdiri kokoh menyambut kedatangannya disana.

“Rumah Keluarga Park”

Tulisan itu terpampang angkuh di depan gerbang besi baja yang panjangnya hampir lima meter. Ji Han berpikir kendaraan apa yang perlu jalan masuk selebar itu.


Pintu itupun terbuka lebar tanpa menimbulkan suara. Ji Han melompat dan hampir terjatuh ke dalam selokan bila tangannya tak memegang tiang yang berdiri di depan rumah itu. Dia mengumpat pelan.

Sebuah mobil mercedes benz mewah berwarna hitam keluar dari rumah itu. Ji Han tak dapat melihat kedalamnya, karena kacanya gelap. dia hanya melihat samar sesosok laki-laki yang duduk dibelakang kursi penumpang dan memandang ke depan tak acuh dengan kehadiaran Ji Han di depan pintu gerbang rumahnya.

Sebelum mengenalnya pun, Ji Han telah merasakan firasat buruk mengenai laki-laki itu. Mungkin kepala keluarga rumah ini adalah orang yang kejam. Dia bahkan tak ingat untuk bertanya mengenai keluarga Park pada kakaknya. Dia sama sekali tak tahu apa-apa mengenai mereka, siapa sajakah anggota keluarganya dan bagaimanakah sifat mereka.

Dia sungguh buta. Dia hanya berharap akan sanggup melewati tiga bulan hidupnya disini. Karena tiga bulan lagi dia akan lulus dari tempat kursusnya dan kakaknya telah berjanji akan membuatkan sebuah toko untuknya disamping rumah mereka.

“Ada yang bisa dibantu, nona?” tanya seorang pegawai yang muncul dari dalam rumah besar itu pada Ji Han yang masih berdiri menatap kepergian mobil tadi.

“Ah ya.. saya disuruh datang kesini, saya Lee Ji Han, saya akan bekerja sebagai pengurus rumah disini” jawab Ji Han sopan.

“Oh nona Ji Han. Tuan Jung Nam telah memberitahu ku mengenai dirimu. Mari, mari.. silahkan masuk”

Ji Han mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam rumah keluarga Park. Satu hal yang tak dia ketahui, dia akan sangat menyesali dirinya karena telah menginjakkan kaki di dalam rumah itu.

Ji Han menutup mulutnya terkesima memandang betapa indahnya rumah itu. Rumah megah berwarna putih dan bertingkat dua. Ji Han tak tahu pasti berapa luas rumah itu, menurutnya sangat luas.

Kebun-kebun yang tertata rapi dengan pepohonan yang telah tumbuh dengan subur. Bunga warna-warni yang menghias dengan indah dan taman rumput yang hijau terhampar di depannya.

Jalan sepetaknya pun dihiasi oleh tumbuhan bonsai dikanan dan kiri jalan. Sebuah kolam ikan yang lebar menempel di dinding jauh tembok rumah itu, dia tak akan heran rumah ini memiliki kolam renang. Orang kaya sekarang selalu melengkapi rumahnya dengan kolam renang, pikir Ji Han.

“Aku Ok Gil, aku tukang kebun disini, merangkap tukang buka pintu dan membersihkan kolam. Oh ya, istriku juga bekerja disini, dia akan memberitahumu mengenai tugas-tugasmu” katanya memperkenalkan diri.

“Ah ya, baik” Ji Han membungkuk memberi hormat sambil berjalan mengikuti Ok Gil.

“Selain aku dan istriku, juga ada Il Song, dia sopir tuan Jung Min” Ok Gil memberitahu.

Ok Gil berusia empat puluh lima tahun, dan istrinya Ra Ni berusia empat puluh tahun, mereka telah bekerja disana selama lima belas tahun dan masih merasa betah. Ji Han pun merasa lega mendengarnya.

“Jadi, kamu baru saja lulus sekolah menengah atas? Usiamu masih muda. Tapi jangan sampai kamu membuat anggota keluarga boss marah, terutama tuan Jung Min. Kamu tak ingin berurusan dengannya. Untungnya dia tak akan mengganggumu, dia lebih senang mengurung dirinya didalam ruang kerjanya. Dia hanya akan sarapan pagi dan itupun selalu di kamarnya, jadi dia tak akan makan di ruang makan keluarga yang ada di dapur. Dia pulang jam sebelas malam atau lebih, jadi kita tak akan pernah melihatnya, dia tak suka ditunggu. Tapi kadang-kadang dia akan meminta untuk dibuatkan kopi, maka kamu harus bersiap-siap bila dia memanggilmu. Tapi setelah jam 12 malam, kamu boleh beristirahat. Dan ingat, jam lima pagi sudah harus bangun” laki-laki itu menjelaskan dengan panjang lebar.

“Bagaimana dengan anggota keluarga yang lain?” tanya Ji Han.

“Nyonya rumah, ibu dari Park bersaudara, beliau sangat baik, dan penyabar. Kemudian ada tuan Jung Min, tadi sudah aku beritahu, trus tuan Jung Nam, anak kedua keluarga Park, dia sangat pintar bergaul dan ramah. Kamu akan menyukainya. Kemudian ada nona Jung In, yah.. mereka semua orang baik, tak ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali tuan Jung Min tentu saja. Tapi dia tak akan menggigitmu. Dia lebih senang menyendiri, ingat” Ok Gil hanya tertawa tipis saat mengatakan hal itu.

“Istriku, pengurus rumah yang baru telah datang. Aku serahkan padamu ya, aku harus membersihkan kolam dan memberi makan ikan-ikan” kata Ok Gil pada istrinya sebelum berlalu kembali ke kebun.

“Wah, aku tak tahu kalau pengurus rumah yang baru begitu cantik. Kamu tidak cocok jadi pengurus rumah tahu manis. Siapa namamu? Aku Ra Ni, aku istri laki-laki yang mengantarmu tadi” sambut Ra Ni dengan gembira. Dia segera menunjukan Ji Han tempat tidurnya disana.

Karena Ok Gil dan Ra Ni adalah suami istri, maka mereka menempati rumah kecil dibelakang bangunan rumah keluarga Park. Dan Ji Han mendapatkan kamarnya sendiri yang berada di belakang dapur.

Setelah berkeliling dengan Ra Ni dan berkenalan dengan nyonya rumah dan Jung In, Ji Han pun membongkar pakaian yang dibawanya dan meletakannya di lemari. Dia menyentuh ranjang tidur miliknya, dia belum pernah tidur di atas ranjang, selama ini hanya alas tidur dari kasur gulung yang digelar diatas lantailah yang biasa dia pakai.

Dia mencoba berbaring di atasnya. Seprainya berwarna putih bersih. “wangi” pikir Ji Han. Rumah orang kaya memang berbeda, meski kamar pembantu pun terlihat mewah bila dibandingkan dengan rumah mereka. Kasurnya empuk, dia bisa terlelap diatasnya dalam hitungan detik.

Panggilan Ra Ni memecah lamunannya, dia pun bangkit dan berlari menghampiri Ra Ni.

“Pekerjaan hari ini sudah selesai. Nanti sore kamu bisa membantuku memasak di dapur, oh ya, mengenai waktu khusus yang kamu perlukan untuk kursus, dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang dari senin hingga kamis kan? Bila ada perubahan, katakan padaku saja agar nanti aku bisa menggantikanmu. Dan panggil aku bibi” kedipnya pada Ji Han.

“Baik, bi” Ji Han tersenyum kecil. Dia merasa akan cukup betah bekerja disini, semua orang menyambutnya dengan ramah.

Saat makan malam tiba, hanya nyonya rumah dan Jung In yang mengisi meja makan rumah itu. Meja makan lebar yang terbuat dari marmer yang cukup menampung 10 orang disana.

Jung Min belum pulang, dan Ji Han was-was menunggunya. Dia tak tahu seperti apa rupa laki-laki itu, dia bahkan tak tahu berapa umurnya, Ok Gil dan bibi Ra Ni lupa memberitahukannya.

Ji Han mengira-ngira majikannya itu berusia tiga puluh tahunan dan belum menikah. Bujang tua yang suka mengurung diri di dalam ruang kerjanya dan tak suka berinteraksi dengan orang luar?

Terdengar cukup membuat bulu kuduk Ji Han berdiri. Entah mengapa dia merasa terintimidasi dengan majikannya. Dia bahkan belum pernah melihatnya.

“Jung Min? Kamu sudah pulang? Tumben jam segini?” ibunya menyambut kedatangan Jung Min. Ji Han pun ikut menoleh ke arah pandangan semua orang.

“Iya, aku sedikit pusing. Aku akan beristirahat” dia menaiki tangga bundar yang terletak di samping pintu dapur, mata nya menatap sekilas pada Ji Han yang berdiri kaku menundukan kepalanya.

Laki-laki itu tak setua pikirannya. Dia masih muda!! Namun dia mengerikan. Ekspresinya begitu dingin, tak ada senyum disana. Mata coklatnya begitu gelap hingga Ji Han tak mampu menangkap emosi di dalamnya, seperti kosong.

Andai dia tersenyum sedikit saja, bibirnya yang tipis akan membentuk wajahnya yang tampan. Bukannya dia tak tampan meski tak tersenyum, tapi hati Ji Han tergelitik untuk melihat majikannya itu tersenyum.

Ketika Jung Min menatapnya masih dengan ekspresi kosong, Ji Han hanya mampu menunduk, tak berani membalas tatapannya. Laki-laki itu begitu tinggi, dia hanya anak kecil di hadapannya.

Sesaat mulut Jung Min hendak membuka, namun dia mengurungkannya dan berlalu tanpa suara ke dalam kamarnya. Ji Han kemudian bisa bernafas lega. Dia tak tahu apa yang dia pikirkan sekarang, namun dia terbayang mata coklat gelap itu, terlihat kesedihan yang mendalam disana. Dia terlihat kesepian. 

1 comment:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.