"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, November 30, 2012

Eight Drama - Chapter 6



Keesokan harinya, Ji Han bangun pukul lima tepat. Meski masih mengantuk, dia berjalan ke dapur membantu bibi Ra Ni dengan masakannya. Setelah membantu memasak, dia akan membersihkan seluruh ruangan disana, mengepel dan mencuci pakaian. “Bisa sampai sore nih” pikirnya.

Hari ini hari sabtu, sehingga dia tak perlu untuk pergi ke tempat kursusnya. Selain ruangan kamar, Ji Han harus membersihkan ruangan lain seperti ruang keluarga, ruang tamu, ruang bersantai, ruang alat-alat, gudang dan terakhir ruang kerja.

Ruang kerja milik Jung Min. Dia tak tahu apakah laki-laki itu telah berangkat bekerja atau masih dirumah. Sejak masuk ke dalam kamarnya, dia tak pernah keluar lagi. Tidak pula memangilnya untuk membawakannya kopi atau makanan lain.


Namun hatinya mencelos ketika bibi Ra Ni memintanya untuk membawakan sarapan di atas nampan ke kamar Jung Min.

“Tapi bi.. aku baru disini, aku tak berani masuk ke kamarnya” rengek Ji Han.

“Ais.. dia tak akan menggigitmu kenapa takut? Cepatlah sebelum makanannya dingin” katanya gemas.

Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, Ji Han mengetok pintu kamar Jung Min pelan. Dia kemudian mendorong pintu itu hingga terbuka.

Kamar itu sunyi dan gelap. Tirai masih tertutup dan Jung Min masih tertidur di atas ranjang. Ji Han hampir menjatuhkan nampan ditangannya saat nafasnya tertahan melihat tubuh Jung Min yang sedang berbaring.

Dia bertelanjang dada. Dan dadanya sungguh seksi.

Seumur hidupnya, Ji Han tak pernah melihat laki-laki telanjang, kakak dan ayahnya tak pernah membuka baju mereka dihadapannya. Baru kali ini lah dia melihat tubuh laki-laki. Dia menelan ludahnya karena gugup.

Tak tahu harus berbuat apa, dia pun meletakan nampan berisi sarapan itu di atas meja dan pergi meninggalkan kamar itu. Namun langkahnya terhenti saat suara Jung Min memanggilnya.

“Kamu pengurus rumah yang baru?”

Dia telah bangkit dari tidurnya. Kini dia berdiri disamping meja tempat Ji Han meletakan nampan sarapannya. Tubuhnya begitu kekar, dia hanya mengenakan celana pendek yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Ji Han membuang muka, berusaha untuk tidak menatap tubuh Jung Min.

“Iya tuan, saya baru datang kemarin” jawab Ji Han.

“Kemarilah” panggilnya. Ji Han dengan enggan menyeret kakinya mendekati laki-laki itu.

“Berapa kali harus kukatakan aku tak suka telur matang? Ini terlalu matang. Kamu kira aku suka makan makanan seperti ini? Bawa pergi dan bawakan aku yang baru” bentaknya berapi-api pada Ji Han.

Ji Han terkejut dan tak mampu berkata-kata. Tenggorokannya tercekat, tangisnya hampir runtuh. Namun dia malu bila dilihat menangis. Baru kali ini dia dibentak oleh seseorang, dan dia belum siap untuk menerimanya.

Dia pun membungkuk dan pergi dengan nampan ditangannya. Pintu tertutup pelan saat dia keluar dan tangisnya pun runtuh. Di dapur Ji Han menyeka air matanya dengan sapu tangan pemberian kakaknya. Dia tak akan menangis hanya karena hal kecil ini. Dia pun membersihkan wajahnya dari sisa-sisa tangisan dan meminta kembali telur yang Jung Min minta.

“Dia berkata begitu? Aneh. Dia tak pernah mengatakan hal itu padaku. Dia juga tak pernah berkomentar saat aku membawakan sarapannya” bibi Ra Ni hanya menggelengkan kepalanya tak percaya saat Ji Han menceritakan padanya Jung Min menolak sarapan itu.

“Kali ini, tidak boleh salah lagi. Hwaiting” bibi Ra Ni menyemangati Ji Han. Dia pun kembali tersenyum.

Sebelum membuka pintu kamar Jung Min, Ji Han berbisik dalam hatinya. “Aku tak akan kalah darimu wahai Raja kegelapan” itulah julukan baru yang diberikan Ji Han padanya. Senyum pun terpasang diwajahnya.

Saat pintu terbuka, Jung Min telah memakai pakaian kerjanya. Dia tampak begitu menawan dalam balutan kemeja putih dengan dasi biru kotak-kotak.

“Sarapanmu tuan” kata Ji Han sambil meletakan nampan itu di meja.

“Bawa keluar. Aku sudah tak berselera” jawabnya ketus.

Emosi Ji Han memuncak, namun dia mencoba untuk bertahan dan tersenyum. Dia pun berpamitan dari sana. Dengan kesal dia membanting nampang itu di meja. Sendok dan garpu bergemerincing di lantai.

“Kenapa lagi sekarang?” tanya bibi Ra Ni menghampirinya.

“Dia tak menyukaiku bi. Entah apa yang membuatnya membenciku. Aku bahkan tak mengenalinya. Dasar om-om berengsek” katanya geram.

“Sabar. Mungkin dia sedang banyak pikiran dan masalah pekerjaan. Dia itu orang besar, banyak perusahaan yang berada dibawah pimpinannya. Dia pasti sedang memikirkan hal itu dan menjadi emosi” hibur bibi Ra Ni padanya.

“Tapi kenapa dia lampiaskan padaku. Benar-benar orang aneh” Ji Han mencak-mencak seharian. Dia bahkan memelototi Jung Min saat laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya. Sayangnya laki-laki itu tak melihat wajah aneh Ji Han saat memelototinya.

~~~

Hari pertama bekerja di rumah Park, Ji Han mulai membersihkan setiap kamar yang ada. Dia memulainya dari kamar paling ujung, yaitu kamar Jung In. Gadis itu sedang menelphone temannya saat Ji Han mengetok pintunya.

“Permisi nona, saya mau membersihkan kamar” Ji Han membungkuk memberi hormat pada adik “Raja kegelapan”.

Jung In menyuruh Ji Han masuk dengan tangannya sementara dia masih asyik berbicara dengan temannya lewat telephone.

Kamar Jung In penuh dengan warna pink, dindingnya ditutup dengan kertas dinding pink dengan corak teddy bear, ranjang dan karpetnya juga memiliki corak yang sama. Meja rias dipenuhi dengan alat-alat kosmetik dan bermacam-macam parfum dari berbagai merek.

Di atas meja belajar, buku-buku berserakan dan beberapa menggeletak di lantai. Jung In tak memperhatikannya saat bekerja yang mana dia syukuri. Dia tak ingin membuat kontak terlalu banyak dengan keluarga majikannya karena tiga bulan lagi dia akan pergi dari sana.

“Kamu sedang apa?” Jung In berada dibelakangnya, wajahnya cerah, senyum terbingkai disana. Gadis ini memiliki raut wajah yang sama dengan kakaknya, hanya saja dia terlihat ramah dan lebih rupawan. Mungkin karena senyum yang tak pernah hilang dari wajah itu, berbeda dengan “Raja kegelapan” yang tak pernah sekalipun tersenyum.

“Saya sedang membersihkan bath tub, nona” jawab Ji Han tanpa menoleh masih melanjutkan pekerjaannya.

“Panggil aku Jung In, kita sebaya kan? Aku senang sekali, kita bisa berteman. Sudah lama aku tak punya teman yang sebaya”

“Kak Jung Min terlalu sibuk dan tak pernah berada dirumah, ketika dia pulang aku sudah tertidur. Sementara kak Jung Nam jarang pulang kerumah. Dia lebih sering berada di Incheon. Hhh...” wajahnya cemberut saat menceritakan tentang kakak-kakaknya.

Ji Han hanya tersenyum mendengar keluhan Jung In. Dia mulai menyukai gadis ini.

“Wah, jadi aku lebih muda dua bulan darimu?”

Ji Han mengangguk pelan. Dia sedang membereskan meja belajar Jung In yang berantakan dan gadis itu berbaring di atas ranjangnya yang telah dibersihkan.

“Kalau begitu, aku boleh memanggilmu Unni, donk?” tanyanya penuh harap.

“Aku sudah lama ingin punya Unni, tapi kakak-kakakku belum ada yang ingin menikah. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka”  sambungnya.

Hampir satu jam Ji Han berada di dalam kamar Jung In, mendengarkan keluh kesah gadis itu tentang kakak-kakaknya, ibunya, teman-temannya dan pacarnya.

“Gadis yang periang” senyum Ji Han saat keluar dari kamar Jung In dan melanjutkan pekerjaannya membersihkan kamar berikutnya.

Matanya terkunci pada sebuah papan kecil yang bertuliskan “Jung Nam’s Room”. Kamar Jung Nam. Nampaknya inilah kamar putra kedua keluarga Park. Dan dia sungguh terkejut melihat betapa berantakannya kamar itu.

Pakaian kotor berserakan di atas ranjang, meja dan lantai. Sampah bertumpukan dan menggunung. Ranjangnya pun kusut dan seluruh isi nya tumpah ruah diatas lantai. Dia harus bekerja keras selama satu setengah jam untuk merapikan kamar itu. “Seperti kamar babi” pikir Ji Han geli.

Tak lama kemudian dia juga telah membersihkan kamar utama. Nyonya Park hanya mengangguk padanya saat Ji Han masuk ke dalam kamar itu. Dia tak banyak bicara karena larut dalam bacaannya.

Wanita itu lebih tua dua tahun dari ibunya, namun dia tampak sepuluh tahun lebih muda. Hanya sedikit keriput yang terlihat di ujung matanya. Meski demikian kecantikannya tetap terpancar karena karismanya yang memukau.

Setelah beristirahat untuk mengisi perutnya, Ji Han kembali melanjutkan pekerjaannya. Kamar terakhir yang berada di ujung kiri rumah. Kamar Jung Min. Letaknya berlawanan dengan letak kamar Jung Nam yang berada di ujung kanan rumah itu.

Meski dia tahu kamar itu tak berpenghuni karena “tuan besar” sedang bekerja, jantungnya tetap berdebar-debar kencang teringat peristiwa pagi tadi. Dia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum masuk ke dalam kamar itu.

Kamar itu nyaris sama seperti saat dia tinggalkan tadi pagi. Tirai masih tertutup dan bekas-bekas Jung Min masih terlihat. Pakaian kotor di atas ranjang yang berantakan, namun selain itu kamar itu terlihat rapi.

Saat membuka tirai jendela yang lebar itu, cahaya matahari mulai menerangi kamar Jung Min yang gelap. Ji Han bisa melihat pemandangan di kolam renang dari jendela itu. Dia memperhatikan setiap detail kamar, dindingnya berwarna biru gelap, dan seragam pula dengan warna karpetnya. Hanya ranjangnya yang lebar yang berwarna putih kontras dengan warna biru yang mengelilingi.

Tak banyak yang bisa di bersihkan disana selain membereskan ranjang, pakaian dan menata meja yang tak terlalu berantakan. Ji Han pun beranjak ke dalam kamar mandi.

Setiap kamar mandi memiliki desain yang sama di setiap kamar. Ada sebuah shower yang terbuat dari kaca transparan, tubuhmu bisa terlihat dari luar saat sedang mandi di dalamnya. Lemari penuh dengan peralatan mandi dan wangi-wangian beserta sebuah alat cukur elektrik yang masih tertancap di colokan listrik.

Sebuah bath tub dan pispot berada di sudut kamar mandi. Bath tubnya terlihat jarang digunakan. Mungkin “Raja kegelapan” tak terlalu suka berlama-lama berendam di dalam air.

~~~~

Ji Han sedang asyik membersihkan ruang kerja itu saat pintu terbuka pelan tanpa suara. Sesosok laki-laki berdiri mematung. Dia mengawasi gerak-gerik Ji Han yang sedang membersihkan lemari berisi buku-buku tebal milik Jung Min dengan sapu bulu ditangannya.

Langkahnya teredam karpet tebal dilantai, Ji Han tak menyadari laki-laki itu telah berada dibelakangnya. Tubuh mereka pun beradu dan Ji Han hampir kehilangan keseimbangannya.

“Bila sudah selesai, kamu boleh keluar” katanya dingin.

Ji Han mengumpat dalam hatinya, dia tak menyadari Jung Min telah berada dibelakangnya. Laki-laki ini tak bersuara sama sekali. Bahkan dia tak mendengar nafasnya. “Apakah laki-laki ini tak bernyawa?” sungut Ji Han saat kembali ke dapur. Dia telah selesai membersihkan seluruh ruangan.

“Bi, baru jam lima kok si Boss sudah pulang?” tanya Ji Han sambil mencomot sebuah cookies dari dalam toples.

“Aku lupa memberitahumu, hari sabtu dia pulang lebih awal. Biasanya dia akan berkencan. Hoohoo.. dia juga punya kekasih. Tapi aku tak pernah melihatnya membawa wanita kerumah ini. Biasanya dia akan pergi pukul sepuluh malam dan kembali pukul lima esok pagi. Untuk wanita seusiaku, aku tahu pasti dia pergi kemana. Pakaiannya dipenuhi wangi parfum wanita” jawab bibi Ra Ni terkikik.

“Hoo.. kalau dia punya kekasih, kenapa dia tak menikahinya? Bukankah dia sudah cukup umur?” tanya Ji Han lagi.

“hm.. Tahun ini usianya dua puluh tujuh tahun, mungkin dia masih ingin bermain-main. Kamu tidak tahu sih, di luar sana dia bertemu dengan wanita-wanita cantik dan seksi. Aku tak akan heran bila dia meniduri mereka bergantian. Dia mampu untuk itu”

Ji Han menggigil membayangi laki-laki itu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik nan seksi. Tiba-tiba dia membayangkan dirinya berada diantara wanita-wanita itu. Meringkuk dilantai mengenakan pakaian seorang pengurus rumah tangga dan Jung Min memandangnya tajam. Menunjuknya dengan jarinya. Memerintahkannya untuk menghampirinya.

“Ya.. mandi dulu sana. Sudah sore” sentuhan bibi Ra Ni pada bahunya menyadarkan Ji Han dari lamunannya.

Dia pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Tubuhnya lengket penuh keringat setelah bekerja seharian. Sementara itu, Jung Min memandangi Ji Han menghilang di balik tembok dapur yang menuju ke kamarnya. Tatapan laki-laki itu begitu misterius.

1 comment:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.