"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 21, 2012

Fifth Drama - Chapter 11



Isak tangis sesenggukan terdengar dari ranjang, dia telah menangis sepanjang hari. Menghabiskan air matanya hingga tak ada lagi yang tersisa. Dia hanya bisa menangis. Hatinya terluka, sakit, seperti beribu sembilu menusuk jantungnya, menyayat-nyayatnya hingga hancur. Setiap kata-kata yang di ucapkan oleh Seung Ho menggema dalam kepalanya. Mengingatkannya akan sakitnya dulu ketika pertama bertemu laki-laki itu.

Seung ho tak mengenalinya, apakah dia hilang ingatan? Tapi Hye sun tak akan pernah tahu, dia tak diizinkan untuk bertemu dengan dokter yang menangani Seung Ho. Setiap kali dia melangkahkan kakinya ke dalam rumah sakit itu, pengawal pribadi yang berjaga di lobby rumah sakit akan mengusirnya dengan kasar. Mereka tak semestinya berbuat sejauh itu, dia bisa saja ingin berobat disana, tapi mereka tak mengesampingkan alasannya. Perintah mereka jelas, mencegah Hye sun masuk kesana dan mencari Seung Ho lagi.


Selama sebulan terakhir Hye sun mencoba segala cara agar bisa menemui Seung ho, tak memperdulikan kesehatannya sendiri. Dia pun kelelahan. Ketika dia sedang berada di mini market untuk membeli roti dan susu, dia pun terjatuh dan pingsan. Pemilik mini market itu berbaik hati untuk mengantarkannya ke dokter. Hye sun membuka matanya dan melihat seorang perawat yang sedang tersenyum padanya, memeriksa tekanan darahnya.

“Kamu sudah siuman? Aku akan memanggil dokter untuk berbicara denganmu ya” kata perawat itu ramah.

Dokter pun masuk ke dalam ruang perawatan dan menemui Hye sun yang berbaring lemah di atas ranjang perawatan. Dokter menanyainya.

“Sudah berapa lama anda hamil, nona?” dokter memandangnya dengan serius.

Hye sun panik, dia takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.

“Kandunganku baik-baik saja kan dokter? Aku..aku khilaf, aku tak memikirkan kondisiku. Oh Tuhan, katakan dia baik-baik saja. Aku tak mungkin kehilangan dia lagi setelah apa yang aku alami” tangis Hye sun merebak.

Dokter pun berusaha untuk menenangkannya.

“Tenang nona, berbaringlah lagi. Kandunganmu baik-baik saja, dia cukup kuat..”

“Namun, anda harus berjanji agar tidak kecapekan. Kali ini hanya bercak darah yang keluar, namun bila anda masih seperti ini, saya tak yakin kejadian ini tak akan terulang. Sekarang adalah masa-masa rawan kehamilan anda” katanya dengan tegas.

Hye sun pun lega, dia menghela nafasnya. Bersyukur dan berjanji tak akan teledor lagi menjaga kesehatannya. Kejadian yang menimpanya tak boleh menjadi alasan kelalaiannya.

“Terimakasih dokter” kata Hye sun tulus.

Dokter pun mengangguk. Dia memberikan petunjuk kepada perawat untuk menyiapkan beberapa obat dan vitamin yang bisa Hye sun minum agar kandungannya segera pulih.

“Jangan lupa istirahat. Stres juga tidak baik untukmu dan bayimu. Dan anda juga  harus segera merencanakan pemeriksaan berkala, demi kesehatan bayi ini” dokter pun tersenyum dan meninggalkan Hye sun bersama perawat.

“Istirahatlah sementara disini. Bila sudah baikan, kamu boleh pulang, ya? Apakah ada yang bisa aku bawakan untukmu?” tanya perawat itu sebelum meninggalkan Hye sun sendirian di dalam ruangannya.

Hye sun hanya menggeleng lemah dan menarik selimutnya, tubuh dan emosinya kelelahan, dia memang harus beristirahat. Dia pun tertidur pulas hingga keesokan harinya.

~~~~

Di dalam kamar apartemennya yang sunyi, Hye sun mengambil keputusan untuk kebaikannya. Dia akan meninggalkan apartemen itu. Apartemen yang penuh dengan kenangannya bersama Seung ho. Seung ho-nya yang hangat, manis dan manja. Dia tak sanggup untuk tinggal disana lagi ketika Seung ho telah berubah. Dia mungkin akan mendatangi apartemen ini dan menuduhnya telah menempati apartemen ini dengan paksa.

Dia tak akan membiarkan laki-laki itu merendahkannya lagi. Demi anak mereka, dia tak akan membiarkannya hidup dibawah pandangan mencela laki-laki itu. Dia masih sanggup untuk menghidupi anaknya, meski menjadi single parent untuknya. Dia tak akan mengemis bantuan laki-laki itu.

Hye sun mengepak barang-barangnya dengan sedih. Matanya selalu dihiasi tangisan. Mengingat kenangan bersama Seung ho. Semua benda yang dia sentuh mengingatkannya akan kebersamaan mereka. Bahkan celengan babi-babi yang telah diletakan dengan manis didalam lemari pembelian Seung ho pun ikut sedih dengan keputusan Hye sun.

Dia akan meninggalkan celengan-celengan itu disana. Mungkin..mungkin bila Seung Ho melihatnya nanti, dia akan mengingatnya meski hanya setitik, Hye sun berharap Seung ho masih mengingatnya.

Dia pun menulis sebuah surat untuk Seung Ho, didalam amplop itu dia juga meletakkan kunci apartemen mereka. Dia berharap Seung ho akan mengerti maksud dibalik isi amplop itu. Didalam suratnya dia menulis..

Meski pertemuan yang singkat denganmu, aku tak pernah sanggup untuk melupakanmu..

Meski banyaknya luka yang kamu berikan, aku tak akan pernah sanggup untuk membencimu..

Namun aku akan pergi, untuk kebaikan semuanya.

Bila, suatu hari nanti kamu mengingatku kembali, janganlah terlalu membenci dirimu.

Karena aku tahu, itu bukanlah kamu yang mengenalku.

Aku kembalikan kunci apartemen yang kamu berikan, terlalu banyak kenangan yang tak bisa aku hadapi saat ini.

Lee Seung Ho.. aku tak akan pernah berhenti untuk mencintaimu.

Aku masih berharap..

Hye sun melepaskan cincin emas dari jari manisnya, bersama dengan surat itu dia masukkan pula kunci apartemen dan cincin pertunangan mereka. Cincin yang berukirkan nama Seung Ho, cincin yang diselipkan dijarinya malam itu. Ketika Seung Ho melamarnya.

Dengan wajah sedih, Hye sun memandang ruangan apartemen itu sebelum meninggalkannya. Sejak itu tak pernah terdengar kabar darinya. Terakhir kalinya dia berhubungan adalah saat Produser drama dari stasiun lain menghubunginya, namun dia tak pernah terlihat lagi di Seoul.

~~~~

Sudah enam bulan sejak kecelakaan itu. Akhirnya kegiatan di dalam gedung stasiun televisi kembali normal, ruangan yang terbakar telah diperbaiki, kriminal yang mengacau telah divonis penjara dua tahun. Sopirku pun sudah siuman, kondisinya sudah jauh membaik, namun dia masih berobat kerumah sakit, dia harus memulihkan kembali tulang bahunya yang patah. Beberapa operasi lagi dan dia akan sembuh, aku akan menyuruhnya untuk bekerja di kantoran saja. Terlalu riskan untuk menyuruhnya kembali menjadi sopirku.

Tak terasa sudah dua bulan aku kembali bekerja, penyembuhanku memakan waktu yang cukup lama. Hampir tiga bulan aku tak bisa kemana-mana. Aku harus belajar untuk berjalan lagi.

Pergelangan kakiku nampaknya lebih parah dari perkiraanku. Namun yang paling mencemaskan adalah tangan kananku, aku belum bisa menggerakannya dengan bebas. Bahkan sampai saat ini aku kadang masih memakai kain penyangga bila tanganku mulai pegal dan lelah. Bekas jahitan masih tampak di sekujur tubuhku, dokter yang menangani luka-lukaku menawariku untuk membedah plastik bekas lukaku namun aku tak memperdulikannya.

Tak akan ada yang melihatnya kan? Hanya ketika berhubungan intim sajalah aku akan membuka pakaianku, dan aku tak berencana membuka seluruh pakaianku setelah ini. Selama celana telah dilepaskan, dimanapun aku bisa melakukannya.  

Memikirkan hal itu, sudah lama aku tak menyalurkan hasratku yang terpendam. Tapi aku tak memiliki nomer telepon Manajer Park, semua nomer teleponku telah hilang. Handphoneku yang dulu tak bisa dihidupkan karena tergenang darah ketika kecelakaan maut dulu. Sejak saat itu aku tak pernah menyentuhnya lagi. semua barang-barang yang berada disakuku saat kecelakaan itu terjadi masih terbungkus di dalam plastik yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit kerumahku. Terlalu menyakitkan untuk melihatnya lagi.

Akupun memanggil Asisten Joon yang sedang berada diruangannya diluar kantorku.

“Direktur Lee..” katanya ditelephone.

“Kamu tahu nomer telephone Manajer Park?” tanyaku.

“OK. Thanks. Oh ya, sudah lama aku tak mendengar tentang wanita yang dulu di rumah sakit itu. Apa kamu tahu dimana dia sekarang?” tanyaku lagi.

“Apakah anda ingin saya mencari tahu keberadaan wanita itu? Setelah dia keluar dari ruangan anda waktu itu saya tak pernah melihatnya lagi. Cek yang anda berikan padanya pun ditinggalkannya disana” jawabnya.

“Oh, begitukah? Hmm.. baiklah, itu saja. Kamu boleh lanjutkan tugasmu” kataku menutup pembicaraan.

Jadi dia tak pernah menemuiku lagi? Sayang sekali. Padahal aku ingin menemuinya. Apa dia sudah bersama laki-laki lain? Aku ingat dia dulu mungkin hamil, bila dia tak menggugurkannya pasti dia sekarang sedang hamil besar.

Aku belum pernah berhubungan sex dengan wanita hamil, pasti menyenangkan melihatnya orgasme dibawahku. Fantasy liarpun mulai memenuhi isi kepalaku tentang wanita itu. Entah bagaimana aku tak bisa melupakannya. Aku menginginkannya. Tapi saat ini aku tak mungkin bertemu dengannya lagi. Akupun tak ambil pusing.

Ku tekan nomber yang diberikan Asisten Joon padaku. Manajer Park kemudian mengangkat telephoneku tanpa menunggu lama. Dia sangat antusias menerima telephoneku. Tentu saja, aku adalah salah satu klien nya yang memberikannya pemasukan besar. Sudah tujuh tahun aku menjadi klien setianya. Mungkin sudah puluhan wanita berbeda yang dia berikan padaku untuk memuaskan nafsuku.

“Direktur Lee!! Sungguh kejutan menerima telphone anda lagi. Saya yakin anda sudah bugar kembali dan siap dengan semua kesenangan yang akan menunggu anda, kan?” dia tertawa lebar saat membuka percakapan.

Aku tak terlalu menyukai leluconnya yang tak lucu. Aku hanya tertarik berbisnis dengannya. Akupun langsung pada tujuanku.

“Ada yang baru? Tempat biasa, dari sabtu malam hingga minggu sore. Dia harus bersih dan berpengalaman. Aku sedang tak ingin bergerak banyak” kataku bosan.

Manajer Park terdengar mengikik, setelah memastikan semuanya beres, aku pun menutup telphone. Aku tak sabar lagi untuk menunggu hari sabtu esok. Kakiku kunaikan diatas meja kerjaku. Sudah lama aku tak se-excited ini menunggu hari sabtu. Tanpa kusadari, sebuah amplop terjatuh dari tumpukan file-file yang belum aku sentuh sejak aku kembali ke kantorku. Pekerjaan ini bisa menunggu besok, pikirku. Otot-ototku yang tegang perlu dilemaskan. Diluar jendela kantorku, matahari senja mulai tenggelam, lembayung jingga mewarnai langit sore itu. Burung-burung bangau beterbangan untuk kembali ke sarangnya. 

10 comments:

  1. mba dy cm lupa am tunangannya aj y mba??
    namanya rempong jd susah d inget...xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ceritanya dia cuman lupa sejak dia ketemu ama tunangannya. lupa ingatan sebagian gitchu (ngarang hahaha.. ) iya nih, aku sndr jg rada susah ngingetnya sist. musti bulak-balik liat catetan dl kl mau tahu namanya siapa. makasi ya udah mampir kesini ^__^

      Delete
  2. aduhhh, mbk shin. ini knpa sedih bgt ya, bru mau mulai baca, eh malah nangis bombay aq, hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. masak sedih sist? aduh jd berbunga-bunga hatiku, ternyata aku bisa bikin cerita jg yg bikin pembacanya terinfeksi.. eh apa coba (hihihihi) makasi banyak ya sist udah nyempetin mampir kesini.. aku jd terharu.. T___T

      Delete
  3. owh kasian dunk tunangannya cm dy aj yg d lupain....klo aq mw bunuh dri aj dh g d inget gtu...hahaha...
    ea mba sedih..aq bcnya lompat mulai bab 9,bab sebelumnya blm d temukan...xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha buka pake hp ya sist? nanti aku atur deh biar cerita2nya dikelompokan n aku taruh di atas arsip, biar gampang nyarinya. hehehe..

      jgn bunuh diri donk.. soalnya "there always rainbow in the end of the rain" ^___^

      Delete
    2. Wah setuju nih.. dikelompokin cerita"ny sis. Biar lebih enak baca critany. Aku suka critany, pas banget nemuin blog ini. Lanjutin sis ><

      Delete
    3. hahaha udah sist. tinggal klik "DRAMA STORY" nanti disana udah keliatan masing2 drama n cahpter2nya. ;)

      Delete
  4. Hye Sun mau kenmana ya???
    tinggal dirumaqhku aja lho,
    aku sendirian kok,
    kekekekekek

    aduh Seung ho mesti dipukul ni kepala biar dia cepat sadar,
    ekkeekkeke

    ReplyDelete
  5. @winda sari : boleh jg tuh idemu sist :D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.