"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 22, 2012

Fifth Drama - Chapter 12


note : +18 or older

Hujan deras masih turun sedari pagi sampai ketika aku menghentikan mobilku di lobby hotel. Kali ini aku mengendarai mobilku sendiri, sopirku yang baru telah ku suruh pulang karena malam ini aku akan menginap di sini.

Baru pukul setengah enam waktu itu, petugas valet parkir pun membawa mobilku untuk diparkirkan di basement. Aku hanya membawa dua set pakaian ganti. Aku tak akan banyak berpakaian tentunya kan malam ini. Bell boy mengikuti langkahku menuju kamar yang biasa aku sewa tiap kali aku ke hotel ini. Selama tujuh tahun berturut-turut setiap bulannya aku telah menyewa kamar itu, para pegawainya telah mengenalku dengan baik.


Setelah memberikan sejumlah uang tips pada bellboy, dia pun pergi. Aku melepaskan pakaianku. Shower air hangat yang aku butuhkan saat ini. Di dalam pancuran aku memandang tubuhku di dalam cermin lebar di dinding. Kacanya memantulkan bayangan tubuhku dengan beberapa bekas luka dan bekas jahitan operasi di perut dan kakiku. Luka itu tak akan hilang. Aku pun meraba bekas jahitan di lengan kananku. Masih terasa ngilu bila ku tekan jariku disana. Tulang lenganku patah ketika tertumbuk berat truk yang menabrak mobilku. Namun dokter telah memasang beberapa buah pen kecil disana. Aku tak boleh mengangkat beban berat bila tak ingin sambungan itu patah.

Setelah memakai celana panjang dan kaos santai, aku pun membuka pintu teras. Aku selalu menyukai pemandangan dari sana. Tempat yang cocok untuk merokok dan merenung, pikirku. Dari sana aku bisa melihat langit yang ditutupi awan gelap. Hujan mulai berhenti namun mendung tetap menyelimuti langit malam itu.

Bell kamar pun berbunyi, tamu yang kutunggu telah datang. Aku tak tahu wanita seperti apa yang Manajer Park kirimkan untukku. Aku harap wanita itu sudah berpengalaman karena akan susah bagiku bila harus mengajarinya lagi.

Akupun membuang puntung rokokku ke asbak. Ku sisir rambutku dengan tangan, memastikan semuanya sempurna.

“Kamu..? Bukankah kamu artis itu?” aku terpana melihat sesosok wanita yang bediri di depan pintu kamar hotelku.

Dia berdiri menggoda dengan senyum genitnya. Rambutnya yang lebat diurai bebas di bahu. Aku memandangnya dari atas ke ujung sepatu hak tinggi yang dia kenakan. Rok mini ketat memperlihatkan lekuk kaki jenjangnya yang terbalut stoking hitam. Blouse tanpa leher menutupi sebagian dada dan memperlihatkan perutnya yang langsing. Sudahkah aku menyebut buah dadanya? Bulat dan besar. Oh ya, seorang selebritis khas dengan buah dadanya yang besar, dan dia salah satu dari selebritis itu. Aku bertanya-tanya, aslikah itu.

Tanpa malu-malu dia menyentuh pipiku, mencoba menarik kepalaku mendekatinya. Dia mengecup bibirku, panas. Aku pun mencibir. Wanita ini tak diragukan lagi tahu apa yang dia kerjakan.

“Apakah masalah bila kali ini aku yang melayanimu.. Direktur Lee..?” dia menjilat bibirnya saat menyebut namaku.

Gadis ini liar. Dia akan menelanmu bulat-bulat. Gairahku bangkit karena bersemangat. Akupun menyeringai lebar. Langkah kakinya bak peragawati ketika berjalan kedalam kamar. Aku membantunya membuka jaket kulitnya.

Tak sabar, ku ciumi pundaknya. Harum parfumnya memabukanku. Tanganku bermain diperutnya, kulitnya halus, dia menggeliat manja ketika kumasukkan tanganku ke dalam rok mininya.

Dia kemudian berbalik dan mencoba melepaskan pakaianku, namun kutahan tangannya. Aku tak akan mengizinkannya melepaskan kaos yang menutupi bekas luka-lukaku.

“Santai.. Kita tinggalkan yang ini, OK?”

“Kalau aku tahu dari dulu kamu bisa dipakai, aku tak akan susah-susah menghubungi Manajer Park untuk memanggilmu” kataku sambil melepas blouse yang menutup payudaranya dengan ketat.

Dia tak memakai bra, akupun menjilat bibirku. Tak sabar merasakan putingnya dalam mulutku. Mungkin baru kali ini aku melihat buah dada seranum ini. Tanganku meremas tak sabar, ku cium bibirnya dengan kasar.

Tubuhnya kudesak mundur, dia tertahan di sebuah meja kerja. Ku angkat tubuhnya sehingga dia duduk diatas meja itu. Kakinya di tangkupkan pada tubuhku. Kami berciuman dengan panas, aku biarkan dia yang memimpin. Lidahnya bermain-main menjalin lidahku. Dia menggigit bibirku dengan sensual. Tanganku meremas buah dadanya yang telah mengencang, putingnya mendesak dadaku.

Kulepaskan ciuman bibirnya dan kuraih putingnya yang telah lama kuinginkan. Kuhisap seperti anak kecil yang menghisap air susu dari ibunya. Begitu nikmat. Dia meremas rambutku dan membuatnya acak-acakan. Kata-katanya terputus-putus ketika dia mencoba berbicara padaku. Aku tak bisa menangkap apa yang dia katakan, aku terlalu larut dalam hasratku hingga tak memperdulikan hal lain. Tapi dia mendorong tubuhku. Aku pun protes, tak ingin lepas dari putingnya yang menggairahkan.

“Kamu sungguh bergairah Direktur Lee.. tak sia-sia aku membayar Manajer Park agar mengabariku bila kamu menelephonenya. Aku sudah menunggu panggilanmu..” matanya bersinar tajam saat mengatakan hal itu.

“Kamu sudah merencanakan hal ini? Mengapa?”

Aku tak mengerti, bagaimana seorang artis terkenal seperti dirinya mau melakukan hal ini. Dia sengaja menungguku? Menungguku untuk memanggil wanita penghibur?? Bagaimana dia tahu tentang kebiasaanku ini? Sial!!

“Ssshh... tak usah gusar. Aku tahu aturannya Direktur Lee.. atau bolehkah aku memanggilmu Seung ho?” senyum licik terukir dibibirnya yang sensual.

“Tak ada yang pernah memanggilku seperti itu selain orangtuaku, dan jangan bermimpi nona Ma Eun Ri..” akupun ikut tersenyum culas.

“Jadi apa maumu mendekatiku? Aku rasa bukan uang kan? Kamu punya lebih dari cukup tanpa perlu menjadi.. sebutan apa yang harus kuberikan padamu?” kupandangi tubuhnya yang hampir telanjang. Aku tahu dia telah terangsang, nafasnya memburu. Dia sudah tak sabar lagi untuk menelanjangiku saat ini.

“Hanya membayar hutang Direktur Lee.. hanya membayar hutang..”

Dia mencium bibirku, tak memberikanku kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lagi. Tangannya telah meremas kejantananku. Dia membuka retsletingku dan memainkan jarinya dengan lihai didalam sana. Tak ingin kalah, kupelorotkan celana dalamnya hingga terlepas. Tanganku membuat suara didalam vaginanya yang telah basah. Rok mininya menghalangi gerak tanganku sehingga terpaksa aku robek karena tak menemukan tempat untuk melepaskannya.

“Aku harap kamu membawa pakaian ganti nona..” ledekku.

Mulutnya hanya mendesis menikmati sensasi yang diberikan oleh tanganku. Jariku perlahan maju mundur dengan kencang, tubuhnya semakin bergoyang mengikuti irama gerakan tanganku. Ketika dia mengerang, kuberikan jari tanganku ke mulutnya. Cairan yang membasahi jariku dijilatnya dengan rakus. Mulutnya maju munjur menghisap dengan kencang.

Diapun berjongkok di depanku. Tanpa ragu, dia menurunkan celana dalamku dan mulai menghisap kejantananku yang telah tegak berdiri. Dia sungguh lihai memainkan mulutnya, memberikan sensasi yang luar biasa pada tubuhku.

Keringat mengucur di sekujur tubuhku meski pendingin ruangan telah menyala dari tadi. Tak tahan, akupun menggerakan pinggulku maju mundur menyesuaikan dengan hisapannya. Lidahnya menjilat kepala penisku dan dia mengulumnya bagai mengulum permen. Aku pun tak tahan lagi dan menyemburkan spermaku didalam mulutnya. Aku mengerang mengencangkan peganganku pada pundaknya. Dia hanya tersenyum melihatku. Spermaku habis ditelannya.

“Kamu ingin gaya seperti apa Direktur Lee..?” tanyanya menggoda.

Berjalan bagai kucing melenggak-lenggok di depanku memamerkan pantatny yang kencang. Dia menari striptis dihadapanku. Hah.. gairahku bangkit lagi. Wanita ini benar-benar luar biasa. Hanya beberapa wanita yang aku kenal yang tanpa malu-malu mengeksploitasi dirinya seperti dia.

Dia kemudian naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya yang telanjang bulat. Kakinya dibuka lebar-lebar, lututnya digerakan sedemikian rupa seperti tarian erotis. Diapun mulai memijat-mijat bagian luar vaginanya. Satu jari dimasukkan ke dalam lubang kewanitaannya.

Aku hanya bisa menelan ludah memperhatikan setiap gerakannya. Dia masturbasi dihadapanku. Kini dua jari tangannya telah dia keluar masukkan dengan perlahan kemudian mendesak dengan cepat. Payudaranya pun tak lepas dari remasannya.

Aku mendekatinya, tak tahan melihatnya menikmati dirinya sendiri. Berbaring disampingnya, aku cium payudaranya dengan ganas. Dia berteriak nikmat ketika akhirnya cairan orgasme keluar dari dalam vaginanya. Cairan putih seperti susu lengket.

Kejantananku yang telah menegang lagi kini mendesak untuk segera mendapat pelepasannya. Sementara dia masih menikmati getaran sensasi orgasme didalam tubuhnya, aku tarik tubuhnya ke sisi luar ranjang.  Sementara aku berdiri di lantai, kedua lututnya ku angkat dan kukurung dengan tanganku. Pinggulku pun kuarahkan tepat pada lubang intimnya. Kuhujamkan kejantananku kedalam tubuhnya. Dia mendesah, ketika ujung penisku menusuk rongga nya yang terdalam.

Kugoyangkan badanku maju mundur. Makin kencang hingga terdengar bunyi gesekan dari paha kami. Aku merasa spermaku berada di ujung dan siap untuk keluar lagi. Namun kali ini, sebelum sempat melepaskan didalam, aku tarik penisku dan mengeluarkannya diatas perut wanita itu. Aku tak tahu apakah dia orgasme atau tidak, aku tak sempat memperhatikannya. Aku hanya tahu aku ingin memuaskan diriku. Aku tak harus memuaskannya juga kan.

Setelah membersihkan diriku, aku pun memakai pakaianku lagi. Dia menyusulku ke dalam kamar mandi untuk membilas tubuhnya. Hanya dengan melihatnya menyabuni tubuh telanjangnya nafsuku bangkit lagi. Dia hanya memandangku dengan tersenyum saat aku memilih keluar dari sana dan menyimpan tenagaku untuk esok hari.

Tenagaku telah terkuras dari pagi dan orgasme dua kali sudah cukup untukku. Aku bukan maniak seks seperti pandangan banyak orang. Aku hanya melakukannya bila merasa perlu. Aku tak ingin menghabiskan tenagaku bila kenikmatan yang aku dapat tak sebanding dengan tenaga yang aku habiskan.

Aku sedang membaca daftar menu makanan ketika dia keluar dari kamar mandi, handuk membalut tubuhnya.

“Kamu mau makan apa?” tanyaku.

“Aku diet..” jawabnya.

Aku mendengus mendengar jawabannya. Tak heran tubuhnya tetap langsing dan seksi. Dia mungkin tak pernah puas menikmati makanan bila setiap saat harus menjaga dengan ketat apa yang masuk ke dalam perutnya.

“Segelas anggur mungkin?” kataku sambil menuju ke etalase mini bar yang disediakan di dalam kamar hotel.

Mini barnya berisi berbagai jenis anggur dari merek-merek terkenal dan minuman beralkohol lainnya. Aku memilih sebotol anggur putih yang diproduksi pada tahun 1920. Anggur dengan kwalitas tinggi, aromanya manis dan memabukkan.

Segelas anggur ku serahkan padanya. Dia duduk di atas kursi kerja dengan tubuh telanjangnya. Melipat kakinya, menyembunyikan bagian kewanitaannya yang kubuka lebar-lebar setengah jam yang lalu. Aku pun duduk disampingnya. Ku raba pahanya yang mulus. Sedikitpun tak ada cela disana.


Meski ku katakan tak ingin menghabiskan tenagaku untuk hal yang sia-sia, aku tak bisa menolak ketika wanita itu duduk diatas pangkuanku dan mencium bibirku dengan penuh nafsu. Malam itu kami berhubungan seks sebanyak empat kali, namun aku tak lupa untuk memakai kondom. Sungguh sial bila ternyata kemudian dia hamil dan aku harus menikahinya.

4 comments:

  1. hufftttt.... HOT yah,,,
    kasih seung ho dilupakan... kp ingetnya sih nih org? pengen dijitak rasanya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum ada obatnya sist buat yg suka ilang ingatan gini. hahahaha...

      Delete
  2. yeyyeyey
    aduch Eun Ri jahat bgt ya??
    di jadi antagonis ni disini,,
    kabar Hye Sun gmna ya?????

    ReplyDelete
    Replies
    1. cuman jd peran figuran aja sist dia disini. kl ditambahin antagonis ni drama jd puanjang lol

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.