"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 22, 2012

Fifth Drama - Chapter 13



“Aku yakin kamu akan menghubungiku lagi kan Direktur Lee?” Ma Eun Ri mencium bibirku panas.

Dia memelukku manja sesaat sebelum meninggalkan tempat ini. Kami berhubungan seks sepanjang hari. Well, dia lah yang banyak bergerak seperti keinginanku. Dia sangat ahli memainkan tubuhnya diatasku. Entah sudah berapa laki-laki yang dia tiduri hingga menjadi seorang “sexpert”.

“Kita lihat nanti” kataku santai.

Dia kemudian membelai tubuhku dan berlalu dengan langkahnya yang ringan menuju lift mengantarkannya keluar. Yah, mungkin aku akan memanggilnya lagi. Aku tak akan bosan bermain dengannya, well, sampai beberapa bulan yang akan datang.


Aku pun menutup pintu dan kembali ke ruang tamu kamar itu. Mataku tak sengaja melirik lemari yang telah kulihat berkali-kali berdiri disana. Ada yang tidak biasa menurutku. Ada sesuatu yang hilang disana. Namun aku tak dapat mengingatnya. Sekeras apapun aku berusaha, kepalaku tak bisa berpikir tentang hal itu. Buntu.

Kunyalakan televisi untuk menghilangkan kebosananku. Kamar itu sekarang sunyi sepi. Kontras dengan kamar ini beberapa jam yang lalu. Ma Eun Ri, wanita yang aku tiduri kali ini, seorang artis terkenal yang sangat ahli di atas ranjang, dia sangat berisik. Seperti bila sedang berhubungan seks dengan wanita Jepang di dalam video biru.

Aku pun mendengus. Ku rentangkan kaki ku di atas meja. Badanku pegal dan ngilu karena aktivitas ranjang yang tiada henti dari kemarin malam. Kuyakin kan diriku “hanya sekali sebulan”.

Sekelebat ingatan muncul dalam kepalaku ketika aku tertidur dalam dudukku. Sesosok tubuh wanita, wajahnya samar, aku tak bisa mengenalinya. Dia menangis dibawahku, memohon untuk dilepaskan, tapi laki-laki yang menindih tubuhnya, aku, justru tertawa dan memaksanya untuk menuruti keinginanku. Ini pemerkosaan.

Aku pun terbangun dengan keringat membasahi tengkuk ku. Apa yang aku impikan barusan. Siapakah wanita yang a..aku..perkosa?? Aku tak pernah merasa pernah memperkosa seorang wanita, tak mungkin ada yang aku lewatkan kan?

Sepanjang hari impian itu menganggu pikiranku. Mungkin hanya mimpi, kataku tak yakin. Sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, aku keluar dari hotel itu dan mengendarai mobilku menjauh melewati jalanan kota yang lengang.

~~~~

Keesokan harinya, rutinitas monoton kembali aku lalui. Rapat membosankan dengan dewan direksi yang selalu merengek untuk relokasi dana dan tambahan modal untuk proyek ulangtahun stasiun televisi. Untuk tahun ini, BBC akan mengadakan lomba dengan hadiah yang besar.

Beberapa rumah mewah dikawasan pinggiran kota, mobil import, kendaraan bermotor, televisi, gadget, tabungan dan masih banyak lagi. Dewan direksi menyarankan agar menambah hadiah lain agar event kali ini bisa mencakup banyak sponsor dari produk yang berbeda.

Cukup masuk akal, namun aku sangat suka membuat mereka memohon padaku. Hiburan di hari yang membosankan. Aku pun tersenyum saat meninggalkan ruang rapat, meninggalkan dewan direksi yang bengong tak menyangka saran mereka belum ku setujui. Kalian harus sedikit berusaha, sungutku.

Sebelum menuju ke kantorku, aku hendak berkeliling studio untuk menonton reality show yang ditayangkan langsung saat ini. Ratingnya cukup tinggi, mereka pantas mendapat apresiasi dengan memberi prioritas utama untuk segala keperluan mereka. Namun di lobby mataku terganggu oleh sedikit keributan kecil yang menarik perhatianku.

Seorang laki-laki paruh baya sedang berargumen dengan petugas keamanan dan petugas bagian informasi gedung ini. Aku pun menghampiri mereka, ingin tahu apa yang sedang terjadi. Asisten Joon yang mengikutiku dari tadi memanggil petugas lain dan menanyakan tentang keributan itu.

“Ada apa ini?” tanyaku.

Petugas keamanan dan petugas bagian informasi membungkuk memberi hormat padaku. Laki-laki paruh baya itu kemudian memanggil namaku dan mendekati ku dengan agresif. Dia memegang tanganku untuk mendapat perhatianku. Well, you got it now.

“Direktur Lee... Akhirnya saya bertemu dengan anda. Mereka tak mengizinkan saya untuk menemui anda. Saya harus berbicara dengan anda, Direktur Lee” dia hampir menangis saat mengatakan hal itu.

Aku semakin bingung, apa yang sedang menimpa laki-laki ini.

“Apakah, aku mengenalmu?” tanyaku kemudian.

Dia memandangku tak percaya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri seolah mencari tahu bahwa aku adalah orang yang dia cari.

“Anda tidak mengenali saya?? Saya Mandor Jung.. saya yang mengurus rumah yang anda bangun. Anda sudah tak pernah berkunjung kesana lagi sejak enam bulan yang lalu. Saya tidak bisa melanjutkan proyek ini bila dana yang berikutnya belum anda cairkan. Sudah 95%.. Direktur Lee... hanya tinggal finishing, dan rumah anda akan selesai..” katanya ragu.

“Rumah yang aku bangun?? Apa maksudmu? Aku tak pernah membangun rumah.. apa..??” semakin bingung, akupun memanggil Asisten Joon dan menanyakannya tentang hal ini.

“Apa kamu tahu mengenai rumah ini?” tanyaku pada Asisten Joon.

“Direktur Lee.. anda tidak pernah memberitahukan saya perihal rumah yang anda bangun, tapi memang benar anda membeli tanah seluas 500 meter persegi dan telah mencairkan cek dengan jumlah total 350.000.000 Won, namun anda tak menjelaskan untuk apa cek tersebut” jelasnya.

Aku tak percaya apa yang aku dengarkan. Uang 350.000.000 Won bukanlah uang yang sedikit. 500 meter persegi bukanlah lahan yang kecil. Dan aku membangun rumah diatas tanah itu? Dengan menghabiskan uang 350.000.000 Won? Aku tak percaya. Untuk apa aku melakukan hal itu. Kepalaku pusing memikirkannya.

Apakah itu babi? Celengan babi? Bayangan itu melintas dalam kepalaku. Apa artinya ini?

Setelah meminum obatku, pusingku mulai mereda. Mandor Jung masih berada di ruang tunggu kantorku. Aku belum siap untuk menanyainya lagi. Asisten Joon membawakanku arsip-arsip dan sertifikat tanah 500 meter persegi yang telah aku beli hampir setahun yang lalu. Beberapa bulan sebelum kecelakaanku. Kenapa aku sampai tak mengingatnya? Hal sebesar ini? Kepalaku pusing lagi. Aku pun menyuruh sekretarisku untuk memanggil Mandor Jung. 

“Direktur Lee..” katanya.

“Duduklah, Mandor Jung” perintahku.

Mandor Jung pun menarik kursi di depanku dan menjatuhkan pantatnya yang lebar.

“Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi. Aku benar-benar tak ingat. Entah hal apalagi yang tak bisa aku ingat. Sekarang aku merasa sangat buruk. Sepertinya aku telah melupakan banyak hal. Aku melihat hal-hal yang tak masuk akal didalam kepalaku. Mungkin aku harus memeriksakannya ke dokter. Tapi, sebelum itu. Aku ingin anda mengantarkanku kerumah yang anda maksud tadi. Aku ingin melihat seperti apa rumah yang aku bangun dengan uang sebesar 350.000.000 Won” kataku tajam.

Aku tak mungkin di tipu kan? Karena tanda tanganku lah yang menandatangani semua cek-cek itu. Tujuh buah cek yang aku cairkan selama empat bulan berturut-turut, masing-masing berjumlah sebesar 50.000.000 Won. Atau sebesar 50.000 US $!!

Dituntun oleh Mandor Jung, mobilku pun membuntutinya ke sebuah rumah mewah yang berada disamping sungai Hwang Dae. Rumah itu sungguh luas. Mungkin luas keseluruhan bangunannya 200 meter persegi. Ada enam kamar disana, 2 kamar tamu dan sebuah kamar tidur utama. Ruangan tamunya terlihat anggun dengan gaya arsitek barat yang exclusif. Langit-langitnya yang tinggi memberikan nuansa megah dan lega.

Aku memandang sekelilingku. Kebun-kebunnya hampir selesai dibangun, beberapa lahan telah ditanami tumbuh-tumbuhan bunga dan bonsai. Bahkan ada kolam renang, dan tempat bermain anak-anak?? Untuk apa aku membangun rumah seperti ini? Apakah aku sedang membangun rumah untuk seseorang yang sudah berkeluarga? Tapi siapa?

Tak sadar aku menggaruk kepalaku. Bila keadaannya berbeda, aku akan senang tinggal disini. Namun aku tak tahu alasanku membangun rumah semewah ini, rumah yang aku tempati sekarang tak jauh berbeda dengan rumah ini bila dibandingkan dengan luasnya. Meski tak semegah ini, namun rumah itu termasuk dalam kelas mewah.

Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan dengan rumah ini, haruskah aku melanjutkan pembangunannya? Sungguh sayang bila rumah sebagus ini ditelantarkan, hanya akan membuatnya rusak. Mungkin nanti rumah ini bisa aku sewakan kepada orang lain, pikirku.

“Asisten Joon, uruslah masalah ini. Aku sudah pusing memikirkannya. Aturlah agar semuanya beres. Aku ingin rumah ini cepat diselesaikan. Bayarlah berapa pengeluaran yang harus dibayar. Dan tolong rahasiakan hal ini dari dewan direksi. Mereka tak akan senang mendengarnya meski aku membeli semua ini dari kantongku sendiri” keluhku.

Aku pun mencari Mandor Jung yang sedang mengarahkan pekerjanya. Dia membungkuk memberiku hormat.

“Mandor Jung, tolong selesaikanlah rumah ini seperti seharusnya” kataku singkat.

Diapun mengangguk. Aku tak perlu jawaban lain. Aku lelah menghadapi hari ini. Aku akan membuat janji dengan dokterku besok. Semoga dia punya penjelasan yang masuk akal tentang hal ini. Untuk saat ini, aku akan kembali ke kantorku. Aku harus menandatangani perjanjian kerjasama dengan stasiun swasta dari Thailand.

~~~~

Aku merenung dibalik kursi kerjaku. Menatap keluar ke arah langit malam, awan gelap menguasai, bintang-bintang bersembunyi dan tak berani menampakan sinarnya ke bumi. Aku merasa kosong, kejadian hari ini menguasaiku melebihi yang bisa kuterima. Akupun menghela nafasku. Saatnya kembali kerumah.

Jas yang ku gantungkan pada punggung kursiku terjatuh, ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, mataku tertumbuk pada sebuah amplop berwarna coklat yang terselip disamping meja dan tembok. Sudah sejak kapan amplop ini disini. Aku pun meletakannya diatas mejaku. Tak ada nama pengirim, tak ada tulisan apa-apa. Hanya sebuah perangko 500 won yang menempel di sudut kanan atas amplop itu. Karena penasaran dengan isinya, akupun membawanya pulang. Akan kubuka dirumah, pikirku.

~~~~ 

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Aku meletakkan buku bacaanku di atas meja, saatnya tidur. Namun aku teringat pada amplop yang aku bawa dari kantorku. Aku pun beralih ke meja kerjaku, amplop itu kuletakan disana. Dengan hati-hati ku robek pinggirannya, sebuah kunci dan cincin emas mungil jatuh dari dalam amplop itu.

Aku mengenali kunci itu, itu adalah kunci apartemen yang aku sewakan kepada pasangan suami istri Kim. Kenapa kunci itu berada dalam amplop ini? Mereka kah yang mengirimnya? Apa mereka sudah pergi dari apartemen itu? Mereka semestinya mengabariku bila pindah dari sana. Dan cincin ini, aku menelitinya sekilas. Cincin emas 22 karat dengan berat tak kurang dari 5 gram. Mungil, mungkin seukuran jari manis wanita. Mataku pun terusik dengan pahatan huruf-huruf di dalamnya.

“Lee Seung Ho”

Kenapa ada namaku di dalam cincin ini? Apa arti cincin ini? Aku tak ingat pernah memiliki cincin seperti ini, ini seperti cincin kawin. Cincin kawin? Aku pun geram dan menghempaskan isi amplop itu dengan kasar. Siapa yang mencoba menipuku dengan tipuan murahan seperti ini? Dari dalam amplop terlihat secarik kertas disampirkan. Akupun membuka kertas itu dan membaca isinya. Sebuah surat. Ditujukan untuk ku..

“Meski pertemuan yang singkat denganmu, aku tak pernah sanggup untuk melupakanmu..

Meski banyaknya luka yang kamu berikan, aku tak akan pernah sanggup untuk membencimu..

Namun aku akan pergi, untuk kebaikan semuanya.

Bila, suatu hari nanti kamu mengingatku kembali, janganlah terlalu membenci dirimu.

Karena aku tahu, itu bukanlah kamu yang mengenalku.

Aku kembalikan kunci apartemen yang kamu berikan, terlalu banyak kenangan yang tak bisa aku hadapi saat ini.

Lee Seung Ho.. aku tak akan pernah berhenti untuk mencintaimu.

Aku masih berharap.. “


Aku membaca kalimat demi kalimat dan tak bisa menangkap arti dari surat itu. Tak ada nama pengirim. Orang yang menulis surat ini pasti membenciku. Dia ingin membuatku gila dengan semua teka-teki ini. Sialan!!!

Tapi apa yang dia maksud dengan “Bila, suatu hari nanti kamu mengingatku kembali, janganlah terlalu membenci dirimu.” ? apakah aku kehilangan ingatanku? Bagaimana dia bisa tahu hal itu? Aku bahkan tak tahu, dokter bahkan tak pernah memberitahuku. Surat ini semakin membuatku gila. Tapi mataku terpaku pada kalimat-kalimat yang dia tulis terakhir.


“Lee Seung Ho.. aku tak akan pernah berhenti untuk mencintaimu.

Aku masih berharap.. “

Ada orang yang mencintaiku diluar sana. Apakah aku juga mencintainya...?

Setelah ku simpan seluruh isi amplop itu di dalam laci meja kerjaku, akupun tidur dan berusaha untuk melupakan semua keanehan yang aku alami seharian ini. Semoga tidurku nyenyak, doaku.

6 comments:

  1. smoga tidurnya direktur lee itu gak nyenyak hehehe....
    sedih bc suratnya seung ho....

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahha... belum ada lanjutannya nih..

      Delete
  2. hayo mbk shin....
    semangat2... klw bisa ntar mlm posting 4 bab sekaligus y...
    ahahaha
    ngarep.com

    ReplyDelete
  3. huwa~~~~
    Hye Sun ga muncul ya dipart ini,
    aku penasaran lho kakak,
    hehehe

    masak dokter ngak bilang kalau ke Seung Ho,
    kalau dia hilang ingatan,,,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya soalnya seung ho cuman ilang ingatan semasa dia ama hye sun, tp dia gaklupa jati dirinya, jd dokter pun gak nyadar. penyakit seperti itu kan gak bisa dilihat kyk luka robek atau patah tulang ^__^V

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.