"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, November 23, 2012

Fifth Drama - Chapter 14



“Hmm.. saya sudah memeriksa ct scan tengkorak kepala anda. Memang ada sedikit bagian tengkorak yang retak, namun tidak akan mempengaruhi kesehatan anda. Mungkin anda hanya kelelahan sehingga pusing yang anda derita semakin parah. Saya akan menuliskan resep untuk obat anti sakit yang cukup kuat untuk anda minum” kata dokter sambil mengamati hasil scan di layar komputernya.

“Lalu bagaimana dengan kemungkinan hilang ingatanku dokter? Akhir-akhir ini kepalaku mulai dipenuhi bayangan-bayangan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Orang-orang mengaku mengenalku, tapi aku tak pernah ingat bertemu dengan mereka” tanyaku khawatir.


“Hmm.. kemungkinan itu bisa terjadi. Tapi anda masih ingat jati diri anda, jadi kemungkinan anda mengalami gegar otak ringan yang memblokir beberapa syaraf memori di kepala anda. Bisa saja memori yang hilang adalah memori yang paling berharga atau bahkan yang tak terlalu penting. Untuk menelusurinya, kita harus memeriksanya dengan seksama. Saya akan mereferensikan seorang ahli syaraf yang bagus untuk anda” jawab dokter kepadaku.

Aku pun pergi dari ruangan itu setelah menerima resep yang aku butuhkan. Apakah hanya dengan meminum obat ini pusingku bisa hilang?

Saat berjalan melewati ruangan operasi aku teringat pada wanita yang memaksa masuk ke dalam kamar perawatanku. Aku mulai khawatir dengan semua yang dia katakan. Apabila semua yang dia bilang benar, maka aku adalah laki-laki paling brengsek di dunia. Dan dia sedang hamil..

Karena frustasi aku pun mengacak rambutku. Kemudian aku teringat pada isi amplop misterius yang aku buka kemarin. Aku harus memeriksa apartemen itu, pasti ada sesuatu yang bisa aku ketahui dari sana.

~~~

Udara pengap menusuk hidung ketika pintu apartemen itu terbuka. Tak ada cahaya yang masuk dari jendela yang tertutup rapat oleh tirai hijau gelap. Debu beterbangan di udara, terpantul cahaya dari pintu.

Hal pertama yang menyita perhatianku ketika lampu menyala adalah sebuah lemari lebar berwarna biru penuh dengan celengan berbentuk figur babi yang terbuat dari kaca transparan. Ku hitung sebanyak dua puluh buah dan semuanya penuh terisi coin. Jadi inilah bayangan yang melintas dalam kepalaku beberapa hari yang lalu.

Akupun menelusuri isi apartemen itu. Interiornya telah berubah dari yang terakhir aku ketahui. Bahkan furniture-furniturenya pun telah diganti. Meski hampir seluruh barang tertutup oleh debu, tempat ini cukup rapi ketika terakhir ditempati. Rak-rak dipenuhi buku literatur dan novel-novel barat. Beberapa novel berbahasa Korea dan Jepang. Semuanya tersusun rapi berurutan.

Aku terkesima memandang ranjang putih yang berada di kamar utama. Ranjang itu lebar dan mampu menampung empat orang dewasa meski berbaring tanpa bersentuhan. Sebuah lukisan laut dan bangau terbang. Sebuah lukisan yang aneh untuk dipasang di dalam kamar tidur.

Tak terlalu banyak yang bisa aku ketahui dari apartemen ini. Tak ada petunjuk ataupun benda yang bisa ku ingat selain celengan babi yang berderet tersenyum di lemari. Mengapa ada orang yang mengumpulkan celengan sebanyak itu, pikirku. Akupun teringat pada penyewa apartemen ini, mungkin dia mengetahui sesuatu.

“Asisten Joon, segera hubungi Tuan Kim yang menyewa apartemen ini. Aku ingin menanyakannya sesuatu” perintahku.

Kami pun kembali ke dalam gedung stasiun televisi untuk menghubungi Tuan Kim. Hanya dialah satu-satunya petunjuk yang mungkin bisa membantuku memecahkan semua misteri ini.

“Direktur Lee, anda sudah terhubung dengan Tuan Kim. Namun saat ini pukul lima pagi disana. Nampaknya Tuan Kim sedang berada di luar negeri” suara Asisten Joon memberitahuku melalui telephone.

“Baik.. Halo Tuan Kim? Aku Lee Seung Ho, pemilik apartemen yang anda sewa. Bolehkah aku menanyakan beberapa hal padamu?” kataku.

“Mr. Lee.. bagaimana kabar anda? Saya terkejut anda menghubungi saya pagi ini, untungnya saya sudah bangun dari tidur saya. Ah.. apa yang bisa saya bantu untuk anda, Mister?” tanya Tuan Kim sopan.

“Maafkan bila aku mengganggu, tapi aku sangat perlu jawaban dari anda. Sebelumnya aku ingin bertanya, apartemen yang anda sewa, apakah sudah tidak anda tempati lagi?” aku was-was menunggu jawaban dari Tuan Kim. Dia tampak terkejut mendengarku menanyakan hal itu.

“Ah.. maaf Mister Lee.. bukankah saya sudah menyerahkan kunci apartemen kepada anda hampir setahun yang lalu, tepatnya sepuluh bulan yang lalu? Kami tidak menyewa apartemen anda lagi karena kami berencana untuk tinggal di luar negeri...” dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya “Apakah ada sesuatu yang terjadi, Mister Lee?” tanyanya mengkhawatirkan diriku.

“Oh, tidak ada yang terjadi. Aku hanya sedikit lupa tentang beberapa hal. Anda tahu kan, stres pekerjaan” gurauku mencoba tertawa agar laki-laki ramah itu tak khawatir.

“Baiklah, kalau begitu apakah aku pernah mengatakan sesuatu tentang apartemen itu mungkin? Yang anda ketahui?” tanyaku lagi berusaha untuk mendapat sesuatu dari Tuan Kim.

“Ah.. kalau tidak salah anda pernah berkata.. akan mengatur ulang apartemen itu untuk seseorang. Ketika saya menanyakan siapa, anda hanya tersenyum malu. Dan waktu itu saya menduga mungkin anda sedang jatuh cinta.. tapi itu hanya terkaan orang tua seperti saya. Mungkin mata saya salah..” katanya rendah hati.

Jatuh cinta? Aku? Mana mungkin? Wanita seperti apa yang bisa membuatku jatuh cinta padanya? Senyumku ironis.

“Baiklah Tuan Kim, bila anda ingat sesuatu, tolong hubungi aku. Akan sangat membantuku. Dan maaf sudah mengganggu dan merepotkan anda” kataku menutup telephone.

Dadaku terasa penuh sesak. Perasaan ini menggangguku sejak kembali dari apartemen itu. Seolah tempat itu menarikku untuk datang kesana lagi. Ada kenangan yang tak bisa kuingat yang mengikatku. Celengan babi sialan itu selalu mengisi kepalaku. Ada apa dengan celengan itu? Aku mungkin akan gila bila tak bisa memecahkan masalah ini secepatnya.

“Direktur Lee.. rapat program akan segera dimulai. Apakah anda ingin menundanya dulu?” tanya Asisten Joon saat muncul di kantorku dengan map-map tebal berisi laporan program acara yang sedang berlangsung.

“Tak perlu. Aku harus mengalihkan pikiranku dari hal ini. Hanya pekerjaan saja yang aku miliki sekarang” aku pun berdiri dan melangkah menuju ruang rapat bersama para Produser acara TV.

Namun pekerjaan pun ternyata tak bisa mengalihkanku dari pikiranku. Isi surat yang ditujukan padaku masih menggema dalam kepalaku.

Lee Seung Ho.. aku tak akan pernah berhenti untuk mencintaimu”

dan kata-kata Tuan Kim tadi...

...anda hanya tersenyum malu. Dan waktu itu saya menduga mungkin anda sedang jatuh cinta..

Akupun melompat dari dudukku. Para Produser saling pandang kebingungan melihat tingkahku. Akupun meminta maaf dan menyuruh mereka melanjutkan dengan penjelasannya.

Meski pikiranku melayang dimana-mana, hasil rapat kali ini cukup memuaskan. Begitulah bila bekerja dengan tim terbaik, produk yang dihasilkan pun menjadi baik. Para Produser itupun menyalamiku memberi selamat. Ketika giliran Produser Choi menyalamiku, dia mengolok-olokku dengan leluconnya.

“Apa kabar Direktur Lee.. Sangat jarang bisa bertatap muka langsung dengan anda. Sejak berhasil mendapatkan pujaan hati anda, anda tak pernah bermain ke areal syuting lagi. Para crew merindukan anda” Produser Choi tertawa lebar mengira leluconnya lucu.

“haha.. lucu Produser Choi. Anda masih saja seperti dulu, selalu mengolok-olokku. Aku tak mengerti apa maksudmu. Aku sedang banyak pikiran belakangan ini” kataku berusaha menimpali tawanya.

Namun Produser Choi berubah serius ketika mendengar jawabanku. Alisnya mengkerut diatas matanya, mencoba untuk memilah kata-kata yang akan dia ucapkan.

“Anda tidak bercanda kan, Direktur Lee? Bukankah anda sedang berhubungan dengan wanita itu? Wanita yang anda kejar-kejar dulu.. yang anda tanyakan infonya dari saya?” Produser Choi menatapku tak percaya.

Akupun mendekati Produser Choi, dia tahu sesuatu, pikirku.

“Wanita itu? Siapa wanita itu Produser Choi?” tanyaku lirih. 

4 comments:

  1. hadeh si lee ini tak jedotin juga nih kepalanya hehehe,,,
    mba shin bikin penasaran, ayo mba terusin lagi ceritanya, ku nanti y mba....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sist jedotin aja, siapa tahu ingatannya balik lg habis dijedotin hahahaha

      Delete
  2. mulai terkuak ini,
    produkser Choi tetep jadi sumber dari segala sumber(?) ya???
    hahahhaha
    lanjut yuk~~~~

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.