"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, November 23, 2012

Fifth Drama - Chapter 16



“Direktur Lee.. Produser Choi ingin menemui anda” kata Asisten Joon dari meja kerjanya yang kecil di depan ruang kerjaku.

Sudah seminggu aku bekerja dari rumahku. Aku tak sanggup untuk pergi ke kantor. Setiap menginjakan kakiku disana, aku selalu teringat akan kecelakaan yang menimpaku enam bulan yang lalu. Kecelakaan yang merenggut ingatanku dan memisahkanku dari Hye sun. Dan anak kami..

Terlalu sering aku menghela nafas belakangan ini. Makanan yang diberikan oleh pelayanku selalu bersisa. Selera makanku hilang. Sudah dua hari hanya asap rokok dan air putih yang masuk melalui mulutku. Aku tak ingin makan sementara tak ada kabar dari Hye sun. Entah apa yang terjadi padanya. Bagaimana dia bisa melewati semua penderitaan ini, dengan perutnya yang semakin membesar.


Sebulan lagi anak kami akan lahir. Aku harus menemukannya sebelum itu. Bila terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, aku tak akan sanggup hidup lagi. Terlalu berat penderitaan yang menghinggap dalam hatiku.

“Suruh dia masuk..” kataku pelan.

Ruang kantorku dipenuhi asap rokok ketika Produser Choi masuk diikuti oleh seorang laki-laki yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

“Direktur Lee..” katanya.

“Duduklah Produser Choi. Siapa yang datang bersama anda?” tanyaku sambil mencoba menerka alasan Produser Choi menemuiku.

“Perkenalkan, Direktur Lee.. ini kolega saya, Tuan Han, dia adalah seorang Produser film dari Mcable studiohouse” katanya memperkenalkan.

Kami pun berjabat-tangan sebelum mereka kupersilahkan untuk duduk. Mcable studiohouse adalah salah satu rumah produksi yang mencetak film-film box office di Korea. Beberapa yang terkenal diantaranya film roman “Tiga Dewa” dan “My Ballerina”

“Aku yakin anda punya informasi yang penting untukku kan Produser Choi? Kalau tidak, untuk apa anda datang kesini? Bila urusan pekerjaan, aku yakin anda harus berhubungan dengan Asisten Joon” kataku sambi menghisap rokokku dengan nikmat.

Tamuku tampak terganggu dengan asap rokokku. Mereka juga mungkin menyadari penampilanku yang lusuh dan pucat. Perduli setan. Aku tak membayar orang untuk menilai penampilanku.

“Direktur Lee.. saya turut prihatin dengan kondisi anda. Sebaiknya anda mengurangi untuk merokok” kata Produser choi memberi saran.

Aku pun mematikan puntung rokokku dan tak banyak komentar dengan nasehatnya itu. Hanya agar dia segera mengatakan tujuannya menemuiku.

“Produser Han ingin mengatakan sesuatu pada anda, mengenai nona Jung Hye Sun” katanya sambil menoleh pada Produser Han yang duduk disampingnya.

Telingakupun menjadi awas mendengar nama Hye sun disebut. Aku berusaha menyembunyikan betapa di dalam hatiku aku ingin berteriak dan merenggut kerah baju Produser Han agar dia segera mengatakan apa yang dia ketahui.

“Iya, benar Direktur Lee. Produser Choi mengatakan pada saya bahwa anda sedang mencari tahu keberadaan nona Jung Hye Sun. Kebetulan saat ini kami sedang membuat film dengan ide cerita yang dibuat oleh nona Jung Hye Sun. Namun..” katanya terputus saat memandang mataku yang menyipit. Dia merinding didalam duduknya dan mengalihkan pandangannya ke lantai. Apakah aku seseram itu? Pikirku.

“Lanjutkan Produser Han. Lanjutkan..” kataku mencoba ramah.

“err.. namun kami tidak pernah berhubungan langsung seperti biasanya. Nona Jung Hye Sun hanya mengirimi kami script melalui email dan surat pos yang tak berisi alamat. Kami tidak pernah bertemu untuk berdiskusi mengenai cerita film ini. Semua korespondensi kami lakukan melalui email. Hanya satu kali nona Jung Hye Sun menelephone saya, itupun ketika saya menanyakan kemana harus mengirim bayaran fee cerita yang dia buat” katanya lagi.

Setelah Asisten Joon mengantarkan Produser Choi dan Produser han ke pintu gerbang, akupun memanggilnya.

“Direktur Lee..” katanya.

“Apakah kamu tahu bila ada tekhnologi yang bisa melacak sinyal telephone dan riwayat penarikan uang tunai?” tanyaku serius.

“Untuk melacak sinyal telephone, anda harus mengajukan beberapa surat dari pengadilan dan pihak kepolisian untuk mendapat izin melacak sinyal handphone tertentu, namun prosesnya berbulan-bulan dan er..biayanya sangat besar Direktur Lee..” dia melirikku takut. Takut aku akan meledak bila dia menyinggung masalah uang saat nyawa Hye sun dipertaruhkan. Aku hanya menghela nafas menahan emosiku. Tak ingin memperkeruh suasana.

“Lanjutkan..” kataku. Asisten Joon kemudian ikut menghela nafasnya yang dia tahan dari tadi.

“Sedangkan untuk melacak riwayat penarikan uang tunai, saya rasa tidak akan sulit. Karena paman anda adalah Kepala pengawas perbankan di negara ini. Mungkin anda bisa meminta bantuannya” katanya dengan yakin.

Tak tahukah dia, pamanku adalah orang yang sangat licik. Bila menginginkan sesuatu darinya, aku harus memberinya sesuatu yang berharga sebagai balasannya. Dan aku cemas akan apa yang dia minta. Sanggupkah aku menanggung resiko kehilangan semua hartaku?

~~~~

“Seung Ho.. sungguh kejutan.. apa yang membawamu berkunjung ke kantor paman mu yang sempit ini? Sudah hampir sepuluh tahun kamu tak pernah menemuiku, bibi mu pun merindukanmu” katanya basa-basi.

Aku tahu saat ini pasti otak di dalam kepalanya berputar dan rencana licik mulai terpikirkan olehnya. Dia adalah laki-laki yang tamak, mungkin sudah ratusan juta uang negara dikorupsinya.

“haha..duduklah. kamu masih saja memandangku dengan sinis. Kalau kamu hendak meminta bantuanku, rubahlah sedikit tingkahmu itu. Aku pantas untuk dihormati, aku adalah adik ayahmu” senyumnya menyeringai seperti serigala kelaparan.

Aku bisa melihat bayangan tanda dolar di matanya saat ini. $$$. Akupun berdehem membersihkan tenggorokanku. Berharap semuanya akan baik-baik saja.

“Aku ingin anda memeriksa beberapa hal untukku, pamann..” kataku mendesis.

“Apakah aku mendengar kata “tolong” disana.. Seung Ho?” senyum licik mulai bermain di bibirnya.

Laki-laki ini bisa menjadi bisul di pantat bila merasa di atas angin. Akupun menggertakan gigiku. Aku harus bersabar. Demi Hye sun, demi diriku.

“Tolong...” kataku lemah.

“Aku tak mendengarmu Seung ho.. lebih keras..”

Aku tak percaya melihat laki-laki tua ini mencoba untuk mempermainkanku. Dia sudah berbau tanah dan masih berlagak seperti dirinya tiga puluh tahun lalu. Tinjuku mengepal disamping tubuhku.

“Tolong bantu aku memeriksa beberapa hal, paman..” akupun mengalah. Kepalaku membungkuk memberi hormat padanya. Senyum kemenangan mencibir dimulutnya.

“Apa yang akan aku dapatkan bila membantumu, Seung ho..?” dia selalu menekankan namaku di setiap kalimatnya. Mengintimidasiku.

“Apapun yang anda inginkan paman..” kataku berbisik.

Matanya menyala, dia nampak senang dengan jawabanku. Entah apa yang akan dia minta kali ini. Hampir semua peninggalan ayahku telah dimintanya. Meski aku tak membutuhkan hal itu sama sekali, namun ketamakannya membuatku muak.

“Ahh.. tapi aku tak perlu apa-apa darimu Seung ho..” katanya licik masih menimbang-nimbang apa yang akan dia katakan.

“..tapi.. aku ingin milik ayahmu..” diapun akhirnya memperlihatkan ketamakannya padaku.

“Katakan paman. Anything..” kataku lagi berusaha menimpalinya.

“hahahaha... kenapa kita tidak sejalan seperti ini dari dulu Seung ho? Bila kamu menurut seperti ini sejak dulu, mungkin aku akan mengangkatmu menjadi anakku. Toh kita masih memiliki hubungan darah kan?” dia tertawa terbahak-bahak.

Sinar matanya berubah, dia menjadi serius. Dia mendekati wajahku dan hampir berbisik.

“Kamu tahu apa yang aku inginkan sejak dulu Seung ho. Hanya itu yang aku inginkan”

Akupun menelan air liurku. Dugaanku tepat. Aku tak tahu apakah akan sanggup melepaskan rumah itu. Aku lahir dan tumbuh disana. Bersama ayahku yang aku cintai, ibuku yang gila dan kenangan-kenangan lain yang tak mungkin aku lupakan. Sanggupkah aku?

Dengan lemah, akupun mengangguk. Aku harus melakukannya bila ingin Hye sun ku kembali. Bila ingin hidupku kembali.

Pamanku pun memelukku dengan erat. Berusaha menjadi paman yang tak pernah berhasil dia lakukan sepanjang tigapuluh dua tahun hidupku. 


4 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.