"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, November 23, 2012

Fifth Drama - Chapter 17



Setelah memberikan yang aku inginkan, dia mencoba untuk berjudi dengan kemenangannya padaku. Dengan seringainya yang memuakkan, pamanku mulai menyulut emosi yang telah kutahan sejak menginjakkan kakiku dikantor ini.

“Rumah peninggalan ayahmu ini, apa tidak sayang..kamu tukar hanya untuk mendapatkan info tentang seorang wanita? Diluar sana banyak wanita yang...”

Dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya ketika lehernya ku cekik dan kuhantamkan ketembok. Menekan tubuhnya yang gemuk. Tak berkutik.


“Dia bukan wanita biasa. Bila sekali lagi kudengar kau bersuara. Aku bersumpah akan membungkammu selamanya, paman!!” ancamku dengan tatapan membara.

Laki-laki itupun merosot dikakinya. Aku tak akan heran bila dia terkencing-kencing di celananya. Sejak kecil aku tak pernah menaruh simpati padanya. Sudah berkali-kali rencana liciknya berbalik mencelakai dirinya. Dia tak akan lupa pada apa yang pernah aku lakukan ketika dia mencoba memaksa ibuku yang gila untuk menandatangani surat wasiat palsu ayahku.

“Nikmati apa yang kamu punya selagi masih hidup paman. Jangan terlalu tamak. Kamu tak akan pernah tahu bila seseorang menusuk tubuhmu dari belakang atau saat kau tidur” tatapku tajam.

“Aku pergi. Terimakasih telah membantuku”

Dia masih terduduk pucat saat pintu itu kututup. Ini kali terakhir aku menemuinya. Hidupnya akan lebih lama tanpa berurusan denganku.

~~~~

“Tuan, dilarang merokok di dalam pesawat. Demi keamanan dan kenyamanan penumpang yang lain” seorang pramugari mendekatiku dan meminta rokok yang baru saja kunyalakan.

Aku tak sadar sedang berada di atas pesawat. Pikiranku melayang sejak mengetahui dimana kemungkinan Hye Sun berada. Provinsi Jeolla Utara. Tempat itu begitu jauh, begitu terpencil, aku tak yakin ada rumah sakit yang lengkap disana. Mengapa Hye sun berada disana...? Sejauh itu untuk menghindariku? Kenapa tak memilih rumah orangtuanya? Mereka bisa merawatnya saat anak kami lahir.

“Orangtuanya akan membunuhnya, bodoh” aku menjawab pertanyaanku sendiri. Aku memang bodoh, tak memikirkan hal itu. Orangtua mana yang tak murka mengetahui anak gadisnya hamil diluar nikah dan ayah bayi didalam kandungannya mengatainya pelacur dan wanita murahan?

Bila orangtuanya tahu, mereka akan mencincangku hidup-hidup. Tubuhku pun bergidik membayangkan ayah Hye sun sedang mengasah golok dengan memasang wajah mengerikan.

“Maaf..” kataku sambil menyerahkan rokok yang belum sempat kuhisap pada pramugari itu.

Dia pun berlalu meninggalkanku untuk kembali ke kabinnya. Ruang eksekutif pesawat ini lengang. Tak heran, provinsi yang aku datangi memang bukan daerah tujuan bisnis ataupun wisata. Hanya tanah pertanian dan perkebunan yang luas terhampar disini. Kotanya pun tergolong masih terbelakang.

Penduduknya kebanyakan orang tua yang berusia empat puluh tahun keatas. Anak muda dan pelajar lebih memilih untuk pergi ke kota-kota besar seperti Ulsan, Daegu, Daejeon dan Sejong untuk mencari pekerjaan dan menuntut ilmu.

Asisten Joon berada di kursi bisnis di kabin belakang. Aku membutuhkannya di saat-saat seperti ini. Setidaknya aku tak akan kebingungan mencari tempat menginap ataupun kendaraan karenanya. Dia serba bisa namun tak serba tahu, keluhku.

Pikiranku kembali melayang, tenggelam dalam lamunanku. Bagaimanakah Hye sun sekarang? Seperti apakah dia? Sehatkah dia? Masihkah dia mengenalku? Bencikah dia padaku? Maukah dia menemuiku? Semua pertanyaan itu memenuhi kepalaku. Namun sebelum sempat memikirkan jawabannya, pramugari menyadarkanku. Pesawat sudah tiba di bandara internasional Gwangju. Dari sana kemudian kami mengendarai mobil ke kota kecil Imsil.


Imsil adalah kota keju. Disinilah keju buatan lokal pertama dibuat di Korea. Hingga saat ini, daerah ini menjadi pusat pembuatan Keju Imsil dan yoghurt yang dijual di seantero Korea. Namun, kota sekecil ini tidaklah sekecil yang aku kira. Dengan luas hampir 600 kilometer persegi aku tak mungkin menemukan Hye sun seketika. Malam ini kami terpaksa menginap di sebuah hotel kecil yang bahkan tak memiliki shower air panas. Dengan suhu malam hari dibawah 15 derajat celcius aku akan kedinginan dan membeku bila mencoba untuk mandi.

Setelah menyantap makan malam paling buruk dalam hidupku, kami berkeliling dengan berjalan kaki. Mencoba menanyakan setiap orang yang kami lihat tentang Hye sun. Namun hasilnya nihil. Kejadiannya terlalu lama, semua menggeleng kepala ketika kuperlihatkan foto Hye sun yang sedang berpose bersama crew drama yang aku dapat dari Produser Choi. Dia sangat membantuku selama ini.

“Sudah pukul dua belas malam, Direktur Lee.. apakah tidak lebih baik kita melanjutkan pencarian besok? Disini juga sudah tak ada orang yang lewat” kata Asisten Joon. Dia kelihatan lelah.

Aku memaksanya mengikutiku kesini. Kota kecil tanpa fasilitas umum yang memadai. Aku bahkan tak menemukan telephone umum ataupun ATM di dekat sini. Mungkin aku harus menanyakan posisi ATM sehingga aku tahu dimana Hye sun menarik uang, mungkin ada yang melihatnya saat itu.

“Kembalilah ke hotel lebih dulu. Aku akan membeli rokok di mini market itu dan menanyakan beberapa hal pada orang disana” kataku sambil berlalu menuju mini market itu.

Sebuah mini market kecil yang berdiri di tengah-tengah pertokoan yang sebagian besar telah tutup. Didalamnya terdapat sebuah mesin ATM yang telah kusam. Tak ada yang berbelanja disana saat itu selain diriku. Seorang ibu-ibu menyapaku ramah.

“Annyeonghaseyo.. Ada yang bisa aku bantu?” senyumnya mengingatkanku pada ibuku sebelum dia menjadi gila.

“Annyeong.. Hanya membeli beberapa barang..” kataku sopan.

“Aku belum pernah melihatmu, baru pindah disini?” katanya ingin tahu.

Ibu-ibu dimana pun memang suka berbicara dan bergosip. Tak beda dengan ibu penjaga mini market ini.

Aku pun tersenyum geli mendengar keingintahuannya. Mungkin dengan mulutnya dia telah mengorek rahasia setiap orang yang berbelanja di mini market miliknya. Pernahkah dia melihat Hye sun..??

“Ah..ya.. saya baru tiba disini malam ini. Saya sedang mencari seseorang” kataku lagi.

“Oh ya? Pasti seorang wanita khan?” katanya terkikik.

Ibu ini pasti terlalu banyak menonton serial drama korea hingga tahu apa yang orang lain cari. Aku pun mendekatinya ke meja kasir setelah mengambil sebuah alat cukur dan sisir.

“Bisa ambilkan rokok itu dua bungkus?” tanyaku sambil menunjuk rokok yang kumaksud.

“Yaahh.. kamu belum menjawab pertanyaanku..” ibu itupun mulau berlagak cemberut. Aku tergelak karenanya.

“Ehem.. iya, aku sedang mencari seorang wanita. Wanita yang sangat berharga...” pikiranku kembali melayang pada masa-masa aku dan Hye sun masih bersama.

Ibu itu melongo menatapku. Mukanya memerah. Dia tampak bersemangat dan dari wajahnya aku melihat dia sangat ingin membantuku untuk menemukan “wanita berhargaku” itu. Sungguh beruntung bisa bertemu ibu-ibu seantusias dirinya. Aku pun tersenyum, memperlihatkan senyum terbaikku.

“Siapa..siapaakah dia? Mungkin aku tahu?” katanya sambil menelan ludahnya. Sungguh ibu-ibu yang ingin tahu.

Kuserahkan foto Hye sun yang kuambil dari dalam saku kemejaku. Hye sun tampak tersenyum disana. Berdiri disamping pemeran utama drama itu, tangannya membentuk tanda victory. Mengingatkanku pada Hye sun yang selalu ceria.

Setelah melihat foto itu sekitar lima menit, ibu itupun menggelengkan wajahnya. Harapanku yang tadinya membuncah, kini sirna dalam sekejap. Meski aku tak berharap banyak bisa menemukan Hye sun pada hari pertama aku tiba, namun setidaknya setitik informasi akan sangat berguna untukku. Akupun menghela nafas lagi. Aku sangat ingin merokok saat ini. Hanya rokok lah pelarianku.

“Baiklah bu, mungkin aku akan mencari ditempat lain” kataku sedih.

Kumasukkan foto itu kembali ke saku kemejaku. Menaruhnya di dekat jantungku yang berdebar pelan, mulai kelelahan dengan semua ketidakpastian ini. Ekspresi ibu itupun ikut sedih melihat wajahku. Dia sungguh ingin membantu dan aku menghargainya. Namun mungkin Hye sun memang tak pernah kesini. Mungkin dia mengambil uang di tempat lain. Aku yakin masih ada ATM-ATM lain di kota ini.

“Ada apa?” tanya seorang laki-laki tua yang muncul dari pintu mini market. Dia memandangku curiga.

“Suamiku... untung kamu datang. Kesini.. kesini... kesini..” ibu itu kembali bersemangat melihat laki-laki yang ternyata adalah suaminya datang. Mungkin dia tahu sesuatu.

Ibu itu kemudian meminta foto Hye sun padaku dan memperlihatkannya pada suaminya.

“Suamiku.. Kamu pernah lihat wanita yang ada didalam foto ini tidak? Tuan yang disana sedang mencarinya. Dia adalah “wanita berharganya”. Kamu harus membantunya, ya” katanya dengan gembira.

Suaminya kemudian memandangku bergantian dengan foto yang dia pegang.

“Apa hubunganmu dengan wanita ini?” katanya kaku. Terdengar nada menuduh dalam suaranya.

Akupun menelan ludahku. Tak siap dengan konfrontasi penuh curiga orang ini. Akupun menarik nafasku dalam-dalam. Bersiap untuk dihajar, ya.. laki-laki itu sedang memegang payung ditangannya. Aku tak akan heran bila dia menggunakannya untuk memukulku. Dengan keras...

“..dia adalah calon istriku, tuan..” kataku jujur.

Aku tak ingin memulai dengan kebohongan untuk mendapatkan kepercayaan orang lain. Namun dia mengembalikan foto yang digenggamnya. Bersikeras untuk mengalihkan matanya yang berapi-api penuh amarah dariku. Tanpa bicara, dia masuk ke dalam ruangan di dalam mini market ini yang aku yakin adalah tempat mereka tinggal.

Apa yang baru saja terjadi? Laki-laki itu mengacuhkanku. Mengacuhkan orang yang sedang memerlukan bantuan? Dia sungguh tak berperasaan. Istrinya pun mengejarnya ke dalam kamar mereka. Suaranya yang nyaring terdengar dari luar. Mereka nampak mempertengkarkan sesuatu, namun aku tak yakin apa yang mereka katakan. Aku hanya menunggu, tak berani menyela mereka. Tak akan sopan bila aku memaksa masuk ke dalam kamar tidur mereka dan menyeret laki-laki itu untuk membuka mulutnya yang tertutup rapat.

Sepuluh menit kemudian, dia pun muncul. Matanya masih menyala-nyala seperti tadi.

“Keluar kamu!! Pergi dari sini!!” katanya kasar. Payung mengacung di tangannya mencoba untuk mengusirku dengan ujungnya.

Aku tak bergeming. Aku tak mengerti kenapa dia semarah itu padaku. Aku tak mengenalnya. Mengapa dia harus membenciku dan mengusirku dari mini market, sebuah tempat umum.

“Ambil uangmu dan pergi dari sini!!” dia mengambil 5000 won dari mesin kasir dan melemparkannya pada wajahku. Laki-laki tua ini sudah keterlaluan.

Aku menolak untuk keluar dari sana dan payungnya pun melayang memukuli kepalaku, kemudian punggung dan lenganku. Kakiku pun tak luput dari pukulan payungnya yang butut. Bapak tua ini memiliki energi yang cukup besar pikirku. Pukulan payungnya menyakitiku.

Akhirnya aku tak tahan lagi. Kutangkap tangannya yang sedang memukuliku. Istrinya berlari dari dalam kamarnya sambil memohon padaku agar tak melukai suaminya. Yang terluka disini aku, bukan suamimu bu. Istrinya pun berlutut di kakiku, memohon agar aku melepaskan suaminya. Dia berbicara pada suaminya.

“Suamiku.. beritahu dia.. meski bagaimanapun dia adalah ayah anak dalam kandungannya. Lebih baik mereka bersama daripada berpisah..” istrinya menangis memohon pada suaminya.

Akupun melepaskan cekalan ku pada tangannya. Dia meraba pergelangan tangannya, seolah aku menyakitinya.

“Dia tak pantas.. dia tak pantas.. Lebih baik kamu pulang dan jangan pernah menginjakkan kakimu disini lagi” dia masih keras kepala.

Akupun panik, bapak tua ini mengetahui dimana Hye sun berada tapi dia menyuruhku pergi dari sini. Bagaimana mungkin aku meninggalkan tempat ini saat aku tahu Hye sun berada sedekat ini denganku. Aku harus mengetahuinya, bapak ini harus memberitahuku. Berlutut pun aku rela agar dia mengubah keputusannya.

Bapak itu terdiam, payung ditangannya jatuh ketika melihatku berlutut di hadapannya. Dia mungkin tak akan menyangka aku akan melakukannya. Ya.. tak ada yang tak akan aku lakukan demi mendapatkan informasi keberadaan Hye sun. Tidak kemarin, tidak kali ini, tidak pula esok.

“..mengapa..mengapa..kamu melakukan hal ini bila dia kamu buang?? Dia hampir kehilangan bayi dalam kandungannya saat tiba disini!! Dia bahkan hampir kehilangan nyawanya bila aku tak menemukannya terduduk di samping kantor pos. Kamu dengar?!! Dia pingsan!! Wanita berhargamu tak berharga lagi bagimu hah?? Bila aku orang tua wanita itu, aku akan mencekikmu dengan tanganku yang renta ini” katanya. Suaranya bergetar.

Hatiku sakit mendengarnya. Air mata membasahi pipiku. Membayangkan Hye sun terduduk letih dan hampir kehilangan anak kami. Membayangkan perbuatanku padanya. Aku pantas mati. Aku tak pantas mendapatkan Hye sun lagi. Tapi aku tak sanggup hidup tanpanya, dan aku yakin diapun begitu. Kami saling mencintai. Aku tak akan menyerah sekarang. Meski kematian, akan aku lewati.

“Pukulah aku sesukamu tuan, caci-makilah aku sepuasmu. Meski tubuhku berdarah-darah dan kakiku tak sanggup lagi berjalan, aku akan tetap mencarinya. Aku akan mencari Hye sun ku. Dan meminta maaf padanya. Memohon dia memberikanku kesempatan lagi. meski dia akhirnya menolakku. Tak akan ada yang aku sesali. Aku memang pantas menerima segala sakit yang sepadan dengan sakit yang diderita Hye sun. Aku tak akan melawan bila dengan memukulku anda memberitahukanku dimana Hye sun berada” aku pun mengakhiri kata-kataku.

Memandang rendah ke arah semen tempatku berlutut. Menunggu pukulan dari laki-laki tua itu. Mungkin dia akan memakai kayu atau tongkat ataupun pedang, aku tak perduli. Aku telah siap. Meski tubuh ini hancur, selama nafasku ada, tekadku tak akan lenyap. Aku akan bertahan.

Hujan pun turun. Hujan pertama di musim panas. Membasahi kami bertiga. Yang berdiri dan berlutut saling berhadapan. Hujan turun semakin deras membasahi bumi, menyamarkan air mata yang mengalir di pipiku. Betapa aku merindukannya. Hye sun-ku. Merindukan kebersamaan dengannya. Andai aku bisa kembali ke masa-masa itu. Meski hanya sekali. Sekali kesempatan saja. Dan tak akan kuhancurkan lagi, aku akan lebih baik. 

12 comments:

  1. huaaaaaaaaaaaaaaaa.....
    syukurin si lee hehehehe...
    jgn kasih tau kek biar lee menderita wkwkwkwkwk

    i want more i want more hehehehe

    piss mba shin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. biar yang benci ama Seung Ho puasss... dia digebukin pake payung.. lol...

      Delete
  2. blom puas sampe dia bertekuk lutut sama hye sun hehehehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha... tergantung bertekuk lututnya dalam posisi apa dulu nih sist ahhahaha kaburr..

      Delete
    2. posisi apa yah??
      posisi org bersalah mba.... lanjutin dong ceritanya malam ini, please heheeh

      Delete
    3. hahahaha iya sist. ni lg dilanjutin, tinggal beberapa paragraph ^__^

      Delete
  3. y ampun...g tau hrs kasian apa kesel,hee

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kasian sist.. nanti br kesel.,.lol

      Delete
  4. OMG~~~~
    yeah sedikit lagi akhir Hye Sun ketemu....
    yeyyeyeyeyeey

    ReplyDelete
  5. Huaa
    Hiks hiks hiks
    Nangiis malem2 bc part yg ini
    :"(

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.