"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, November 24, 2012

Fifth Drama - Chapter 18



Saat mentari pagi bersinar, hujan semalam mulai reda. Tanah, jalan, rumah-rumah dan pepohonan basah karena derasnya hujan. Air sungai yang mengalir di samping jalan raya pun deras dan kencang. Pukul enam pagi tapi kota ini masih lengang. Hanya satu dua orang tua yang terlihat sedang mengayuh sepeda di jalan raya. Mereka memandangku penuh tanda tanya.

“Suamiku.. sudah sejak malam dia berlutut diluar sana. Dia pasti kedinginan, hujan semalam sangat deras. Kamu bisa membunuhnya” ibu pemilik mini market mengintip dari jendela toko nya dengan cemas.


Suaminya masih kukuh dengan keputusannya. Dia hanya memandangku sekilas, namun demikian wajahnya yang keras mulai terlihat melunak.

Sinar matahari menghangatkan tubuhku yang membeku. Cuaca yang tak bersahabat ditambah derasnya hujan membuat tubuhku menggigil kedinginan hingga ke dalam relung tulangku. Gigiku bergeretak, tubuhku kaku. Aku bahkan tak bisa menggerakan jari-jari tanganku. Hanya kemeja dan jaket yang telah basah kuyup yang kupakai.

Asap kabut keluar dari mulut dan hidung dalam setiap helaan nafasku. Sebentar lagi tubuhku akan roboh dan tak akan ada yang memperdulikannya. Dalam keletihanku, aku merasa seluruh bebanku terangkat. Aku seolah melihat Hye sun sedang tersenyum di depan mataku. Dengan gaun putih bagaikan peri, senyumnya tersungging, tangannya menjangkauku. Ketika pandangan mulai mengabur, aku merasa tubuhku diselimuti oleh pelukan yang hangat. 

~~~~

“Direktur Lee.. anda sudah siuman?”

Aku memandang Asisten Joon duduk disampingku. Tangannya memegang nampan makanan berisi mangkuk sup, tampak asap mengepul dari sup itu. Perutku yang keroncongan mulai berontak.

“Dimana aku? Tanyaku.

“Anda sedang berada di dalam kamar hotel, Direktur Lee. Sepasang suami istri memberitahu saya tentang anda kemudian kami memindahkan anda ke dalam kamar” dia memandangku iba.

“Dimana mereka? Aku ingin menemui mereka. Mereka tahu dimana Hye sun. Aku harus menemui mereka” rengekku.

“Tapi Direktur.. anda masih lemah. Anda berlutut semalaman dibawah hujan dan suhu yang dingin. Anda mengalami hipotermia, dokter melarang anda untuk bangun dari tempat tidur anda” katanya khawatir.

“Aku tak perduli, aku akan mencari mereka. Minggir” teriakku lemah.

Asisten Joon mencoba untuk menghalangiku dan memaksaku untuk berbaring. Seluruh tubuhku terasa nyeri, nafasku sesak. Namun aku berusaha menghalau tubuh Asisten Joon agar melepaskanku.

“Eheemm..” seseorang berdehem dibelakang kami.

Pak tua itu. Dia sedang berdiri di depan kamar hotelku, istrinya mendampinginya, senyum diwajahnya menyejukan hatiku. Merekapun duduk di depanku. Asisten Joon kemudian keluar dan menunggu di depan kamarku.

“Aku hanya heran, bila sebesar ini keinginanmu untuk mencarinya, kenapa dulu kamu tak mempertahankannya sebesar tekadmu sekarang?” tanya pak tua itu masih sedikit ragu denganku.

“...aku tak ingin mengatakan alasan ini sebagai pembenaran atas perbuatanku pada Hye sun. Tak ada yang bisa membenarkan perbuatanku padanya. Dan aku pun tak pantas untuk dimaafkan oleh siapapun. Namun, aku melakukan itu semua, menyakiti Hye sun dan mengusirnya yang sedang mengandung anak kami, tak lain karena aku kehilangan ingatanku tentang dirinya..setelah kecelakaan yang hampir menewaskanku setengah tahun yang lalu” kataku sambil menghela nafas.

Meski perih untuk mengingatnya lagi, namun aku harus menghadapi kenyataan bahwa semua telah terjadi dan kini aku siap untuk memperbaikinya. Pak tua itu memandangku, menimbang. Kemudian dia menganggukan kepalanya.

“Aku tak bisa menyalahkanmu bila itu alasanmu. Setidaknya sekarang semua sudah kembali, kurasa?” tanyanya sambil menunjuk kepalaku.

“Aku rasa begitu, tuan”  jawabku.

“Hmm.. baiklah. Aku juga tak ingin menghalangi kalian untuk bertemu. Aku hanya mengunjunginya sesekali. Namun, dia terlihat cukup menyedihkan. Termenung seharian dan lemah. Semangat hidupnya hilang. Persis seperti wajahmu saat ini” katanya lagi. Senyum mulai terukir di wajahnya. Istrinya pun mengelus lengannya menyetujui, mereka saling pandang, tersenyum.

“Saat itu dia sedang terduduk di atas bangku kantor pos. Aku mengira dia tertidur saat itu. Namun, aku melihat darah keluar dari bawah gaunnya. Aku dan beberapa orang lainnya kemudian membawanya ke rumah sakit di kota sebelah. Bila kamu kesana mengendarai mobil, berhati-hatilah, terutama dalam cuaca seburuk ini. Tikungannya cukup terjal dan jurang yang curam menunggumu dibawah” jelasnya.

“Anak kami..?? Bagaimana dengan anak kami? Apakah dia ke..gu..g...” aku tak sanggup melanjutkan pertanyaanku. Tenggorokanku tercekat, tak mampu bersuara.

“Lihatlah sendiri. Aku tak ingin merusak suasana” katanya sambil berlalu. Dia tersenyum puas. Nampaknya dia masih dendam padaku karena menelantarkan Hye sun.

Istrinya menghampiriku dan menghiburku.

“Maafkanlah suamiku, dia begitu karena sifatnya memang keras dan suka terbawa perasaan. Jangan khawatir.. jagoanmu sehat” dia kemudian memelukku erat.

“Jaga mereka ya, jangan pernah lepaskan lagi. Dan cepat sembuh, makan sup mu” lanjutnya.

Mereka kemudian meninggalkanku dan berpamitan pada Asisten Joon. Meski mencoba untuk memaksa tubuhku bergerak, mereka tak mau menurutiku. Seluruh sendi tubuhku menusuk-nusuk tajam. Tangan kananku pun sama saja.

“Asisten Joon!” panggilku.

Asisten Joon pun berlari tergopoh-gopoh menghampiriku setelah mengantarkan pasangan suami istri itu keluar.

“Direktur Lee..?” nafasnya tersenggal-senggal.

“Kita berangkat ke kota sebelah sekarang”

“T..tapi Direktur Lee.. anda tak bisa bergerak dan hari sudah petang, bila mengendara sekarang kita akan sampai tengah malam disana, dan kata mereka dikiri-kanan jalan banyak jurang..apa tidak lebih baik kita berangkat besok dan tenaga anda pun akan lebih baik” jawabnya cemas.

“Kita tak boleh membuang-buang waktu. Hye sun sedang hamil besar dan dia bisa sewaktu-waktu melahirkan. Kamu tak lihat kota ini? Mereka bahkan hanya punya satu rumah sakit kuno. Bila terjadi apa-apa saat persalinan, akan sudah terlambat untuk memindahkannya ke rumah sakit lain” teriakku.

“Tapii..tapii. Direktur Lee.. anda belum sembuh, bila anda memaksakan diri keluar sekarang hipotermia anda akan kambuh dan akibatnya sangat fatal.. saya mohon Direktur Lee.. saya akan menyiapkan semuanya dan mencari informasi tentang rumah sakit itu sehingga kita tak perlu bertanya-tanya lagi arah pasti menuju kesana. Saya mohon Direktur Lee, demi kesehatan anda” dia membungkuk di depanku.

Apa yang dia katakan semua benar. Tubuhku tak akan sanggup menahan suhu dingin udara malam ini. Belum lagi jalanan yang gelap dan berbahaya, bila salah sedikit saja maka kami akan mati sia-sia. Dan aku tak akan pernah melihat Hye sun lagi.

Akupun memejamkan mataku sedih. Aku terpaksa mengalah, besok..besok aku akan menjemputmu Hye sun. Asisten Joon yang melihat tubuhku mengendur, menawarkan sup yang dia bawa tadi. Aku pun mencoba mengecapnya meski terasa tawar dan lidahku ketir.

~~~~ 

“Cuacanya cukup cerah hari ini Direktur Lee. Kita akan tiba disana dalam dua jam” Asisten Joon mulai memasukan koper-koper kami ke dalam mobil.

Meski masih terasa nyeri, badanku mulai bisa digerakan. Akupun duduk dikursi penumpang disamping pengemudi. Kami berangkat pukul tujuh pagi, bila tak ada halangan, sesampainya disana aku sudah bisa melihat Hye sun lagi.

Bagaimana dia akan menyambutku? Maukah dia menemuiku? Aku takut bila dia bersembunyi dan menghindariku. Aku hanya berharap dia tak akan pergi saat mengetahui kedatanganku. Semoga masih tersisa sedikit cinta didalam hatinya untukku.

Mobil berjalan dengan kencang, Asisten Joon mengemudi dengan tenang. Dia memang tak pernah panik. Selalu berpikir dengan kepala dingin. Aku mengenalnya enam tahun lalu ketika dia masih menjadi pegawai magang di bagian olah data, sejak itu aku diam-diam mengetesnya dengan berbagai tugas yang hampir keseluruhannya bisa dia atasi.

Dan disinilah dia sekarang, menjadi asisten direktur utama stasiun televisi BBC. Dia menyediakan segala kebutuhanku baik dalam pekerjaan maupun diluar itu.

Pemandangan danau Gwangje terlihat dari sisi jalan menuju kota tempat Hye sun berada. Beberapa perahu nelayan yang sedang mencari ikan bersandar di pelabuhan. Jurang-jurang yang curam dan bukit yang landai sering menyebabkan kecelakaan disini. Tanah longsor salah satunya. Bila terjadi hujan deras seperti kemarin malam maka tak diragukan lagi akan ada tanah longsor di area ini, seperti yang terjadi saat ini di depan mobil kami.

Beberapa kendaraan telah mengantri untuk melewati jalan sempit yang tertutup sebagian oleh tanah dan pepohonan yang tumbang di tengah jalan.

“Selamat Datang di Kota Jeon-nam” begitu tulisan yang aku baca di pintu gerbang kota kecil ini.

Mungkin kota ini memang cocok dikategorikan sebagai kota kecil. Terlihat dari rumah-rumah penduduknya yang berdempetan berdampingan dengan gaya korea kuno. Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai nelayan. Mereka mencari ikan di danau Gwangje dan menjualnya ke kota Imsil dan kota sekitarnya.

“Permisi pak, dimanakah letak rumah sakit di kota ini?” Asisten Joon menghampiri seorang bapak tua yang sedang menjahit jaring di depan rumahnya.

Nampak istrinya disamping sedang memisahkan ikan tangkapan mereka dan meletakkannya sesuai dengan ukurannya. Aku cukup gugup saat ini, menanti cemas pertemuanku dengan Hye sun. Rokok ditanganpun tak mampu mengurangi kegugupanku.

Aku tak berani berharap semuanya akan baik-baik saja, terlalu naif bila ku katakan semuanya baik-baik, karena semua tak baik-baik. Asisten Joon kemudian membawa mobil ke arah jalan berbatu dan diujung jalan terlihat sebuah gedung bercat putih dikelilingi tetumbuhan sayur-mayur dan bunga-bungaan.

“Rumah Sakit Gongjong”

Inikah rumah sakit yang aku cari? Rumah sakit Hye sun berada? Tempatnya tinggal selama ini? Gedungnya begitu rapuh, atapnya lepas di tiap sudutnya. Catnya mulai berkelupas, beberapa kaca jendelanya telah pecah. Akupun menarik nafasku dalam-dalam, bersiap untuk menghadapi takdir yang akan menungguku di dalam gedung rumah sakit ini.

21 comments:

  1. aaaaaaaaaaaaaa... makin seruuuuuuuuuuu..
    perutku melilit tegang membacanya..
    aduuh.. Hyesun gmn ya??
    huwaaaa.. next chap.. *nangis garuk2 laptop*

    ReplyDelete
    Replies
    1. asiiiiiiiiiikk.. ahirnya bisa komen jugaaa.. ^_^

      Delete
    2. hahahha komenmu lucu sist. ^__^ mdh2an ntar sebelum jam 4 pagi chapter berikutnya udah keluar ya. makasi..

      Delete
    3. huwaah, mbak nulisnya ngebut banget..
      kok bisa mbak?? resepnya apa??
      bagi2 doong.. aku kadang juga suka nulis tp malesnya suka ga ketulungan..

      Delete
    4. gak ngebut sih sist. kebetulan aja cerita ini udah selesai di kepalaku, meski alur untuk nyari endingnya aku belum kebayang. jd skrg sambil ngetik sambil ngebayangin. hahahaha. kl cerita-cerita yg lain aku jg stuck. belum nemu inspirasi lagi buat lanjutinya :(

      kl aku sih, lebih suka menyendiri buat nyari ilham.. trus ntn film atau baca buku atau apalah gitu.. pas ngayal, nemu ide cerita, trus dibayangin, kl ternyata endingnya bagus br di ketik hahaha. itu fourth drama sbnrnya udah kebayang sampe selesai di kepalaku.. cuman kelamaan gk aku tulis jdnya lupahh.. T__T (fourth drama cerita korea jg ahahahha )

      Delete
    5. iya Fourth drama belum ada ya mbak..
      aku juga nungguin kelanjutan Sixth Drama.. penasaran bgt sama Tetsuya dan Yura, gmn caranya Tetsuya mempertahankan Yura dan membuat Yura tidak berpaling kpd yg lain.. yura juga udah mulai suka kan sama Tetsuya...

      keisuke mesti di siksa tuh mbak.. jahat bener dia mempermainkan rina.. ga rela aku mbak, ga relaaa!!
      *lah ini apa2an pake ga rela2...
      harap maklum ya mbak, aku cerewet soalnya, hihihhihi..

      aku tunggu next chap ya mbaaakk.. ayo mbak, HWAITING!!!!!

      Delete
    6. hahaha sixth drama belum kebayang aku sist. ntar deh baca-baca buku suci dulu buat cari ilham hmmm.. ni chapter 19 br aja keluar. :)

      gpp sist. seneng baca2 komenmu, n komen2 temen2 yg lain. makin semangat jdnya buat nulis ^___^

      Delete
  2. Replies
    1. hehhhee makasi sist nanti tak titipin salam ama dia ^__^

      Delete
  3. kasihan juga lama-lama sama lee,,,,
    mudah2n ketemu yah sam hye sun nya
    hye sun nya jgn di usir lagi yah hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha akhirnya.. ndak lg deh Seung ho di hajar lol..

      Delete
  4. klo dia berani-beraninya ngudir hye sun,
    ak jitakkin kepalanya
    hahahaha

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. malam ini eh.. pagi ini endingnya keluar sist.. ^__^

      Delete
  6. waw,,,
    begitu bc dr awal langsung fall in luv,,,
    #sistha shin makasih sdh nulis crita yg mengharu ungu,,,
    ga sabar nunggu endingnya,,,
    xixixixi,,,
    #pelukkkkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha br baca aku komenmu sist. makasi banyak ya. untungnya skrg endingnya udah keluar. lol.

      Delete
  7. menantikan momen"
    ketemunya Seung Ho dengan Hye Sun...
    aaaa~~~~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah marathon ya sist bacanya? hahaha...

      Delete
  8. Aku cinta banget sama drama ini mbaaak bener bener bisa bikin nangis. Patut dijadiin drama beneran nih :D
    Makasih ya mbak :)

    ReplyDelete
  9. Aku cinta banget sama drama ini mbaaak bener bener bisa bikin nangis. Patut dijadiin drama beneran nih :D
    Makasih ya mbak :)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.