"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, November 25, 2012

Fifth Drama - Chapter 19



Aku menemui seorang perawat yang sedang mengisi bunga di dalam vas. Seorang ibu muda, dia sedang menggendong anaknya ketika aku menyapanya.

 “er..” aku gugup, tak tahu harus mulai bertanya dari mana. Akupun menggaruk-garuk kepalaku yanng tak gatal. Asisten Joon berdiri gugup dibelakangku, tak membantuku sama sekali.

“Ada yang bisa saya bantu? Nampaknya kalian bukan penduduk sini?” kenapa semua orang yang aku temui senang sekali untuk tersenyum?


Apakah hanya aku sendiri yang terlalu sering menemui orang-orang dengan topeng diwajah mereka? Semua senyum palsu bisa kurasakan, namun senyum orang-orang ini tak bisa dikatakan palsu. Mereka tulus ingin membantumu, sungguh.

“Apakah.. disini.. ada seorang wanita yang bernama Jung Hye Sun? Dia berusia sekitar 24 tahun dan sedang hamil besar, mungkin sebentar lagi dia akan melahirkan” “Aku diberitahu oleh seorang paman yang memiliki mini market di kota Imsil” lanjutku lagi.

Perawat itu membuka mulutnya seolah terkejut. Aku tak tahu apa yang ada didalam pikirannya. Mungkin dia mulai menyadari siapa diriku. “Laki-laki bejat yang menghamili seorang wanita baik-baik dan menelantarkannya dalam keadaan hamil dan sekarat” aku bergidik memikirkannya. 

Bukannya menjawabku, perawat itu berlari meninggalkanku sembari berteriak kencang. Akupun terpana dan sejenak tak mampu bergerak sebelum kemudian aku mengejarnya.

“Perawat Min... perawat Min.. ada yang datang mencari Hye sun... “ teriakannya terdengar diseisi gedung.

Semua penghuni pun keluar dan mengintip dari kamarnya. Seorang dokter muncul dari dalam ruang periksa. Rambutnya sudah putih beruban. Kacamata tanggung menggantung dihidungnya yang pesek. Tingginya bahkan tak ada ada setengah tinggiku.

Aku terpaksa berjalan perlahan dengan waspada ketika mereka semua berdiri di sepanjang lorong dan memandangku dengan takjub. Aku tak mengerti mengapa mereka memandangku seperti itu, tak seperti yang aku sangka. Mereka bisa saja memandangku dengan penuh kebencian, seperti pria tua pemilik mini market itu. Tapi tidak, aku merasa seperti seorang selebriti yang sedang menuju tempat jumpa fans. Entah kabar apa yang tersebar di rumah sakit ini mengenai diriku.

Di depanku, perawat yang tadi berlari menghindariku kini didampingi seorang perawat gendud yang usianya tak kurang dari dokter tua yang aku lewati tadi. Aku mendengar namanya ketika dia dipanggil.

“Perawat Min.. itu dia laki-laki itu...dia mencari Hye sun kita” perawat yang lebih muda tertawa gembira mengabarkan tentang kedatanganku pada seniornya.

Perawat yang bernama Min itu kemudian menghampiriku. Matanya melotot tak senang. Kenapa hanya dia yang tak senang dengan kedatanganku disini, andai semua penghuni rumah sakit ini gembira menyambut kedatanganku, akan lebih mudah bagiku untuk bertemu dengan Hye sun.

“Mau apa anda kesini?” tanyanya galak.

Aku menatapnya berani, tak ada keraguan dalam mataku.

“Hye sun, dimana dia? Aku akan mengajaknya pulang”

Perawat Min menyipitkan matanya. “Kenapa anda mengira dia akan mau pulang bersama anda. Apakah anda ingin menyakitinya lagi? Belum puaskah anda menyakitinya?”

Aku yakin perawat ini adalah seorang perawat yang baik, namun kata-katanya tepat menusuk jantungku. Kenapa aku mengira aku bisa membahagiakan Hye sun. Kenapa aku mengira dia tak merasa bahagia saat ini? Bukankah Hye sun mengira aku melupakannya? Oh, aku panik sekarang.

“Apa yang harus aku lakukan, aku telah sampai sejauh ini untuk mencarinya. Aku tak akan menyerah sekarang, tak akan pernah. Aku hanya ingin bertemu dengan Hye sun dan memperbaiki semua yang pernah aku lakukan padanya seandainya dia memberiku kesempatan sekali saja. Aku akan melakukan apapun untuk menebusnya” kataku lirih.

Beberapa orang yang sedari tadi menonton dari balik punggungku mendekati perawat Min dan ikut meluluhkan hatinya. Dia pun menghela nafas. Dia berjalan mendekatiku hingga aku bisa melihat dengan baik pupil matanya yang melebar.

Katanya mendesis “Bila kamu menyakitinya lagi. Aku akan mengejarmu dimanapun kamu berada dan menyongkel jantungmu untuk kuberikan pada ikan-ikan di danau. Mengerti?!!” matanya melotot mengancamku.

“Aku mengerti” jawabku serius.

Setelah mendengar jawabanku, perawat Min kemudian memunggungiku dan berjalan perlahan lalu berbalik menatapku tajam.

“Ayo!! Katanya mau cari Hye sun” suaranya telah berubah. Nada suaranya bersahabat. Senyum ramah keibuan nampak diwajahnya.

Aku pun terharu, setitik air mata mengintip dari sudut mataku.

“Iya..” sahutku bersemangat.

Terimakasih Tuhan, akhirnya aku bisa menemui Hye sun. Terima kasih.. terima kasih. Terima kasih..

Perawat Min berhenti di sebuah pintu yang menghubungkan gedung itu dengan halaman belakang. Ada sebuah pancuran di dalam kolam kecil yang dipenuhi pohon bunga teratai yang sedang bermekaran indah.  Aku melihatnya disana, pandangannya menerawang ke atas awan. Dia duduk di atas kursi roda...

Hatiku nyeri saat melihatnya duduk diatas kursi roda, dia nampak kurus dengan perutnya yang besar. Kakiku terasa lemas, lidahku kelu. Aku tak sanggup melangkahkan kakiku menghampirinya. Penglihatanku kabur oleh air mata yang memenuhi pandanganku. Apa yang telah aku perbuat padamu Hye sun..

Dia menoleh. Dia mendengar suara bisik-bisik penghuni rumah sakit di belakangku. Dia kemudian melihatku, yang berdiri mematung mencoba menggapainya. Dia tersenyum.

Oh Tuhan. Senyumnya begitu indah. Senyumnya begitu mampu menyejukan hatiku yang menderita. Kerinduanku begitu merebak dalam hatiku. Aku ingin segera memeluknya. Memeluk Hye sun ku.

Aku pun berlari menghampirinya. Tangisan mulai turun dari matanya yang cantik. Aku berlutut dibawah kakinya. Memandangnya dengan penuh kerinduan. Memujanya. Tangannya dipundakku.

“Hye sun-ah.. maafkan aku. Aku bersalah padamu” suaraku bergetar.

Tangisnya pun meledak. Kami berpelukan. Begitu erat hingga tak ingin dipisahkan lagi. Semua orang yang menonton ikut menangis terisak-isak. Ada yang histeris bahkan ada yang berpelukan. Perawat Min mengangguk-anggukan kepalanya.

Tak ada kebencian sedikitpun di hatinya, dia menungguku dengan setia dan begitu yakin aku akan menemukannya. Dia begitu yakin pada diriku. Aku merasa sungguh beruntung.

“Aku mencintaimu Hye sun, aku mencintaimu”

Cukup lama kami berpelukan. Perawat Min menghalau semua penghuni rumah sakit yang menonton kami, agar kami mendapatkan kesempatan untuk membicarakan hati kami.

“Bagaimana keadaanmu?” sungguh bodoh pertanyaanku.

Namun aku tak ingin menduga-duga dan memperkirakan kesehatan Hye sun. Dia harus segera aku bawa ke Seoul. aku tak yakin dengan fasilitas rumah sakit ini.

“Aku sehat” jawabnya tersenyum.

Tidak, dia tidak sehat. Matanya cekung dan wajahnya tirus. Dia begitu kurus, hatiku sakit melihat kulitnya yang kusam dan tulang pipinya yang menonjol. Dia begitu tegar. Bila aku menjadi dirinya, aku tak yakin bisa melalui semua ini. Mungkin aku akan menjadi gila.

Aku hanya menghela nafas, dia ingin meyakinkanku bahwa dirinya baik. Oh, Hye sun, bila aku superman, akan ku terbangkan dirimu saat ini menuju Seoul. Akan kuhancurkan gunung dan bukit agar tak ada yang menghalangi kita untuk mencarikanmu rumah sakit yang terbaik.

“Ceritakan padaku semuanya Hye sun. Tolong ceritakan padaku penderitaan yang aku berikan untukmu” pintaku sedih.

Aku tak ingin mengulangi penderitaannya dengan mengingat semua itu, tapi aku harus tahu bagaimana seorang Lee Seung Ho merusak dan menyakiti seorang gadis perawan, lugu dan tanpa dosa seperti dirinya. Aku bahkan mengatainya wanita murahan. Akulah yang murahan.

Hye sun mengelus pipiku. “Semua sudah berlalu, Seung ho.. aku memaafkanmu..” dia mengecup dahiku mesra.

Kecupannya bagai setitik hujan di padang gersang. Memberikan kehidupan pada hatiku yang kering.

“A..anak kita... sehat..?” tanyaku akhirnya.

“Dia sekuat bapaknya. Tapi kata dokter, kemungkinan dia lahir sebelum tanggal seharusnya dan aku terpaksa memakai kursi roda ini agar tidak cepat kelelahan. Aku terlalu sering pendarahan, plasentanya tak cukup kuat untuk melindunginya hingga saatnya tiba, Seung ho.. aku sungguh khawatir” tangisnya mulai turun lagi.

Kupeluk tubuhnya erat, menenangkannya.

“Aku akan membawamu ke Seoul, kerumah kita. Kamu pasti tidak tahu, aku menyiapkan kejutan untukmu. Aku telah membangun rumah baru untuk kita. Dan anak-anak kita. Jangan menangis lagi, ya. Aku sedih melihatmu menangis lagi. Sudah terlalu sering kamu menangis olehku”


Kucium bibirnya mesra, ciuman terindah yang pernah aku rasakan sepanjang umurku. Ciuman itu menjanjikan masa depan yang lebih cerah dari hari ini. Masa depan yang menjanjikan.



catatan penulis : Ada dua ending disini. yaitu :
* Chapter 20-A dan Epilogue-A (sad ending)
* Chapter 20-B dan Epilogue-B (happy ending) 

silahkan dipilih sesuai keinginannya ya. mau sad atau happy. atau dua-duanya. ^__^

13 comments:

  1. oh hye sun....
    lapang bener dadanya,,,,
    untung perawat min g bw payung ky bpk tua tadi xixixixi...
    salut2 sama hye sun


    salut juga untuk mba shin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah cinta.. deritanya tiada akhir kata jendral tian peng. ahhhahaha makasi sist udah mantengin trus.. n nemenin aku yang selalu galau tiap nulis cerita. :hug:

      Delete
  2. penulis smuanya lagi galau....

    terimakasih juga mbae dah mau bikin secepat kilat

    we want ending nya mbae hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. sabar ya sist.. hehehe.. sebentar lg...

      Delete
  3. Oh, Hye sun, bila aku superman, akan ku terbangkan dirimu saat ini menuju Seoul.
    ini bagian favoritku hehehhe

    ReplyDelete
  4. akhirnyaaaaaaaaaaaaa... setelah sekian bab mereka bertemu kembali... fiuuww.. *menghembuskan nafas lega sambil mengusap setitik airmata yg diam2 ikut membaca bersamaku..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ci..ehhh.. cit cuit cuit... ada yg nemenin ya sist bacanya? hehehe :hug:

      Delete
  5. aku mau dua_duanya....
    kalo sad ending pasti Hye Sun meninggal,
    ah selalu dach.....

    ReplyDelete
  6. Sumpah demi apapun mbak aku nangis sampe terisak isak ampe termewek mewek sampe diomelin sama mamahku hiks hiks T.T Niceeee storyyy

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.