"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, November 13, 2012

Fifth Drama - Chapter 2



Dia berdiri disana dengan secarik kertas ditangannya, mungkin dia sedang mencari nomer kamarku, namun dia sungguh lamban, pikirku dengan tak sabaran. Sekilas aku menelitinya, badannya cukup mungil dan langsing, rapuh, itulah yang pertama aku lihat.

Namun lehernya yang jenjang menggoda pikiranku, ingin segera menciumi dan merasakan tubuhnya meleleh dibawahku. Buah dadanya tak terlalu besar bila dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah aku tiduri sebelumnya. Mungkin hanya segenggam tanganku bila kutangkupkan diatasnya. Akupun memanggilnya agar segera mendekat kearahku.

“Nona!!” teriakku kepadanya.

Diapun sedikit terperanjat mendengar panggilanku, namun demikian dia mendekatiku dengan wajah yang bertanya-tanya. Aku melirik jam tanganku, sudah setengah lima lewat membuatku makin tak sabaran. Akupun menggamit tangannya dan memaksanya mengikutiku kedalam kamar.

Aroma rambut wanita itu membuatku mabuk kepayang, bayangan tanganku membelai badannya yang telanjang memenuhi pikiranku. Akupun menciumi bibirnya dengan penuh nafsu sesaat setelah pintu tertutup. Wanita itu meronta ketika tanganku mencoba meraih pinggangnya, buku-buku yang dia bawa didalam tasnya jatuh berserakan dilantai.

Tanganku pun masuk kedalam blousenya, merasakan kulitnya yang halus, perlahan-lahan aku pun menyentuh buah dadanya yang sempat aku bayangkan. Aku tangkupkan tanganku diatasnya, ketika branya kulepaskan, payudaranyapun menyembul lepas membebaskan diri dari bekapan bra yang ketat. Tak sekecil bayanganku!! Payudaranya cukup besar, membuatku makin terangsang, namun dia semakin meronta ketika aku mencoba memainkan putingnya dengan jariku.

Akupun terpaksa mencekal pergelangan tangannya diatas kepalanya, kakiku kumasukkan kedalam selangkangannya untuk menjaga tubuh kami. Tubuhku kurapatkan kebadannya dan kudesakkan memenjarakannya dengan pelukanku dan tembok. Dia tak bisa berkelit lagi. Akupun menciuminya semakin dalam, lidahku kumainkan dan memilin lidahnya, bibirnya semakin panas disela-sela nafas kami yang semakin terputus-putus. Akupun mengangkat kepalaku dan mencoba melihat kedalam matanya.

Mata wanita itu menyipit, seolah pandangannya memohon untuk aku lepaskan. Tapi mengapa? Bukankah dia sudah tahu apa yang akan dia temui ketika datang kesini? Akupun tak bisa berhenti sekarang, tubuhku menunggu terlalu lama. Otot laki-lakiku telah mendesak celanaku sedaritadi. Membayangkan badan telanjangnya saja membuat pikiranku berkabut dan tak mampu berpikir jernih. Aku ingin memiliki wanita itu sekarang, bibirnya begitu manis dan pas dalam pagutanku. Dia tidak membalas ciumanku pada awalnya, namun lambat-laun dia mulai membalas setiap jengkal ciuman yang aku berikan. Kini nafasnya terengah-engah, dia menunggu apa yang akan aku lakukan.

“Begini lebih baik manis” kataku.

Akupun kembali menciuminya dan melepaskan jasku, dasiku. Kancing kemejaku dengan tak sabar kubuka satu persatu. Ikat pinggangku tak berdaya kulemparkan diatas permadani. Akupun dengan sigap menanggalkan celana panjangku dan mulai melepaskan blouse wanita itu. Namun aku heran, dia kembali berulah, dia melawanku sebisanya. Dia berteriak dan mencoba memukul dadaku dengan tenaganya yang lemah.

“Kenapa manis? Kamu suka bermain kasar ha? Oke, kita ikuti caramu ya” seringaiku.

Aku pun mengangkat tubuhnya dan menaruhnya diatas ranjang, kemudian kutindih badannya hingga dia tak sanggup berkutik lagi karena tekanan berat badanku. Tangannya kubentangkan keatas kepala ranjang sambil kuciumi mulutnya, tak membiarkannya mengambil nafas sekejap pun. Dia pun terengah-engah ketika kulepas pagutanku.

Lehernya yang jenjang kuciumi setiap jengkalnya, aku yakin bekas ciumanku akan menampakan jejaknya nanti. Aku akan menyisakan bekas ciumanku diseluruh tubuhnya, untuk membuktikan akulah yang berkuasa atas dirinya. Blousenya telah berhasil aku lepaskan, payudaranya yang tak terlindungi kain lagi merekah mencuat menantangku untuk mengecupnya. Tak sabar lagi akupun menjilati puting wanita itu, payudaranya yang ranum habis aku ciumi, dia hanya bisa mendesah menahan gairahnya yang muncul setiap mulutku menyentuh bagian tubuhnya.

“Lepaskan aku...” rintihnya lemah sembari mencoba bangkit dari bawah tekanan tubuhku yang tegang namun tenaganya kalah jauh dan diapun terhempas kembali keranjang.

Dia sudah tak berdaya untuk melawanku lagi, dia hanya pasrah ketika perlindungan terakhirnya aku hempaskan kesisi ranjang. Dia menangis, matanya memohonku untuk menghentikan apa yang aku lakukan, namun aku tak bisa. Gairahku tak tertahankan lagi. Matanya membelalak ketika aku melepaskan celana dalamku dan memperlihatkan kejantananku yang telah tegak berdiri.

Selangkanganku nyeri menahan gairahku yang meletup-letup, tak sabar untuk menyatu kedalam tubuh wanita itu, merasakan kehangatan tubuhnya yang paling intim. Kulihat tubuhnya yang telanjang bulat dibawahku, sebuah pemandangan yang sangat indah. Lehernya yang jenjang, payudaranya yang bulat menggoda, perutnya yang langsing, kulitnya putih bersih terawat. Wajahnya merah padam menahan malu ketika aku meneliti tubuhnya dengan tatapan mataku.

Tanganku pun menyentuh pundaknya, turun kebawah hingga pahanya. Ketika kuangkat pahanya dia meronta lagi, akupun mendesis dan segera menindihnya lagi dengan badanku, kututup mulutnya dengan tanganku sembari membisikan kata-kata vulgar kepadanya. Wajahnya pun semakin memerah, mungkin dia membayangkan apa yang aku katakan. Aku bingung memikirkan kenapa wanita ini sungguh polos, bukankah dia sudah pernah melakukannya sebelumnya dengan orang lain. Meski aku lebih suka memimpin dalam berhubungan intim namum karena pertama kali bertemu dengan wanita seperti dia aku tak mengerti bagaimana cara menanganinya.

Tubuh wanita itu menegang ketika kejantananku menyentuhnya. Dengan tak sabar aku meraih pinggangnya dan memposisikannya sesuai keinginanku. Dan kubuka lebar-lebar selangkangannya agar jalanku lebih leluasa memasuki tubuhnya.

“Rileks..” kataku.

“Apa yang akan kamu lakukan?” jeritnya ketakutan.

“Sshhh... diam, atau kucium lagi mulutmu seperti tadi” ancamku setengah bercanda.

“Bukankah kamu sudah terbiasa, kenapa berakting seperti gadis perawan sekarang? Sudah tak zamannya lagi. Akting seperti itu sudah ketinggalan” gelakku.

Dia hanya membelalakkan matanya mendengar penuturanku. Ketika aku mendorong tubuhku maju memasukinya dia pun menjerit kesakitan, air matanya mengalir. Aku pun terpana dan memandangi wajahnya yang berpaling dari tatapanku. Ada ketakutan dan rasa sakit disana.

Aku memicingkan mataku, apakah Manajer Park memberikanku gadis perawan sekarang? Dia tak pernah memberitahukan nama atau latar belakang wanita-wanita yang aku tiduri dan aku tak pernah ingin tahu, namun bila kali ini dia memutuskan untuk “memperbaharui” service nya dengan memberikan gadis perawan kepadaku mungkin dia akan meminta bayaran yang mahal. Namun aku tak perduli, nafsuku sudah tak terbendung, tak ada yang bisa menghentikanku untuk menyatu dengan wanita ini.

“Kamu diam-diam saja, kalau tidak kamu akan terluka” kataku.

Dia sepertinya mengira aku akan membunuhnya karena badannya seketika mengkerut dibawahku.

“Jangan tekuk badanmu, rileks lah. Aku sudah tak tahan lagi, jangan buat aku memaksamu!!  Ini akan sakit, bertahanlah” bentakku.

Aku heran, setidaknya dia harus tahu apa yang akan dia hadapi bila mengambil pekerjaan seperti ini. Pekerjaan ini menghasilkan uang yang banyak dalam waktu singkat. Aku membayar mahal hanya untuk layanan semalam dengan mereka. Namun demikian aku tak pernah mengeluh karena mereka berhasil memuaskan nafsuku.

Wanita itu demi mendengar bentakanku menjadi tergagap dan menangis, aku tak tega melihatnya seperti ini. Aku seperti melakukan perkosaan, pikirku. Aku tak pernah berhubungan intim dengan gadis perawan sebelumnya dan aku tak tahu bagaimana menenangkan mereka. Namun aku mencoba untuk bersikap lembut kepadanya.

Aku mulai menciumi bibirnya lagi, merangsang tubuhnya agar kembali rileks, pelan-pelan aku buai lagi wanita ini dengan ciuman dan jilatanku dibadannya sembari perlahan-lahan aku dorong kembali kejantananku memasuki tubuhnya. Diapun menjerit kembali dengan suara tertahan. Aku dekap tangannya dan kuciumi mulutnya agar teriakannya tak terdengar. Perlahan-lahan hingga akhirnya dinding keperawananya berhasil aku tembus.

Badannya kemudian mulai mengendur ketika rasa sakit nya berkurang, sebuah desahan terdengar keluar dari mulutnya dan akupun tersenyum mendengarnya. Aku gerakan tubuhku maju-mundur diatasnya, semakin dalam mencari kepuasan yang aku inginkan. Wanita itu mencengkeram bahuku ketika dia mengejang dibawahku, nampaknya dia telah orgasme. Aku pun mencumbu tubuhnya lagi dan melanjutkan desakanku lebih cepat, mencoba meraih kepuasanku.

Lima menit kemudian tubuhku menegang diatasnya. Aku orgasme, dan aku tak memakai pengaman. Sial!! Pikirku. Tapi aku tak pernah berpikir untuk memakainya ketika lima belas menit kemudian aku menggauli wanita itu lagi, kali ini dia lebih rileks dan akupun menjadi lebih santai. Diapun orgasme dua kali. Aku tak menyangka wanita ini masih perawan dan akulah yang mendapatkannya, aku cukup bangga menjadi yang pertama memiliki gadis ini, meski aku tahu esok lusa mungkin dia akan melayani laki-laki lain diranjang yang berbeda.

Emosikupun mendidih memikirkan kemungkinan itu. Aku menjadi posesif terhadap wanita ini. Aku tak ingin membaginya dengan laki-laki lain. Aku ingin menjadikannya simpananku. Dia pasti mau bila aku memenuhi kebutuhannya kan. Wanita sekarang akan mengekormu kemanapun bila disediakan apa yang mereka inginkan. Apartemen mewah, mobil ratusan juta, kartu kredit unlimited, begitu kan. Iya, itulah yang akan aku lakukan.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.