"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, November 13, 2012

Fifth Drama - Chapter 4



Didalam kamar hotel, wanita itu tergeletak tak berdaya diatas ranjang. Seluruh tubuhnya sakit, dia tak bisa bergerak. Pangkal pahanya nyeri ketika dia hendak berdiri memungut pakaiannya yang berserakan diatas permadani.

Dia tertatih melangkah kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Butiran air hangat yang jatuh dari shower membasahi tubuhnya yang langsing. Dia melihat rona merah disekujur tubuhnya bekas ciuman laki-laki itu. Dari leher hingga pahanya tak luput dari bekas ciumannya.

Air matanya jatuh lagi, dia tak membayangkan akan bernasib sial seperti ini ketika melangkahkan kakinya kedalam hotel mewah itu. Dia semestinya bertemu dengan Produser acara TV dan akan membicarakan cerita yang dia tulis untuk ditayangkan sebagai drama disebuah stasiun televisi.


Tapi laki-laki itu menyeretnya kedalam kamar ini dan tak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan apapun. Dia bahkan tak tahu apakah dirinya diperkosa atau ini semua hanya kesalahpahaman. Tapi kesuciannya yang berharga telah direnggut darinya. Dia memang tak pernah berpacaran sebelumnya, dia hanya mengagumi laki-laki yang dia sukai namun tidak berani untuk mengutarakannya sehingga sampai saat inipun dia tak pernah berhasil menjalin sebuah hubungan dengan laki-laki manapun.

Ketika ada laki-laki yang mencoba untuk mendekatinya, dia akan berusaha untuk menjauh karena rasa malunya yang besar mencegahnya untuk menerima ajakan laki-laki yang tertarik padanya. Namun, sekarang, disinilah dia, disebuah kamar hotel mewah, tubuhnya lemah dan hatinya terluka, harga dirinya tercabik-cabik.

Dan parahnya lagi dia menikmati hubungan intimnya tadi dengan laki-laki itu. Meski sekilas, dia melihat wajah laki-laki itu. Sorotan mata bergairah laki-laki itu yang menginginkannya membuat darahnya mendesir. Jantungnya berdetak kencang ketika laki-laki itu menyentuh kulitnya yang sensitif, mengoyak pakaiannya dan menindih tubuhnya diatas ranjang.

Dia tak kuasa berontak, sebagian dari dirinya menginginkan laki-laki itu juga. Dia tahu salah menginginkan laki-laki itu, dia bahkan tak tahu siapa laki-laki yang dengan tak tahu malu berhubungan dengan wanita yang tak dia kenal. Namun dia teringat ketika laki-laki itu berbicara kepadanya sebelum dia pergi.

““Kenapa wanita cantik sepertimu memilih jalan seperti ini? Apakah tak ada hal lain yang bisa kamu usahakan? Usiamu mungkin awal duapuluhan, tapi kamu malah mencari jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan. Aku semestinya tak boleh menaruh perasaan kepadamu, tapi aku telah terbelenggu. Aku menginginkanmu, tidak, aku menginginkan badanmu. Untuk memuaskan nafsuku. Dan kamu ingin uang kan? Kekayaan yang kamu inginkan kan? Aku bisa memberinya. Jadilah wanita simpananku, kapanpun aku mau, layani aku. Aku akan berbicara dengan Manajer Park untuk memintamu menemaniku””

Laki-laki itu mengira dirinya adalah pelacur, wanita murahan yang dia bayar untuk melayaninya diatas ranjang?? Bahkan dia menginginkan dirinya untuk dijadikan wanita simpanannya?? Wanita itu kemudian panik dan bergegas memakai pakaiannya kembali. Dia tak ingin menjadi budak nafsu siapapun meski setampan apapun laki-laki itu, dia bukanlah wanita murahan yang senang melayani laki-laki hidung belang. Dia bahkan belum pernah berciuman, bagaimana mungkin dia terima untuk dijadikan wanita simpanan.

Wanita itu kemudian meninggalkan kamar hotel itu tanpa menyadari barang-barangnya yang tertinggal. Dia hanya menyambar tas nya kemudian menutup pintu dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara. Dia tidak bisa bertemu dengan Produser TV dengan penampilannya sekarang. Mukanya pucat karena ketakutan, rona merah di lehernya terlihat dengan jelas meski telah dia samarkan dengan mengurai rambutnya yang panjang.

Dia pun menyetop sebuah taksi untuk mengantarkannya kembali ke apartemennya. Dia menelephone Produser TV itu untuk membuat janji di lain hari. Dengan menghela nafas, wanita itu memandang keluar dari jendela taksi dan berdoa agar tak bertemu dengan laki-laki itu lagi.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.