"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, November 20, 2012

Fifth Drama - Chapter 8



Syuting drama The Queen and I telah berjalan selama lima minggu, tayangan perdananya mendapat rating yang cukup memuaskan meski masih bersaing dengan slot drama historical dari stasiun lain, namun stasiun televisi asing rekanan BBC telah menunjukkan minat untuk membeli hak tayang drama ini dinegaranya.

Hari itu aku berencana untuk berkunjung ke areal syuting di Gwangju Palace. Sejak pertemuan terakhir kami didepan apartemen Hye Sun, aku disibukkan dengan pekerjaanku. Kami hanya saling mengirimkan pesan singkat dan terkadang aku menyempatkan waktu untuk menelephonenya untuk sekedar mendengarkan suaranya sebelum tidur.


Hye Sun perlahan-lahan mulai terbuka kepadaku. Kami bercerita tentang hidup kami masing-masing. Hye Sun adalah anak tunggal dan orangtuanya tinggal didesa dan membuka sebuah toko dipasar tradisional. Dia bertekad mengadu nasib ke ibukota karena tak ingin terkurung dikota kecil, namun karena tak punya teman atau kenalan dia terpaksa kembali ke kotanya.

Kemudian dia memulai hobynya membuat cerpen dan menaruhnya didalam websitenya diinternet sehingga suatu hari dia dihubungi oleh Produser untuk meminta izin memakai cerita yang dia tulis untuk dijadikan drama televisi. Sejak itulah kehidupannya mulai berubah, dia sering bepergian ke Seoul hingga akhirnya menetap dan menyewa sebuah apartemen kecil disini.

Aku melihatnya sedang tertunduk membaca script cerita ditangannya. Dia memakai celana jeans panjang dan jaket tebal namun tak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang indah. Sudah memasuki pertengahan musim gugur ketika drama ini mulai dibuat, semua crew pun harus memakai pakaian berlapis-lapis agar terhindar dari udara dingin yang menusuk tulang, apalagi ketika mereka harus mengambil adegan drama pada malam hari. Aku sendiri tak ingin menarik banyak perhatian didalam areal syuting sehingga aku hanya memakai pakaian santai dan mengenakan jas hangatku diluar. Aku pun menghampirinya.

“Hye Sun-ah..” kataku sambil tersenyum.

Dia pun menoleh kearah suaraku dan tersenyum dengan kikuk. Dia masih malu-malu bertemu denganku.

“Kamu disini? Kapan datang?” tanyanya sembari menyodorkan sebuah kursi untukku. Akupun duduk disana.

“Baru saja. Hari ini aku mengambil cuti. Aku ingin bertemu denganmu” senyumku masih mengembang untuknya.

“Kamu ada waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu makan malam. Sudah lama kita tak menghabiskan waktu bersama. Banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, mengenai kita.” lanjutku.

Mungkin dia merasa iba melihat pandangan mataku yang penuh harapan sehingga dia akhirnya mengangguk dan menyetujui ajakan makan malamku. Aku pun tersenyum dan memegang tangannya yang lembut.

“Kamu tak harus berada di areal syuting kan? Bukankah scriptnya sudah fix? Apakah mereka masih menyuruhmu untuk melakukan hal lain?” tanyaku penasaran.

Seorang penulis cerita tidak wajib untuk ikut terjun langsung ke areal syuting karena mereka telah memberikan pengarahan dan bimbingan mengenai plot cerita dan karakter masing-masing ketika pertama kali crew drama melakukan briefing. Sehingga aku tak melihat mengapa Hye Sun harus berpanas-panas diterik matahari dan menggigil kedinginan menunggu pengambilan gambar.

“Aku bosan diapartemen, aku hanya duduk didepan komputerku mengerjakan cerita baruku, tapi lama-lama aku menjadi bosan. Aku senang bisa meluangkan waktuku disini” jawabnya dengan bahagia. 

Dia terlihat menikmati suasana di areal syuting, mungkin dia bisa mendapat banyak ilham untuk ceritanya ketika berinteraksi langsung dengan alam.

“Kalau kamu punya banyak waktu luang, kenapa tidak mencariku saja? Aku sangat merindukanmu” kataku tanpa malu-malu.

Pipinya pun memerah demi mendengar pengakuanku yang tiba-tiba. Dia mengalihkan pembicaraan tentang hal lain dan akupun tak ingin mendesaknya. Aku sudah mendapat yang aku inginkan, makan malam berdua dengannya. Suatu langkah kecil yang harus aku ambil untuk memuluskan jalanku bersamanya.

~~~~

“Ketika petama melihatmu, aku tahu aku menginginkanmu” kataku.

Aku memandangnya penuh makna. Dia sedang berdiri disisi jembatan sambil memunggungi pemandangan laut dengan burung camar yang berkoak-koak bersahutan. Rambutnya yang tak terikat melayang-layang diwajahnya. Wanita ini sudah mencuri hatiku. Dia begitu rapuh, begitu lembut.

Senyumnya yang lemah selalu menyapaku, menghangatkan jiwaku setiap berjumpa dengannya. Melihat wajahnya saja semua masalahku lenyap seketika. Bagaimana dia bisa membuatku nyaman berada disampingnya. Dia tak melakukan apa-apa. Hanya dengan penerimaannya pada diriku sudah mampu menguatkanku.

Tak pernah terbayang sebelumnya aku akan terikat pada seseorang. Aku membayangkan hidupku akan seperti dulu ketika aku masih gemar mencari kehangatan duniawi dengan wanita-wanita yang bisa aku bayar. Aku tak pernah berpikir untuk membuat komitmen dengan seseorang. Tak pernah berpikir untuk membina keluarga. Dulu, hidupku cukup berwarna dengan pelampiasan sesaat. Namun kali ini, itu semua tak ada artinya. Aku hanya menginginkan wanita yang sedang berdiri di depanku ini. Teringat bagaimana sempurnanya tanganku menangkup pinggangnya, melukis lehernya yang selalu terbuka.

Dia hanya tersenyum membalas kata-kataku. Dia tak banyak bicara, namun aku tak keberatan. Matanya mengatakan banyak hal padaku. Mata itu ketakutan, sungguh ketakutan ketika aku dengan kasar memaksanya melayani nafsu birahiku. Aku sudah dibutakan oleh gairahku saat itu. Tak memperdulikan rengekan dan permohonannya untuk dilepaskan.

Kini aku cukup senang, ketakutan di matanya itu mulai pudar dan berganti dengan kepercayaan. Dia tak lagi risih berada satu rungan denganku. Bahkan dia sudah mengizinkanku untuk masuk ke apartemennya. Tapi dia sungguh pemalu, dia tak memberikanku untuk berlama-lama disana. Ada benarnya juga, bila lebih lama lagi, mungkin aku akan kehilangan kendali atas diriku padanya.

Aku harus bersabar dan pelan-pelan mendekatinya. Seperti kataku tadi, dia sungguh rapuh. Hye sun lebih memilih menghindar daripada dikonfrontasi dan terpaksa melakukan apa yang tak ingin dia lakukan. Itulah yang aku tangkap dari dirinya. Mungkin ada sesuatu semasa dia kecil yang membuatnya seperti ini. Mungkin ketidak percayaannya pada seseorang membuatnya sulit untuk membuka diri dan membagi masalah yang ada di dalam hatinya kepada orang lain.

“Aku akan membaca novel-novel karyamu. Aku ingin menyelami hatimu Hye sun”

“Meski aku bilang aku cukup mengerti dirimu, tapi setiap harinya aku masih tak mengerti. Apakah menurutmu dengan membaca novelmu aku akan tahu lebih banyak tentang dirimu?” tanyaku lagi.

“Mengapa kamu berpikir aku tak bisa dimengerti, tuan?” senyumnya kembali mengembang dibibirnya. Dia tak lelah untuk tersenyum.

Akupun menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. “Haruskah kamu memanggilku tuan? Panggil aku Seung Ho saja. Aku merasa sangat tua bila kamu memanggilku seperti itu” “Kamu keberatan bila aku merokok?” tanyaku padanya.

Diapun menggeleng. Aku meraih sebatang rokok dari saku ku dan menghisapnya dalam-dalam.

“Apakah ada laki-laki yang pernah memiliki hatimu Hye Sun? Aku tertarik untuk mengetahui seperti apa laki-laki yang kamu sukai itu” aku menatapnya sekilas. Kini dia berada disampingku, tangannya berada dalam saku jaketnya. Dia tidak mencoba untuk menjawab pertanyaanku, dia justru mengajukan pertanyaan lain.

“Kenapa kamu kira sekarang tak ada yang mengisi hatiku? Seung ho?”

Senyumnya membuatku terpaku. Dia sungguh terlihat mempesona.

“Kamu bodoh” lanjutnya lagi. Dia pun berlari kecil dan tertawa riang, memintaku untuk mengejarnya.

Aku tak tahu isi pikiranku sekarang. Semuanya begitu cepat. Apakah dia baru saja mengatakan bahwa dia menyukaiku? Bahwa di hatinya sekarang ada seorang laki-laki yang dia sukai? Yang dia sebut bodoh? Aku kah?

Akupun mengejarnya dengan jantung berdebar-debar tak tenang. Aku begitu ingin menangkapnya dalam pelukanku dan memaksanya untuk menjelaskan maksud perkatannya tadi.

Dia sungguh gesit, berlari kesana-kemari dan bermain kejar-kejaran denganku. Kami seperti anak kecil yang sedang gembira, aku melepaskan sepatuku dan menggulung kaki celanaku. Hye sun menungguku ditengah pantai. Dia memandangku dengan ekspresi yang berbeda. Baru pertama kali ini aku melihatnya begitu. Dia senang, takut.. namun seperti ada tekad yang kuat dibalik mata nya yang menatapku tajam.

Ombak pun menggulung dan membasahi bagian bawah kami. Hye sun berdiri sepuluh meter di depanku. Dia pun berteriak dengan lantang.

“Lee Seung Ho.. kamu adalah laki-laki yang paling bodoh di dunia. Tapi aku mencintaimuuu!!!” dia pun menutup mulutnya setelah mengungkapkan isi hatinya.

Nafasku tersenggal-senggal. Tak percaya apa yang aku dengar. Kaki ku lemas, badanku bergetar, seluruh otot tubuhku terlalu takut untuk mempercayai pendengaranku. Tapi itu benar-benar terjadi. Wanita yang aku impikan ini membalas perasaanku.

Aku pun berlari ke arahnya. Kuraup tubuhnya yang mungil dan mengangkatnya tinggi-tinggi bertumpu pada dadaku. Dia pun mengalungkan lengannya pada kepalaku. Dia tersenyum padaku. Matanya terpejam sesaat sebelum dia mencium bibirku dengan lembut.

Aliran kebahagian merebak dalam dadaku. Akupun mengetatkan pelukanku, tak ingin melepaskannya lagi. Aku membalas ciuman darinya dengan hangat. Aku mengulum seluruh bibirnya. Terasa manis.. bibir yang telah lama aku idam-idamkan.

Aku pun menurunkannya kembali. Rambutnya yang terurai kurapikan dengan ujung jariku. Kusentuh pipinya, hidungnya, lalu bibirnya.. dada ku penuh oleh kebanggaan, dia menjadi milikku sekarang. Aku pun memeluknya dan berjanji akan menyayanginya selalu dan menjaganya dalam pelukanku.

~~~~

Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagiku. Sudah hampir tiga bulan yang lalu ketika Hye sun mengungkapkan perasaannya padaku. Aku tak pernah mengira dia akan memiliki keberanian itu. Karena dia adalah wanita yang pemalu. Tak kusangka dia lebih tegar daripada diriku.

Aku pun tersenyum memikirkannya. Tiga bulan belakangan ini hubungan kami mengalami kemajuan yang sangat baik. Dia pun telah setuju untuk tinggal bersamaku disini. Bukan dirumahku, tapi di apartemen milikku yang dulu aku sewakan. Penyewa sebelumnya sudah pindah ke luar negeri sehingga apartemen ini kosong.

Aku pun menawarkan Hye sun memakainya. Pengamanannya lebih baik dan tentunya aku bisa menginap disini. Pikiran nakal muncul dalam kepalaku. Hye sun pasti akan kabur bila aku mencoba mengangkat tubuhnya dan memadu kasih dengannya.

Aku tak pernah merasa bisa bersabar sebelumnya. Bila aku berhubungan sex dengan wanita lain, aku selalu terburu-buru. Namun dengan Hye sun, hanya bersentuhan kulit dengannya sudah memuaskanku, meski aku sangat ingin berbuat lebih dari sekadar itu. Tapi aku percaya, akan ada masanya Hye sun menerimaku dengan sukarela.

Tanganku tertumbuk pada kotak kecil yang tersembunyi dalam saku celanaku. Sepasang cincin yang aku pesan sebulan yang lalu. Berukirkan namaku dan namanya. Aku ingin meminangnya malam ini. Mungkin sedikit anggur dan makan malam romantis akan membuatnya tak sanggup untuk menolakku.

Aku pun tersenyum. Memandang sekeliling apartemen itu. Semua furniture telah aku ganti. Didalam kamar tidur ‘ku pasang sebuah lukisan laut dengan burung-burung bangau beterbangan di horisonnya. Sebuah tempat tidur King size, agar kami leluasa bila ingin bermain cinta disana. Akupun tertawa membayangkan reaksi Hye sun melihat ukuran ranjang itu.

Perlengkapan dapur terbaru dan modern akan membuatnya betah berada didalam sini. Aku berencana menghabiskan akhir pekan bersamanya. Tak usah jauh-jauh, dia akan memasakanku berbagai jenis masakan yang selalu dia ceritakan padaku disetiap kesempatan.

Dia sungguh gila masak. Dia lebih senang memasak untukku daripada makan di restoran bintang lima dan menghabiskan jutaan won untuk beberapa set makanan. Dia sangat suka menabung, “mengirit” begitu katanya. Aku bahkan terpana ketika pertama kali masuk ke dalam apartemennya yang dulu.

Berderet beberapa buah celengan berbentuk babi yang terbuat dari kaca tembus pandang berisi penuh uang koin. Entah dia sengaja menukarkan uangnya untuk mengisi semua babi-babi itu. Terakhir kuhitung dia memiliki sebelas ekor babi kaca berderet penuh dengan koin diatas mejanya.

Khusus untuk babi-babi itu, aku telah memesan sebuah lemari lebar dan kuat berwarna biru untuk dijadikan lemari pajangan tempat Hye sun meletakkan celengan koinnya. Dia pasti akan suka.

Barang-barangnya telah dikirim sedikit demi sedikit kesini. Namun Hye sun belum sempat untuk mengaturnya. Akupun tak berani untuk mengusik barang-barang itu karena Hye sun sangat posesif dengan miliknya. Aku tak ingin dia mengomeliku seharian bila aku salah menempatkan barang-barangnya. Wanita memang sungguh cerewet bila kamu semakin mengenalnya. Bukannya aku mengeluh.

Tak lama kemudian Hye sun sudah berada disampingku. Dia takjub melihat luasnya apartemen itu. Dengan enggan dia bertanya lagi padaku apakah tak apa-apa dia tinggal disana. Meski dia tak keberatan aku juga menginap disana, namun keenganannya sudah kami bahas sebulan yang lalu.

“Hye sun manis.. apa kamu lebih suka tinggal dirumahku langsung? Disana banyak ada orang, pembantu rumah tangga yang pasti ingin tahu dan sepanjang hari kita akan terpaksa berdiam diri didalam kamar. Kamu tahu kan tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan didalam kamar oleh sepasang kekasih selain... “ aku tak melanjutkan kata-kataku. Wajah Hye sun sudah merona merah oleh guraunku.

Dia sungguh mudah untuk dibuat tersipu. Sedikit lelucon vulgar dariku dan wajahnya akan berubah semerah buah plum. Membuatku gemas dan ingin melumat tubuhnya dalam pelukanku.

“Ehem.. jadi sekarang aku akan mengatur barang-barangku. Kamu mau membantunya?” tanya Hye sun padaku.

“Yup, tentu saja manis” kataku. Kamipun beranjak ke tumpukan kardus-kardus yang memenuhi ruang tamu. Aku memeluk Hye sun dari belakang.

“I love you, soo muchhh..” kataku padanya.

“Terimakasih sudah hadir dalam hidupku”

Tanpa disadarinya, aku menyelipkan cincin ke jari manisnya yang lentik. Meneguhkan diriku sebagai pemilik hati wanita ini. Dia pun terkesiap. Dia memandangi jari manisnya dengan tak percaya. Cincin emas bundar bermatakan berlian. Air mata pun menitik di pipinya. Air mata bahagia.

“Maukah kamu menjadi istriku cantik? Menjadi milikku hingga maut memisahkan kita? Hye sun-ku..”


Aku merangkum wajahnya dalam tatapanku. Matanya berkaca-kaca dan akhirnya tangisnya pun pecah ketika dia mengangguk bahagia, menerima lamaranku. Akupun ikut menangis haru. Aku sudah bisa membayangkan hari pernikahan kami. Dia dengan gaun putihnya, berjalan melewati aula menuju tempat pemberkatan pernikahan kami. Kebahagiaanku tak ada habisnya hari itu. Akhirnya pada usiaku yang ke tiga puluh dua, aku menemukan kebahagiaan yang aku kira tak akan pernah aku dapatkan.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.