"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 21, 2012

Fifth Drama - Chapter 9



Malam itu aku habiskan berdua bersama Hye sun. Kami terjaga sampai pagi mengatur barang-barangnya dan bercanda sepanjang malam. Hye sun membuatkanku sandwich tengah malam.

Hanya roti lapis keju, sehelai smoke ham, tomat, selada dan sauted onion. Rasanya cukup enak, bagiku yang tak begitu suka sayur, Hye sun cukup cerdik untuk menyembunyikannya dari mataku dengan mengirisnya tipis-tipis.

Ketika kami sudah selesai, aku memijat pergelangan kakinya dengan lembut. Dia pasti kecapekan karena sejak pagi disibukkan dengan semua persiapan pindah ini. Rambutnya diikat seperti kuncir kuda. Beberapa helainya lepas dan menempel dilehernya yang basah oleh keringat.


Dia begitu cantik dalam kaos putihnya yang bersih. Celana panjang satin yang lembut membungkus kakinya yang mulus. Tak kusadari, tanganku telah naik ke atas meraih lututnya, tak lagi memijat pergelangan kakinya. Entah kenapa keberanianku muncul saat itu. Mungkin karena terlalu lama menunggu hingga tubuhku pun mengetahui apa yang sebenarnya ingin dia lakukan. Hye sun menunduk mencoba menyembunyikan pipi nya yang merona merah.

Aku kemudian merangkak di depan Hye sun. Kuletakan kedua tanganku disamping tubuhnya, menjaganya. Perlahan diapun mengangkat wajahnya. Kedua tangannya meraih wajahku. Untuk pertama kalinya dia meneliti wajahku dengan kedua tangannya. Dia mengelus alisku yang tebal turun membentuk garis lurus menyusuri garis hidungku, kemudian bibirku.

Tangannya berhenti lama disana. Mencoba merasakan guratan tipis bibirku. Aku pun mencium jarinya. Kupandangi matanya, mencari penolakan disana. Namun tak kutemukan. Akupun menghela tubuhnya hingga menempel ke dinding dibelakangnya. Dengan lembut ku angkat dagunya, dan perlahan kucium bibirnya. Pelan, kubasahi dengan bibirku, lidahku menyentuh seluruh permukaan bibirnya. Lembut, manis, mengundangku untuk mengambil lebih.

Hye sun pun membalas ciumanku. Kini tangannya berada diatas leherku, memelukku dengan erat. Kemudian kurebahkan tubuh Hye sun, Karpet yang lembut akan melindungi tubuh kami yang sedang bergumul memadu kasih.

Kali ini berbeda, kali ini kami akan bercinta. Tak ada nafsu liar yang biasanya muncul setiap kali aku menelanjangi tubuh wanita. Yang ada hanya gairah yang kuat untuk membahagiakan Hye sun-ku. Aku tak ingin melukainya, aku ingin melakukannya dengan lembut, dengan perlahan. Dan dia akan mengingat nya bila tak bersamaku. Agar dia selalu menginginkanku.

Tanganku mulai mengungkap kaos yang dia pakai. Ku remas payudaranya yang masih terbungkus bra sambil perlahan-lahan kuputar-putar putingnya yang mulai mengeras. Dengan ahli kulepaskan tali bra nya dan menghempaskannya jauh-jauh. Masih dengan kaosnya, kuciumi putingnya dari luar. Kujilat dan kubasahi dengan lidahku. Kuhisap-hisap hingga dia mengerang  dan meremas rambutku.

Hye sun kemudian membantuku membuka kancing-kancing kemejaku. Kami sama-sama bertelanjang dada sekarang. Aku terdiam sejenak mengagumi tubuh indahnya. Payudaranya yang penuh dan tegang dalam cakupan tanganku. Akupun menciumi bibirnya lagi, satu tanganku tak lepas dari putingnya dan turun ke bawah meneliti setiap jengkal tubuhnya dengan jari tanganku.

Perutnya menggelinjang ketika tanganku dengan samar mengelus wilayah itu. Ciumanku pun turun ke lehernya yang jenjang, kubuatkan tanda cintaku disana, sebuah rona merah kecil yang akan dia lihat di dalam cermin dengan pipinya yang merona merah. Tanda percintaan kami.

Mulutku pun mulai mejelajahi perut Hye sun yang langsing. Dia melengkungkan perutnya kearahku menahan gairahnya yang telah memuncak. Dia  membisikan namaku dengan lirih.

“Seung ho..”

“Sebentar manis.. aku akan membuatmu lebih panas. Ini belum seberapa” senyumku nakal.

Dia meremas rambutku ketika mulutku mulai menciumi pinggulnya, celana panjangnya telah terlepas tak berdaya. Celana dalamnya yang berwarna putih berenda terlihat basah oleh cairan dari dalam rongga kewanitaannya. Akupun mengangkat lututnya tinggi-tinggi dan membuka selangkangannya dengan lebar. Dia berusaha menutupi pandanganku dengan kedua tangannya.

“Seung ho.. aku malu..” katanya pelan.

Tangannya perlahan aku genggam dalam ciumanku. Meyakinkannya bahwa tak ada yang perlu untuk di takuti.

“Kamu cantik Hye sun. Semuanya. Aku telah melihatnya sebelumnya, dan aku akan melihatnya lagi seterusnya. Tak usah malu lagi padaku. Kamu juga harus melihatku tanpa malu-malu lagi” senyumku meyakinkannya.

Dia pun mengangguk dan mengangkat tangannya. Aku mengagumi pemandangan di depanku. Masih sempurna, rambut disekitar kemaluannya panjang dan rapi. Hye sun tak pernah mencukurnya ku rasa.

Kusibakkan rambut-rambut halus itu dengan jari-jari tanganku. Perlahan aku sentuh clitorisnya yang bersembunyi. Hye sun begitu basah, dia sudah terangsang. Tapi aku belum ingin memberikannya kesenangan itu, belum.. dia harus diberi sedikit pelajaran karena telah membuatku menunggu selama ini.

Pahanya kutarik merapat ke kepalaku. Vaginanya tepat menyembul dan merekah didepan mataku. Basah dan merah muda. Lubang intimnya membuka dan menutup saat dia menahan rasa nyeri yang menyiksanya, menginginkan dimasuki olehku. Belum manis.. aku akan memberikanmu yang lain untuk dinikmati sebelum makanan utamanya kuhidangkan untukmu.

Lidahku bermain dengan liar, menjilat, menghisap dan mencubit kemaluan Hye sun. Lubang vaginanya pun tak luput dari lidahku yang keluar masuk rongga hangat itu.

Jari tanganku ku masukkan dan menyentuh dindingnya yang basah dan kesat. Hye sun mendesah, erangannya tertahan. Dia mencoba menutup pahanya ketika jari tanganku semakin cepat keluar masuk tubuhnya, badannya menggelinjang ke kiri ke kanan.

Kucium bibirnya dan ku buka lebar pahanya, tangannya mencengkeram lenganku dengan kuat, dia menegang dibawahku, tubuhnya mengejang tak beraturan karena pengaruh orgasme yang baru dia rasakan. Nafasnya terengah-engah ketika dia membuka matanya kembali. Aku takjub memandang binar dimatanya.

“Hye sun” panggilku dengan serak.

Kejantananku protes sedari tadi. Dia ingin dilepaskan, ingin menunjukkan dirinya dan mengklaim tempatnya di dalam Hye sun. Mata Hye sun pun tertumbuk pada bawah perutku yang menyembul. Dia menyentuhnya dengan tangannya. Aku tertawa dalam hati, apa dia tahu yang dia lakukan sekarang? Dia hanya semakin menambah nafsuku untuk menguasainya sekarang, di atas karpet merah ini, dengan liar.

“Bukakan untukku Hye sun..” suaraku berat ketika meminta Hye sun untuk menelanjangiku.

Ku tatap matanya, menantangnya untuk menguasaiku. Dia membalas tatapanku. Tangannya bergerak dengan ragu, dia melepaskan ikat pinggangku. Retsleting telah diturunkan, dia melihat kejantananku menyembul dari balik celana dalamku. Matanya melebar melihatnya. Hatiku tergelitik melihat ekspresinya. Kutangkap tangannya dan menahannya di depan kejantananku, kutuntun tangannya agar memijat ku disana. Aku mengerang, menikmati, mataku terpejam, penisku semakin berdenyut.

“Lepaskan Hye sun.. bantu aku melepaskannya sekarang..”

Aku pun berdiri, celana panjangku melorot jatuh. Hye sun yang duduk dibawahku pun mulai menurunkan celana dalamku. Penisku terguncang ketika lepas dari sangkarnya. Dia berdiri, tegak dan besar. Aku merasa pertahananku sudah di ujung. Tapi Hye sun mengejutkanku karena dia menciumi penisku.

“Hye sun...” tubuhku gemetar menerima sensasi bibirnya. Apa yang akan dia lakukan sekarang, tungguku.

Hye sun menjulurkan lidahnya, rasanya hangat.

“ough.. hye sun..”

Pelan-pelan jilatannya menjadi hisapan, dia mengulum ujung penisku. Aku tak pernah khusus meminta wanita-wanita yang pernah aku tiduri untuk melakukan oral untukku. Tapi Hye sun, aku bahkan tak ingin dia melakukannya. Namun saat dia melakukannya, aku tak ingin menghentikannya. Begitu nikmat, berdenyut-denyut mendesak.

“Hye sun..”

Aku kemudian menghentikannya ketika aku rasa aku akan keluar. Aku tak ingin mengakhiri malam ini dengan mengeluarkan spermaku didalam mulutnya. Tidak malam ini manis. Malam ini aku akan menghamilimu. Aku tertawa memikirkannya. Ya, aku ingin menghamili Hye sun. Aku ingin dia mengandung anakku. Akupun mengangkatnya, menggendongnya di depan ku. Vaginanya yang basah menempel di perutku. Hangat dan sungguh becek..

Badannya kurebahkan diatas ranjang, akupun merangkak diatasnya. Kami berciuman lagi sebelum aku memasuki tubuhnya. Kupegang penisku dan kuarahkan ke lubang vaginanya. Jantung kami berdebar-debar kencang, menunggu.. Hye sun pun tersentak ketika ku dorong kejantananku masuk ke dalam tubuhnya.

Dia meringis, aku lupa baru beberapa bulan yang lalu pertama kali dia mendapat pengalaman ini. Dan dia tak pernah berhubungan lagi dengan siapapun. Pastilah masih terasa sakit bila aku mendorongnya dengan kasar.

“Maafkan aku Hye sun.. aku akan pelan-pelan. Aku janji” tawaku renyah menyadari kesalahanku.

Hye sun hanya meringis mendengar kata-kataku. Ekspresinya masih menahan sakit. Dia sangat sempit, kejantananku terdesak, terjepit hingga sangat sulit untuk tak menyakitinya bila aku dorong keluar masuk. Namun demikian, Hye sun hanya menggigit bibirnya ketika kemudian tubuhku melaju semakin kencang maju mundur diatasnya. Tubuh kami penuh keringat, sial aku lupa menyalakan pendingin ruangan kamar ini.

“Hye sun.. kamu tak apa-apa? Sebentar lagi manis.. sebentar lagi. Keluarlah bersamaku..”

Semakin kencang tubuhku, semakin keras pula erangan Hye sun dibawahku. Dia memanggil-manggil namaku sambil menggeleng-gelengkan wajahnya. Dia menangis, tak kuat menahan kenikmatan yang dia terima dengan bertubi-tubi dari hujaman kejantananku didalam tubuhnya. Kucium bibirnya, menenangkannya. Dia memelukku erat, mencengkeram bahuku dengan kukunya dan mengejang dibawahku.

“Oh.. Hye sun.. aku juga akan keluar.. ughh...”

Tubuhku pun menegang, kulepaskan semuanya didalam tubuh Hye sun. Dari dalam tubuhnya terasa cairan hangat mengaliri kejantananku. Cukup lama aku berada diatasnya, menolak untuk melepaskan diriku. Hye sun hanya tersenyum lemah dibawahku, mata nya sayu, dia mengantuk. Setelah percintaan yang panas dan lengket, sudah sepantasnya dia kelelahan.

“Tidurlah manis.. cukup untuk malam ini” senyumku.

Kucium lagi bibirnya sebelum menarik tubuhku dari atas tubuhnya. Kami berdua sungguh-sungguh basah. Tanganku meraba dengan kasar remote AC diatas meja, akupun tertidur setelah udara dingin keluar dari mesin pendingin ruangan. Dalam mimpiku Hye sun sedang mengandung anak kami dan dia sangat bahagia disana. Senyum puas terukir diwajahku.

~~

Siang ini Hye sun akan mengepas pakaian pengantinnya, dengan sedikit perubahan tentunya dibagian perut. Hye sun sudah mengandung. Sudah dua bulan sekarang, dan sebulan lagi semua orang akan melihat ada yang berbeda disana, senyumku.

Kami memutuskan untuk mengadakan pernikahan sederhana dengan mengundang teman-teman dekat dan sejumlah rekanan bisnisku. Tapi bagi seorang pemilik stasiun televisi sepertiku, sejumlah rekan bisnis bisa mencapai ribuan. Belum lagi keluarga dari pihak almarhum ayahku dan keluarga dari pihak ibuku yang selalu mendesakku untuk segera menikah. Mereka pasti akan terkejut bila aku muncul dihadapan mereka dan mengumumkan rencana pernikahanku bulan depan.

Dengan semua jadwal yang harus aku rubah untuk menyesuaikannya dengan acara pesta pernikahan kami, hanya tersisa waktu beberapa hari untuk memberitahu keluarga. Kami bahkan belum memberitahu keluarga Hye sun di desa. Sekarang aku berpikir kembali, cukupkah waktu untuk meyakinkan keluarganya untuk memberikan Hye sun menikah denganku?

Aku bisa mengurus keluargaku sendiri, mereka tak pernah ambil bagian dalam hidupku, dan mereka lebih baik tidak memulainya sekarang. Aku paling benci bila dipojokkan dengan posisiku untuk selalu membuat semua orang disampingku senang. Bahkan ketika ayahku masih hidup, mereka selalu mendesak ayahku untuk menjodohkanku dengan salah satu anggota keluarga mereka. Untuk melindungi warisan keluarga katanya. Bullshit. Aku bukan tipikal konglomerat yang menyukai exclusifitas untuk diriku. Aku membangun perusahaanku bukan dengan menjilat dan mendapat kasihan dari orang lain. Aku membangunnya dengan usahaku sendiri, kerja keras yang aku rintis sejak sepuluh tahun yang lalu, sejak ayahku meninggal karena stroke.

Semua keluarganya berlomba-lomba mendekatiku, berpura-pura simpati atas kehilanganku. Namun di dalam hatinya, mereka hanya menginginkan bagian dari warisan yang ayahku tinggalkan. Bahkan rumah yang aku tempati saat ini adalah rumah warisan kakekku yang diperebutkan oleh paman-paman dan bibiku. Maka tak heran bila aku membangun rumahku sendiri. Aku tak ingin suatu saat nanti rumah itu diperdebatkan dan menjadi sengketa di pengadilan. Hye sun pasti akan depresi bila mengalami hal itu.

Sebuah lahan seluas lima ratus meter persegi, yang terbentang di sisi sungai yang melintas dari pegunungan Go Baek. Aku memilih tempat itu untuk membangun rumah yang akan kami tempati nanti bersama anak-anak kami. Sebelum menemani Hye sun mengepas gaun pengantinnya, aku mengunjungi tempat itu untuk mengawasi proses pembangunannya.

Mandor Jung kemudian tergopoh-gopoh menghampiriku. Laki-laki paruh baya itu bertugas untuk mengawasi pembangunan rumah ini sejak empat bulan yang lalu. Mungkin dua bulan lagi aku mulai bisa mengisinya dengan furniture dan menata kebun dan taman bermainnya.

“Direktur Lee.. selamat datang. Saya kira anda tidak akan jadi datang hari ini” sapanya ramah.

Dia membungkuk memberi hormat padaku saat aku melewatinya untuk memeriksa ke dalam. Dia pun memberikan aku sebuah helm proyek, untuk melindungi kepalaku.

“Bagaimana persentase bangunan ini? Kapan kalian akan memasang lantainya? Aku ingin semua kamar mandi juga memakai lantai marmer yang sudah aku pesankan itu, ok?” perintahku.

“Jangan khawatir Direktur Lee. Kami akan menyelesaikan rumah ini hingga detailnya seperti rencana semula. Bila anda ingin mengubah tampilan yang lain, jangan sungkan-sungkan untuk memberitahuku” katanya dengan sopan.

Ketika hendak masuk ke ruangan kamar tidur utama, suara handphoneku berbunyi. Ada panggilan dari kantorku. Aku sudah mengatakan pada Asisten Joon agar tak menghubungiku karena aku ada perjanjian di Bridal Shop. Entah ada sesuatu hal di kantor yang membuatnya membantah perintah langsung dariku.

“Semoga ini penting!” kataku datar.

Suara Asisten Joon kemudian mengambil alih telephone “Maaf Direktur Lee. Ada keributan di kantor. Fans dari artis Ma Eun Ri mendobrak masuk ke lobby dan membuat kekacauan. Dia membakar ruangan file dan menyandera beberapa pegawai disana. Kami sudah menghubungi polisi dan pemadam kebakaran. Saya mohon anda jangan datang ke kantor dulu sebelum suasana membaik disini”

“Apa? Menyandera pegawai? Bagaimana itu bisa terjadi? Apa kerja petugas keamanan di gedung? Benar-benar tak becus. Aku harus kesana sebelum terjadi keributan lebih besar lagi. Segera evakuasi pegawai yang lain dan temui aku di gedung sayap kanan” perintahku.

Aku lalu berpamitan pada mandor Jung dan memerintahkan sopirku untuk segera menuju stasiun televisi. Sejak itu banyak panggilan berdatangan di handphoneku dari rekan-rekan bisnis dan anggota direksi yang ingin tahu kejadian yang sebenarnya.

Memasuki jalur perkotaan, jalan-jalan ramai dengan mobil polisi dan pemadam kebakaran beserta ambulan yang lalu-lalang. Dari jauh aku melihat asap hitam membumbung tinggi dari arah letak gedung stasiun televisi milikku. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatan pegawaiku. Mereka harus keluar dari sana sebelum kebakaran membesar dan memenuhi gedung dua belas lantai itu dengan asap beracun.

“Tuan, apa anda ingin langsung turun di lobby depan?” tanya sopirku.

“hmm.. lebih baik bila kamu turunkan aku di pintu keluar sebelah kanan, aku tak ingin kita terjebak kekacauan disana” kataku sambil melihat banyak orang berlarian menyelamatkan dirinya dari dalam gedung.

Suasananya sungguh panik dan mencekam. Bagaimana mungkin seorang fans gila bisa memicu kekacauan sebesar ini. Banyak yang harus aku bereskan dan masalah ini muncul. Aku tak yakin hari pernikahan kami bisa berlangsung seperti rencanaku sebelumnya.

Hye sun!!! Aku hampir melupakannya. Dia pasti sedang menungguku di salon dengan cemas. Aku harus menelphonenya, memberitahunya tentang kekacauan ini dan aku tak bisa menemaninya hari ini. Aku sungguh benci dengan diriku karena harus mengecewakannya. Hal ini membuatku stres.

Akupun membuka jendela mobil disampingku karena ingin merokok. Hye sun tidak mengangkat handphonenya, dia pasti sedang mencoba gaun pengantinnya. Akupun mencoba menelphonenya lagi ketika ada orang berteriak di pinggir jalan sesaat sebelum sebuah truk pemadam kebakaran menabrak dan meremukkan mobil yang aku tumpangi, membuatnya terguling-guling dan hancur berkeping-keping.

Kejadiannya hanya beberapa detik, setelah terbanting dan terguling-guling tak beraturan akhirnya mobilku berhenti karena tersangkut di sebuah hydrant yang berdiri di pinggir jalan. Badanku remuk redam, aku tak bisa merasakan tangan kananku. Nyeri dan perih terasa disekujur tubuhku.

Cairan hangat kental mengalir di pipiku, membasahi pakaian yang aku kenakan. Aku meraba belakang kepalaku, basah dan lengket, darah segar tercium dari tanganku. Kemudian rasa pusing yang menusuk menyerang kepalaku. Aku mencoba meraih handphone yang terjatuh dari tanganku ketika tabrakan itu terjadi, namun kegelapan menguasaiku sebelum aku sanggup untuk menggapainya. Aku pun pingsan. Saat membuka kembali mataku, aku hanya mengetahui aku tak akan pernah seperti diriku lagi. 

5 comments:

  1. mba gambarnya knp cowo sama cowo?? itu bagus u third drama yah kalo g salah??
    seung ho bakalan cacat mba?? kasihan :(

    ReplyDelete
  2. ah itu cewek cowok kaliii.. hahahaha...

    ReplyDelete
  3. yes~~~
    akhirnya bisa coment juga, kekekekek
    eh???
    Seung Ho kenapa tuch??
    ya ampun moga gak papa ya???
    heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. ^__^ makasi sist.. akhirnya bisa komen ya? :asyikk:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.