"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, November 25, 2012

Fifth Drama - FINAL 1 (Sad Ending)



“Kalian masuklah ke dalam, udara dingin tidak baik untuk Hye sun dan kandungannya” perawat Min muncul dibelakang kami bersama dengan Asisten Joon dibelakangnya.

“Hye sun, ayo kita masuk dulu” akupun mendorong kursi roda itu menuju kamar Hye sun, kami akan berangkat ke Seoul sebentar lagi.

Setelah memerintahkan beberapa hal pada Asisten Joon aku pun kembali ke kamar untuk menemui Hye sun. Dia sedang merintih di atas tempat tidur. Ranjangnya basah oleh air ketuban. Dia akan melahirkan. Aku pun panik dan mendekatinya.


“Hye sun, air ketubanmu pecah. Aku akan memanggil dokter, bertahanlah” kataku panik.

Dokter dan perawat berdatangan memeriksa kondisi Hye sun. Mereka memindahkannya ke ruangan sebelah, tempat dimana proses bersalin di lakukan.

“Seung ho.. jangan tinggalkan aku..” pintanya lirih.

“Tidak akan manis, aku tak akan meninggalkanmu lagi. aku akan menemani mu melahirkan anak kita. Bertahanlah. Kamu pasti bisa” hiburku sambil menggenggam erat tangannya yang dingin.

Wajahnya putih sepucat kertas. Dia gelisah di atas ranjangnya. Mencoba mengelus perutnya yang terasa sangat menyakitkan.

Dokter dan perawat mulai melakukan prosedur persalinan. Setengah jam kemudian putra kami lahir dengan sempurna. Dia sungguh tampan, tangan nya yang mungil menggenggam jari tanganku ketika perawat menyerahkannya pada kami untuk mengagumi betapa indahnya anugerah yang diberikan pada kami.

Hidungnya mirip ibunya, namun bibir dan matanya adalah cetak mentah dari diriku. Asisten Joon pun memeriahkan suasana dengan mengambil foto kami sekeluarga. Dokter dan perawat beserta beberapa penghuni rumah sakit yang ikut melihat pun ikut berfoto bersama kami.

Tak bisa kulukiskan betapa bahagianya hatiku hari ini. Semua yang kuinginkan telah menjadi milikku lagi. Hye sun-ku yang tersenyum bahagia memeluk bayi kami. Dia sedang menyusuinya. Susu ibu yang akan dia hisap selama satu tahun pertama hidupnya. Mungkin bila ibunya tak keberatan, dia akan menyesapnya hingga berusia tiga tahun. Namun tampaknya ayahnya lah yang akan keberatan bila hal itu terjadi. Aku pun tertawa membayangkan masa depanku yang bahagia bersama anak dan istriku.

Canda tawa kami terdengar sampai keluar. Sementara sebuah van yang berhenti di depan pintu masuk areal rumah sakit yang dipenuhi oleh laki-laki berpakaian jas hitam dengan wajah yang sangar mengawasi rumah sakit itu.

~~~~

“Bagaimana kondisi Hye sun sekarang dokter?” tanyaku pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Hye sun, kami berbicara di dalam kantornya saat ini.

“Hye sun baik, dia hanya kelelahan. Anak kalian juga sehat, meski terlahir premature, namun dia sangat kuat sehingga tak terjadi komplikasi. Anda sangat beruntung Tuan Lee” dia menghisap rokok cerutunya.

Rumah sakit ini memang aneh, meski ada larangan merokok di dindingnya, namun dokter tua ini tak mengindahkan peraturan yang dibuatnya sendiri.

“Setelah beristirahat beberapa hari, kalian sudah boleh pulang” lanjutnya lagi.

Ketika kami sedang bercakap-cakap tentang rumah sakit itu, perawat Min datang dan berteriak histeris membuat kami semua terkejut.

“Dokter...dokter... Tuan Lee..anu..a.. ada sekelompok orang..anakmu..a..” dia menjelaskan dengan nafas ngos-ngosan, aku tak tahu apa yang dia bicarakan.

“Perawat Min, ada apa? Aku tak mendengarmu. Pelan-pelan” kata dokter sambil berdiri.

“Dokter.. Tuan Lee..” dia memandang kami bergiliran.

“Sekelompok orang mengambil anakmu, mereka bersenjata. Mereka pergi dengan mobil van ke arah kota. Asisten Joon dipukulnya hingga pingsan.. cepatlah..” katanya cemas.

Bagai langit runtuh menerpa tubuhku. Kakiku terasa tak bertumpu pada tanah. Siapa yang melakukan hal keji seperti itu. Anakku yang baru lahir pun dicurinya. Akupun berlari menuju mobilku yang terparkir diluar.

“Bangunkan Asisten Joon, suruh dia menghubungi polisi, aku akan mengikuti mereka. Jangan beritahu Hye sun tentang hal ini. Dia akan terguncang. Aku akan mendapatkan anak kami. Aku berjanji” kataku pada perawat Min.

Akupun menyetir mobilku dengan kencang. Nampaknya mobil van itu sengaja melambatkan mobilnya sehingga aku bisa menyusul mereka. Dijalanan lurus, aku pun menyalip mobil van itu dan menghentikan mobilku di depan jalur mereka.

Dua orang laki-laki berbaju hitam keluar dari pintu samping van. Meski tubuh mereka besar dan tinggi, namun badanku tak kalah besar dan tingginya dengan mereka. Jalanan itu sepi, tak ada kendaraan yang lewat yang bisa aku mintai pertolongan.

Aku mendengar tangisan anakku dari dalam van itu. Dia sedang dipangku oleh seseorang, namun aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Sementara dua pria yang aku tebak adalah bodyguard ini menantangku untuk berduel dengan mereka. Dua lawan satu, oke, akan aku ladeni mereka. Bila perlu akan aku bunuh dan kuhancurkan kepala besar mereka dengan tinjuku.

Tinju kananku melayang di pelipis bodyguard pertama, dia terjerambab mencium aspal dingin dibawahnya. Namun setelah itu aku tak bisa menggunakan tangan kananku lagi. Aku merasakan pen yang memegangi tulang lengan bawahku lepas. Kini sakitnya tak tertahankan hingga membuatku menitikan air mata.

Bodyguard kedua kemudian menghajarku dari belakang dengan tinjunya. Perutku terasa tertumbuk, aku ingin muntah. Namun aku berhasil menendang harta berharganya hingga dia berjengit dan berlutut sambil memegangi harta berharganya itu.

Bodyguard pertama kembali berdiri dan memiting lengan kananku. Aku berteriak sekuat-kuatnya. Dia nampaknya mengetahui tentang tulang tangan kananku yang patah dan terus mengincarnya.

Sambil menahan sakitku, kakinya ku sepak dan dia terjerambab, sekali lagi kepalanya terbentur aspal. Kali ini kulayangkan tendanganku pada kepalanya. Bertubi-tubi. Dia hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Darah mengucur dari hidungnya yang patah.

Ketika hendak menghantam dada nya dengan kakiku, seorang lagi temannya turun dari dalam van dan menembakan pistol ke udara. Akupun tersentak dan membeku. Kedua bodyguard itu tak sadarkan diri, namun laki-laki didepanku sedang memegang pistol dan mengacungkannya padaku. Mengancam akan menembakannya bila aku melawan.

Kemudian turunlah otak kejahatan yang berdiri dibelakang penculikan anakku. Tak lain dan tak bukan adalah paman kandungku sendiri. Adik ayahku.

Dia menggendong anakku dalam pangkuannya. Tatapan matanya begitu sinis dan mengerikan. Aku tak tahu apa maksud dibelakang penculikan ini, tapi aku bersumpah tak akan memaafkannya. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.

Bila dia menghilangkan sehelai saja rambut anakku, demi Tuhan akan kucabik-cabik badannya. Namun aku dalam posisi kalah, ada sebuah senapan diarahkan pada kepalaku. Menempel di pelipisku. Paman tua itupun mulai buka suara. Dia tertawa, suaranya mengerikan bagai iblis yang baru saja mendapat roh yang akan dia makan.

“Sungguh reuni yang bahagia. Aku tak menyangka kamu akan punya anak Seung Ho. Kamu tak pernah menceritakan pada pamanmu ini. Inikah keponakanku itu? Sungguh tampan, tak beda dengan ayahnya ha. Sama-sama memuakanku” desisnya.

“Apa maumu kali ini? Bukankah sudah kuberikan semua yang kamu inginkan?!! Kamu benar-benar setan!!” “Bila kamu sentuh dia sedikit saja, aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku!!” teriakku.

Tanganku mengepal bersiap untuk menjatuhkan bodyguard yang sedang mengarahkan pistolnya di kepalaku.

“Hoo..tidak.. belum semuanya Seung ho.. masih ada satu lagi yang belum aku miliki. Kamu kira mengapa selama ini aku berpura-pura takut padamu? Berpura-pura menjadi laki-laki tua pengecut dan gentar pada ayahmu? Bahkan pada mu? Anaknya yang brengsek!! Ayah anak kelakuannya sama. Bila dulu ayahmu tak menyabotaseku, kursi direktur utama BBC adalah milikku sekarang. Usaha yang diwariskan ayahku pada kami!! Tapi ayahmu yang licik menipuku dan mengambil semua untuk dirinya sendiri. Apa kamu tahu itu?? Apa pernah dia menceritakan itu padamu? Ayah yang kamu bangga-banggakan? Oh tidak.. dia sama kotornya dengan diriku Seung ho. Dan aku tak menyesal telah membunuhnya. Oh yaa... dia mati ditanganku.. obat itu memang menimbulkan gejala yang sama dengan penyakit stroke.. penyakit yang membuat ayahmu mati. Hahahahaha..” tawanya lebar.

Apa?? Semua yang kudengar ini membuat kepalaku pening. Semua kenyataan yang aku tahu tak semanis yang sebenarnya. Tapi haruskah aku mempercayai dia, orang yang bahkan sanggup untuk membunuh saudara kandungnya sendiri? Dan dia akan lebih sanggup lagi untuk membunuhku ataupun anakku. Penyebab ini semua hanyalah harta dan kedudukan yang tak pernah dia miliki.

Kakekku tak mewariskan usaha keluarga untuknya mungkin karena sifatnya yang terlalu jatuh dalam dendamnya. Hingga dia terjerumus sangat dalam dan tak bersedia untuk naik lagi. Terlalu asyik dengan kejahatannya.

Stasiun BBC, Hanson export-import, pengembang real-estate dan sejumlah pabrik pengolahan baja dan bahan tambang. Itu semua ingin dikuasainya. Diatas darah keluarganya. Bila tak membunuhnya, hatiku tak akan puas.

“Bila sudah mendapatkan itu semua, apakah kamu akan melepaskan kami, paman?” tanyaku untuk mengendurkan pengawasannya.

Matanya mulai bersinar, mata yang sama ketika mengetahui akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Selama ini dia selalu mendapatkannya, namun tidak kali ini. Kali ini kamu akan kalah.

“Tentu saja Seung ho, tentu saja. Aku akan melepaskan kalian... kalian bisa hidup di kota seperti ini. Mencangkul, berkebun. Mungkin kalian bisa beternak disini. Hahahaha” tawanya lagi.

Tangis anakku semakin keras berada ditangannya. Hatiku menangis melihat anakku yang baru beberapa jam lahir di dunia kini harus terpapar udara luar yang sangat dingin dan berada ditangan orang yang ingin melenyapkannya.

Saat anakku menangis, tatapan bodyguard itupun meleng. Dengan sigap aku menghentaknya dengan bahuku dan merebut pistolnya dengan tangan kiriku.

“DORR!!”

Dia terjerambab, kepalanya tertembus timah panas yang kutembakkan. Kini ku arahkan pistol itu pada tubuh pamanku. Berjalan mendekatinya, namun dia mamakai tubuh anakku sebagai tamengnya. Laki-laki tua sialan!!!

“Lepaskan anakku!! Mungkin kemudian aku akan melepaskanmu dan tak membunuhmu!!” mataku membara penuh dengan kebencian.

“J..jangan macam-macam!! Kalau kamu berani macam-macam, akan kubuang anakmu ini ke jurang dan kita mati sama-sama. Apalah artinya hidup tanpa anak dan istrimu Seung ho? Bagaimana kamu akan menghadapinya bila anakmu mati karenamu?? Yaa.. ini semua karenamu. Kamulah yang menjerumuskan mereka dalam kondisi ini. Bila wanita itu tak mengenalmu, tentu hidupnya tak akan seperti ini. hahahaa...”

Aku menggeretakan gigiku. Laki-laki buaya ini mencoba peruntungannya. Aku mencoba untuk mendekatinya, namun matanya langsung mengancamku.

“BERHENTI!!! Selangkah lagi, aku cekik anak ini..” dia berlari menyeberangi jalan menyusuri jalan setapak menurun yang ada dibalik jalan sepi ini. Masih memegang anakku, menjadikannya tameng.

Akupun mengejarnya hingga dia tersudut tak ada jalan lain untuk menghindar. Perlahan-lahan aku mendekatinya. Sambil mengawasi anakku yang berada ditangannya.

“Serahkan anakku paman, maka aku akan melepaskanmu” bujukku.

“Tidak.. kamu akan membuat hidupku seperti neraka setelah ini, aku tak akan berbuat sebodoh itu. Buang pistol itu, atau kupatahkan tangannya” ancamnya.

Saat ini dia sangat ketakutan hingga tak akan segan untuk melakukan apa yang dia katakan.

Tak berdaya aku pun melemparkan pistolku ke samping. Matanya puas memandang pistol itu terperosok dan hilang kebawah jurang.

“Kamu sungguh bodoh Seung ho. Mempercayai semua kata-kataku. Kini kamu tak punya senapan untuk membunuhku. Dan aku akan membawa anakmu ke neraka bersamaku. Hiduplah di dunia ini seperti di neraka. Hahahaha” lalu dia pun melompat ke jurang yang curam disampingnya.

Sepersekian detik sebelum dia terjatuh, aku menangkap lengan jas nya dan kami bertiga jatuh terperosok dalam jurang yang dalam.

Seperti dalam adegan di film-film, tanganku menggantung memegang sebuah dahan pohon yang tumbuh di dinding jurang. Tangan kiriku merangkul buntalan selimut berisikan anakku. Tangan kananku yang patah hampir tak sanggup lagi bertahan memegang dahan pohon yang mulai berderak menahan berat tubuhku.

“Anakku, aku bersalah padamu. Hidupmu didunia hanya sekejap, karena ayahmu ini”

Tangisku pun keluar. Aku berteriak sekuat tenagaku, mencoba meminta pertolongan dari orang yang berada disekitar sana.

Tak ada yang menyahut. Haruskah aku mati disini, haruskah aku mati seperti ini? Bagaimana dengan anakku yang tak berdosa? Dia begitu tampan dan tak akan bisa melewati hari-hari besarnya nanti.

Aku bisa saja menggapai dahan itu dengan tangan kiriku, tapi aku harus melepaskan anakku agar tanganku bisa menjangkau dahan itu. Tapi ayah seperti apakah aku bila melakukannya? Aku bukanlah suami yang baik, namun aku ingin menjadi ayah yang berguna bagi anakku.

“Hye sun.. maafkanlah aku. Sekali lagi aku mengecewakanmu. Aku sungguh tak berdaya. Semua salahku dan aku menjerumuskanmu di dalamnya. Maafkan aku..” kataku lirih pada diriku sendiri.

Anakku terus menangis dalam pelukanku. Namun tanganku tak kuat lagi, aku hampir pingsan menahan sakitnya otot yang terkoyak oleh serpihan tulang yang patah. Lima menit.. tiga menit.. sampai kapan aku akan bertahan.

“Direktur Lee!!!” akhirnya ada seseorang.

“Asisten Joon” teriakku lemah.

“Direktur Lee!! Bertahanlah” teriaknya lagi. “Aku menemukannya. Pak polisi cepatlah. Dia tergantung di dahan ini” kudengar suara teriakan Asisten Joon pada polisi yang datang bersamanya.

“Anakku, akhirnya kita akan selamat” kataku lirih pada anakku.

Mereka mengulurkan tali padaku, namun aku tak bisa menggenggamnya. Bila kulepaskan tangan kananku pada dahan, dia tak akan sanggup lagi untuk berpegangan pada tempat lain. Dengan susah payah aku mengumpulkan kekuatanku.

“A..asisten Joon.. tolong ambil anakku. Ambilah dia dulu, aku akan mengangkatnya dengan sisa kekuatanku. Aku akan menyusul setelahnya” teriakku serak menahan isak tangis yang hampir keluar.

“Direktur Lee.. bila anda mengangkatnya, tangan kanan anda akan...” dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.

“Asisten Joon. Aku memerintahkanmu. Kamu tahu apa yang paling aku sesali di dunia? Bila aku menjadi ayah yang buruk. Cukup suami yang buruk saja cap untukku” kataku lemah.

“Direktur Lee....” asisten Joon ikut mengalirkan air matanya.

“Jagalah Hye sun dan anak kami. Lindungilah mereka. Kamu berhutang itu padaku. Dan katakan betapa aku mencintainya. Dan betapa aku meminta maaf padanya” pesanku padanya.

Akupun mengangkat tubuh anakku, tangan kananku mulai goyah dan peganganku hampir terlepas.

“CEPATTTT!!!! Aku tak kuat lagi!!!”

Sosok Asisten Joon memeluk tubuh anakku perlahan-lahan menjauh ketika kurasakan tubuhku mulai terkoyak oleh batu-batu tajam jurang yang curam itu. Bunyi air mendebur keras ketika untuk terakhir kalinya kurasakan tubuhku menghantam permukaan danau yang dingin.

Ketika musim panas mulai berganti dengan musim gugur, ketika dedaunan mulai merubah warnanya dan berguguran ketanah. Begitupula tubuhku yang terkoyak oleh kehidupan dan mencerai-beraikan indera perasaku hingga tak mampu merasakan lagi.

Beginilah akhir hidupku. Setinggi apapun kedudukanmu di dunia, bila waktumu tiba, uang dan hartapun tak bisa menolongmu dari membusuk terkubur di dalam tanah.




~The End~

7 comments:

  1. hiks.. kok aku berkaca-kaca ya baca sad endingnya
    ngena bgt... hiks..
    Seung ho... kau ayah yg baik, hiks..
    huwaaaaaaaaaaaa.. *nangis jejeritan

    mbaaaakk.. tanggung jawab.. huwaaaaaaaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaha baru kerkaca-kaca ya sist? pdhl renacanya biar banjir. lol.. peacee.. sini sini tak kasi tissue ^__^

      Delete
  2. thanks mbk shin cerita yg sweet dan menyentuh,,,,,,,, ("⌒∇⌒")

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 sist. makasi banyak atas pujiannya. ;merona:

      Delete
  3. ya ampun yang meninggal Seung Ho aku kira Hye Sun,
    hwhehheheh
    turut belasungkawa yang sebesar"nya T.T

    ReplyDelete
  4. Sungguh ini amat tragis mbak Seung Ho matinya!! Kenapa mbak kenapa aku menangis? Huaaaa :'(

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.