"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 28, 2012

LOVES IN THE PARKS I - Eight Drama - Chapter 1



Sebuah mobil mercedez hitam berhenti di depan sebuah toko kelontong kecil yang menjual berbagai jenis makanan ringan, mainan anak-anak, rokok dan minuman dingin. Seorang wanita penjaga toko dalam usia pertengahan tiga puluhannya tersenyum menatap orang-orang yang keluar dari dalam mobil itu.

“Keluarlah kalian, Jung Min, Jung Nam” seorang anak kecil berusia tujuh tahun dengan riang turun dari mobil itu dan berlari menuju toko kelontong di depan mereka. Tangannya menunjuk-nunjuk sebuah mainan mobil-mobilan yang tergantung di depan etalase toko.

“Ayah..ayah... aku ingin mobil-mobilan itu... cepattt..” teriak Jung Nam pada ayahnya.

“Iya..iyaa.. tunggu ayah. Jangan lari-lari nanti ada mobil lewat. Heyy...” ayahnya berusaha untuk mengejarnya, namun langkahnya terhenti saat menyadari anak tertuanya belum juga turun dari mobil mereka.


“Kamu tidak ikut, Jung Min?” tanya ayahnya.

Jung min yang dipanggil hanya menggeleng, dia masih sibuk memandang keluar jendela mobilnya. Memandang tower tungku pabrik-pabrik pengolahan gandum dan padi-padian yang mengepulkan asapnya ke angkasa di kejauhan.

Desa itu adalah tempat berdirinya Pabrik penggilingan gandum terbesar di Korea. Sejak usai perang saudara di negara itu, seorang veteran tentara perjuangan Korea yang pulang ke kampung halamannya memilih untuk membangun pabrik itu daripada menerima tawaran pemerintah untuk menjadikannya menteri pertahanan. Sudah cukup hidupnya dipusingkan dengan politik dan dia tak ingin hidup keluarganya dihancurkan pula oleh politik.

Pabrik itu dibangun di areal tanah seluas 10 hektar, atau setara dengan lima belas kali lapangan sepakbola. Mereka mendapatkan gandum yang dikirim dari ladang-ladang yang ditanam disekitar pabrik itu. Bila dilihat dari atas pesawat, maka desa-desa yang mengelilingi pabrik itu akan terlihat luas terbentang perkebunan gandum dan jagung. 

Masyarakat sekitar pun mendukung berdirinya pabrik itu disana karena hampir 80% penduduknya tergantung dari kerjasama dengan pabrik itu baik sebagai tenaga kerja didalam pabrik maupun tenaga kerja yang turun langsung di perkebunan sebagi petani. 

Pabrik itu dimiliki secara turun temurun  oleh keluarga Park, dan kini dipimpin oleh generasi kedua konglomerat Park Il Gook. Park Jung Min dan Park Jung Nam adalah anaknya.

Park Jung Nam adalah anak laki-laki kedua dari keluarga itu. Dia memiliki sifat yang hampir berlawanan dengan kakaknya Park Jung Min. Jung Nam selalu ceria, aktif dan suka berteman dengan siapa saja. Dia selalu tertawa dan bermain layaknya anak kecil berusia tujuh tahun. Saat ini dia sedang duduk di kelas 2 sekolah dasar.

Sedang Park Jung Min, dia berusia sepuluh tahun, adalah anak yang pendiam, dia jarang membuka mulutnya untuk berbicara. Meski dia tidak bisu. Dia lebih memilih membaca buku di kamarnya dan larut dalam dunianya sendiri daripada bermain dengan anak-anak seusianya. Dia tak terlalu banyak memiliki teman. Mungkin hal itu disebabkan oleh perkataan ayahnya padanya saat dia berumur empat tahun.

“Pintar-pintarlah berteman. Banyak yang akan berteman denganmu karena menginginkan sesuatu darimu. Mereka akan memasang wajah menjilat dan menyombongkanmu meski di belakangmu mereka akan membicarakan keburukanmu. Kamu adalah calon pewaris Park Korea Mill Industry, jangan sampai perusahaan keluarga yang telah diwariskan turun temurun ini berhenti di pundakmu. Kamu harus membuatnya kuat. Mengerti?”  

Sebelum itu, dia tak ada bedanya dengan adiknya. Bocah periang yang suka membuat onar, sama seperti adiknya. Namun sejak perusahaan keluarganya semakin sukses, ayahnya yang gila kekuasaan menuntut pada anaknya agar mampu melebihi dirinya. 

Dia sangat meneladani ayahnya. Terlepas dari sifat ayahnya yang keras dan dingin saat berbisnis, dia adalah ayah yang baik dan menyayangi semua anak-anaknya.

“Kamu yakin? Mereka menjual mainan bogo-bogo terbaru. Kamu tak tertarik?” bujuk ayahnya lagi.

Jung Min akhirnya menoleh pada ayahnya dan dengan enggan turun dari dalam mobil mereka. Dengan perlahan dia mengikuti ayahnya dari belakang. Matanya memperhatikan dengan seksama toko kelontong yang akan mereka tuju. Sebuah toko kecil di daerah pedesaan yang jalannya masih berbatu dan berlubang dimana-mana. Lubang-lubang itu tergenang air berlumpur yang disebabkan oleh hujan tadi pagi.

Dia memperhatikan betapa jeleknya toko yang sekaligus adalah tempat tinggal pemilik toko itu bersama dengan dua orang anaknya. Seorang anak laki-laki yang usianya hanya berbeda beberapa tahun dengan dirinya dan seorang bayi yang baru berusia setahun. 

Dia enggan untuk masuk kesana karena setiap kali menginjakan kakinya di dalam toko itu, Jung Min selalu melihat bekas-bekas pertengkaran suami-istri itu di bagian belakang rumahnya. Tak jarang pula dia melihat pipi wanita penjaga toko itu merah bekas tamparan dan pecahan piring dan perabotan yang hancur di depan toko. 

Namun kali ini toko itu nampak sepi. Tak terlihat bekas-bekas pertengkaran disana. Nampaknya suaminya belum pulang dari pekerjaannya. Suaminya adalah seorang sopir truk yang bekerja di pabrik dan bertugas untuk mengirim hasil penggilingan ke pabrik pengemasan di kota sebelah.

Toko yang sekaligus rumah itu nampak lebih buruk daripada gudang di rumahnya. Kertas pembungkus dinding-dindingnya telah copot dimana-mana. Langit-langitnya pun berkelupas dan hampir jatuh. Kamar yang berantakan, kaca jendela yang pecah akibat dilempari sesuatu dan kini hanya ditempeli dengan kertas koran yang tak berdaya menahan kencangnya angin musim gugur. Jung Min bersumpah pernah melihat beberapa ekor tikus sedang berlarian di dalam toko itu. Membuat perutnya mual dan tak ingin untuk datang kesana lagi.

Tangis bayi pun meledak saat dia menginjakan kakinya ke dalam toko itu. Dia berjengit dan menatap asal suara tangis itu. Bayi kecil mungil yang sedang dibuai dalam ayunan yang terbuat dari kain yang diikat pada dua buah tiang disamping meja tempat mainan-mainan yang dijual. Tempat mainan yang dia inginkan. “bogo-bogo”.

“bogo-bogo” adalah mainan yang terbuat dari plastik yang berbentuk figur karakter robot-robotan yang sedang terkenal di Korea saat itu. Meski terkenal pendiam, Jung Min hanyalah anak kecil yang juga ingin bermain. Adiknya sering mengajaknya bermain perang-perangan dengan menggunakan karakter figur itu.

“Jung Min, ayo kesana. Kali ini karakter apa lagi ya yang keluar?” ajak adiknya dengan riang. Dia menarik tangan kakaknya agar mengikutinya.

“Wah, Tuan Park. Anak-anak anda sudah besar ya. Tampan-tampan lagi semuanya” puji wanita penjaga toko.

“Haha.. ibu Sung Yu Ri bisa saja. Anak anda Lee Ji Jeong juga tampan. Sudah kelas berapa dia? Beda empat tahun kan ya dengan Jung Min anakku?” tanya Mr. Park.

“Anda terlalu memuji. Ji Jeong mewarisi wajah jelek ayahnya, mana mungkin bisa dibilang tampan. Dia kini kelas 2 sekolah menengah pertama. Oh ya, putri anda bagaimana kabarnya? Sungguh menyenangkan putri kita lahir pada tahun yang sama” tawanya renyah.

“Haha.. Jung In sangat baik. Dia mulai bisa berbicara. Appaa.. appa.. begitu katanya. Pintar sekali” jawab Mr. Park dengan bangga.

Jung Min melihat ayahnya yang sedang asyik mengobrol dengan penjaga warung, sementara bayi ini masih menangis dengan keras yang membuat kepalanya hampir pecah. Dia terlihat sangat terganggu. Dia pun mendekatinya.

“Sshhh... diam.. berisik sekali sih kamu” katanya sambil menggoyang-goyangkan ayunan.

Tangis bayi itu pun mulai mereda, dia tergelak menatap wajah Jung Min. Tangannya menggapai wajah Jung Min, dan dia pun terdiam. Jung Min menatap wajah bayi itu, kemudian tertawa kecil.

“Aku tak tahu kalau kamu begitu lucu. Hee.. siapa namamu kecil? Kamu sekecil adikku” katanya riang. Meski dia memiliki seorang adik perempuan dirumahnya yang juga adalah seorang bayi, dia tak pernah bermain dengan adiknya itu. Para pelayan dan baby sitter akan selalu berada disampingnya. Menghilangkan keinginannya untuk bermain dengan adiknya. Terlalu ramai, dia tak suka.

“Jung Min, Jung Nam. Ayo kita sudah terlambat” panggil ayahnya.

Setelah membayar belanjaan mereka, ayahnya pun menggandeng tangan anak-anaknya dan membimbing mereka masuk ke dalam mobil dan meluncur menuju pabrik mereka. Hari ini Jung Min akan belajar tentang cara pemrosesan biji jagung menjadi bijih jagung yang lebih halus. Hari yang panjang untuknya.

~6 tahun kemudian~

“Baik!! Kita Cerai!!! Kamu bisa tinggal dengan Ji Jeong, aku akan membawa Ji Han!! Jangan pernah mencarinya lagi, aku tak akan membiarkanmu”

“Jangan kamu bawa anakku!! Suamiku!! Ji Hann!! Ji Hann!!!”

“Ibuuuu... kakakkkk.... aku takut.. “ teriak Ji Han kecil meronta ingin melepaskan diri dari tangan ayahnya.

Laki-laki itu menyeret putrinya yang masih kecil dan mendorongnya masuk ke dalam sebuah truk yang terparkir di depan sebuah toko kelontong di daerah pedesaan.

“Ji Hann....” ibunya terseret-seret di tanah memanggil anaknya. Badannya dihempaskan oleh suaminya saat dia merenggut tangan suaminya untuk mencegahnya mengambil Ji Han.

Tanpa memperdulikan tangis istrinya yang meraung-raung, laki-laki itu pergi meninggalkannya dan anak laki-laki mereka yang sedang memandangnya sedih.

“Ji Han.. Ji Han... kakak akan mencarimu..” teriak Ji Jeong sambil berlari mengejar truk yang membawa adiknya pergi.

Dia sangat menyayangi adiknya,  mereka selalu bermain bersama dan mencari belut di sawah untuk dijual di pasar. Kakaknya akan memboncenginya dibelakang sepeda mereka dan Ji Han akan bernyanyi riang hingga mereka tiba dirumah mereka. Namun, sekarang tak akan ada lagi adiknya yang selalu menemaninya dan bernyanyi untuknya.

Ji Jeong pun terjatuh di atas jalan berbatu dan melukai lututnya hingga berdarah. Dia dan ibunya menangisi kepergian adik dan anak mereka itu. Dan selama sepuluh tahun kakak-beradik itu pun terpisah tanpa kabar, hingga suatu hari seorang gadis remaja muncul di depan pintu rumah mereka dan mengaku bahwa dia adalah adiknya. Adiknya yang direnggut darinya sepuluh tahun lalu.

“Ji Han? Benarkah kamu Ji Han adikku? IBU!!!” teriak Ji Jeong memanggil ibunya yang sedang menumbuk beras untuk dijadikan tepung. Dia menghampiri adiknya dan memperhatikan wajahnya dengan cermat.

“Ya.. Ji Han.. kamu adalah Ji Han kami. Ji Han yang pergi telah datang lagi” katanya gembira, suaranya bergetar tak mempercayai penglihatannya sendiri.

“Iya kakak, aku telah kembali.. akhirnya aku kembali” tangis JI Han sesenggukan.

Ji Jeong pun memeluk adiknya erat, meluapkan semua kerinduan dan kekhawatirannya selama sepuluh tahun mencari adiknya di seluruh Korea. Mereka berpelukan dan menangis bersama. Tangis bahagia dan haru.

“JI Jeong.. Ada apa kamu memanggilku?” ibunya muncul dari dalam toko mereka. Tangannya memegang sebuah baskom berisi air yang baru saja dia ambil dari keran.

Ji Jeong menatap ibunya dengan bahagia, wajahnya berbinar-binar.

“Ibu... Ji Han... Ji Han kita telah kembali..” suaranya terdesak oleh tangisan yang hampir tak kuasa dia tahan.

Baskom di tangan ibunya pun terjatuh menimbulkan bunyi berisik dan menumpahkan air di dalamnya. Ibunya mematung beberapa saat sebelum air mata jatuh di pipinya. Mulutnya menggumamkan nama anaknya.

“Ji..hann.. anakku..”

“Ibu...” bisik Ji Han.

Mereka pun berlari saling mencari dan memanggil nama yang mereka rindukan selama sepuluh tahun ini. Ji jeong memandang dua orang yang dia sayangi dengan haru. Tak mampu menahan air matanya lagi, dia pun menangis dan menyekanya dengan kasar. Tangisan itu hanya mengganggu penglihatannya akan adiknya.

“Ji Han anakku... akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi sebelum aku mati..nak..” tatap ibunya bahagia.

Mereka berpelukan lama, saling menumpahkan kerinduan yang tertahan. Ibunya merangkum wajah anaknya. Mencermati wajah anak gadisnya yang kini telah berubah menjadi gadis yang cantik. Dia tersenyum bahagia. Menyingkirkan sehelai rambut yang menempel pada pipi anaknya.

“Kamu cantik sekali Ji Han. Andai Ibu disana saat kamu tumbuh. Oh betapa ibu menyesal tak bisa mempertahankanmu dulu. Maafkan ibu.. Ji Han.. Maafkan ibu..” tangis ibunya meledak lagi. Namun Ji Han memeluk ibunya dan menghiburnya, memahaminya dan mengatakan bahwa semuanya telah berlalu.

Ji Jeong pun menghampiri mereka berdua, tangannya merangkum pundak dua wanita itu. “Ayo kita bicara di dalam bu, Ji Han pasti kelelahan dari perjalanan jauh. Kakak akan menyiapkan kamar untukmu, ya”

Mereka pun masuk ke dalam toko kelontong tempat tinggal mereka yang telah berdiri hampir selama usia Ji Jeong. Toko itu tutup hari itu, mereka ingin menghabiskan hari menyambut kepulangan orang yang mereka sayangi.

Malam itu Ibunya memasak makanan kesukaan Ji Han, sup daging sapi dengan Kimchi pedas. Mereka makan dengan lahap dan gembira. Tak lama kemudian, mereka bertiga duduk-duduk di tengah ruang tamu yang juga menjadi ruang makan mereka.

Rumah toko itu tak memiliki kursi ataupun meja untuk tempat duduk tamu. Hanya lantai yang terbuat dari papan halus, dimana mereka menghabiskan waktu bersama seluruh keluarga.

“Ji Han.. Malam ini kamu tidur sama ibu ya? Ibu ingin memelukmu lagi, seperti dulu...” Ibunya masih memijat-mijat lengan anaknya, masih tak percaya dengan kepulangannya dan tak ingin melepaskannya. Karena dia takut bila dia melepaskan tangan Ji Han, keesokannya anak gadisnya itu akan menghilang dan pergi meninggalkan mereka. Dia tak akan sanggup melewati hidupnya mengetahui anaknya pergi lagi.

“Iya bu.. Aku akan tidur bersamamu. Kita akan berpelukan bersama lagi. Seperti dulu” tangis haru turun dari matanya yang indah.

Ji Jeong pun mengubah topik pembicaraan, dia penasaran dengan apa yang terjadi selama sepuluh tahun kepergian Ji Han. Dia ingin tahu tentang ayah mereka.

“Kemana saja ayah membawamu selama sepuluh tahun ini Ji Han? Aku mencarimu kemana-mana tapi tak pernah aku bisa menemukanmu. Pernah aku lewat di kota YoRang, katanya mereka pernah melihat kalian disana, namun aku tak menemukanmu disana” katanya sedih.

“Kakak.. Ibu.. Ayah membawaku hampir ke semua kota di Korea. Kami tak pernah menetap lebih dari enam bulan di masing-masing kota itu. Ayah hanya bekerja serabutan dan sering membuat onar diluaran sehingga kami terpaksa hidup berpindah-pindah” jawab Ji Han, tatapan mata nya sedih mengingat hidupnya dulu bersama ayahnya.

“A..apakah ayahmu menyakitimu, Ji Han..?” tanya ibunya. Suaranya bergetar saat mengatakan hal itu.

Ji Han menyentuh tangan ibunya dengan penuh kasih. “Ibu.. Meski ayah seperti itu, dia tak pernah menyakitiku. Dia menyayangiku, seperti Ibu menyayangiku..”

“Apakah dia tahu kamu pergi Ji Han? Dimana dia sekarang?” sela kakaknya.

“...ayah... dia telah meninggal kak, bu..” tangisan mengalir lagi dari mata Ji Han saat menceritakan tentang penyakit yang di derita ayahnya.

“Tiga bulan yang lalu, ayah akhirnya meninggal setelah dirawat selama sebulan dirumah sakit. Dia mengalami gangguan ginjal, kedua ginjalnya sudah rusak parah karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol kata dokter” Ji Han berhenti untuk menyeka air matanya yang mulai menggenang.

“Sebelum meninggal, ayah berpesan padaku untuk mengatakan pada kalian, bahwa dia minta maaf dan menyesal atas semua penderitaan yang dia timbulkan, pada Ibu... Pada kak Ji Jeong. Dia kemudian memberikanku alamat rumah ini dan menyuruhku untuk pulang” tangisnya kini mulai mereda, hanya sesenggukan kecil yang kadang-kadang muncul dari mulutnya.

Ibunya memalingkan wajahnya, mencoba tak menangis mendengar cerita Ji Han. Dia belum sanggup untuk memaafkan suaminya itu. Mereka tak pernah bercerai, suaminya tak pernah melaporkan penceraian mereka di kantor pengadilan.

Setiap hari dia masih berharap suaminya akan pulang bersama anak mereka dan mencoba semuanya dari awal lagi. Karena dia adalah suaminya, laki-laki pertama yang dia cintai sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Kepergian suaminya meruntuhkan pertahanannya. Ibunya pun pergi ke kamarnya dan menutup diri dengan selimut, tangisan kecil terdengar dari balik kamar ibunya itu.

“Kakak.. “ panggil Ji Han pada kakaknya.

“ehmm..?” jawabnya singkat.

“Maafkan ayah ya, kak.. Dia menyayangimu, dia merindukanmu. Setiap dia mabuk, dia akan menangis dan berteriak memanggil namamu. Aku sedih melihatnya seperti itu. Dia tak hanya melukai kita, namun ayahlah yang paling terluka karena terpaksa pergi dan berpisah dengan kalian” kata Ji Han lemah.

Dia masih ingin membujuk kakaknya agar memaafkan ayah mereka. Dia tak ingin kakak dan ibunya menyimpan dendam dalam hati mereka. Dendam tak baik untuk dirimu, tak baik untuk hatimu.

Kakaknya hanya tersenyum dan menekan kedua lengan Ji Han dengan erat.

“Tidurlah, sudah malam. Kamu pasti kelelahan. Besok kakak juga harus kerja pagi. Hiburlah Ibu, kakak baik-baik saja. Ya..”

Ji Jeong kemudian mencium dahi adiknya dan beranjak ke kamarnya untuk berisitirahat. Sementara Ji Han melihat sekelilingnya dengan tersenyum bahagia. Dia akhirnya dirumah, tempat orang-orang yang dia sayangi berada. Itulah rumah baginya.

Dia kemudian merangkak ke dalam kamar ibunya dan ikut meringkuk di dalam selimut yang ibunya kenakan. Dia memeluk ibunya dengan erat. Mencium pipi keriput wanita tua itu. Ibu yang disayanginya.

“Aku menyayangimu bu... selamat tidur..”

Ibunya tersenyum. Mereka pun tidur dengan nyenyak hingga mentari esok pagi menyingsing dan bersinar lembut menerpa wajah mereka yang damai. 

5 comments:

  1. ji han baik sekali...
    kasihan bapaknya hanya bisa memendam tanpa bisa mengungkapkan smua yg dirasakan.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. jihahahaha... kata2mu sist..... ouchh... tepat menusuk sukma.. lol

      Delete
    2. waduh mba aku udah nusuk sukma yah? maaf
      *gak nyambung.com

      jadi kasihan mba sama bapaknya, idupin lagi mba
      wkwkwkwkwk

      Delete
    3. hahhaha tunggu bola-bola naga nya dragon ball terkumpul dulu ya. nanti dikasi 3 permintaan. :D

      Delete
  2. wah q pasti bc smua crt sis
    wah kyk nemu harta karun dsni udh seminggu dan udh hmpir smua crt q bc
    mksih sis shin

    great job
    insan d c curug

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.