"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, November 20, 2012

Sixth Drama - Chapter 10 (story idea by sy ana)



Keisuke menginjakkan kakinya di lobby Hashimoto Building. Dia ingin menemui Tetsuya pagi itu, dia akan menanyakan maksud dibalik perbuatannya pada beasiswanya di Amerika. Meski dia bisa menebak alasannya, namun Keisuke tak habis pikir ada orang yang akan membencinya hanya karena dia tak sanggup mendapatkan wanita yang dia inginkan.

Mungkin bukan tak habis pikir, tapi dia tidak bisa memposisikan dirinya pada situasi Tetsuya. Laki-laki kutu buku yang direndahkan kawan-kawan sekampusnya dan dipandang sebelah mata. Yang akan dihina bila mencoba mengungkapkan isi hatinya pada wanita secantik Yura. Orang-orang akan mencapnya bagai “Katak yang merindukan bulan” karena perbedaan mereka. Mereka tak tahu siapa sebenarnya Tetsuya dan apa yang sanggup dia lakukan untuk mendapatkan yang dia inginkan.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya petugas bagian informasi ketika Keisuke menghampiri mereka.

“Aku ingin bertemu dengan Presiden Direktur Hashimoto Group” kata Keisuke.

“Apakah anda sudah membuat janji temu hari ini tuan..?” tanya petugas itu tanpa memandang pada Keisuke karena dia sedang disibukkan dengan tugasnya didepan layar komputer.

“Belum” dan petugas itupun mengalihkan pandangannya pada Keisuke.

“Maaf, anda tidak bisa bertemu dengan Presiden Direktur bila belum membuat janji temu tuan. Saya harap anda membuat janji temu terlebih dahulu” katanya sembari tersenyum.

Keisuke tak perduli, dia ingin bertemu dengan orang itu. Laki-laki berengsek yang menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena. Dia akan menghajar laki-laki itu tepat dimukanya.

“Aku tak perduli, aku harus bertemu dia, bila perlu akan aku obrak-abrik gedung ini” katanya gusar.

Petugas penerima tamu itupun mengisyaratkan securiti untuk menghalau Keisuke keluar dari gedung itu. Dua orang sekuriti bertubuh gempal dengan seragam ber-jas hitam dengan mudah memiting dan mengangkat Keisuke dari sana. Diapun dilemparkan keluar lobby dan tak diizinkan untuk masuk kembali.

Keisuke menggertakkan giginya. Dia hanya bisa menunggu Tetsuya keluar dari gedung itu dan membuntutinya sebelum menemuinya ditempat lain. Dia tidak bisa fokus bekerja karena memikirkan hal ini. Dia harus mencari keadilan atas nasibnya yang dipermainkan.

Kira-kira empat jam kemudian, Tetsuya keluar dari gedungnya dan naik kedalam sebuah mobil Mercedes Benz kemudian meluncur dalam keramaian kota. Keisuke pun membuntutinya dengan menyetop sebuah taksi yang sedang berhenti didekat sana. Dia tak boleh kehilangan kesempatan ini.

Keisuke pun mengikuti mobil Tetsuya ke arah pemukiman villa-villa mewah di daerah lereng perbukitan Tokyo. Daerah itu berada didekat istana kerajaan yang dibangun pada zaman Nara, sekitar abad ke 8. Bila memasuki musim gugur, panorama dedaunan yang berubah warna menambah keindahan istana itu.

Mobil mercedez hitam keluaran tahun terbaru itu kemudian berhenti di depan sebuah mansion mewah. Tembok kokoh dengan tinggi tak kurang dari tiga meter mengelilingi mansion itu. Terkucil dari sekitarnya.

Keisuke pun menyetop taksi yang dia tumpangi sambil mengawasi Tetsuya yang berjalan menuju pintu gerbang rumahnya. Disana Tetsuya sudah ditunggu oleh Yura yang berkacak pinggang membukakan pintu untuknya. Mereka terlihat berdebat kecil sebelum menutup pintu dan menghilang dari pengawasan Keisuke.

Keisuke menghantam jok kursi di depannya dan mengagetkan sopir taksi yang sedang mengemudi.

“Tepat seperti dugaanku. Berengsek kau Tetsuya. Akan ku balas semua penderitaan yang kamu berikan padaku” katanya dengan penuh kebencian.

~~~~

Beberapa hari kemudian, Keisuke yang belakangan selalu membuntuti Tetsuya akhirnya berhasil untuk menemuinya di sebuah Cafe dekat gedung Hashimoto Group.

Keisuke tanpa di undang  menyela tempat duduk didepan Tetsuya. Dia kemudian menghentakkan meja di depannya dan berbicara dengan nada mengancam pada Tetsuya. Sekilas laki-laki itu kaget karena ada orang tak diundang yang melanggar privasinya. Namun dia tersenyum sinis setelah menyadari laki-laki didepannya adalah Keisuke, laki-laki yang selalu menjadi momok dalam dagingnya.

“Katakan padaku apa maksud semua ini? Kamu otak dibalik semua ini kan?” hardiknya pada Tetsuya.

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tak mengerti” bantah Tetsuya berbohong.

Keisuke pun berdiri dan hampir menggulingkan meja tempat mereka duduk. Emosinya sudah di ubun-ubun, dia tak ingin dipermainkan oleh manusia culas seperti Tetsuya. Dia pun mengangkat kerah leher Tetsuya dan mengancamnya.

“Sekali lagi aku bertanya dan kamu tak memberikanku jawaban yang aku inginkan, aku bersumpah akan menghajarmu di sini. Katakan mengapa kamu menghentikan beasiswa study ku di Amerika? Dan kenapa Yura bisa bersamamu? Dia milikku, tak semestinya dia bersamamu” tanyanya tanpa henti.

Tetsuya kemudian menangkap tangan Keisuke dan melepaskannya dengan kasar. Sambil memperbaiki pakaiannya, dia berdiri dari kursinya dan memandang rendah pada Keisuke.

“Kamu tanya mengapa? Semestinya kamu bercermin sebelum menanyakan itu padaku. Yura tak pantas untuk laki-laki rendahan sepertimu, yang hanya bisa mengecewakannya. Yura tak akan mau dengan laki-laki miskin sepertimu. Dia yang memilihku dengan sukarela. Dia datang kepelukanku tanpa aku paksa. Karena dia sudah muak dengan janji-janji orang yang tak bisa diandalkan sepertimu. Kamu semestinya bersyukur aku tidak membuatmu menjadi gelandangan di Amerika sana” tantangnya.

“Tapi..tapi.. kamu sudah bertunangan. Bagaimana mungkin kamu mempermainkan Yura? Apa dia tahu kamu menduakannya? Kamu semestinya tak mengkhianati tunanganmu dan merebut Yura-ku!!!”  teriaknya dengan marah dan bersiap untuk memukul Tetsuya namun pukulannya terhalang di udara karena Tetsuya telah menangkap pergelangan tangannya.

“Apa kamu gila? Itu bukan urusanmu. Lebih baik kamu urusi sendiri urusanmu dan jangan menggangguku lagi dan Yura. Dan menjauhlah dari tunanganku. Bila kamu berani membocorkan hal ini padanya, aku akan membuat hidupmu bagai di neraka. Camkan kata-kataku itu” pandangnya tajam sebelum menghempaskan tangan Keisuke yang mematung menahan emosinya.

Tetsuya pun berlalu dari Cafe itu tanpa menoleh lagi. Pikiran Keisuke dipenuhi oleh rencana-rencana untuk balas dendam pada laki-laki itu. Dia sangat ingin membuatnya hancur dan berlutut di hadapannya meminta maaf atas semua perbuatannya.

Dia pun keluar dari sana dan menumpang sebuah taksi menuju rumah tempat Tetsuya menyembunyikan Yura. Dia akan membujuk Yura untuk meninggalkan laki-laki itu.

~~~

“Keisuke! Kenapa kamu bisa ada disini?? Siapa yang memberitahumu?” tanya Yura terkejut mendapati Keisuke berada di depan pintu gerbang rumah Tetsuya.

Keisuke pun memaksa masuk ke dalamnya. Namun Yura mencegahnya.

“Jangan. Kamu tidak boleh masuk kesini. Kalau dia tahu, dia bisa membunuhmu. Katakan kenapa kamu kemari? Kamu harus cepat pergi dari sini dan jangan temui aku lagi” katanya khawatir Tetsuya akan tiba-tiba berada dibelakang mereka.

Dia bisa datang sewaktu-waktu sekarang dan Yura tak ingin dia bertemu dengan Keisuke ataupun sebaliknya. Dia bisa menghancurkan rencana yang telah Yura bangun untuk kehidupannya. Dan dia akan sangat membenci Keisuke karenanya.

“Yura..yura.. dengarkan aku. Apa kamu tahu kalau laki-laki itu menipumu?? Dia sudah bertunangan. Dia menduakanmu. Dia tidak benar-benar menyukaimu. Kalau tidak, dia pasti akan memutuskan pertunangannya. Dia hanya menginginkan tubuhmu. Kamu harus pergi dari sini, pergilah bersamaku. Aku akan menjagamu” pinta Keisuke dengan penuh harap.

Yura semakin gelisah dan melihat jam tangan di lengan kirinya. Sebuah jam tangan dengan tali dari emas berhiaskan ratusan berlian kecil bersinar indah di lengannya. Dia harus mengusir Keisuke dari sana.

“Kamu sudah selesai?!” katanya berkacak pinggang.

Keisuke terpana memandangnya. Apa maksud wanita ini. Pikirnya.

“hhh... sudahlah Keisuke. Kamu tak usah mencampuri urusanku lagi. Aku tak akan pernah bersamamu. Sekarang hidupku sudah bahagia, aku mendapatkan apa yang aku mau. Aku bahkan terbebas dari ayahku. Apa kamu kira aku akan bersedia melepaskannya bersamamu untuk tinggal di apartemen sempit dan bekerja membanting tulang seumur hidupku? Tidak!! Aku tak ingin hidup seperti itu lagi. Aku ingatkan, kamu jangan pernah mencariku lagi. Aku tak akan pernah bersamamu lagi. Yang aku inginkan hanya uang Kei, dan Tetsuya mampu memberikannya padaku. Aku tak perduli menjadi simpanannya ataupun mainannya selama dia memberikan apapun yang aku mau. Sekarang pergilah dari sini sebelum aku memanggil polisi untuk mengusirmu”

Yura pun mendorong tubuh Keisuke sehingga badannya keluar dari areal rumah itu. Sebelum Yura sempat menutup pintu di depannya, Keisuke menyelanya dan menatap mata Yura dengan sedih.

“Bila..nanti aku kaya, maukah kamu bersamaku Yura? Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan” katanya memohon Yura untuk menjawabnya.

“Mungkin. Tapi kamu tidak kaya kan. Jadi tak usah banyak kata lagi, aku tak akan bersamamu. Pergilah” katanya dan mengunci pintu di depannya.

Yura pun menyandarkan tubuhnya di daun pintu sambil menenangkan hatinya. Dia harus berkata seperti itu agar Keisuke tak mengganggunya lagi. Tetsuya tak akan senang ada laki-laki lain dirumah ini selain dirinya.

~~~~

Di dalam kamarnya yang sempit, Keisuke pun merenungi semuanya. Dia telah memutuskan untuk merubah hidupnya. Dia ingin membalas dua kali lipat kesengsaraan yang Tetsuya berikan padanya. Dia akan menjadi kaya dan mendapatkan Yura-nya kembali. Dengan pikiran itu, diapun terjaga sepanjang malam. Sebuah rencana jahat muncul dari kepalanya dan dia tak akan menyerah hingga keinginannya tercapai.

~~~~

“Siapa namamu?” tanya Rina pada Tetsuya.

“Keisuke Wataru, saya baru saja diangkat menjadi manajer di perusahaan ini” Keisuke pun menyunggingkan senyumnya yang paling menawan kepada Rina.

Dia harus bisa menarik perhatian wanita itu, karena dia lah jalan satu-satu baginya agar berhasil menjalankan rencananya.

“Oke, kamu akan menemaniku menemui klien dari Amerika. Aku dengar km cukup fasih berbahasa inggris dan berada disana selama empat tahun? Aku akan berharap banyak dari mu kali ini Mr. Keisuke” kata Rina terputus-putus.

Dia merasa kikuk berada di depan Keisuke. Laki-laki ini sedang menggodanya. Dan dia sangat menyukainya. Wajahnya tak kalah tampan dari Tetsuya, bahkan laki-laki ini lebih maskulin yang terlihat dari otot-otot tubuhnya yang menyembul dari balik jas coklat tua nya.

Senyumnya membuat detak jantung Rina berdebar-debar kencang. Bibir tipis laki-laki itu begitu sensual dan basah. Rina pun menggigit bibirnya menahan keinginan untuk mengecap manisnya bibir laki-laki itu. Rambutnya yang tersisir rapi membuatnya terlihat lebih menarik dengan otot rahang yang tajam dan kulitnya yang kecoklatan terbakar matahari. Sungguh maskulin, pikir Rina.

Usia Rina sudah memasuki usia yang ingin tahu dan mengeksplorasi bagian-bagian tubuhnya. Dia memang tertarik dengan Tetsuya, namun tak pernah membayangkan laki-laki itu berada diatas ranjangnya dan merengkuh tubuhnya dalam pelukannya yang hangat. Tapi Keisuke, laki-laki di depannya ini yang baru seminggu lalu-lalang di sampingnya, dia bahkan pernah memimpikannya dalam tidurnya. Mimpi terliar sepanjang hidupnya.

Dia kadang mencari tahu bagaimana rasanya bila menjadi wanita sesungguhnya, namun dia tak pernah berani mencoba melakukannya dengan laki-laki lain. Membaca novel-novel romantis nan erotis disela-sela waktu remajanya dulu memberikannya bayangan bagaimana tubuh laki-laki dan perempuan menyatu dalam cinta.

Dia hanya memimpikan untuk menjadi istri yang sempurna bagi Tetsuya. Dia ingin Tetsuya mendapatkan kesuciannya pada malam pertama mereka nanti.

Tapi Keisuke yang entah dengan sengaja muncul di hadapannya dengan imajinasinya yang liar membangkitkan gairah di dalam tubuh mungil Rina dan hampir meluap-luap bila tak dilampiaskan. Tubuhnya panas membayangkan tubuh laki-laki itu menyentuh tubuhnya. Berdiri dengan jarak tiga meter, Keisuke masih sanggup memberikan sengatan gairah yang memecut naluri kewanitaan Rina.

Dia pun berdehem melancarkan tenggorokannya. Khayalannya tadi telah membuat tenggorokannya kering. Dia kemudian menyuruh Keisuke menunggunya di lobby dan akan menyusulnya sepuluh menit kemudian.

Tetapi Keisuke tak beranjak dari sana, dia menyadari apa yang ada dalam pikiran Rina tadi. Gerak tubuhnya menjelaskan dengan gamblang bagaiman reaksi dari khayalannya itu. Tubuhnya yang langsing melengkung seolah menikmati getar yang menggelitik dalam perutnya. Keisuke bersumpah saat ini Rina pasti sedang kewalahan dengan gairahnya yang telah membasahi bawah celana dalamnya. Dia terlihat tak nyaman ketika menjatuhkan pantatnya diatas kursi kerjanya yang empuk.

Keisuke pun mendekati wanita itu. Rina terperanjat dan kaget dengan kedekatan mereka. Keisuke telah berada disampingnya. Dia membungkuk dan wajah mereka begitu dekat. Panas hela nafas Keisuke menggelitik gairah Rina yang hampir terpadamkan sebelumnya. Kini wanita itu benar-benar tak berdaya memandang bibir sensual Keisuke, dia pun membuka bibirnya mengundang Keisuke untuk menghisapnya, melumatnya dengan keras hingga dia tak berdaya dan ingin lebih.

Seperti mendapat sinyal, Keisuke pun memagut bibir Rina dan memegang wajah wanita itu lebih dekat, menangkupnya sehingga tak bisa pergi dari rangkumannya. Ciuman mereka dalam, tak ada yang bergerak. Suasana sunyi mengiringi suara detak jantung dan nafas memburu kedua manusia ini. Keisuke pun melonggarkan ciumannya, matanya bersinar memandang Rina. Rina hanya melongo menunggu Keisuke memberinya lebih lagi. Namun Keisuke hanya tersenyum dan meninggalkan wanita itu terhempas di kursinya sambil merutuk Keisuke yang telah kurang ajar mencuri ciuman dari bibirnya.

Keluar dari kantor Rina, Keisuke tersenyum gembira. Wanita itu sudah jatuh dalam perangkapnya, pikirnya. Tinggal sedikit lagi dan dia tak akan bisa lepas lagi dari jerat-jeratku.

Sejak saat itu, Keisuke selalu menghadiahi Rina dengan bunga dan perhatian yang tak pernah dia dapatkan baik dari Tetsuya ataupun laki-laki lain. Keisuke sudah memenuhi hidupnya. Tiada menit dan detik tanpa laki-laki itu menguasai pikiran Rina. Dia menjadi terobsesi akan laki-laki itu. Keisuke tak pernah memberi sepenuhnya sehingga dia akan selalu meminta lagi dan lagi.

Seperti kali ini, mereka akan makan malam di apartemen Rina, apartemen yang bahkan ayahnya pun tak pernah mampir. Rina berdebar-debar menunggu kedatangan Keisuke dan merasa sedikit bersalah karena bermain api dibelakang Tetsuya. Tapi dia tak ingin disalahkan sendiri, karena Tetsuya tak pernah menganggapnya sebagai tunangannya, dia bahkan tak pernah menemuinya lagi.

Dia sibuk dengan mainan barunya, begitulah gosip yang dia dengar. Tetsuya memelihara seorang wanita dimansionnya. Kabarnya wanita itu sangat cantik hingga Tetsuya memberikan apapun yang dia inginkan sampai tak memperdulikan pertunangan mereka.

Rina pun tak habis pikir dan segera melupakan Tetsuya sejak Keisuke masuk dalam hidupnya. Laki-laki itu sungguh perhatian kepadanya. Menyayangi dan menjaganya. Perasaan aman yang baru pertama kali Rina rasakan. Perasaan ingin melabuhkan segala bebannya pada bahu Keisuke yang bidang. Menghabiskan hari berdua dengannya dalam selimut penuh kasih jauh dari keramaian.

Oh, ya.. dia menyukai laki-laki itu. Dia begitu memujanya. Cintakah itu? Rina tak berani berasumsi secepat itu. Keisuke adalah laki-laki yang cerdas, dia bahkan mendapat promosi jabatan tanpa bantuan siapa-siapa, ayahnya pasti akan terkesan dan tak akan melarangnya bila kemudian dia memutuskan pertunangannya dengan Tetsuya dan memilih untuk menikahi Keisuke. Keisuke yang lebih bergairah padanya.

Rina pun merapikan meja tempat mereka akan malam malam di teras apartemennya. Malam itu langit cerah dipenuhi oleh bintang yang bersinar suram dikalahkan oleh terangnya bulan purnama.

Suara bell pun menghentikan Rina dari aktivitasnya. Dia kemudian melihat melalui kamera, Keisuke sedang berdiri di depan pintunya membawa seikat bunga mawar putih kesukaanya. Malam ini akan menjadi malam yang romantis, pikirnya. Dia pun merapikan rambut dan mengencangkan bajunya yang sudah rapi. Menarik nafas dalam-dalam kemudian membuka pintu dan menyambut Keisuke yang berdiri disana, senyum itu selalu mampu membuat Rina mabuk kepayang.

Setelah makan malam, Keisuke dan Rina mengobrol di teras sambil berpelukan. Keisuke memeluk pinggang wanita itu dari belakang. Berdua mereka memandang suasana malam kota Tokyo yang tak pernah mati. Keisuke kemudian membalikkan tubuh Rina menghadapnya. Dengan perlahan, dia mencium dahi wanita itu dan memandang wajahnya dengan penuh kekaguman.

“Kamu cantik sekali Rina” katanya memuji.

Rina pun tersipu malu mendengar pujian Keisuke. Dia sangat senang Keisuke datang menemuinya malam ini. Dia begitu ingin menghabiskan malam bersama laki-laki itu. Ingin rasanya dia melepaskan semua ketegangan di tubuhnya yang dia coba sembunyikan sedari tadi. Tubuhnya begitu tegang karena begitu mendambakan sentuhan tangan Keisuke yang menggoda.

“Rina, aku tak tahu bagaimana reaksimu nanti setelah aku mengajukan pertanyaanku. Tapi sebelumnya, aku ingin kamu tahu bahwa kebersamaan kita selama dua bulan terakhir akan selalu aku ingat. Begitu nyata. Tapi aku tak punya apa-apa untuk membuatmu aman bersamaku, aku hanya punya ini” katanya sambil menangkungkan telapak tangan Rina di dada nya.

“Aku mencintaimu, Rina. Lancangkah aku bila aku katakan aku ingin menikahimu? Aku ingin menjadi milikmu, Rina. Aku tak akan sanggup menjalani hidupku tanpamu” Keisuke pun berlutut dan memegang tangan kiri Rina, kemudian dia mengeluarkan sebuah cincin emas mungil dari sakunya.

Rina terkesiap mendengar lamaran Keisuke. Dia mencintai laki-laki itu. Dia ingin memilikinya. Tapi apa yang harus dia lakukan dengan Tetsuya dan ayahnya... mereka pasti akan marah besar.

Tangannya bergetar menyentuh cincin yang Keisuke tunjukkan padanya. Dia ragu untuk menyentuhnya. Namun dia sangat ingin Keisuke memasangkan cincin itu di jari manisnya dan mengklaim dirinya.

“Kamu tahu apa yang akan kamu hadapi bila menikahiku kan, Kei..” tanya Rina dengan lemah.

“Aku tak ingin nanti gara-gara aku kamu terluka. Oh aku begitu ingin menjadi istrimu Kei, kamu adalah jiwaku. Apa yang harus kita lakukan Kei?” isak tangis Rina mulai terdengar.

“Rina..sayang.. Aku akan selalu disisimu. Apapun yang terjadi, aku akan selalu menjagamu. Maukah kamu menjadi istriku?” tanyanya lagi.

Rina pun mengangguk. Keisuke kemudian memasangkan cincin itu di jari manis Rina. Rina sungguh bahagia memakainya. Mereka pun berpelukan.

“Tinggallah disini malam ini Kei. Aku tak kuasa lagi hidup tanpamu. Pindahlah kesini. Aku ingin selalu bersamamu” 

Mereka pun berciuman dengan panas, Rina pasrah saja ketika Keisuke mengangkat tubuhnya dan menaruhnya diatas ranjang sebelum mereka memadu kasih. Malam itu Rina menjadi milik Keisuke, mimpinya yang dulu ingin menjadi istri yang sempurna bagi Tetsuya kini dia berikan pada Keisuke. Laki-laki yang kini dia cintai. Laki-laki yang juga mencintainya. Setidaknya itulah yang dia percayai. 

4 comments:

  1. i want more about tetsuya and yura. :D

    ReplyDelete
  2. aduh....
    ni si Keisuke juga licik juga sama kayak Tetsuya,
    sama ajalah kalau begitu,
    kekekekekke

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.