"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, November 26, 2012

Sixth Drama - Chapter 13 (story idea by sy ana)



“Kamu yakin tak apa-apa bila aku memintamu untuk tinggal bersamaku diluar negeri?” tanya Rina pada suaminya.

“Kondisi ayahku karena kecelakaan itu sudah tidak bisa disembuhkan lagi di Korea. Namun di Amerika dimana ilmu kedokteran lebih maju, dia pasti bisa disembuhkan..”

“Tapi aku tak ingin jauh darimu, Kei. Saat-saat seperti ini aku sangat membutuhkanmu. Aku tak mungkin bisa melewatinya bila kamu juga jauh dariku” kata Rina memelas.

Keisuke memeluk istrinya dan menghiburnya. Tangannya mengelus rambut wanita itu lembut.


“Rina sayang. Kita sudah membicarakan hal ini. Kemanapun kamu pergi, aku akan selalu menyertaimu. Aku akan menjagamu. Karena itulah tugas seorang suami kan? Aku ingin menjadi suami yang terbaik untukmu” dia mengecup bibir istrinya.

“Terimakasih Kei. Aku mencintaimu” mereka pun berciuman mesra.

“Disana kamu bisa melanjutkan studymu. Kelak, Akagiri Foundation akan kamu pimpin, dan kamu membutuhkan semua pengetahuan yang diperlukan untuk mengelolanya. Bukannya aku meragukanmu, namun alangkah baiknya bila kamu melanjutkan studymu di Amerika sehingga kamu tak akan terlalu bosan untuk menemaniku mengobati ayah” Rina menyentuh pipi suaminya dengan sayang.

“Aku tak akan pernah bosan berada disisimu, Rina. Banyak hal bisa kita lakukan berdua. Mungkin kita akan mendapatkan seorang bayi mungil bila kita cukup berusaha. Setuju?” rayu Keisuke manja.

“Aku tahu. Aku tahu.. Ayah pasti akan senang sekali bila mendapat seorang cucu. Tidak, mungkin dua atau tiga orang cucu” kata Rina gembira.

Keisuke pun memeluk istrinya erat, namun wajah yang tadinya tersenyum bahagia berubah sinis dan amarah menyelimuti matanya.

“Tentu saja.. beberapa orang cucu untuk ayahmu” seringainya dingin.

~~~~

“Jangan sentuh aku!” bentak Yura saat Tetsuya mencoba untuk menyentuh pundaknya.

Sejak Tetsuya memaksa melampiaskan nafsunya padanya, Yura selalu menghindarinya. Dia tak mau berbicara dengan laki-laki itu. Di dalam hatinya masih terasa perih dan sakit. Dia belum mau memaafkan Tetsuya.

“..aku akan pergi. Nanti aku datang lagi” kata Tetsuya pelan.

“Apakah kamu sudah PUAS?”

Yura histeris didalam duduknya. Dia berdiri dan mencaci maki Tetsuya. Tinjunya mengepal mencoba memukul dada laki-laki itu, namun tangannya dikunci disamping tubuhnya. Tak berdaya.

“Kamu bertanya apa aku sudah PUAS?? Oh, kamu tidak tahu apa definisi puas, Yura. Aku tak akan pernah puas denganmu. Tidak bila hanya sekali. Mungkin lima kali, sepuluh kali, ratusan kali atau bahkan ribuan kali. Aku tak akan pernah puas” bisik Tetsuya. Matanya tajam menatap seperti elang yang sedang mengawasi mangsanya.

“Kamu harus faham posisimu disini Yura. Kamu sudah aku beli, dan tak ada alasan bagimu untuk menolakku kapanpun aku ingin menidurimu. Kecuali kamu ingin kembali kejalanan dan diperbudak oleh ayahmu”

“Semestinya kamu cukup bersyukur bisa hidup mewah disini, aku bisa saja menyetop kiriman uang untuk ayahmu dan dia akan membusuk di penjara. Itukah yang kamu mau?” tawanya sinis.

“Kamu laki-laki ular!! Kamu memperalatku untuk menjadi budakmu juga hah?” teriak Yura di depan wajah Tetsuya. Ludahnya menciprat diwajahnya.

Tetsuya memejamkan matanya. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun dan hampir meledak.

“Kamu sudah tahu apa yang akan kamu hadapi bila menerima tawaranku Yura. Kamu kira mengapa profesi ini disebut “wanita simpanan?” Karena aku bisa dengan sesuka hatiku menyimpanmu atau membuangmu”

“Kamu berengsek!!! Aku tak akan membiarkanmu menyentuhku lagi!!” Yura meronta dari kuncian tangan Tetsuya, sia-sia, Tetsuya telah memiting lengan Yura dibelakang punggungnya.

“Kita lihat saja Yura, bagaimana kamu akan menghalangiku menyentuhmu?” dengan tangannya yang bebas, Tetsuya mencengkeram rambut Yura dan mencium bibirnya dengan ganas. Menghukumnya.

“Kita lihat bagaimana kamu mencegahku untuk melakukan ini..” Tetsuya merobek pakaian atas Yura hingga hanya bra berwarna biru muda yang melindungi payudaranya terlihat. Diapun menciumi tubuh wanita itu lagi dan menyakitinya sekaligus.

“Kita akan lihat bagaimana kamu mencegahku untuk memasukimu Yura.. Karena aku menginginkannya sekarang. Disini..”

Tetsuya memutar tubuh Yura dan menelanjanginya dengan tangan yang dia pakai untuk mencengkeram rambut wanita itu. Dengan sekali hempasan, dia telah berhasil menelanjangi Yura. Kini dia hanya memakai bra yang melindungi buah dadanya dengan tak berdaya. Diapun melepaskan celana panjangnya.

Setelah menjatuhkan tubuh Yura diatas sofa dalam posisi merangkak, Tetsuya kemudian memasukinya dengan paksa. Tangan wanita itu masih dipitingnya hingga dia tak bisa melawan. Yura hanya bisa berteriak kesakitan dan mengumpat menyumpahi Tetsuya yang telah gelap mata memuaskan nafsunya dibelakangnya.

Setelah semuanya selesai, Tetsuya meninggalkan Yura dalam keadaan lemah, tak berdaya, harga dirinya telah diinjak-injak hingga ke titik ternadir dalam hidupnya.

Beginilah akibat bila dia melawan Tetsuya. Laki-laki itu pendiam, namun bisa berubah 180 derajat bila amarahnya memuncak. Dia bisa lemah lembut padamu, tapi bila kamu memancing emosinya, dia akan menyakitimu tanpa belas kasihan.

Tetsuya hanya menggertakan giginya saat berlalu meninggalkan Yura dalam keadaan setengah telanjang.

Pandangan matanya kosong, seperti korban pemerkosaan yang ditinggalkan dijalanan dan hampir tak bernyawa. Namun Tetsuya tak perduli, dia terlalu marah untuk mengasihani wanita itu. Cintanya telah ternodai oleh kecemburan yang membutakan hatinya.

Di pintu gerbang rumahnya, Tetsuya memberikan perintah kepada pengawal pribadinya untuk mengawasi Yura sehingga dia tak kabur dari rumah itu. Pelayan-pelayan wanita pun menghampiri Yura dan membantunya membersihkan dirinya. Dia masih terguncang hingga malam tiba ketika Tetsuya menemuinya sepulang dia dari pekerjaannya. Tetsuya hanya memandangi Yura dingin.

Dia melihat Yura sedang memeluk lututnya diatas ranjang kamar tidur mereka. Yura hanya memakai kemeja putih panjang miliknya. Dia tak menyentuh makanannya sejak siang. Hanya tenggelam dalam lamunan yang memisahkannya dari dunia.

Tetsuya tak ingin mendekatinya. Dia tak sanggup memandangi Yura seperti ini. Seperti tak ada jiwa di dalam tubuhnya, tubuh yang selalu hadir dalam mimpinya.

Dia memang tak pernah puas akan tubuh Yura, tapi dia pun tak ingin meniduri wanita yang tak bernyawa. Yura terlihat seperti itu malam ini. Akibat perbuatannya tadi pagi, akibat perbuatannya kemarin malam.

Namun ketika dia berbalik hendak keluar dari kamar mereka, Yura memanggilnya.

“Kesinilah..” panggilnya.

Ekspresinya tetap kosong, memandang ke dalam kegelapan malam di luar jendela kamar mereka. Tetsuya pun mendekatinya. Dia duduk diatas ranjang, matanya melekat pada wajah Yura.

“Mengapa kamu mendekatiku malam itu? Mengapa kamu selalu datang ke kelab malam itu? Apakah kamu mencariku?” tanyanya dingin.

“...ya, aku mencarimu” jawab Tetsuya pendek.

Yura menoleh padanya. Memperhatikan wajahnya dengan seksama.

“Kenapa kamu mencariku? Apakah aku mengenalimu sebelumnya?” tanyanya lagi kebingungan.

“...Tidak.. kamu tak mengenaliku” jawab Tetsuya serak.

Yura tak percaya, dia merenggut kerah baju Tetsuya, memaksanya untuk mengaku.

“Lalu kenapa kamu mencariku?? Kenapa kamu hancurkan hidupku seperti ini? Aku..aku masih bisa hidup terhormat meski bekerja di kelab malam. Tempat laki-laki hidung belang seperti kalian” desisnya histeris.

Tetsuya menghela nafasnya berat. Dia tak siap untuk memberitahukan Yura, tidak dalam keadaan seperti ini. Dia ingin pengungkapan cinta yang romantis, tidak dalam kondisi Yura yang histeris dan hampir gila. Dia hanya terdiam, tak berusaha untuk membuka mulutnya menjawab pertanyaan Yura.

Yura semakin histeris. Dia memukuli dada Tetsuya lagi, namun kali ini hanya pukulan lemah yang datang dari wanita tak berdaya yang merasa tak memiliki harapan lagi dalam hidupnya.

Yura menangis sekuat-kuatnya. Tubuhnya bergetar, terguncang oleh emosi yang keluar dari hatinya. Tetsuya memeluknya erat, mencoba menenangkan Yura dari tangisnya.

“Mengapa Tetsuya...? Mengapa aku?? Mengapa kamu memilihku..?” masih dalam tangisnya.

“...kamu tak akan percaya bila aku katakan aku telah mencintaimu sejak lima tahun yang lalu..” aku Tetsuya akhirnya.

Yura melepaskan pelukan Tetsuya, namun tubuhnya masih dalam dekapan laki-laki itu. Yura memandangnya lagi, lebih dalam.

“Aku tak mengenalmu, bagaimana bisa kamu mencintaiku? Sejak lima tahun yang lalu. Lima tahun yang lalu aku masih belajar di universitas. Aku tak pernah masuk kelab malam atau sejenisnya. Bagaimana mungkin kita pernah bertemu dan aku tak mengenalimu” katanya tak percaya.

“Karena kamu tak mungkin melihatku, saat dimatamu telah ada sosok laki-laki lain. Saat matamu tak ingin melihatku. Namun kamu pernah melihatku Yura. Cobalah tanya pada dirimu, lihatlah aku lebih cermat, tanyakan pada dirimu, pernahkah kamu melihatku?” bisiknya.

Yura melakukan seperti kata Tetsuya. Dia meneliti setiap senti dari wajahnya. Perlahan tangannya menyentuh rambutnya, turun ke pelipisnya. Jarinya menelusuri wajah Tetsuya. Matanya terpejam menerima getar halus di dalam hatinya saat tangan Yura menyentuhnya.

Yura membelai halus pipinya, mengukur hidungnya yang mancung dengan jari tangannya yang lentik. Meraba bibirnya, tangannya bergetar. Meraba dagunya, rambut-rambut pendek kasar mulai tumbuh disana.

Kemudian dia menatap mata Tetsuya yang kini telah terbuka. Mata itu gelap, pupilnya melebar, Yura dapat melihat gairah di dalam mata itu. Baru kali inilah dia menyadari Tetsuya memiliki sepasang mata yang indah. Mata yang menghanyutkan.

Yang mengingatkannya pada laki-laki kutu buku yang selalu membantunya mencari buku di perpustakaan kampus mereka. Laki-laki yang sama yang pernah bertabrakan dengannya ketika dia sedang terburu-buru untuk bertemu dengan Kei. Mata indah yang sama yang dia lihat dari balik jendela kelasnya.

Dia tak pernah menyadarinya. Dia terkesima saat ingatannya mencerna penglihatannya. Membuka lembaran-lembaran lama yang mungkin tak pernah berarti baginya namun sangat berarti bagi Tetsuya, karena sejak itulah dia mencintai Yura.

Karena sejak itulah dia selalu mengikutinya, mencuri-curi pandang padanya. Mendambakan suatu saat dia akan mampu mengungkapkan perasaannya pada Yura.

Tetsuya yang pemalu dan pendiam, begitulah dia dikenal di kampus mereka. Seorang kutu buku yang tak banyak bergaul dengan lingkungannya. Bahkan tak ada yang bersedia untuk mengingatnya karena begitu tak pentingnya kehadirannya disana. Tak juga bagi Yura. Dia telah sibuk dengan Kei dan masalahnya.

Yura termangu dalam duduknya. Kini dia menyadari alasan Tetsuya begitu menginginkannya. Dan bersedia melakukan apapun untuk memilikinya. Dia pasti menderita saat tak mampu untuk mengatakan perasaaannya pada orang yang dia cintai, dan dia menyimpannya selama lebih dari lima tahun.

Dan selama lima tahun itu dia masih tetap mencintainya, meski dengan caranya sendiri. Diam-diam simpati baru mulai tumbuh dalam hati Yura yang sempat membeku. Dia merasa terpesona dengan kisah Tetsuya yang masih mencintainya hingga kini. Takjub, terpesona dan merasa diinginkan, merasa dibutuhkan.

Mereka pun saling bertatapan. Yura kini mulai mampu menerima semua sikap Tetsuya yang gila padanya. Menyadari laki-laki itu begitu dekat dengannya dulu namun tak sanggup untuk mengungkapkan perasaannya membuatnya merasa bersalah.

Andai saat itu dia tak mengenal Keisuke, andai saat itu Tetsuya lebih berani untuk mengungkapkan perasaannya , mungkin Yura akan jatuh hati pada pemilik mata indah itu.

“Yura.. “ kata Tetsuya serak.

Yura menarik tubuh Tetsuya, mendekapnya erat. Mencium bibirnya dengan penuh gairah. Tetsuya merasa tubuh Yura rileks dalam pelukannya. Yura mulai membuka dirinya pada Tetsuya, mencoba untuk lebih mengerti laki-laki itu. Mencoba untuk menerima cinta laki-laki itu, bila memang benar itu adalah cinta dan bukan keposesifan belaka.

Tetsuya pun membalas ciuman Yura dengan mesra sebelum merebahkan tubuh Yura didalam pelukannya. Malam itu mereka bercinta. Perlahan dan lembut.

Saat kedua insan itu melenguh saling berhadapan-hadapan, Yura tahu, dia akan selalu mendambakan kelembutan Tetsuya malam itu. Dan Tetsuya pun terjatuh dalam pelukannya. Terpuaskan. Meringkuk dalam buaian manis Yura. Untuk pertama kalinya senyum menghiasi wajah Tetsuya. Dia tak pernah terlihat setampan itu sebelumnya. Cinta mampu membuat manusia berubah. Demikiankah?

12 comments:

  1. yes!!! akhirnya tetsuya jadian juga sama yura..
    yuhuuuu...
    tunggu Keisuke, kau akan mendapatkan pembalasan yg setimpal..
    hahahahaha... *ketawa evil

    mbak Shin haidooo.. gomawoooo *berpelukaaan*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahaha... gomawoo too. wkwkwk :berpelukannnn:

      Delete
  2. baca dulu yaaa mbak Shin. Hehehe
    kangen Tetsuyaaaaa {}

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa.. met baca ya sist ^__^ happy reading..

      Delete
  3. haha..suka suka sukaaaaa *cium cium basah mb shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah makasi banyak sist. aku dah basah kuyup nih... keujanan tapi ahhahaha

      Delete
  4. dari kemaren pengen banget puk-puk-in Tetsuya grgr cintanya bertepuk sebelah tangan. Hahahaha
    tapi akhirnya terbalaskan jugaaaa :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apaan tuh sist puk-puk-in? hahahahaa....

      Delete
  5. :D .akhirnya ad pun pasal yura and tetsuya..luv it...tak sabar nk tgu tamat...lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. what do you think? i think still long before the ending. to get there is more than 10 chapters, maybe. who know ;)

      Delete
    2. i think is so sweet but i just understand a little bit ..but it's okey... i still learn how to read indonesia ^_^

      Delete
    3. that's OK. at the end of the chapter then you'll understand indonesian fully, lol

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.