"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, November 26, 2012

Sixth Drama - Chapter 14 (story idea by sy ana)



“Aku akan berangkat ke Amerika, Yura. Ikutlah denganku. Kita akan hidup disana, aku akan membahagiakanmu disana” bujuk Keisuke pada Yura melalui telephone.

“Keisuke. Ini terakhir kalinya aku akan menerima telephonemu. Mulai saat ini, jangan pernah hubungi aku lagi. Aku akan hidup bersama Tetsuya. Aku akan berbahagia bersamanya, dia akan membahagiakanku. Dia mencintaiku, kamu tahu?” Yura menjawab tegas bujuk rayu Keisuke yang untuk ke sekian kalinya memintanya pergi bersamanya.

“Tapi kamu tidak mencintainya Yura!!! Dia tidak mencintaimu, dia hanya menginginkan tubuhmu!! Hanya akulah yang mencintaimu. Tak ada yang bisa mencintaimu selain aku!! Yura!!” teriak Keisuke kesetanan, dia berada di dalam kamarnya.


Rina yang sedang mandi mendengar samar dan berjalan keluar masih dengan tubuh telanjangnya ketika mendengar kata-kata Keisuke yang membuatnya terkejut setengah mati. Sebuah teriakan kecil hampir keluar dari mulutnya, namun dia menutupnya.

“Yura.. hanya aku yang bisa membahagiakanmu. Pergilah bersamaku, please. Aku akan memberikanmu apapun yang kamu inginkan. Rumah? Mobil mewah? Apapun!! Yura!! YURAA!!” teriaknya. Dia tak menyadari istrinya sedang mengawasinya dengan terguncang. Pikirannya telah dikuasai oleh kemarahan, karena Yura menolaknya. Lagi!!

Rina pun kembali ke dalam bak mandinya. Menangis sesenggukan. Hatinya sakit, merasa dikhianati. Dia mengira hanya dirilah satu-satunya wanita dalam hidup Keisuke, namun dia salah.

Dia menutup mulutnya agar tangisnya tak terdengar oleh Keisuke. Dia begitu mencintai laki-laki itu dan telah memberikannya semua miliknya. Hartanya, perusahaannya, tubuhnya, hatinya.. Namun laki-laki itu tak merasa cukup dengan itu semua.

Rina menangisi nasibnya yang terlalu sial. Dulu saat bertunangan dengan Tetsuya pun dia diduakan dan dia mengalah. Namun kali ini, diduakan oleh suaminya, dia tak akan mengalah. Dia adalah suaminya. Diatas hukum dia sah adalah miliknya.

Keisuke pun tak akan bisa menikahi wanita itu bila dia tak menceraikannya. Dan Rina tak akan mau untuk diceraikan. Dia akan mempertahankan miliknya hingga tetes darah terakhir.

Rina menatap kosong ketika Keisuke muncul di pintu kamar mandi dengan tubuhnya yang telanjang, menyusulnya untuk bergabung di dalam bath tub. Rina hanya terdiam dan tak memberi respon ketika Keisuke menciumi tubuhnya dan bercinta dengannya di dalam bath tub mereka.

Dia menikmati percintaan mereka dengan dingin, sedingin air mata yang turun di pipinya saat Keisuke dengan tak sadar menyebut nama Yura ketika dia mencapai klimaks dalam hubungan itu.

~~~~ 

Yura mengeluarkan kartu sim dari handphonenya. Dia mematahkannya hingga menjadi pecahan kecil lalu membuangnya ke dalam saluran pembuangan di toilet kamar mandi kamarnya.

Keisuke menelphonenya lagi untuk yang kepuluhan kalinya, merayu dan membujuknya agar mau mengikutinya ke Amerika. Menjadi simpanan lagi, sungutnya. Dia merasa seolah tak berharga karena semua laki-laki yang dia kenal menginginkannya hanya sebagai cadangan, bukan yang utama.

Dengan kesal dia melempar handphone itu ke atas tempat tidur. Tetsuya pasti akan marah karena tak bisa menghubungi handphonenya.

Sejak kepergiannya ke Amerika, Keisuke telah menghubungi Yura hampir setiap hari dengan pertanyaan yang sama. Membuatnya jengkel dan akhirnya memutuskan semua hubungan komunikasi dengan Keisuke. Dia tak ingin Keisuke menelphonenya lagi, sehingga dia membuangnya. Dia akan membeli kartu sim baru dan bertekad akan membuang Keisuke jauh-jauh dari hidupnya.

Dia bahagia bersama Tetsuya. Sejak malam itu hubungan mereka membaik dan mengalami kemajuan. Kini Tetsuya semakin menyayanginya dan mulai terbuka. Setelah memahaminya lebih baik, Tetsuya ternyata adalah seorang laki-laki yang romantis.

Dia mengajaknya makan malam dibawah bulan purnama ditengah kebun mereka dengan cahaya lilin yang redup. Dia pun begitu lembut dan berhati-hati untuk tak menyakiti Yura setiap kali mereka bercinta.

Meski terkadang Yura lah yang dengan sengaja memperkeras ritme percintaan mereka. Tetsuya akan bertekuk lutut dibawahnya dan mengakui dominasi Yura di atas ranjang.

Malam-malam mereka selalu berwarna, penuh canda tawa dan bahagia. Tak terasa telah satu tahun lebih mereka hidup berdua, namun Tetsuya tak pernah berniat untuk menjadikannya istrinya.

Mungkin dia malu dengan latar belakang Yura karena dia hanyalah seorang waitress kelab malam dan pernah bekerja menjadi wanita penghibur di kelab malam itu.

Pastinya teman-temannya akan mengejeknya bila menikahi wanita seperti Yura. Dan keluarganya tentu tak akan menyetujui hal itu.

Malam itu Tetsuya pulang dan menemukan Yura tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia sedang memandang ke luar jendela namun bukan pemandanganlah yang dia lihat. Wajahnya menekuk, penuh dengan kesedihan.

Tetsuya melepaskan jas kerja nya dan mengendorkan dasi merah bergaris yang dia kenakan. Kancing kemeja atasnya telah dilepas dari lubangnya. Dia menghampiri Yura dan mencium pipi wanita itu dengan lembut. Memeluk tubuh rampingnya dari belakang, tangannya terangkai diperutnya yang langsing, mencoba untuk melihat apa yang Yura lihat meski dia tahu wanita itu tak melihat apa yang terlihat didepannya. Tetsuya pun tersenyum.

“Kamu merindukanku? Aku sudah pulang.. tak usah sesedih itu..” candanya.

Yura hanya menghela nafas pendek, dia telah menyadari kehadiran Tetsuya sejak laki-laki itu membuka pintu kamar mereka, namun dia begitu terbelenggu dalam kesedihannya hingga tak mampu menyambut laki-laki yang dicintainya itu seperti biasa. Sebuah ciuman hangat di bibir dan pelukan mesra.

“Apa yang kamu pikirkan Yura? Wajahmu begitu sedih. Apakah aku telah berbuat salah padamu?” tanya Tetsuya pelan.

Yura memeluk lengan Tetsuya, menyentuhnya dengan penuh kerinduan.

“Tidak ada Tetsuya.. Tak ada yang aku pikirkan. Tak ada yang salah” senyumnya lemah. Dia tak ingin memberatkan pikiran Tetsuya.

Meski dia tak mengatakannya, Yura tahu laki-laki itu sedang pusing memikirkan masalah perusahaannya. Hashimoto Financial Group.

Sejak beberapa bulan belakangan, Tetsuya mulai sering melakukan perjalanan jauh, baik itu ke Kyoto, Osaka, maupun keluar negeri. Diapun sering menghabiskan waktunya di dalam ruang kerjanya sampai pagi.

Yura bahkan pernah mendapatinya sedang tertidur di dalam ruang kerja itu. Kertas dan file-file bertumpukan di atas meja. Tetsuya yang jarang merokok kini terlihat lebih sering menghisap rokoknya didalam ruang kerjanya. Puluhan puntung rokok dalam semalam bisa dia temukan di atas asbak putih disana.

“Maafkan aku yang akhir-akhir ini menelantarkanmu. Tinggal beberapa bulan lagi, dan bila semuanya berjalan lancar, maka.. ada yang akan aku katakan padamu saat itu tiba” kata Tetsuya sembari mencium leher Yura. Mereka berpelukan seperti itu hingga terdengar suara kerucuk bunyi perut Tetsuya. Mereka pun tertawa.

“Kamu lapar.. aku akan menyiapkan makanan untukmu. Room service?” canda Yura dengan jenaka.

Dia melepaskan pelukan Tetsuya dan mencium pipi laki-laki yang memenuhi hatinya itu. Beranjak ke dapur.

“Mandilah, kamu bau sekali” katanya sebelum menghilang dibalik pintu dengan tawa jahilnya.

“Awas kamu nanti Yura. Aku akan memberimu pelajaran” teriak Tetsuya gembira. Yura hanya terkikik mendengar jawaban Tetsuya dari dalam kamar mereka.

Setelah santap malam romantis diatas ranjang, semua piring pun dibersihkan oleh pelayan. Tetsuya merebahkan kepalanya yang berat diatas pangkuan Yura yang duduk diranjang mereka sambil membaca novel favoritnya.

“Kamu lagi apa?” tanya Tetsuya manja pada Yura.

“Baca novel..” jawabnya.

“Pijitin kepalaku ya.. Pusing sekali” kata Tetsuya. Lidahnya dijulurkan sebelum dimasukan lagi ke dalam mulutnya. Jahil.

Yura pun meletakkan buku nya dengan enggan.

“Sudah? Dimana lagi dipijit? Disini?” tanyanya sembari memijat-mijat tengkuk kepala Tetsuya.

“Agak kebawah. Kepala atasku pijit juga ya..” pintanya lagi. “Leherku juga nih..” katanya sambil membalikkan tubuhnya. Kini wajahnya menghadap pangkuan Yura.

“Kamu harum.. sungguh menggoda” diapun memeluk pinggul Yura. Menghirup dalam-dalam aroma wanita yang dia cintai itu.

“Mengapa wanita bisa begitu memabukkan, Yura? Kamu begitu memabukkanku” katanya lagi.

“Mungkin gombal bagimu bila kukatakan sampai tua pun aku masih menganggap aroma tubuhmu adalah aroma tubuh terwangi didunia” dia menatap ke atas, pipi Yura bersemu merah mendengar rayuan Tetsuya.

Yura menjawabnya tak acuh. “Tak mungkin kamu merasa begitu. Aku pasti sudah tak ada disini saat itu” dia membuang wajahnya dan tak menghiraukan Tetsuya yang menatapnya bengong. Tetsuya pun tersenyum.

“Kamu akan selalu disini Yura. Akan selalu disini. Karena kamu akan menjadi istriku. Menemaniku sampai maut memisahkan kita” kata Tetsuya serius. Senyum getir terlihat samar diwajahnya saat dia membayangkan Yura tak berada disampingnya.

Yura menatapnya tak percaya. Dia ingin mendengar lagi apa yang baru saja Tetsuya katakan. Dia merangkum wajah Tetsuya dengan kedua tangannya.

“Katakan sekali lagi. Katakan lagi.. Aku ingin mendengarnya lebih jelas..” dia berharap cemas.

Mata Tetsuya berbinar. “Yura-ku yang manis.. Aku akan menjadikanmu istriku. Dan tak akan ada yang bisa memisahkan kita selain maut” janjinya.

Yura memegang pipinya. Panas. Dia tak percaya apa yang dia dengar.

“Cubit aku Tetsuya, aku tak percaya apa yang aku dengar” katanya takjub.

“Aku tak akan mencubitmu Yura. Aku akan menciummu. Aku akan bercinta denganmu malam ini dengan keras. Sehingga kamu tak bisa membedakannya apakah ini kenyataan atau hanya fantasimu saja. Fantasi terliarmu, Yura..”

Tetsuya lalu memagut manis bibir Yura, mendesaknya dengan tubuhnya. Merenggut setiap udara yang dia hirup dari mulut Yura saat mereka berciuman hingga kehabisan nafas.

“Kuasailah aku Tetsuya. Kuasailah aku” erang Yura nikmat didalam pelukan tubuh Tetsuya. .

Malam itu burung hantu pun berbunyi “kuukukk..kuukkukk..” menambah mistisnya penyatuan tubuh mereka yang panas.

10 comments:

  1. turut berbahagia untuk tetsuya and yura,,,
    nti kalo nikah jgn lupa undang aku yah....

    untuk kei rasakan!!!! hahahaha

    bawa sini mba, keinya pengen aku cemplungin ke rawa deket rumah hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. kata tetsuya.. kei buat dirimu aja katanya sist.. mau diapain jg boleh. jd budak cinta kek, satpam rumah, bodyguard, tukang cuci sampe tukang pijet is ok. ihiiihhiihihihi

      Delete
  2. waduh,burung hantu pk ikutan nongol sgala,hihi

    ReplyDelete
  3. tu burung hantu ganggu aj ya,haha

    ReplyDelete
  4. aaaa~~~~~~~~~
    Tetsuya ya ampun kau...
    ah tak bisa berkata-kata,,,
    kekkekek
    Rina yang sabar ya,,,
    hehehehehh

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.