"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Sixth Drama - Chapter 1 (story idea by sy ana)



Kelab malam itu ramai dipenuhi pengunjung yang haus akan hiburan dunia malam kota metropolitan di pusat ibukota Negara. Laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan berdansa di lantai, music disko mengalun dengan keras seirama dengan tubuh-tubuh penari striptis diatas panggung.

Elok melenggak lenggokan badannya dan sesekali memutar tubuhnya mengitari tiang dengan gaya erotis yang menggugah nafsu laki-laki hidung belang yang mengelilingi panggung itu sembari mereka menyelipkan beberapa lembar uang puluhan ribu yen kedalam pakaian dalam penari – penari yang seksi itu.


Ruangan kelab itu penuh sesak, tak heran karena malam ini adalah malam akhir pekan. Dari remaja sekolah menengah umum hingga om-om kaya dengan perut buncitnya yang sedang dilayani oleh cewek-cewek panggilan didalam kamar VIP nya. Kursi-kursi dan sofa penuh terisi, bahkan banyak tamu yang berdiri sambil menggoyang-goyangkan badan mereka mengikuti irama musik yang diputar oleh DJ.

Meja bartender pun tak kalah ramenya. Delapan orang bartender dan bartendress dengan cekatan melayani tamu-tamu yang memesan minuman kepada mereka. Dari minuman ringan seperti softdrink, cocktail, beer, mocktail hingga minuman alkohol murni seperti Jack Daniels dan kawan-kawannya.

Harga minumannya pun terbilang cukup mahal, selain karena kelab malam ini adalah salah satu yang terbaik yang ada di ibukota, para pengunjung tidak perlu takut untuk bersenang-senang sesuka hatinya disini karena tidak ada preman ataupun pihak berwajib yang berani mencari masalah atau merazia tempat ini.

Kabarnya kelab malam ini dimiliki oleh seorang pengusaha yang sangat kaya yang memiliki saudara yang berpangkat Jenderal Besar sehingga tak ada orang yang berani untuk mencari gara-gara dengannya. Bahkan seringkali ruangan VIP nya dibooking oleh para pejabat koruptor dan asusila yang datang kesini hanya untuk memuaskan nafsu duniawinya. Mereka akan memesan minuman termahal dan wanita penghibur kelas satu namun memberikan tips yang sangat sedikit.

Yura memijat-mijat kakinya di ruangan locker pegawai. Kakinya terasa pegal karena berdiri selama enam jam dan melayani tamu yang tak ada habisnya. Kini gilirannya untuk beristirahat, tinggal limabelas menit lagi sebelum dia harus kembali ke depan. Dia pun memperbaiki riasannya. Sebuah sms masuk, dari ayahnya.

“Aku perlu uang dua juta yen. Kau harus mendapatkannya untukku. Uangmu yang dilemari sudah aku ambil tapi masih belum cukup. Kalau tidak, mereka akan membunuhku. Bagaimanapun juga kau harus mendapatkan uang itu untukku atau aku yang akan membunuhmu. Mengerti??!! Tiga hari lagi aku akan mencarimu kerumah” isi sms dari ayahnya.

Uang dua juta yen bukanlah uang yang sedikit. Meski dia bekerja selama lima tahun tanpa henti dia tetap belum bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Belum lagi dia harus membayar hutang-hutang ayahnya pada tetangganya, kepada pamannya, tagihan listrik, bahkan uang sewa rumah telah dia tunggak selama enam bulan. Tuan rumahnya masih bersabar kepada mereka dan tak mengusirnya, namun sampai kapan dia akan diberikan untuk menunggak?

Yura menjadi murung dan frustasi. Dia adalah seorang mahasiswa yang masa depannya cerah, seandainya ayahnya tidak suka berjudi dan berhutang dimana-mana sehingga dia terpaksa menghentikan kuliahnya dan bekerja dikelab malam ini demi menghidupi mereka dan membayar hutang ayahnya yang tak ada habisnya. Ayahnya sering memukul dan mengkasarinya, dia hanya pulang kerumah untuk memeras dan mengambil uang yang Yura hasilkan dengan susah payah.

Ibunya bahkan telah meninggal karena tak kuat menahan kekejaman ayahnya. Sering dia ingin melarikan diri namun ayahnya selalu berhasil menemukannya, terkadang dia ingin bunuh diri namun dia takut akan kematian. Dia tak ingin hidup seperti itu. Dia ingin menjadi orang kaya, memiliki segalanya sehingga dia bisa lepas dari ayahnya. Dia bertekad untuk menghilang dari ayahnya dan hidup terbebas dari beban kemiskinan yang dia tanggung sejak dia lahir. Bagaimanapun caranya. Dia sudah terjatuh dan tak ingin terpuruk lebih dalam.

Laki-laki itu menyesap minumannya. Matanya terpaut pada sosok Yura yang sedang membawa minuman kepada tamu. Tak sedetik pun tatapan matanya terlepas dari Yura. Ujung rambut hingga ujung kakinya pun dia hafal. Yura mengenakan rok pendek seksi berwarna merah terang, ketat melekat pada tubuhnya yang langsing. Baju kerjanya yang mini tak bisa menyembunyikan belahan dadanya yang menyembul keluar mengintip dari balik bra nya. Perutnya yang langsing memperlihatkan auratnya yang bersih.

Laki-laki normal manapun pasti akan tergiur dengan kemolekan tubuh Yura, tak terkecuali Tetsuya yang sengaja datang malam itu untuk melihatnya. Baru seminggu yang lalu dia tiba dari Amerika setelah mengambil sekolah bisnis dinegeri Paman Sam itu. Tetsuya Hashimoto, berusia duapuluh empat tahun.

Dia adalah anak laki-laki tunggal pemilik perusahaan Hashimoto Financial Group. Namun sejak perusahaan mereka Go Public, keluarga mereka hanya memegang saham 41%, yang merupakan saham terbesar yang dimiliki oleh pemegang saham, sehingga ayahnya pun dipilih untuk menjadi Chairman dari Hashimoto Financial Group. Meski masih muda, Tetsuya tinggal hanya seorang diri disebuah mansion milik keluarganya yang luas dan mewah.

Puluhan pelayan bekerja disana mengurus rumah tangga mansion itu. Tak lupa beberapa apartemen mewah dipusat kota yang orangtuanya berikan untuknya, sebagai hadiah ulang tahun untuknya sejak dia berusia limabelas tahun. Tabungannya di Bank pun tak terhitung jumlahnya. Dia tak perlu mengkhawatirkan kekurangan uang ketika dia bisa dengan mudah menghasilkannya.

Meski telah seminggu berada di negaranya, Tetsuya belum juga datang ke perusahaannya. Ayahnya telah memilihnya untuk menjadi President Manager yang baru menggantikan President sebelumnya yang mengundurkan diri karena pensiun. Tetsuya justru menghabiskan waktunya membuntuti Yura dan membayar detektif untuk menyelidiki kehidupan gadis itu sejak dia pergi untuk belajar keluar negeri.

Yura adalah gadis pertama yang mencuri hatinya. Dia mengenalnya ketika kuliah di universitas yang sama di Jepang. mungkin Yura tak mengingatnya karena dia saat itu telah memiliki seorang pacar yang selalu bersamanya. Yura adalah gadis yang sangat ramah, lembut dan tak segan membantu orang lain.

Namun dari penyelidikannya, sejak dia berhenti kuliah dia menjadi berubah. Ibunya meninggal bahkan ayahnya sering memukulinya. Ayahnya terjerat hutang jutaan yen pada yakuza. Apabila ayahnya tak sanggup untuk melunasi hutang-hutangnya itu, dia akan dibantai habis-habisan oleh yakuza itu.

Detektif yang dia sewa memperkirakan ayahnya masih memiliki hutang kepada orang lain dengan total 30 juta yen yang harus dibayar oleh Yura karena ayahnya hanya bisa lari dan bersembunyi sehingga yakuza-yakuza itu mencari Yura kerumahnya. Hidup Yura berubah sejak saat itu. Gadis yang dulunya ramah, lembut dan sering membantu orang lain lambat laun menghilang menjadi gadis yang gampang menyerah, curiga, susah percaya kepada orang lain, perhitungan dan materialistis.

Dia kadang menerima tawaran pelanggan yang ingin berhubungan badan dengannya dengan imbalan uang. Namun Tetsuya tidak mengetahui bahwa Yura tidaklah menjual badannya kepada laki-laki hidung belang itu. Dia hanya melayani hasrat laki-laki itu dengan keahliannya namun dia tak pernah sampai menjual badannya, hingga saat ini.

Tapi pikiran Tetsuya terlanjur percaya dengan apa yang detektifnya laporkan kepadanya. Tetsuya menganggap Yura adalah wanita yang bisa dibeli, asalkan dia memberikannya uang. Dan dengan memberikannya uang dan kemewahan, mungkin Yura akan menjadi miliknya, untuk selama-lamanya.

Yura tak pernah memandangnya dulu, Tetsuya hanyalah seorang mahasiswa kutu buku yang lebih sering meringkuk di perpustakaan dengan kacamata minusnya dan buku textbook tebal bertumpuk-tumpuk dihidungnya. Mungkin bahkan tak ada wanita yang meliriknya ketika dia kuliah di negaranya.

Tapi sejak dia kuliah di luar negeri, dia telah merubah segalanya. Dia bukan lagi mahasiswa kutu buku yang kikuk dan diejek semua orang. Dia kini adalah pemuda yang tampan, atletis, pintar dan kaya raya. Wanita-wanita seksi selalu mengejarnya selain karena menginginkan kekayaannya juga karena dia tak bisa dilewatkan.

Tetsuya telah mengenal banyak wanita sejak dia di Amerika. Ketika dia teringat akan Yura dan tak sanggup mendapatkannya, dia akan meniduri seorang wanita dan membayangkan wanita itu adalah Yura. Dia bahkan memanggil wanita itu dengan nama Yura ketika mereka berhubungan seks.

Sama seperti malam ini, seorang wanita duduk dipangkuannya. Memamerkan payudaranya yang bulat, dia menggesek-gesekkan selangkangannya pada paha Tetsuya dan mendesah seolah dia sedang menikmati apa yang dia lakukan. Tetsuya tak menggubrisnya, pandangannya tetap tertuju pada Yura yang sedang berada diujung meja bar sedang menulis pesanan untuk tamu.

Wanita itu kemudian mencium mulut Tetsuya dan memainkan lidahnya dengan lihai. Tetsuya pun membalasnya namun matanya tetap mengawasi Yura dari kejauhan.

Tetsuya kemudian mengajak wanita itu kedalam sebuah toilet dan melorotkan celana dalam wanita itu sebelum dia menyetubuhinya didalam ruangan yang sempit itu. Lima menit kemudian Tetsuya meninggalkan wanita itu yang tersenyum puas didalam toilet. Wajah Tetsuya tak berubah sedikit pun. Tatapannya masih sedingin es. Dia kemudian meninggalkan kelab malam itu sembari menghisap rokoknya dalam-dalam dan berjalan menuju mobilnya.

3 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.