"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Sixth Drama - Chapter 2 (story idea by sy ana)



4 tahun yang lalu..

Keisuke berlari dengan tergesa-gesa melewati koridor kampus yang lengang. Matanya tak berkedip mencari sesosok gadis yang biasa dia ajak mengobrol. Namun kali ini Keisuke seperti habis dikejar setan karena dia nampak sangat cemas, atau lebih tepatnya khawatir.

Dia mengkhawatirkan Yura, gadis yang dia pacari setahun belakangan ini. Gadis itu sangat cantik dan lembut, idola kampusnya. Banyak laki-laki yang tertarik kepadanya namun Yura memilih dirinya diantara laki-laki itu.

Meski hanya berasal dari keluarga yang sederhana dengan orangtua yang bersahaja dan seorang adik perempuan, Keisuke sangat bahagia. Dia tak pernah mengeluhkan selalu terlambatnya uang yang dia dapat dari ayahnya untuk membiayai kuliahnya, sehingga dia selalu dimarahi oleh petugas tata usaha karena selalu telat membayar.


Orangtuanya hanyalah pedagang kebutuhan sehari-hari dipasar. Dengan penghasilan yang pas-pasan, mereka menyekolahkan Keisuke hingga perguruan tinggi. Keisuke sendiri adalah anak yang sangat berbakti kepada orangtuanya. Dia selalu membantu orangtuanya untuk bekerja di pasar, dia bahkan mengambil pekerjaan sambilan untuk menutupi pengeluaran sekolahnya.

Untuk biaya pokok kuliah Keisuke tidak perlu khawatir karena dia anak yang pintar. Dia mendapat beasiswa untuk kuliah di universitas itu dari sebuah perusahaan financial terkemuka di Jepang. Bahkan universitas itu didirikan untuk menghormati leluhur dari pendiri perusahaan itu. Namun tak banyak yang Keisuke tahu tentang perusahaan yang memberikannya beasiswa itu. Dia hanya giat belajar dan berharap bisa mendapatkan pekerjaan pada perusahaan terkemuka di Jepang itu. Hashimoto Financial Group.

Selama setahun berpacaran dengan Yura, Keisuke semakin mencintai gadis itu. Tak pernah terbayangkan bagaimana hidupnya apabila Yura meninggalkannya. Yura lah yang membuat Keisuke memiliki mimpi lagi. Mimpi untuk menjadi lebih hebat dari orangtuanya. Mimpi menjadi orang yang mapan dan terlepas dari beban kehidupan dan himpitan hutang.

Dia ingin menjadi jutawan dengan kepintarannya. Bukan hanya menjadi penduduk kelas bawah yang bekerja menjadi kuli dan menghasilkan ribuan yen dalam sehari. Dia ingin menghasilkan ratusan juta yen dalam sehari. Dia ingin membahagiakan keluarganya, membahagiakan orangtua dan adiknya. Membangun keluarganya kelak dengan Yura, dengan anak-anak mereka yang lucu. Yura sangat mengerti dirinya. Tak pernah sekalipun Yura mengeluh ataupun mengharapkan sesuatu yang tak sanggup Keisuke berikan.

Namun Keisuke sangat terkejut ketika dia mendengar dari temannya bahwa Yura telah berhenti kuliah dan tak memberitahukannya. Keisuke tahu tentang ayah Yura yang memiliki hutang puluhan juta dan berhubungan dengan yakuza. Dia sedih tak bisa menolong Yura. Untuk menikahinya sekarang pun Keisuke tak sanggup. Dia hanya akan menambah beban keluarganya dengan menikahi Yura. Dia bahkan belum sanggup berdiri diatas kaki nya sendiri. Namun demikian, dia tak ingin Yura berhenti kuliah. Dengan berhenti kuliah, Yura telah menghapus kesempatannya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, hidup yang lebih bermartabat.

Ketika Keisuke melihat Yura, diapun mencegat gadis itu dan langsung menanyainya.

“Benarkah kamu berhenti kuliah? Kenapa? Kalau karena kekurangan uang, aku akan berusaha mencari uang tambahan untuk membiayaimu kuliah, Yura. Katakan padaku ada apa sebenarnya?” tanya Keisuke kepada gadis yang dia cintai itu.

“Kamu tak akan bisa membantuku Kei, aku harus berhenti kuliah karena perintah ayahku. Aku harus bekerja agar bisa mendapat uang untuk membayar hutang-hutang ayahku. Ibukupun sedang sakit-sakitan sekarang dan aku tak bisa menelantarkannya dirumah. Aku harus membawanya berobat kerumah sakit. Kalau tidak dia bisa meninggal. Meski harus menjual harga diriku, aku harus mendapatkan uang itu. Ayahku akan memukuliku dan ibuku bila tak ada uang yang dia cari” kata Yura dengan tangis terisak. Dia sedang putus asa memikirkan masa depannya yang sudah dia rencanakan matang-matang.

Keisuke terduduk lemas mendengar penuturan Yura, dia tak berdaya membantu gadis itu. Tapi dia juga tak rela Yura melakukan hal-hal yang akan dia sesali demi mendapat uang yang dia inginkan. Dia pun memegang lengan Yura sembari berkata.

“Aku akan membantumu. Aku akan mencari uang itu untukmu” katanya dengan penuh keyakinan.

“Dimana kamu akan mendapatkan uang itu Kei?  Aku harus mendapatkannya besok pagi. Kecuali kamu merampok Bank, kamu tak akan pernah bisa mendapatkan uang sebanyak itu. 100.000 yen bukanlah uang yang sedikit. Aku bahkan tak pernah melihat uang sebanyak itu” teriaknya putus asa.

“Aku pasti mendapatkannya Yura. Percayalah padaku. Aku akan mengabarimu nanti malam” kata Keisuke sebelum pergi meninggalkan Yura yang termenung sendirian di taman kampus.


Pukul 12 malam, Keisuke belum juga memberikan kabar kepada Yura. Yura sangat ketakutan bila ayahnya tiba-tiba datang dan menghancurkan rumah mereka dan menganiaya mereka karena belum mendapatkan uang itu. Yura pun meraih jaket hitamnya dan keluar dari rumahnya berjalan kaki ke arah sebuah kelab malam di kota Tokyo.

2 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.