"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 15, 2012

Sixth Drama - Chapter 4 (story idea by sy ana)



Gedung konferensi itu ramai didatangi oleh tamu undangan. Tak kurang dari seratus orang tamu dengan pakaian elegan dan mewah dengan gayanya yang high class. Ditangan mereka segelas minuman sampanye siap untuk diteguk. Mengobrol sambil lalu mengisi waktu sebelum tuan rumah datang mengumumkan pertunangan anak mereka.

Ahli waris Hashimoto Financial Group akan bertunangan dengan ahli waris Akagiri Foundation. Sebuah hubungan yang sengaja dibuat untuk memperkuat basis perusahaan mereka menguasai perekonomian Jepang. Akagiri Foundation adalah perusahaan yang menyokong dana Hashimoto Financial Group selama puluhan tahun agar tetap kokoh berdiri meski diterpa krisis moneter beberapa tahun yang lalu.


Adalah Tetsuya Hashimoto dan Rina Akagiri yang menjadi bintang utama acara malam ini. Tetsuya yang baru saja kembali dari study nya dari Amerika akan segera mengambil alih Hashimoto Group dan menjadi Presiden Direkturnya menggantikan ayahnya Hiryu Hashimoto yang akan menjadi Chairman.

Sedangkan Rina Akagiri adalah anak tunggal dari Kentaro Akagiri pengusaha papan atas Jepang yang telah terkenal diseantero Jepang karena keahliannya dibidang perekonomian. Pemerintah kerap meminta saran darinya untuk membantu pemulihan proses ekonomi dinegara ini.

Penyatuan kedua perusahaan telah lama diperbincangkan oleh media massa. Berita pertunangan mereka akan mengisi tajuk utama media cetak dan elektronik esok pagi. Tetsuya yang gagah dan tampan, Rina yang anggun dan lembut, memang perpaduan yang sangat serasi. Dengan tambahan 35% saham milik Akagiri Foundation, maka Hashimoto Financial Group yang dimiliki oleh keluarga Hashimoto akan menjadi 76%. Meneguhkan dominasinya pada pengambilan keputusan perusahaan Hashimoto Group.

Dimuka publik pasangan ini nampak sangat berbahagia. Senyum selalu melekat pada wajah mereka. Rina yang berbahagia pipinya bersemu merah setiap disapa oleh tamu udangan yang memuji pertunangan mereka. Namun ketika mereka berdua berada dalam kamar rias, Tetsuya acuh tak acuh pada Rina. Dia tak perduli sama sekali dengan gadis itu. Sebaliknya, Rina mencintai Tetsuya sejak mereka kecil. Dia selalu mengagumi laki-laki itu. Karena hanya Tetsuya lah teman kecilnya yang dulu menolongnya dari pukulan anak-anak kecil teman sekolah mereka dulu yang memeras Rina untuk uangnya.

Rina selalu bersabar kepada Tetsuya, dia berharap suatu saat nanti Tetsuya akan mencintainya seperti dia mencintai Tetsuya. Rina pun tersenyum sembari memperbaiki riasan wajahnya. Tetsuya yang duduk disampingnya memandangnya dengan sinis.

“Kamu senang sekali ya dijodohkan seperti ini? Apa kamu tak ingin menikah dengan laki-laki yang kamu cintai?” Kata Tetsuya tanpa mengetahui perasaan Rina sebenarnya.

Rina hanya tersenyum, dia tak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Tetsuya, dia hanya menjawab pertanyaan Tetsuya sambil bercanda menggodanya.

“Kenapa kamu mengira aku tak menikahi orang yang aku cintai? Memang kamu tahu perasaanku padamu?” jawabnya sembari tertawa kecil.

Tetsuya hanya memandangnya sambil meringis. Dia hanya menganggap Rina sebagai adik kecilnya. Tak terbayangkan olehnya untuk menikahi adiknya sendiri. Meski dalam hatinya Tetsuya mengakui perubahan Rina selama lima tahun mereka berpisah.

Gadis yang dulu selalu membuntutinya dengan pakaian gomblor dan rambut poni kudanya kini telah bertransformasi menjadi wanita dewasa yang menawan. Parasnya cantik, hidungnya langsing mempesona, tubuhnya langsing sensual dengan balutan gaun berwarna putih memperlihatkan samar lekuk pakaian dalam yang dia pakai. Ya, darahnya cukup bergejolak mengawasi tubuh wanita itu, wanita yang akan dia nikahi, namun bukan yang dia cintai.

Mengawali tugasnya sebagai Presiden Direktur di perusahaan Hashimoto Financial Group, Tetsuya diperkenalkan kepada dewan direksi dan kepala-kepala staf beserta manajer-manajer. Hari pertamanya dia habiskan didalam kantornya yang nyaman dan exclusif dengan membaca berita acara dan berkas-berkas kepemilikan saham yang diserahkan oleh sekretarisnya pagi itu.

~~~~~~~

“Keisuke Wataru, 23 tahun. Pernah kuliah di Amerika namun terpaksa berhenti karena kekurangan dana. Dan kini melamar pekerjaan sebagai akunting diperusahaan ini?” seorang wanita membaca file curriculum vitae milik Keisuke diantara setumpuk tinggi curriculum vitae lain.

“Katakan padaku Mr. Wataru, apa yang membuat kami harus memilihmu untuk menjadi akuntan diperusahaan kami? Apa kelebihanmu dibandingkan ribuan orang lain yang ikut melamar posisi ini?” tanyanya lagi kepada Keisuke yang duduk terpaku bagai diinterogasi oleh petugas kepolisian.

Ini sudah belasan kalinya dia diwawancarai oleh berbagai petugas peng-interview berbagai perusahaan yang dia masukan lamarannya. Sejak kuliahnya yang mangkrak dikarenakan beasiswanya dihentikan, dia terpaksa harus kembali ke Jepang tanpa membawa apa-apa. Bahkan ijazah pun tak dia kantongi.

Dia tak mungkin menemui Yura seperti itu. Bagai prajurit kalah dari perang bila Yura-nya mengetahuinya diberhentikan dari kuliahnya. Akan sangat memalukan harga dirinya bila Yura memandang rendah dirinya. Karena bagi wanita itu Keisuke yang miskin tak berharga sama sekali, tak lebih dari seonggok kotoran anjing dipinggir jalan yang mengganggu pemandangan dan pantas untuk disingkirkan.

Dia pun menghentikan lamunannya dan memandang pasti ke arah penginterviewnya. Dengan mantap dia menjawab pertanyaan yang telah dia hafal jawabannya dikepalanya.

“Saya sangat berdedikasi dan bertanggungjawab, hanya kematianlah yang bisa menghentikan saya dari tanggungjawab saya. Dan saya sangat pintar, kepintaran saya ini pasti berguna bagi perusahaan, selain itu saya sangat kompetitif, saya tak takut bersaing dengan pegawai lain selama itu fair. Dan saya memiliki banyak ide yang bisa saya gunakan untuk lebih mengembangkan visi-misi perusahaan kedepannya” jawab Keisuke dengan mantap.

Penginterviewnya hanya memandang Keisuke tanpa ekspresi.

“Kami akan menghubungimu bila kamu terpilih nanti. Kira-kira seminggu lagi pengumumannya akan keluar” katanya menutup wawancara itu.

Keisuke pun merenggangkan badannya ketika keluar dari lobby gedung tempat dia diwawancara pagi itu. “Akagiri Foundation Building and Co.” Begitulah tulisan yang dia baca di papan bilboard setinggi 30 meter yang menempel pada dinding gedung itu. Dia berharap bisa bekerja diperusahaan ini karena dia sudah merasa gerah dan capek untuk menjalani wawancara yang tak ada habisnya ini.

Dengan langkah berat Keisuke pun pergi dari sana menuju tempat wawancara lain yang akan dia temui hari itu. 

6 comments:

  1. great story...you are a super writer :D

    ReplyDelete
  2. haha thanks. i hope you enjoy it. i already made chapter 5. it is telling about Yura's father and another plot that necessary so that her father will end in the jail. i just have to find a way so that it will occur that kei also have a hand in regard her father in jail. since kei is still communicate with yura when she start to fall in to tetsuya;s arm. now it will be entertaining to see how Yura finally fall into tetsuya;s arm (and bed soon.. lol)

    oh yeah, i realised it that i didn;t give you any sex scene yet right? lol. i hope there will be some in the next some more chapters. be patient, key. ;)

    ReplyDelete
  3. i don't want it anymore..just a little..not extreme:D

    ReplyDelete
  4. AAAA
    jangan patah semangta gitu dong Tn. wataru.....
    hehehhehehe

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.