"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, November 16, 2012

Sixth Drama - Chapter 5 (story idea by sy ana)



Laki-laki itu berteriak meminta ampun. Dia berlutut dan menjadikan punggungnya sebagai perisai. Seolah pukulan dan tendangan yakuza-yakuza itu tak mampu menyakiti badannya. Darah keluar dari hidung dan pelipisnya. Dia habis dihajar oleh sekelompok yakuza yang dia hutangi.

Yakuza-yakuza ini adalah bodyguard disebuah kasino didekat sana. Mereka bosan berhadapan dengan laki-laki ini karena dia berulang kali membuat keributan setelah tak mampu membayar hutang-hutangnya dan malah mabuk-mabukan serta merusak properti kasino.


Dan diapun dihajar untuk kesekian kalinya sembari diludahi dan diancam akan dibunuh bila dia berani datang lagi tanpa membawa uang untuk membayar hutang-hutangnya beserta bunganya yang semakin membengkak. Mungkin laki-laki itu akan mati terlebih dahulu sebelum berhasil melunasi bunga dari hutangnya.

Adalah Jun Moriyama, laki-laki berusia pertengahan empat puluh tahun itu adalah ayah Yura. Badannya yang kurus ceking karena tak pernah menyentuh makanan. Hidupnya hanya berjudi dan mabuk-mabukan.

Setelah dipukuli habis-habisan, dia akan pulang kerumahnya dan menghajar istri dan anaknya agar mereka memberikannya uang lagi untuk berjudi. Bahkan istrinya yang sakit-sakitan telah meninggal karena tak kuat menahan penderitaan hidup bersamanya.

Minami Suzuki adalah ibu Yura, dia meninggal tiga tahun yang lalu, ketika Yura telah bekerja selama dua tahun di kelab malam tempatnya meminjam uang dulu. Yura sedang membeli obat di apotik ketika ibunya menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Meski istrinya pergi meninggalkan dunia ini, ayah Yura tak menunjukkan emosi sedih sedikit pun. Dia tak membantu upacara pemakaman istrinya. Dia masih tetap bergelut dengan dunia judinya bersama dengan wanita-wanita penghibur murahan yang mengais-ngais sisa-sisa uang yang masih dia miliki.

Yura selalu mengutuk ayahnya. Dia berharap ayahnya mati dan tak mengganggunya lagi. Hidupnya akan lebih baik bila ayahnya tak ada. Mungkin dia bisa hidup normal lagi dan membina sebuah keluarga kecil bahagia seperti mimpinya dulu bersama Keisuke. Bersama anak-anak mereka membuka sebuah toko kelontong di pasar pagi sudah cukup baginya.

Menghabiskan sisa umur berdua bekerja di pedesaan sementara anak-anak mereka bekerja dikota dan pulang kekampung halaman menemui mereka saat festival tahun baru tiba. Akan sangat menyenangkan bila dia memiliki keluarga seperti itu. Keluarga bahagia yang dia idam-idamkan, keluarga bahagia seperti milik teman-temannya dulu.

Yura tak pernah mendapat kasih sayang orangtuanya. Ayahnya sibuk berjudi, mabuk-mabukan dan main perempuan. Ibunya selalu sibuk bekerja tak pernah memperdulikannya, berusaha menghindar dari suaminya yang menyusahkan. Dia bahkan tak perduli ketika suaminya menampar anak mereka ketika suaminya marah. Hanya ketika suaminya mencoba untuk menjual Yura kepada yakuza lah ibunya membelanya.

Ibunya mengambil kayu panjang dan memukuli ayahnya hingga dia lari tunggang langgang dan pergi selama seminggu. Seminggu yang tenang dan bahagia bersama ibunya. Namun ayahnya kembali lagi dengan mabuk-mabukan dan membawa seorang “lonte” dan bermain gila dirumah mereka yang kecil. Sungguh memuakkan. Itulah masa lalu Yura yang sangat dia benci.

Meski sempat menjadi anak yang kuat namun akhirnya dia runtuh juga ketika cobaan berkali-kali menghancurkan karang pertahannya dan pecah berhamburan. Tempat yang dia anggap sanggup untuk bertopang dan berteduh hanyalah sebuah istana pasir, kamuflase kenyataan yang tak benar-benar terjadi. Mimpi dan angan-angannya terlalu tinggi, pengharapannya terlalu besar padahal itu semua hanya mimpi yang merusak jiwa tak berdosanya. Dia pun menjadi gila, gila dengan semua beban yang dia topang.

Sejak kematian ibunya, Yura tak lagi tinggal serumah dengan ayahnya. Dia memilih untuk tinggal serumah dengan Michan, teman sekerjanya. Awalnya ayahnya selalu mencarinya dan mengancam untuk memukulinya, namun sejak Yura memberikannya uang setiap minggu, ayahnya tak pernah lagi mengganggunya, setidaknya dia tak pernah dipukuli lagi meskipun ayahnya masih kerap mendatanginya saat dia bekerja dan meminta uang lagi darinya.

Michan sendiri meski adalah sahabatnya, kadang dia merasa risih ketika Michan membawa pacarnya ke apartemen mereka dan bercinta disana. Dalam sebulan Michan membawa empat orang yang berbeda-beda untuk menemaninya. Belakangan Yura tahu bahwa Michan menjual tubuhnya demi untuk mendapatkan uang tambahan agar bisa dia kirimkan ke desa untuk orangtuanya. Yura tak habis pikir namun tak berani berkomentar tentang pilihan temannya, hingga dia sendiripun akhirnya terpaksa melakoni pekerjaan yang sama, mencari penghasilan lain agar hidupnya lebih baik.

Yura tak pernah melayani klien yang menginginkan bersetubuh dengannya. Dia memasang tarifnya sendiri. Sex oral dan rabaan erotis, hanya itulah yang dia tawarkan. Namun demikian, Yura memiliki beberapa klien tetap yang selalu menggunakan jasanya.

Dan diapun mendapatkan uang yang cukup untuk diberikan kepada ayahnya dan untuk dirinya. Namun ayahnya benar-benar keterlaluan. Semenjak dua tahun lalu, dia mulai meminta uang dalam jumlah yang sangat besar. Pernah terpikir olehnya untuk menyewa pembunuh bayaran untuk menyingkirkan ayahnya, namun dia tak ingin mengotori tangannya dengan hal itu.

~~~~~

Setelah membersihkan darah yang mengalir dari wajahnya, Jun Moriyama berjalan tertatih sembari menyeret langkahnya ke arah stasiun bus. Namun dia dihadang oleh empat orang berpakaian hitam-hitam mengenakan dasi lengkap dengan jas dan kacamata hitamnya.

Mereka menawarkan Jun sebuah tawaran yang sangat sulit untuk dia tolak. Karena ketamakannya diapun mengikuti keempat laki-laki itu dan menaiki sebuah van yang mengantarkannya kesebuah bangunan villa mewah dipinggiran kota, dimana Tetsuya sudah menunggunya dengan senyumnya yang culas.

2 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.