"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, November 16, 2012

Sixth Drama - Chapter 6 (story idea by sy ana)



“Bawa minuman ini dan temani tamu VVIP di ruangan 6. Mereka adalah keluarga dari pemilik kelab ini. Jadi layani mereka dengan baik, jangan membuat kesalahan” kata Manajer Ueda kepada Yura.

Malam ini adalah salah satu malam yang sangat sibuk di kelab malam “Odenkz” tempat Yura bekerja hampir selama empat tahun ini. Meski pada awalnya bekerja hanya karena tuntutan kehidupan dan terpaksa, lambat laun Yura merasa betah dan tak bisa memikirkan bekerja ditempat lain. Meski gajinya tak seberapa, namun bonus yang sangat tinggi beserta tips luar biasa dari tamu membuatnya betah bekerja setiap malam.


Ada empat orang laki-laki didalam ruangan VVIP itu yang ditemani oleh tiga orang wanita seksi. Mereka adalah anak-anak orang kaya bila dilihat dari penampilannya. Botol-botol minuman kosong memenuhi meja, gelas-gelas kosong berjatuhan dan berserakan diatas karpet kedap suara.

Nampak disudut ruangan sepasang manusia yang sedang sibuk dengan diri mereka sendiri. Si lelaki tanpa malu-malu menyetubuhi wanitanya didepan teman-teman mereka. Sementara pasangan yang lain sibuk berciuman sembari meraba-raba teman kencannya. Tinggallah dua orang laki-laki yang sedang minum dan seorang diantaranya memandang Yura dengan tajam.

Asap rokok memenuhi ruangan. Bau parfum dan keringat manusia dan dinginnya pendingin ruangan bercampur dengan aroma minuman beralkohol membuat Yura pusing dan mual. Ketika dia meletakkan minuman yang dia bawa diatas meja, laki-laki yang tadinya sedang asyik bercanda dengan wanita dipangkuannya menarik pinggang Yura hingga terjatuh kedalam pelukannya.

Laki-laki itu mencoba menciumi leher Yura dan meraba-raba payudaranya. Yura pun mencoba melawan dan hendak lepas dari pelukan laki-laki itu namun tenaganya tak kuasa melawan tenaga laki-laki yang sedang mabuk itu. Laki-laki itupun berhasil memasukkan tangannya kedalam blouse Yura dan meremas buah dadanya. Tapi sedetik kemudian laki-laki itu sudah terkapar dilantai karena pukulan dari Tetsuya yang muak dan tak terima Yura wanita yang dia cintai, wanita yang seharusnya menjadi miliknya dijamah oleh temannya.

Laki-laki yang tengkurap dilantai itu hanya bisa mengelus pipinya dan mulutnya yang berdarah dan duduk disudut tak berani membantah perlakuan Tetsuya. Tetsuya kemudian meraih tangan Yura dan menariknya keluar dari kelab malam itu. Mereka pun berbicara dilorong yang sepi.

“Kamu sengaja memberikan tubuhmu pada laki-laki itu?! Aku tahu kamu menjual tubuhmu. Berapa yang harus aku bayar untuk untuk sekali “main” denganmu?” tanya Tetsuya dengan kasar.

Yura melotot mendengar perkataan tak senonoh Tetsuya. Dia pun balas meneriaki pemuda itu.

“Maaf, tuan orang kaya. Meski saya bekerja ditempat seperti ini, saya tidak memberikan tubuh saya sembarangan kepada setiap laki-laki yang bertebaran dijalan seperti sampah. Dan asal anda tahu, saya tidak pernah menjual tubuh saya kepada sembarangan laki-laki yang merasa dia “sanggup” membeli saya. Ohh yaa... harga saya sangat mahal tuan. Anda tak mungkin sanggup membayarnya” desis Yura didekat telinga Tetsuya.

Dia pun hendak masuk kembali ke dalam kelab malam ketika Tetsuya menggamit tubuhnya dan menekankan badannya menghimpit tubuh Yura ketembok. Nafas Tetsuya tak beraturan, tubuhnya panas mendambakan sentuhan kulit lembut wanita itu.

Dengan sengaja dia mendesakkan kejantanannya yang menyembul dari balik celana jeansnya ke paha Yura. Yura pun terkejut dan memekik pelan.

Tetsuya meraba halus wajah Yura dengan punggung tangannya yang kosong. Dia meneliti setiap detail lekuk paras wajah wanita itu. Nafasnya sungguh dekat dengan wajah Yura yang membuat jantung wanita itu berdebar cepat.

“Berapa hargamu? Akan aku bayar cash, apapun yang kamu mau akan aku berikan. Cukup temani aku semalam saja” bisik Tetsuya sembari bibirnya perlahan mengecup bibir Yura yang terbuka.

Ciumannya basah namun hanya sekilas. Yura menarik mundur kepalanya sehingga Tetsuya tak bisa berlama-lama menikmati bibir yang dia selalu impikan dalam tidurnya itu.

Yura pun mendorong tubuh Tetsuya dengan kasar sambil berlari melewati Tetsuya. Dia berhenti dimuka pintu sebelum menoleh ke arah Tetsuya yang berdiri mematung dengan tinju mengepal disampingnya.

“Belilah wanita lain yang kamu inginkan dengan uangmu. Aku belum senista itu hingga menjual diriku hanya untuk setumpuk uang. Kalau kamu sanggup mendewakanku untuk selamanya, barulah datang kembali kesini” kata Yura sebelum menghilang dalam lampu remang-remang diskotik.

Tetsuya pun berbisik hampir tanpa suara. Katanya “Kita lihat nanti, kamu akan bertekuk lutut dibawah kakiku dan memohonku untuk mengasihanimu. Tunggulah sebentar lagi, ayahmulah yang akan menjadi penentu jatuhnya dirimu dalam pelukanku”

Senyum sinis pun terpampang diwajah tampan Tetsuya. Dia meninggalkan kelab malam itu sebelum merogoh handphone disakunya.

“Laksanakan seperti rencana semula” katanya memerintah pasangan bicaranya.

Mobil BWM hitam pun meluncur kencang membelah angin malam jalanan sepi kota metropolitan Tokyo, meninggalkan sampah-sampah yang beterbangan oleh hentakannya. 

2 comments:

  1. hahha later.. i need to change my strategy in writing this story. to let it good without the extreme sex scene. lol. i think it will be easier to write, but if look the plot where the theme is betrayal, money, lust, greed and seduction, will be weird if there no "explicit" sex scene. lol lol lol...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.