"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, November 19, 2012

Sixth Drama - Chapter 8 (story idea by sy ana)



“Kamu bercanda?? Dia menawarimu semua itu?” tanya Michan tak percaya apa yang Yura katakan padanya barusan.

Yura mengangguk sambil memainkan kancing bajunya. Dia hanya menceritakan hal ini kepada Michan yang sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri.

“Lalu, apa jawabmu padanya?” tanya Michan penasaran.

Yura menghela nafas lalu mengangkat bahunya tak acuh dan berlalu ke dapur membuat secangkir kopi. Dia tak bisa tidur memikirkan tawaran Tetsuya padanya. Sejujurnya dia bahkan tak mengerti mengapa laki-laki itu mau memberikan apa yang dia minta. Apakah dia menyukainya? Sungguh bodoh, bukankah laki-laki itu mengatakan dia menginginkannya sebagai simpanannya?

~~~~


“Apa katamu?” tanya Yura setengah berteriak pada Tetsuya.

“Rumah ini bisa menjadi milikku?” sambungnya tak percaya.

Tetsuya memandangnya tanpa ekspresi, matanya berkilat menandakan ada maksud tersembunyi dari perkataannya itu. Diapun menjatuhkan pantatnya diatas sofa empuk berwarna merah tepat didepan Yura dan kemudian menyalakan sebatang rokok yang dia hisap dengan nikmatnya lalu menghembuskan asapnya dengan sengaja ke arah Yura yang terbatuk-batuk olehnya.

“Apan-apaan kamu?” protes Yura sambil menjauh dari sana.

Tetsuya mencengkeram tangannya. Tak membiarkan Yura pergi dari hadapannya. Dengan mata berapi-api dia menjelaskan maksudnya tadi. Wajah mereka hanya berjarak lima senti ketika Tetsuya berdesis menggumamkan kata-katanya didepan Yura.

“Kamu mendengarnya dengan jelas. Aku tak suka mengulangi kata-kataku. Gampang kan? Rumah ini, apapun yang kamu mau, akan aku berikan. Begitu kan yang biasanya kalian inginkan bila menjadi simpanan laki-laki kaya?” tatapnya bengis.

“Selain itu, apa kamu lebih senang bekerja membanting tulang untuk ayahmu yang pemabuk itu dan menghabiskan seluruh hidupmu hanya untuk membayar hutang-hutang ayahmu?” katanya lagi.

“Bila kamu mau menurutiku, kamu tak usah mengkhawatirkan semua hal itu. Aku akan mengurusnya, ayahmu tak akan mengganggumu lagi. Dia akan dengan senang hati meninggalkanmu bila uang ditangannya lebih daripada cukup untuknya berjudi dan mabuk-mabukan”

“Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini? Terlepas dari ayahmu? Hidup bebas dari segala beban dan masalahmu? Hidup kaya dan bersenang-senang? AKU bisa memberikannya padamu”

~~~~~~

Yura tersadar dari lamunannya ketika suara ketel yang nyaring menyentaknya. Air yang dia masak untuk membuat kopinya telah mendidih. Michan masih menunggunya diruang tamu untuk menjawab pertanyaannya tadi. Dia pun tak bisa berkelit lagi.

“Aku tak tahu Michan.. tawarannya sungguh menggiurkan. Aku bisa lepas dari ayahku, aku bahkan bisa memiliki rumahku sendiri, mobilku, perhiasan, uang yang tak ada habisnya. Bukankah itu semua yang aku inginkan? Yang kita semua inginkan? Aku tak perlu pusing memikirkan ayahku, karena dia berjanji akan memberikan ayahku uang dan dia tak akan mencariku lagi” Yura mengakhiri kata-katanya sembari menghela nafasnya.

Dia sungguh ingin menerima tawaran Tetsuya, tapi dia tidak tahu laki-laki itu. Meski wajahnya tampan mempesona Yura, namun ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Yura takut. Entah perasaan apa itu, dia selalu merasa terancam berada disisi laki-laki itu. Bukan terancam secara fisik, namun tatapan laki-laki itu mampu menghunjam jantungnya dan mengorek-ngorek hati Yura dan membuatnya tak nyaman.

Michan mendekati temannya itu dan memasang tampang paling serius yang dia mampu. Nampaknya dia akan mendukung temannya itu agar menyetujui tawaran Tetsuya.

“Kamu gila kalau tidak menyanggupinya Yura. Kapan lagi kamu bisa mendapat kesempatan seperti ini? Kamu bisa hidup bahagia, setidaknya ayahmu tak akan mengganggumu lagi, dan kamu tak perlu bekerja lagi. dan hey.. Bukankah kamu bilang dia cukup tampan? Seburuk apa sih bila kamu jatuh cinta padanya?” kata Michan dengan bersemangat.

Dia sangat menyukai ide itu. Dia ingin sahabatnya itu berbahagia dan meninggalkan dunia malam yang tak mungkin bisa mereka geluti sampai mereka tua nanti. Karena saat mereka dirasa tak menarik lagi, tak akan ada yang mau memakai tenaga mereka dan mempekerjakan mereka. Meski mencoba untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik mereka tak mungkin bisa lepas dari masalah yang telah mereka hadapi selama ini.

Dengan laki-laki seperti Tetsuya, Michan ingin sahabatnya itu memiliki kesempatan lagi, kesempatan untuk memiliki hidup yang lebih baik, tak perlu takut dikejar-kejar lintah darat dan yakuza-yakuza yang menagih hutang tiap hari dimuka pintu rumahnya. Dia ikut bahagia untuk sahabatnya itu.

Malam itu Yura memikirkan kembali kata-kata Michan berulang-ulang di kepalanya. Dia tahu dia harus menerima penawaran Tetsuya, tapi sanggupkah dia menjadi wanita seperti itu? Yang menjual harga dirinya untuk kekayaan? Sejak kecil Yura tak pernah memiliki hidup yang nyaman, dia selalu kekurangan, ditindas oleh ayahnya dan ditelantarkan oleh ibunya.

Namun sampai saat ini dia mampu untuk menjaga harga dirinya agar tak sampai serendah itu. Di lain pihak dia tak ingin lagi menjalani hidupnya yang kelam dan dibayang-bayangi ketakutan akan hidupnya yang terancam akibat ulah ayahnya. Dan malam itu, diapun menetapkan pilihannya. Pilihan untuk hidupnya.

Keesokan harinya, Yura menyetop sebuah taksi yang membawanya menuju ke mansion milik Tetsuya. Yura tak ingin Tetsuya mengubah pikirannya sehingga harapannya akan pupus. Tangannya berkeringat karena gugup dan tak tahu bagaimana menghadapi Tetsuya yang selalu memandangnya dengan pandangan seolah-olah ingin melahapnya hidup-hidup. Seperti singa yang sedang mengawasi mangsanya yang akan dia terkam dan santap sebagai makan malam.

Sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang rumah mewah itu, Yura memastikan penampilannya tak ada celanya. Dia pun memeriksa riasannya dalam cermin make up-nya, menghela nafasnya kemudian memencet bell yang terpasang pada sebuah pintu aluminium lebar yang terbentang kokoh menjaga mansion itu.

Rumah itu terasing dari lingkungan sekitarnya. Jarak rumah berikutnya kira-kira dua kilometer dari sana. Hanya terhampar pepohonan di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan yang dia lalui tadi. Bahkan kendaraan pribadi jarang terlintas disana. Bila Tetsuya tak mengantarkannya pulang, dia terpaksa harus berjalan kaki sepanjang tujuh kilometer untuk mencari tumpangan, itupun bila handphonenya kehabisan baterai dan tak bisa menelpon taksi untuk menjemputnya.

Tanpa sepengetahuan Yura, Tetsuya sudah mengawasinya sejak dia menginjakkan kakinya didepan halaman rumahnya. Kamera pengaman merekam semua gerakan disekeliling rumah itu. Tak terkecuali Yura yang sedang berusaha merapikan riasannya terlepas dari pantauan kamera yang sedang diamati Tetsuya dari ruang kerjanya.

Senyum kemenangan terpatri diwajahnya. Akhirnya wanita itu akan jatuh kedalam pelukannya. Meski dia lebih memilih mendekati Yura dengan cara lain, agar dia mencintainya, namun Yura yang sekarang tak mungkin dia dekati seperti itu.

Yura yang sekarang hanya memikirkan uang, uang dan uang. Bagi Tetsuya, menjadikan Yura miliknya sudah melebihi mimpinya terdahulu, sehingga laki-laki yang dulu menghalanginya tak akan bisa merebut Yura lagi. Dan dia yakin, perlahan-lahan Yura akan membalas cintanya.. suatu hari nanti.

~~~~~

Pintu pun otomatis terbuka, Yura melangkah masuk dan mengagumi pemandangan rumah itu yang dia lewatkan semalam. Nuansa rumah yang berbeda pun terasa, ketika dia mendatangi rumah ini semalam, dia tak bisa melihat dengan jelas keindahan rumah ini.

Rumah dua lantai seluas hampir 300 meter persegi itu terlihat megah dengan arsitektur gaya modern nya. Jendela-jendela kaca yang menjulang tinggi memperlihatkan penataan interior kelas atas didalamnya. Kebunnya tertata rapi dan stylist oleh perawatan petugas perusahaan floral yang khusus datang setiap minggu untuk menatanya. Air mancur yang berada ditengah-tengah kebun memberikan nuansa sejuk bagi pemandangan rumah itu.

Mata Yura pun tertumbuk pada sosok Tetsuya yang menunggunya sambil berkacak pinggang dipintu masuk rumahnya. Bergaya seperti tuan rumah yang sedang menunggu pegawai rumah tangganya untuk bekerja.

“Like a BOSS” sungut Yura dalam hati.

Tetsuya mengernyitkan alisnya ketika memandang perubahan wajah Yura. Ketika dia mengagumi rumah itu, Tetsuya seolah melihat Yura yang dulu ketika mereka masih di kampus. Yura yang selalu tersenyum dan menawan hatinya. Dia pun mendengus dan menyilangkan tangannya didepan dadanya menunggu Yura menghampirinya.

Setengah berteriak, dia berkata kepada Yura. “Aku yakin kamu punya berita gembira untukku?” senyum culas menyungging dari sudut bibirnya.

Yura pun menjejakkan kakinya dengan kasar ke pijakan dibawahnya sebelum mengikuti Tetsuya yang telah beranjak masuk ke dalam ruang tamu rumah itu. Tetsuya menjatuhkan dirinya dengan nyaman di atas sofa.

“So..?” tanyanya.

Yura kesal dengan keangkuhan Tetsuya. Meski laki-laki itu menawarinya kekayaan yang dia inginkan, tapi tingkahnya terlalu arogan dan sombong. Yura ingin menyiksa laki-laki itu sebelum dia memberikan apa yang dia inginkan.

“Sebelum aku menyetujui keinginanmu, aku punya persyaratan yang harus kamu setujui” katanya menolak untuk duduk disamping Tetsuya.


Sekilas Yura melihat tatapan tajam Tetsuya padanya. Meski dia tak dapat mengartikannya, dia pasti berpikir Yura mempermainkannya. Laki-laki hidung belang ini harus diberi pelajaran. Dia tak tahu berhadapan dengan siapa, Yura pun menantang laki-laki itu dengan menatapnya tanpa berkedip untuk menegaskan keinginannya.

3 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.