"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, November 19, 2012

Sixth Drama - Chapter 9 (story idea by sy ana)



Sudah seminggu Keisuke bekerja di kantor itu. Meski bekerja sepuluh jam sehari, pekerjaannya tak pernah habis. Untuk pegawai baru seperti dia, upah lembur tak akan dibayarkan karena dianggap belum memiliki kontrak kerja yang kuat.


Meski demikian, dia tak patah semangat. Dia ingin membuktikan pada atasannya kata-katanya dulu ketika diwawancara. Dia akan berusaha yang terbaik agar perusahaan itu mempercayainya sehingga masa depannya akan lebih cerah.

Bila beruntung, dalam setahun dia bisa menjadi Manajer dan dengan gaji barunya dia akan menyewa sebuah apartemen di kota dan mengajak Yura untuk tinggal bersamanya.


Sejak kepulangannya dari Amerika enam bulan yang lalu, Keisuke belum pernah menemui Yura sekalipun. Dia hanya mengikuti gadis itu dari jauh, tak berani memperlihatkan tubuhnya karena takut Yura akan menolaknya.

Tapi sekarang dia sudah bekerja, dan akhir bulan ini dia akan mendapat gaji pertamanya. Meski bukan pegawai kontrak, gajinya cukup lumayan. Bila dia berhemat, dia bisa membelikan Yura pakaian dan mengajaknya makan di restoran. Keisuke pun tersenyum sambil merencanakan hal-hal yang akan dia lakukan dengan Yura ketika mendapat gaji pertamanya.

Ketika istirahat siang, Keisuke berpapasan dengan anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Dia akhirnya diterima diperusahaan itu. Akagiri Foundation, perusahaan yang bergerak dibidang per-Bank-an, real estate, kapal pesiar, catering service dan perhotelan. Kantor cabang perusahaan itu tersebar di seantero negeri, menancapkan kuku-kuku nya dan menguasai pasar sebagai top marketer di Jepang.

Sebagai seorang akuntan diperusahaan itu dan bekerja di kantor pusatnya, Keisuke harus mampu untuk bekerja extra cepat dan teliti karena melibatkan jumlah uang yang sangat besar. Milyaran Yen, dan ratusan juta dollar.

Sedikit kesalahan dalam perhitungan, dia bisa menghancurkan seluruh system yang telah bekerja dengan baik dan beresiko menjatuhkan harga saham perusahaan mereka di pasaran.

Akagiri Foundation juga berdiri dengan dukungan dari dewan direksinya yang telah membangun perusahaan itu bersama-sama selama lebih dari lima puluh tahun. Salah satu perusahaan tertua pasca perang dunia kedua di Jepang.

Keisuke membungkuk memberi hormat kepada anak dari Presiden Direktur perusahaan itu. Wanita itu hanya menolehnya sekilas. Usianya sekitar awal dua puluhan. Tergolong masih sangat muda bila dia akan menggantikan posisi ayahnya.

Namun, Keisuke mendengar Rina Akagiri adalah wanita yang sangat cerdas. Dia meraih gelar MBA nya pada usianya yang ke dua puluh. Tak banyak yang sanggup mendapatkan penghargaan seperti itu. Dan dia telah terbukti sanggup menggantikan ayahnya dalam menangani beberapa proyek yang diserahkan kepadanya dengan sukses.

Bahkan dewan direksi yang tadinya pesimis dengannya setelah itu mendukung Rina dengan penuh dan mencalonkannya sebagai wakil presiden direktur mendampingi ayahnya. Tentunya untuk memuluskan langkahnya untuk mengambil posisi ayahnya sebagai Presiden Direktur nantinya.

Meski terbilang muda, Rina Akagiri tak menyiratkan usia nya yang sebenarnya. Riasan wajah dan penampilannya yang anggun orang-orang akan mengira dia adalah seorang wanita karir yang sedang sukses dan berada dalam usia keemasannya, dua puluh lima tahun.

Namun dia jauh lebih muda dari yang dia tampilkan. Hanya sedikit yang tahu, bila semua make up itu tak menempel pada wajahnya, dia hanyalah seorang gadis remaja yang masih polos dan haus akan kasih sayang.

Terlahir di keluarga kaya raya tak menjamin hidupnya bahagia. Sejak ditinggalkan oleh ibunya yang kawin lari dengan laki-laki lain, Rina kehilangan sosok seorang ibu yang semestinya mengajari dan menemaninya melewati masa-masa puber nya dan membimbingnya dalam menjalani hidup sebagai gadis remaja yang normal.

Namun ibunya tak ada bersamanya. Hanya ayahnya yang berhati sekeras baja yang mendidiknya untuk tak pernah merasa iba dengan orang lain. Ayahnya yang tidak suka dengan penipu dan penjilat, dia melatihnya untuk menghindari manusia-manusia seperti itu. Karena hubungan yang didasari oleh kebohongan hanya akan berakhir dengan dendam yang tak ada habisnya.

Keisuke memperhatikan Rina yang melenggang bak putri raja di koridor lobby utama. Disana dia berpelukan dengan seorang laki-laki yang usianya tak berbeda jauh dengan dirinya. “Another borjuis” pikirnya.

“Mereka memang serasi, tak heran media masa banyak mengulas tentang pertunangan mereka” celetuk teman kerjanya.

“Memang siapa laki-laki itu?” tanya Keisuke penasaran.

Temannya memandangnya tak percaya. “Kamu tak tahu siapa dia? Ya Tuhan, kemana saja? Tidak pernah menonton tv? Baca koran?”

Keisuke hanya menggeleng tak sabar. Seolah dia punya waktu untuk mengurusi kolom gosip dan berita-berita orang kaya yang tak ada hubungan dengan dirinya.

Temannya pun menghela nafasnya dengan kesal. “Dasar.. ingat ya, agar kamu tidak salah dikemudian hari bila bertemu dengan mereka. Laki-laki itu bernama Tetsuya Hashimoto, anak pemilik Hashimoto Financial Group. Mereka bertunangan kira-kira sebulan yang lalu. Aku dengar mereka akan menikah akhir tahun ini sebelum Natal”

Temannya pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meninggalkan tempat itu menuju kantin pegawai. Sebelum membuntuti temannya, Keisuke menoleh sekali lagi pada pasangan itu untuk menyegarkan ingatannya agar kelak tak salah lagi.

~~~~

“Bang..bang..bang...” terdengar suara ketokan di pintu sebuah rumah kecil di dalam gang yang sempit itu.

“Yura... buka pintunya..” teriak Keisuke memanggil penghuni rumah itu.

Namun yang keluar adalah seorang laki-laki paruh baya yang sedang teler dan dari mulutnya tercium bau alkohol yang menyengat. Dia bahkan seperti orang yang tak pernah menyentuh pancuran air selama seminggu. Sungguh bau pikir Keisuke.

“Paman, Yura mana? Aku ingin bertemu dengannya. Penting sekali” kata Keisuke kepada laki-laki pemabuk itu.

“Heh.. siapa kamu? Yura sudah tak tinggal disini. Apa kamu gila?” katanya sambil sesenggukan.

“Apa maksudmu paman Yura tak tinggal disini lagi?” tanya Keisuke dengan curiga.

Dia tak bisa menyembunyikan kecemasannya akan nasib Yura. Dia takut ayahnya telah menjualnya kepada tempat hiburan seperti yang dia coba lakukan dulu.

Ayah Yura pun tertawa mengakak. Keisuke tak mengerti dan merasa risih berada di dekat laki-laki tua itu. Tapi dia menahan emosinya. Dia harus tahu dimana Yura berada.

“Katakan dimana dia? Dimana Yura? Aku harus menemuinya. Paman!!” teriaknya dengan keras.

“Jis.. kamu ingin membunuhku dengan suaramu hah??? Dia sudah tak ada disini lagi. dia hanya mengirimiku uang setiap bulan. Uang yang banyak ha... kini dia sudah kaya... dia menjadi simpanan laki-laki gendud, botak kaya raya.. hahahaha... anakku kaya.. aku bisa bersenang-senang lagi..haa..” setelah mengatakan itu semua, ayah Yura pun tergeletak pingsan didepan pintu rumahnya.

Keisuke yang gusar dan tak menerima hal itu menendang tubuh ayah Yura untuk melampiaskan kekesalannya. Gara-gara laki-laki inilah dia kehilangan Yura-nya. Gara-gara laki-laki inilah dia harus membuang harga dirinya dan mendapat semua hinaan ini.

Saat itu, Keisuke sangat ingin untuk membunuh ayah Yura. Tapi suara motor yang lewat membuatnya mengurungkan niatnya. Dia pun pergi dari tempat itu dengan setengah berlari. Dia harus menemukan Yura-nya...

~~~~

“Aku tak mengerti apa yang kamu katakan. Aku tak tahu dimana Yura berada. Saranku, lebih baik kamu lupakan dia. Dia sekarang sudah bahagia, kemunculanmu hanya akan membuka luka lama Yura. Apa itu yang kamu inginkan?” bentak Michan pada Keisuke yang menemuinya di kelab malam tempatnya bekerja.

Keisuke menghabiskan setengah gajinya agar bisa masuk ke dalam kelab malam itu untuk menemui Michan. Dia harus mendapatkan informasi keberadaan Yura, kalau tidak dia bisa gila.

“Kamu tidak mengerti. Yura mencintaiku, kami saling mencintai. Dia berbuat begitu pasti karena emosi sesaat. Setelah melihatku dia akan kembali padaku. Katakan padaku Michan, dimana Yura berada. Aku tak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. Tolonglah aku” katanya mengiba.

Michan tak mengerti mengapa Keisuke masih bersikeras mencari Yura lagi ketika laki-laki itu sudah mengecewakan Yura empat tahun yang lalu dan bahkan menghilang tak ada kabar meninggalkan Yura berjuang sendirian. Apakah dia merasa cukup berharga untuk merebut cinta Yura lagi? Michan hanya mendengus sebelum pergi meninggalkan Keisuke dengan sepenggal kalimat terakhir darinya.

“Tetsuya Hashimoto. Laki-laki itu.. Dialah yang menawarkan segalanya pada Yura. Hal yang tak bisa pernah kamu berikan padanya. Lupakan lah dia Kei..” Michan memandangnya dengan kasihan, laki-laki ini semestinya membuka matanya dan tak dibutakan oleh cinta. Cinta yang tak masuk akal.

Keisuke pun merosot dalam kursinya demi mendengar perkataan Michan.

“Tetsuya Hashimoto? Laki-laki itu? Ahli waris Hashimoto Group? Bukanlah laki-laki itu sudah bertunangan. Tapi mengapa? Mengapa dia mempermainkan Yura? Apakah Yura tahu hal ini? Tidak.. tidak.. aku harus memberitahu Yura-ku. Aku harus merebutnya kembali. Yura tak bisa berbuat seperti ini padaku. Tidak...” dia pun meninggalkan kelab malam itu seperti orang yang setengah nyawanya hilang dan linglung berbicara dengan dirinya sendiri.

~~~~

“Anda terlihat cantik dengan pakain itu nona, sepertinya pakaian itu memang dibuat khusus untuk tubuh nona” puji penjaga butik pakaian itu pada Yura yang sedang mencoba beberapa pakaian disana.

Dia sudah berbelanja seharian, ditemani seorang sopir dan pembantu yang mengikutinya kemana-mana. Hidupnya sudah berubah. Dia tidak lagi bergelut dengan minuman dan gelas-gelas kotor seperti saat dia bekerja di kelab malam dulu.

Kini hidupnya bahagia, dia bersenang-senang. Berbelanja hingga malam hari, pergi ke spa dan salon perawatan kecantikan. Perhiasan-perhiasan yang dibelikan oleh Tetsuya untuknya berjejer di lemarinya. Saat ini dia memakai kalung mutiara berlapiskan safir dengan sepasang anting yang serasi, dia tampak semakin anggun dengan semua penampilan barunya.

Tetsuya memanjakannya dengan segala kekayaan yang bisa diperoleh seorang wanita. Meski Yura bepergian setiap hari untuk menghabiskan waktunya berbelanja dan bersenang-senang, dia tak pernah melarangnya.

Yura belum pernah melayaninya ditempat tidur. Tetsuya tak ingin memaksanya, belum.. karena itulah isi persyaratan yang Yura ajukan dulu padanya. Dia mau tak mau harus menyetujuinya bila dia ingin Yura berada disampingnya.

“Kamu tak akan menyentuhku sebelum aku mengizinkanmu” kata Yura hari itu ketika mereka berdebat tentang persyaratan yang dia ajukan.

Tetsuya tak mau ambil resiko Yura merubah pikirannya dan berbalik pergi meninggalkannya dan kehilangan kesempatan untuk memiliki wanita itu. Maka dia pun menyetujui syarat yang Yura ajukan meski gairah lelaki didalam dada nya menentang kuat hal itu.

Tapi dia masih bisa bertahan. Sudah sebulan lebih dan Tetsuya belum menyentuhnya sama sekali. Dia hanya memandangi Yura yang sedang tidur dengan pandangan merindunya. Betapa dia rindu ingin menyentuh kulit lembut wanita itu. Betapa bibirnya yang manis dan lehernya yang jenjang menggoda ketahanannya setiap malam.

Kerinduan yang menyesakkan dadanya ketika wanita itu berada sedemikian dekat dengannya. Mereka tidur seranjang, ya, namun terasa begitu jauh. Tetsuya akan selalu mencoba untuk memeluk Yura dalam tidur mereka, namun dia selalu mengurungkan niatnya. Dia takut tak sanggup membedung nafsunya lagi dan memaksa Yura untuk melayani nafsu lelakinya. Dia akan menunggu.. menunggu sebentar lagi.. tak akan lama hingga wanita itu memberinya lampu hijau.

Dering ponsel milik Yura pun berbunyi. Tetsuya memanggilnya. Dengan enggan Yura pun menjawab panggilannya.

“Halo..” katanya bosan.

“Kamu tidak lupa janji kita makan siang kan? Aku menunggumu, sejam lagi ditempat biasa. Sopir akan mengantarmu kesana. Jangan terlambat” Tetsuya pun memutus panggilan itu sebelum memberikan Yura kesempatan untuk menjawabnya.

“Tak berubah sama sekali. Dasar laki-laki angkuh dan arogan... kamu sombong sekali Tetsuya Hashimoto..” desis Yura jengkel.

Meski demikian, dia meninggalkan butik itu setelah membayar belanjaannya dengan kartu kredit yang Tetsuya berikan padanya. Sopir membukakan pintu mobil untuknya sebelum meluncur menuju tempat makan siang mereka.

Diseberang jalan, Keisuke terpaksu tak mempercayai penglihatannya. Benarkah itu Yura? Pikirnya. Bila itu Yura-nya, dia sungguh berubah. Dengan semua perubahan nya yang drastis, dia terlihat sangat cantik dan “exclusif”. Pakaiannya terlihat elegan dan mewah.

Perhiasan yang dia kenakan tak diragukan lagi pastilah berharga jutaan yen. Dia bahkan memiliki sopir dan pembantu pribadi. Keisuke tak mempercayai perubahan Yura bila dia tak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Dan dia pun terkaget-kaget. Dia terkejut, membayangkan dirinya yang tak memiliki apa-apa, bagaimana mungkin Yura akan mau menemuinya? Apalagi tinggal dengannya. Dia pasti tak akan mau melepaskan kekayaan yang dia miliki saat ini. Demi dirinya?

“Huh. Tak mungkin!!!” teriak Keisuke kesal. Dia tertawa terbahak-bahak ironis, dan tangisnya pun meledak mengasihani dirinya yang tak berdaya dengan ketidak-mampuannya.

Orang-orang disekelilingnya memandangnya dengan curiga. Mereka hanya melihat Keisuke sebagai seorang laki-laki gila yang meraung-raung dijalanan seperti singa yang terluka. Jauh didalam hatinya, Keisuke memang terluka. Dia tak tahu akan sanggup sejauh mana menahan semua kekecewaan dan penderitaan yang Yura berikan padanya.

Dia hampir membusuk didalam, perlahan-lahan hatinya pun digerogoti, semua pikiran positif dari dalam kepalanya hampir diambil alih oleh pikiran dan emosi negatif yang merusak jiwanya. Menenggelamkan Keisuke yang polos dan berhati mulia.

Dengan langkah tertatih – tatih, Keisuke menyeret kakinya dan berakhir pada sebuah tenda penjaja makanan ringan dipinggir jalan yang lengang. Dia memesan dua botol sake dan langsung menenggak habis dalam waktu singkat. Dia tenggelam dalam dunianya sendiri, mencoba mencari akal dan cara untuk mendapatkan Yura-nya kembali.

“Kei..?? Keisuke?? Itu kamu Keisuke???” seseorang dari meja disampingnya memanggil Keisuke seolah dia mengenalinya.

Keisuke pun menoleh dan memandangi orang itu dengan tanda tanya. Namun dia tetap membisu.

“Kamu tak ingat aku?? Aku Jirokichi. Kakaknya Matsube. Matsube teman kuliahmu dulu. Ingat? Kalian sering belajar dirumah kami. Haa... kamu ingat kan sekarang” katanya dengan semangat.

Keisuke hanya tersenyum, dia mengenang temannya Matsube yang konyol. Dan Jirokichi yang selalu membantu mereka menyelesaikan tugas kuliah mereka.

“Apa kabarmu? Matsube sering membicarakanmu. Hadeh.. aku sungguh kasihan padamu. Bagaimana mungkin perusahaan sebesar itu bisa memperlakukan orang sepintar mu seperti ini. Sungguh tak manusiawi” katanya sambil menggeleng-gelenggkan kepalanya.

Jirokichi sudah menarik kursinya dan bergabung dengan Keisuke dalam satu meja. Dia menenggak sake nya dengan puas.

“Ahh... sake ini sungguh nikmat. Sini, aku tuangkan segelas untukmu” tambahnya.

“Apa maksudmu senpai? Perusahaan apa? Aku tak mengerti” tanya Keisuke dengan bingung. (senpai = kakak kelas/senior)

Jirokichi memandang Keisuke dengan iba. Dia pun menyesap sake nya sebelum menjawab pertanyaan Keisuke.

“Haahh.. karena aku sudah mengatakannya, aku tak mungkin menarik kembali kata-kataku kan. Baiklah. Aku akan memberitahumu. Tapi kamu harus tabah. Beginilah hidup, kadang tidak adil. Orang-orang kaya dan berkuasa selalu mengerjai dan menindasmu” katanya berceramah.

Keisuke pun semakin bingung, namun dia tetap mendengarkan Jirokichi berbicara dengan penuh minat. Saat ini, pikirannya yang gundah dialihkan oleh topik baru yang tak sengaja dia ketahui.

“Kamu ingat, perusahaan yang memberimu beasiswa untuk kuliah di luar negeri dulu? Mereka menghentikan beasiswamu bukan karena nilai-nilaimu yang jelek. Aku dengar dari temanku, dia bekerja di perusahaan itu dibagian administrasi dan mengurusi beasiswa untuk anak-anak cerdas sepertimu” Jirokichi memandang wajah Keisuke lagi sebelum melanjutkan perkatannya.

“hhh... sial.. mereka menghentikannya karena disuruh demikian oleh boss mereka. Dia bilang lagi, anak boss mereka sangat membencimu, dia bahkan mengamuk saat itu ketika ayahnya menolak untuk menghentikan beasiswamu. Tapi pada akhirnya beasiswamu dihentikan. Entah apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuatmu dibenci seperti itu oleh anaknya, tapi kamu jangan putus asa ya. Aku tak bisa memberikanmu apa-apa. Tapi kalau kamu perlu bantuan, carilah aku. Ini kartu namaku” dan Jirokichi pun pergi dari sana setelah memberikan Keisuke kartu namanya.

Keisuke tak menyangka ada hal lain dibalik penghentian beasiswanya saat itu. Dia merasa sangat terpukul ketika diberitahukan dia tak bisa melanjutkan kuliahnya karena beasiswanya telah dihentikan.

Mereka mengatakan padanya bahwa nilai-nilainya tak mencukupi untuk syarat penerimaan beasiswa. Ternyata itu semua disiasati, sengaja dibuat demikian untuk merugikannya. Dia menghabiskan empat tahun hidupnya dan hidup menderita diluar negeri agar bisa meraih sertifikat kelulusan yang dia inginkan. Namun kuliahnya dihentikan, bahkan tak ada sertifikat apapun yang bisa dia gunakan untuk melamar pekerjaan.

Meski akhirnya dia mendapat pekerjaan yang bagus, tapi dengan sertifikat itu dia bisa mendapat jabatan yang lebih baik lagi, dan dia akan bisa membahagiakan Yura-nya.

“Hashimoto Group, bukankah itu perusahaan yang mensponsori beasiswaku dulu?? Jangan katakan bahwa anak pemilik perusahaan itu adalah orang yang sama yang sekarang merebut Yura dariku?? Tetsuya Hashimoto??!!! Laki-laki sialan!! Aku akan membuat perhitungan denganmu. SETAN!!!” teriak Keisuke dengan sengit.

Pelanggan-pelanggan yang ada disana terperanjat dan memandang Keisuke dengan was-was. Setelah membayar bill nya, Keisuke pun pergi dari temapt itu, matanya memancarkan api kebencian yang mampu membakar habis apapun yang dia pandang didepannya.

3 comments:

  1. jadi jadi jadi???
    yang membuat kei ga bisa nglanjutin beasiswanya keluar negeri itu adalh Tetsuya ya??
    ya mapun Tetsuya kamu kok jahat bgt sich????

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.