"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, November 13, 2012

Third Drama - Chapter 1



Ini adalah hari pertamaku bekerja di kantor baru. Aku sungguh berharap suasana kantor yang berbeda dengan sebelumnya bisa memunculkan inspirasi untuk pekerjaanku disana. Namaku Oguri Mada, umur 24 tahun. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak perempuanku bernama Minami, dia tinggal di Kyoto bersama dengan suami dan anaknya, mereka membuka sebuah perusahaan cleaning service dan cukup sukses disana.

Orang tua ku tinggal dipedesaan Chiba, mereka adalah tipe orangtua tradisional, tidak terlalu suka hidup di kota, terlalu berisik dan banyak kriminalitas keluh mereka. Di desa mereka mengurus sebuah perkebunan buah pear dan apel untuk diekspor ke luar negeri. Mereka cukup mapan sehingga aku tak perlu mengirimkan uang untuk membiayai mereka, meskipun gaji yang kudapat belumlah mampu untuk membantu perekonomian keluarga.


Dua tahun lalu aku lulus dari Universitas Haneda, meski nilaiku tak terlalu memuaskan tapi aku berhasil mendapat sebuah pekerjaan di perusahaan otomotif sebagai salah satu staf grafis. Selama dua tahun disana, aku perlahan-lahan menguasai pekerjaanku hingga hari ini mendapat promosi untuk bekerja di kantor pusat di Tokyo. Aku tak pernah bermimpi akan bisa secepat ini dipromosikan untuk bekerja dikantor pusat. Orangtuaku pun senang dengan pekerjaanku yang membaik. Tentunya karena sudah bekerja di kantor pusat dan dengan jabatan yang lebih baik aku akan mendapat gaji yang lebih banyak. Aku pun tersenyum memikirkannya.

Sudah dua minggu sejak aku pindah ke Tokyo. Disini aku mengontrak sebuah apartemen kecil, yah tidak terlalu kecil untuk ukuran seorang laki-laki single sepertiku tentunya. Apartemenku mempunyai dua buah kamar tidur, satu kamarnya menghadap kearah taman kota, sehingga setiap pagi aku bisa mengintip matahari terbit dari jendelaku. Kamar mandinya cukup besar, tiga per empat kamar tidurku kurasa. Ada bathtub, shower, cukup lengkap untuk sebuah apartemen kecil. Tapi tentunya untuk ukuran kota Megapolitan seperti Tokyo hal ini tidak bisa dibandingkan dengan kota kecil tempatku bekerja dulu.

Ruang tamu nya simple, aku beruntung apartemennya sudah berisi perlengkapan rumah sehingga aku tak perlu untuk membeli banyak barang-barang baru. Aku hanya menambahkan televisi dan beberapa alat masak untukku. Mungkin aku akan membeli beberapa lukisan untuk kutaruh di ruang tamu, agar apartemen ini lebih nyaman untuk kutempati. Untuk kamar tidurku aku telah mengganti seprai dan tirainya.

Warna putih lebih membuatku nyaman karena aku sangat suka kebersihan. Hidup sehat tentunya adalah prioritasku saat ini. Dengan aktifitas pekerjaan yang padat dan kemungkinan banyak lembur, aku yakin aku pulang ke rumah hanya untuk tidur, sehingga apartemen yang bersih setidaknya tidak menambah bebanku dikemudian hari.

Hari ketigaku di Tokyo aku sudah selesai membereskan apartemen baruku. Empat hari sisa liburku pun kuhabiskan untuk menjelajahi Ibukota. Aku tak suka keramaian, sehingga aku memilih untuk bepergian ke taman kota, melihat anak-anak bermain bersama orangtua mereka, manula beraktifitas, ada yang senam yoga, ada yang membaca buku, ada juga yang hanya duduk-duduk mengobrol dengan teman mereka.

Nampak juga anak-anak SMU bergerombol bermain disini, aku heran kenapa banyak sekali sekarang anak-anak SMU suka membolos. Ketika aku SMU dulu, aku adalah anak baik, tidak pernah membolos. Atau mungkin karena aku takut kalau ketahuan membolos. Karena pamanku adalah guru pembimbing disana.

Menyusuri jalanan kota, aku pun singgah ke bangunan kantorku yang baru. Hanya untuk membiasakan diri dengan suasana baru yang akan aku mulai minggu depan. Perusahaan Dalto, berada di Dalto Building, merupakan kompleks gedung dengan perkantoran, hotel dan hypermall didalamnya. Salah satu kompleks pertokoan dan perkantoran terbesar di Tokyo.

Bangunannya menjulang tinggi dengan lapangan dan kebunnya yang luas. Gedung ini sungguh ramai, meskipun pintu masuk untuk masing-masing gedung berbeda-beda. Untuk menuju kebagian perkantoran aku harus masuk melalui pintu barat, sedangkan untuk menuju kawasan hypermall aku harus menuju pintu masuk utara dan untuk kawasan perhotelannya ada pintu sebelah selatan yang memiliki desain berbeda dari pintu yang lain.

Aku pun menuju kearah hypermall, ingin tahu seperti apa hypermall dikota besar. Sesampainya didalam, aku terpana karena meskipun sangat luas, orang-orang berdesak-desakan didalamnya. Rupanya hari itu ada diskon besar-besaran. Kebanyakan ibu-ibu dan remaja wanita memadati stand pakaian. Didalam supermarket pun tidak kalah heboh, orang-orang berlarian hanya untuk mendapatkan barang yang yang telah dilabel diskon oleh supermarket. Aku berpikir bahwa mungkin besok adalah hari kiamat karena orang-orang berbelanja seolah-olah tiada hari esok.

Aku pun menyingkir dari sana sebelum menjadi salah satu korban keganasan pencinta diskon disupermarket ini. Sambil tersenyum membayangkan hal itu, aku melangkahkan kakiku ke arah stand makanan. Disini tidak terlalu padat, sehingga perasaanku lega. Aku pun memesan sebuah paket makan siang, terdiri dari sup ikan, beef teriyaki dan banyak sayur. Oh aku sangat suka sayur. Aku bisa makan meskipun hidangannya hanya berisikan sayur dan nasi. Tapi hari ini, aku ingin makan besar. Jalan-jalan tadi membuat perutku keroncongan hingga cacing-cacingku meronta untuk mendapat jatah yang extra.

Aku pun makan dengan lahap, lalu mataku tertuju pada rombongan orang-orang yang berjalan didepanku. Mereka berjalan beriringan, seperti seorang raja yang diiringi oleh bodyguard-bodyguard dan pelayan-pelayannya. Aku pun tertawa kecil, begitulah orang kaya zaman sekarang. Kemana-mana mereka diikuti oleh iringannya. Mereka cukup mengucapkan beberapa kata kemudian pelayannya akan bergerak dan melakukan apa yang disuruh.

Mungkin ada sekitar sepuluh orang yang mengikuti. Mataku pun beralih kepada pemimpinnya. Sesosok pria dalam usia akhir duapuluhnya, atau mungkin awal tigapuluhnya. Garis wajahnya tegas, matanya bersorot tajam seolah dengan matanya saja dia bisa menelan orang bulat-bulat. Aku yakin pelayannya tak ada yang berani membantahnya pikirku. Dia memakai setelan jas berwarna silver, dengan dasi kecilnya yang sesuai dengan warna jasnya. Badannya tegap, gagah dan jangkung bila dibandingkan dengan pelayan-pelayannya yang kebanyakan adalah bapak-bapak berusia diatas limapuluh tahun, menurutku mereka bukanlah pelayan, mungkin mereka adalah bawahannya, karena tak mungkin kan orang-orang setua itu masih menjadi pelayan.

Kutebak tingginya sekitar 185cm, dibandingkan dengan tinggiku yang cuma 170cm, aku hanya bisa meringis dan berkata dalam hati “what a lucky person, you’re young, rich, handsome and tall”. Aku pun tertawa membandingkan orang itu dengan diriku.

Tak kusangka,rombongan itu berhenti tepat di meja diseberang mejaku. Nampaknya mereka memesan makanan dan mengobrol disana. Sekarang posisiku tepat didepan posisi orang itu. Mata kami pun terkunci saling mengamati. Karena merasa tidak nyaman, akupun mengalihkan pandanganku ke arah lain. Dari ujung mataku, aku masih bisa merasakan orang itu masih mengamatiku.

Kemudian pelayan datang dan membawakanku minuman yang sudah kupesan tadi. Aku pun melanjutkan makanku dan segera beranjak dari sana. Sungguh tak enak duduk disana ketika kamu tahu bahwa kamu kepergok sedang mengawasi orang lain. Tanpa kusadari, nampaknya orang itu mengawasi kepergianku karena aku merasa seolah punggungku seperti ada bongkahan es yang menusuk-nusuk tajam sejak aku pergi dari stand makanan itu.


Aku pun menghabiskan waktuku didalam mall dan bermain di game station. Selama dua jam aku bermain disana, aku mendapat banyak stiker yang kemudian aku tukarkan dengan pistol mainan karena hanya itulah hadiah yang bisa kudapat dengan stikerku. Semoga saja pihak security tidak mengira pistol mainan ini adalah pistol sungguhan, karena tidak lucu kalau aku tertangkap dan dikira sedang berusaha melakukan keonaran disini. Berpikir seperti itu aku kemudian menyesal karena telah menukarkan stikerku dengan sebuah pistol. Namun demikian aku bersyukur tiba diapartemenku tanpa ada yang mencurigai gerak-gerik ku yang kaku karena membawa sebuah pistol tiruan.

3 comments:

  1. hha
    lucu juga cerita nya bikin penasaran..
    lanjut part 2 lets go :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha siapppp!!! met baca... komen komen komenn.. ^^>

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.