"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Third Drama - Chapter 10


note : for 23 old years or higher only

Pintu lift terbuka lagi, dengan langkah kaki tertatih aku ingin segera kabur dari gedung itu. Ingin segera pergi dari dirinya. Aku tak ingin menemuinya lagi. Tapi manager Sato menyapaku dan mengajakku masuk kedalam kantor. Aku berkata dalam hatiku untuk memikirkannya baik-baik sebelum memutuskan apa yang akan aku lakukan.

Sepanjang hari aku tak melakukan apa-apa, pekerjaanku terbengkalai, hariku muram. Manager Sato memaklumi ku karena aku masih sakit, meski dia tidak salah, namun bukan badanku yang sakit. Hatikulah yang sakit. Hitori Daito, laki-laki itu begitu manis dan begitu kejam. Apakah seperti ini orang gay lain berhubungan pikirku.


Manager Sato menanyaiku apakah aku bisa mengikuti rapat dengan dewan direksi, tapi aku menolaknya dan mengatakan kepalaku masih sakit. Dia pun berangkat dengan staf lain menuju ruang rapat. Aku tak tahu apakah Hitori-san akan berada diruang rapat itu juga, namun hari ini aku bertekad tak akan bertemu dengannya lagi. Aku akan menghindarinya. Bisakah aku? Pikirku.

Pukul enam pas, waktunya pulang. Manager Sato belum selesai rapat dengan dewan direksi. Aku merasa beruntung, karena dengan demikian berarti Hitori-san tidak akan bisa menghentikanku.

Begitulah yang aku pikir. Hingga sebuah mobil mercedez benz berhenti didekatku ketika sedang menunggu bus yang akan mengantarkanku pulang. Dua orang berjas hitam mendekatiku dan menangkapku hingga aku tak bisa kabur. Apa-apaan ini pikirku. Aku menjadi korban penculikan? Apakah ini perbuatan Hitori-san juga? Aku semakin membencinya karena pikiran ini.

Karena aku memberontak, mereka menutup hidungku dengan saputangan yang membuatku pingsan. Saat terbangun aku merasa pusing dan berada disebuah kamar yang sama sekali belum pernah aku lihat. Entah ruangan itu bisa dikategorikan sebagai kamar. Luasnya mungkin sanggup memuat seratus orang meskipun mereka saling berdiri berjauhan dengan jarak satu meter.

Furniturenya pun berkelas tinggi, dengan daun jendela yang lebar dan tinggi, namun berteralis besi bagai penjara pikirku. Dan disinilah aku, ditengah ruangan kamar ini, diatas ranjang lebar aku merasa kecil. Dan aku sudah berganti pakaian? Aku tak memakai pakaian yang sama dengan ketika aku pulang dari kantor. Apakah mereka memakaikanku pakaian yang baru? Aku memandangi pakaian yang aku kenakan, kemeja sutra halus berwarna putih dan pantalon hitam dari merek terkenal. Dimanakah aku pikirku frustasi.

Akupun berdiri dan meraih knop pintu, tapi pintunya tak bergeming. Aku terkunci disini. Akupun berteriak, namun tak ada yang mendengarkan, bahkan tak ada suara sekecil apapun yang aku dengar. Aku berusaha mendobrak pintu itu, namun bukannya membuka, badanku menjadi sakit. Daun pintunya berbahan kayu jati, lebarnya cukup untuk memasukkan sebuah truk kedalamnya.

Akupun beralih ke arah jendela. Semua terkunci, dengan gembok? Penjara macam apa ini pikirku. Diluar jendela aku melihat halaman yang luas, dipagari hutan pinus dikejauhan. Apakah aku berada didaerah pegunungan? Karena hutan pinus hanya tumbuh didaerah ketinggian yang dingin, pikirku.

Akupun termangu dipinggir jendela, aku menggeser sebuah kursi agar bisa duduk disana. Matahari perlahan-lahan tenggelam dan berganti dengan langit malam. Mendung dan petir menghiasi langit malam ini, nampaknya akan ada hujan lebat.

Bersamaan dengan kilatan petir dilangit diluar sana, pintu kamar itupun terbuka. Lampu – lampu kamar ini belum aku nyalakan, seolah aku tahu dimana letaknya, ketusku. Ruangan pun gelap gulita, tak aku sadari karena sibuk dengan pikiranku. sesosok tubuh menangkapku ke dalam pelukannya. Akupun telah hafal dengan aroma tubuh ini.

“Hitori-san” kataku.

Efek petir ketika menerangi wajah Hitori-san membuatku bergidik. Matanya masih menatapku dingin, meski pelukannya tak sekasar tadi pagi. Aku pun meronta untuk lepas dari pelukannya, dan aku berhasil. Tumben, pikirku.

Kemudian aku menjauhinya, aku mengambil jarak dengannya. Dia pun menyadarinya, tinjunya mengepal entah apa yang akan dia lakukan kali ini pikirku was-was. Untuk menutupi ketakutanku, aku pun meneriakinya dan menyuruhnya untuk mengantarkanku pulang ke apartemenku.

Dia tertawa, tawanya sinis, tak seperti tawa yang membuatku tersipu malu semalam. Hatiku mencelos, dia kelihatan sungguh kejam didalam kamar tanpa cahaya. Dia pun perlahan-lahan mendekatiku, mencoba memojokkanku hingga tak bisa berkutik. Aku pun mundur selangkah demi selangkah hingga badanku menyentuh tembok, aku tak punya tempat untuk mundur lagi, disampingku menghalangi sebuah lemari besar dan di depanku berdiri seorang Hitori-san dengan matanya yang dingin dan buas.

Sekejap mata dia sudah berada tepat didepanku. Hembusan nafasnya menggelitik telingaku. Dia sengaja melakukannya pikirku. Tangannya menyibakkan rambutku, kepalaku ditopangnya sehingga aku tak bisa berkelit ketika bibirnya memagut bibirku yang terbuka, tak bersiap dengan ciumannya.

Jantungku pun berdebar kencang lagi, ciumannya sungguh manis, tak ada paksaan seperti tadi pagi didalam lift. Bibir Hitori-san bagai madu yang menarikku untuk terus meminta, terus berharap lebih. Hitori-san pun mendekap tubuhku, tubuh kami bersentuhan, badanku seolah terkena aliran listrik setiap badan Hitori-san menyapu tubuhku.

Kakiku lunglai, akupun memejamkan mataku, bertekad menerima apapun yang akan Hitori-san lakukan padaku. Hitori-san masih menciumi bibirku, dia melumatnya, lidahnya mengelus bekas luka gigitannya dibibirku, kemudian diapun memilin lidahku, menghisapnya..

Nafas kami tersenggal-senggal ketika Hitori-san menuntunku ke atas ranjang. Dia merebahkan badanku dan perlahan merangkak diatas tubuhku. Bibir kami pun bersatu lagi, dia menciumi seluruh wajahku, kemudian turun ke leher, dada ku habis dijilatinya. Dia memainkan puting ku dengan lidahnya.

Kemejaku terkulai lemas dilantai. Hitori-san lalu dengan tangan bergetar membuka celana pantalon ku. Aku tak memakai pakaian dalam, alat kelaminku membuncah keluar setelah bersembunyi dibalik celana menunggu untuk dilepaskan.

Hitori-san kemudian menciumi kelaminku, dia memasukannya kedalam mulutnya, dia mengulumnya, naik turun. Badanku menggelinjang, sensasi yang ditimbulkan hisapan mulut Hitori-san membuatku mabuk kepayang, aku pun meremas rambutnya. Hitori-san mengulum kelaminku hingga aku mendesah panjang mengeluarkan air maniku lagi.. Hitori-san pun membersihkan air maniku dengan tissue yang diambilnya dari atas meja.

Dengan wajah puas, Hitori-san memandang wajahku, ekspresinya tak sedingin tadi. Matanya menyiratkan gairahnya, keinginannya untuk memilikiku, menguasaiku, memasuki. Hitori-san pun melepaskan seluruh pakaiannya, dia telanjang bulat dihadapanku. Badannya sungguh sempurna, aku terpana melihatnya. Kejantanan Hitori-san tegak berdiri, darahku mendesir membayangkan benda itu memasuki tubuhku.

Hitori-san kemudian menyuruhku untuk mengulum kejantannya, meski saat ini pertama kali aku mengulum kelamin laki-laki, namun aku tak merasa mual atau jijik, karena itu milik Hitori-san? Hitori-san memejamkan matanya ketika kejantannya kukulum, dia mendesah dan menyebutkan namaku berkali-kali.

Dia menggoyangkan badannya maju-mundur dimulutku. Lalu diapun menghentikanku, dia mencium bibirku dengan ganas. Dia lalu membalikkan badanku. Aku memejamkan mataku menunggu. Hitori-san membuka laci-laci disamping ranjang dan mengambil sebuah botol lalu mengoleskan isinya di kejantannya dan di duburku.

Dia kemudian memasukan kejantannya perlahan-lahan kedalam tubuhku. Rasa sakit yang tak terbayangkan melandaku, aku pun berteriak, Hitori-san menaruh tangannya dimulutku, karena desakan kejantannya yang membuatku kesakitan, aku tak sadar mengigit tangan Hitori-san.

Aku tak tahu apa yang bisa dinikmati dari hubungan sex ini, mungkin karena ini yang pertama kalinya sehingga aku hanya merasakan kesakitan. Tapi aku ingin memuaskan Hitori-san, sehingga sakit ini pun bisa aku tahan.


Ketika kejantanan Hitori-san sudah masuk penuh kedalam tubuhku, dia pun menggerakkan badannya keluar masuk tubuhku. Aku pun menangis menahan sakitnya. Kurang lebih lima menit kemudian Hitori-san menegang diatas tubuhku, dia mengeluarkan air maninya didalam tubuhku. Dia pun roboh diatasku. Hitori-san membalikkan badanku, dia menciumi air mataku, menciumi bibirku dan sebelum aku jatuh pingsan samar kudengar dia berkata “I Love You Oguri”.

2 comments:

  1. WHOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,,,,,,,,,,,,,

    HEBAT mba Shin,,,,,
    4 jempol utk DRAMA yg ii,,,^__^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha.. bahasanya masih kacau ni sist. musti di edit kyk nya, tp kok ya males ya ngeditnya. lol...

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.