"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Third Drama - Chapter 11


Perlahan mataku membuka, samar kulihat ruangan tempatku disekap, terang disinari matahari meski langit diluar masih tertutup mendung. Badanku sakit ketika kugerakkan. Aku berteriak ketika mencoba untuk duduk, pantatku sakit sekali. Air mataku pun keluar karena kesakitan. Hitori-san berlari ke arahku, dia melemparkan koran yang sedang dibacanya. Aku menoleh ke arahnya dengan wajah meringis, aku memegang tangannya untuk bertopang.

“Pantatku sakit sekali” kataku.

“Sarapanlah dulu, setelah itu kamu harus minum obat untuk mengurangi sakitmu, ok?” katanya.

Kemudian aku baru menyadari tubuhku masih telanjang bulat. Dan aku pun buru-buru menutupi tubuhku dengan selimut. Wajahku merah karena malu Hitori-san melihatku telanjang.


Tapi Hitori-san hanya tersenyum, dia menuntunku dan membantuku berpakaian. Dia tak berkata apa-apa tentang kejadian semalam, dan aku terlalu kesakitan untuk mengungkit hal itu. Setelah minum obat, sakitku pun berkurang banyak, meski aku tetap harus hati-hati bila ingin duduk. Aku pun memandang mata Hitori-san dan meminta penjelasan darinya.

“Jelaskan padaku apa sebenarnya yang terjadi?” “Apakah kamu tahu bagaimana perasaanku sekarang? Setelah apa yang kamu lakukan padaku di dalam lift itu? Apakah seperti itu saja nilaiku bagimu?!!” bentakku.

Hitori-san menghela nafasnya kemudian dia balas memandang wajahku. “Jelaskan dulu padaku kenapa kamu menyuruhku menurunkanmu ditengah jalan? Apakah kamu malu semobil denganku? Atau kamu punya pacar lain di kantor??!!”

Aku tak percaya dengan pendengaranku, tidak kah dia mengerti apa akibatnya bila orang-orang tahu hubungan kami? Apa yang akan dia katakan pada media pers apabila hubungan ini diketahui publik? Bagaimana dia akan bertanggung jawab terhadap perusahaannya, keluarganya dan karyawannya apabila harga saham perusahaanya anjlok karena skandal hubungannya dengan “sesama jenis??!!!”

Kepalaku hampir meledak, nadiku berdenyut-denyut, kepalaku pusing. Semua kata-kata yang aku pikirkan tadi keluar tanpa henti dari mulutku. Hitori-san pun kaget menyadari apa yang dia lewatkan. Dia lalu terduduk lemah, wajahnya seperti kebingungan, apakah dia sebodoh itu kalau berhubungan dengan masalah hati? pikirku ketus.

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus bersembunyi terus?” tanya nya.

“Kita harus membicarakannya terlebih dahulu, berbicara, bukannya berprasangka. Setelah semua salah paham ini beres, aku tak ingin kamu berprasangka sendiri. Kamu menakutkan kalau terluka” kataku.

Hitori-san lalu memegang tanganku dan menciuminya. Dia meminta maaf padaku atas semua yang dia lakukan. Dia berjanji akan bersikap baik kepadaku dan menyayangiku namun dia mengancamku dengan setengah bercanda agar tidak menduakannya dengan orang lain. Aku pun mendengus, dia kemudian memelukku. Dan pelukannya membuatku memaafkannya.

Sore itu Hitori-san mengajakku berjalan-jalan di taman rumahnya sambil menikmati kopi. Meski aku lebih senang berada di dalam kamar karena aku masih kesakitan dan belum bisa bergerak banyak. Namun pemandangan di taman sungguh indah sayang untuk dilewatkan. Aku pun bertanya kepada Hitori-san dimanakah tempat ini?

“Ini di Odatte. Rumah peristirahatan keluargaku. Tapi sejak orangtuaku meninggal jarang ada yang menempati. Tapi pelayan dan pengurus rumah sudah bekerja disini puluhan tahun. Bagaimana kalau kamu tinggal disini?” tanyanya tiba-tiba.

“He? Orang-orang akan berpikir yang bukan-bukan, lagipula aku juga ingin bekerja. Aku tak ingin bergantung denganmu. Aku masih bisa bekerja, umurku baru duapuluh empat tahun. Sungguh rugi kalau aku sia-siakan” balasku.

Hitori-san pun sewot dan berkata “Mereka orang dalam, tak akan berani berkata apa-apa. Lagipula kenapa kamu tak mau bergantung padaku? Wajar kan kalau aku ingin menafkahimu karena teorinya aku lebih mampu” jawabnya dengan acuh.

Aku memang tak bisa membantah kata-katanya. Lagipula semalam kami sudah menetapkan posisi kami dalam hubungan ini. Dialah suaminya dan aku istrinya, jika kamu mengerti apa maksudku.

“Tapi aku tetap ingin bekerja, keluargaku pasti akan bertanya-tanya bila mengetahui aku tak bekerja lagi” gumamku.

Hitori-san kemudian mengangguk tanda dia mengerti dan kamipun masuk kedalam rumah sambil berpegangan tangan.

3 comments:

  1. agak2 mw muntah gtu bcanya, ngomong suami istri lg..hahaha
    tapi ttp penasaran jg nih...xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. jiahahahiahiiah sistaahhhh... sini tak pinjemin ember buat nampung muntahannya. lol.

      Delete
  2. Saudariku yg cantik makasi ya utk cerbung Thirdnya I'm B :)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.