"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Third Drama - Chapter 12



Tak terasa sebulan sudah aku kembali bekerja di kantor. Hari terakhir aku berada di Odatte bersama Hitori-san kami habiskan mendaki bukit. Perjalanan dari Odatte ke kota memakan waktu enam jam, untungnya Hitori-san tak perlu menyetir saat itu karena sepanjang perjalanan dia terlelap disampingku.

Hari – hari dikantor aku jalani seperti biasa, proyek ulang tahun ke-empat otomotif akan diselenggarakan akhir bulan ini, aku diberitahukan bahwa desain yang dipakai sudah komplit 95% sehingga ketika akhir bulan akan sudah siap menghiasi pesta ulangtahun perayaan otomotif kami. Aku pun terpaksa tiap hari pulang – pergi ke pabrik pembuatan dan modifikasi mobil untuk memberikan pengarahan kepada para mekanik yang bertugas menyusun desain mobil agar sesuai dengan blueprintnya.
Dari pabrik aku langsung pulang ke apartemen, tak lama kemudian Hitori-san pasti muncul didepan pintu apartemenku dengan wajah ketus. Dia sungguh imut kalau sedang kesal seperti itu. Hitori-san sering menginap di apartemenku, kadang apabila aku terpaksa lembur, dia mengajakku untuk tinggal di Suitenya.
Aku terkadang was-was berada disana, takut sewaktu-waktu ada orang yang akan membuka pintu Suite itu tanpa peringatan sebelumnya dan kami sedang asyik bercumbu. Bukan pemandangan menarik tentunya bagi orang awam. Sehingga aku sering menolak tawaran Hitori-san untuk menginap disana.
Sampai saat ini aku masih trauma masuk kedalam lift, keringat dinginku selalu membasahi tengkuk ku apabila aku terpaksa menaiki lift. Aku bahkan tak berani mendekat ke arah lift khusus GM. Kadang Hitori-san bingung dengan tingkahku meski aku tak mau mengungkapkan kepadanya. Seperti hari ini ketika kami sedang naik lift dan Hitori-san berada dibelakangku, mengawasiku, dia pun berkata “Separah itukah akibat perbuatanku?” aku pun tak menjawabnya.
Aku tidak takut satu lift dengan Hitori-san, aku hanya takut naik lift meski dengan siapapun. Hitori-san kemudian menghentikan lift dan menarik tanganku, kami kemudian masuk ke dalam lift khusus untuk GM. Akupun meronta ingin kabur, Hitori-san menahan tubuhku hingga lift menutup. Didalam lift bayangan peristiwa itu terlintas lagi.
Aku pun menutup mataku, keringat dingin membasahi tubuhku, Hitori-san kemudian memeluk dan menciumiku dengan mesra. Dia menghipnotisku dengan kata-katanya. Dia menyuruhku untuk melupakan kejadian yang buruk itu dan menggantikannya dengan moment kami saat ini, dimana kami berciuman dengan mesra dan penuh cinta. Saat itulah aku mengucapkan kata-kata yang telah lama ditunggu oleh Hitori-san.
“Hitori-san, ai shiteru”
Dia pun menciumi dan melumat bibirku dengan ganas, ketika nafas kami tersenggal-senggal Hitori-san mengajakku masuk kedalam kantornya. Tak lupa dia mengunci pintu sebelum melepaskan pakaian kami. Kami melakukannya di sofa tempat Hitori-san menerima tamu perusahaanya. Aku yakin dia akan selalu teringat padaku saat dia menerima tamunya di sofa ini dan terbayang setelah itu dia akan langsung mencariku dan melumat bibirku.
Akhirnya tiba lah hari perayaan ulang tahun ke-empat produk otomotif perusahaan Dalto. Desain mobil yang baru telah ditaruh diatas panggung, tertutup kain berwarna silver. Pada saat peniupan lilin nanti, Hitori-san akan membuka kain penutupnya dan memperkenalkan mobil Limited edition edisi ulangtahun perusahaan kami.
Tamu undangan dari perusahaan-perusahaan otomotif lain pun ikut menghadiri pesta ini. Meski tak bertanggungjawab dalam event ini, aku ditugaskan untuk menerima tamu dan menemani mereka didalam ballroom. Hingga datanglah tamu undangan dari perusahaan rekanan Dalto, yaitu perusahaan Inaga, yang bergerak dibidang pengolahan baja besi, dari sanalah Dalto membeli produk baja untuk membuat kerangka mobilnya.
Perusahaan Inaga dimiliki oleh Takeshi Inaga, dia datang bersama dengan istrinya dan dua orang anaknya. Takada Inaga anak laki-lakinya sekaligus Direktur perusahaan itu, dan Mai Inaga anak perempuannya, dia berusia dua puluh enam tahun dan tampak sensual dalam balutan gaun malamnya. Meskipun sekarang seleraku sedang beralih kepada Hitori-san, namun aku mengakui Mai Inaga mampu membangkitkan fantasi laki-laki normal manapun. Akupun tertawa memikirkan fantasyku.
Selagi aku melayani tamu-tamu di bagian minuman, Takada Inaga menghampiriku dan meminta segelas sampanye untuknya. Akupun menyuruh pelayan untuk mengambilkan untuknya. Takada Inaga kemudian mengajakku berbincang seputar perayaan ulangtahun ini dan dia mengetahui kalau akulah desainer daripada mobil edisi ulang tahun ini dan dia mengapresiasikan prestasiku. Sebagai tuan rumah yang baik aku pun menemani Takada mengobrol, nampaknya dia senang sekali mengobrol. Aku bisa merasakan tatapan tajam Hitori-san menusuk punggungku. Dia mengawasiku sejak aku mulai menapakkan kaki di ballroom ini.
Hitori-san kemudian diberikan selamat oleh Mr. Takeshi Inaga atas prestasinya dan telah berhasil menemukan sebuah desain mobil yang spesial untuk perayaan ulang tahun produk otomotifnya. Mereka pun mengobrol dan Hitori-san kehilangan pengawasannya terhadapku. Saat itu aku sedang menemani Takada Inaga di halaman kebun hotel karena Takada Inaga merasa tidak enak badan didalam. Aku pun menyuruh pelayan untuk mencarikannya obat namun dia menolaknya. Selama setengah jam ke depan aku pun menemaninya mengobrol di halaman.
Sementara di dalam ballroom. Hitori-san sedang di rayu oleh Mai Inaga, nampaknya mereka sudah lama kenal, karena Mai tak segan-segan menempelkan tubuhnya dekat Hitori. Mai sudah lama menaruh hati terhadap Hitori, namun Hitori hanya sibuk mengurusi perusahaannya.
Mai pun berniat jelek, dia menaruh obat tidur didalam minuman Hitori dan memberikan minuman itu kepada Hitori. Hitori yang tak curiga sedikitpun meneguk minuman itu hingga habis. dia tak memperhatikan Mai berbicara karena matanya sibuk mencari Oguri diantara tamu undangan lain.
Hitori pun terjatuh dan Mai mengatakan kalau Hitori mabuk dan dia menawarkan untuk mengantarkan Hitori ke Suitenya. Di dalam Suite, Mai mulai melepaskan kemeja Hitori. Mai menindih tubuh Hitori dengan tubuhnya, Mai pun menciumi bibir Hitori yang tak sadarkan diri.
Ketika aku kembali ke dalam ballroom, aku diberitahukan oleh Mr. Okuma bahwa Hitori-san mabuk dan sekarang sedang berada di Suitenya dengan Miss Mai Inaga. Perasaanku tak enak, Hitori-san bukanlah orang yang gampang mabuk atau suka minum hingga mabuk. Aku pun bergegas ke kamarnya.
Mai menciumi Hitori dengan ganas, dia termakan nafsunya sendiri, dia pun melepaskan ikat pinggang Hitori ketika Hitori siuman dan menahan tangannya. Mai pun terkejut.
Hitori membentaknya “Apa yang kamu lakukan MAI??!!”
Saat itulah aku membuka pintu kamar Hitori, mulutku ternganga menyaksikan adegan itu. Apa yang harus aku pikirkan ketika melihat Hitori-san sedang telanjang, well meski bukan telanjang bulat tapi faktanya dia disana, dan wanita itu berada diatasnya, dan jelas – jelas mereka habis berciuman. Begitulah menurutku.
Mataku nanar tak percaya apa yang aku lihat. Aku pun berbalik hendak pergi, Hitori-san berteriak memanggilku, namun Mai memegang tangannya. Di daun pintu aku bertabrakan dengan Takada Inaga, dia menopangku ketika aku hampir terjatuh. Hitori-san melihatnya, seolah Takada memelukku.
Aku pun pergi dari sana, Takada yang bingung kemudian melihat kedalam Suite dan memicingkan matanya ketika dia melihat adiknya bersama dengan Hitori-san. Takada kemudian mengejarku. Sedangkan Hitori-san berusaha melepaskan tangannya dari Mai. Karena Mai tak juga bergeming, dia pun menamparnya.
“Kalau terjadi apa-apa, aku tak akan memaafkanmu. Jangan pernah main-main denganku. Wanita murahan!!” hardik Hitori-san.
Hitori-san kemudian menyambar pakaiannya dan dengan cepat memakai kemejanya kembali. Dia mengejarku namun tak tahu harus mencari kemana.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.