"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 15, 2012

Third Drama - Chapter 13


Takada Inaga mengikuti langkah kaki ku. Entah apa yang dia inginkan, dia tak mendekatiku namun tak meninggalkanku. Akupun duduk dibangku ditrotoar, nafasku sesak, hatiku sakit.

Meski aku pernah mengatakan kepada Hitori-san agar dia tak berprasangka sendirian, namun ternyata ketika aku berada di posisi seperti ini, dengan mudah prasangka muncul dibenakku. Meski aku tahu Hitori-san tak mungkin melakukannya, tapi tak menjelaskan apa yang aku lihat tadi.

Takada mendekatiku, dia menyentuh pundakku, berharap bisa membantuku menenangkan hatiku. Meski Takada tak tahu apa yang sedang terjadi diantara adiknya, Hitori-san dan aku, dia tak bertanya dan hanya berdiri disana menyentuh pundakku. Aku pun menolak tawarannya untuk mengantarkanku pulang karena tak ingin menambah masalah.


Benar saja, Hitori-san sudah menungguku di depan pintu apartemenku. Dia terlihat berantakan, baru kali ini aku melihatnya seperti ini. Rambutnya acak-acakan, kemejanya tak terpasang rapi seperti biasanya. Hitori-san yang terkenal rapi, kini terlihat seperti pegawai kantoran yang sedang depresi karena baru saja dipecat dari pekerjaannya. Hitori-san menghisap rokoknya dengan tak sabaran, belasan puntung rokok terlihat disampingnya. Dia pun melihatku tiba dan langsung mematikan rokoknya.

“Oguri..” katanya dengan lemah.

Dia memandang wajahku. Mencoba menebak isi hatiku dengan membaca raut diwajahku. Mungkin Hitori-san lah yang paling sedih karena peristiwa ini. Aku kabur setelah melihatnya tanpa memberikan dia kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi. Aku melarikan diri karena takut apabila ternyata Hitori-san memang sengaja mengkhianatiku.

Aku tersenyum lemah, akupun memeluk Hitori-san dan menghiburnya. “Aku tahu. Maafkan aku karena pergi tanpa memberikanmu kesempatan untuk menjelaskannya” isakku.

Hitori-san kemudian memelukku lebih erat, dia mencium keningku dan meminta maaf dan berkata hal itu tak akan terjadi lagi. Keesokan harinya Hitori-san memutuskan hubungan bisnis dengan Perusahaan baja Inaga.

Mr. Takeshi Inaga pun berang dan memaki Hitori-san dan berkata akan menuntutnya karena telah melanggar kontrak kerjasama perusahaan. Media pers pun menyerbu Hitori-san ketika dia keluar dari gedung. Mereka membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pembatalan kontrak kerja dan rumor tentang hubungannya dengan Mai.

“Mr. Hitori, benarkah anda memiliki hubungan khusus dengan Miss Mai dari perusahaan Inaga?” “Katanya anda menghabiskan malam berdua dengan Miss Mai di Suite anda?” “Benarkah kalian akan melangsungkan pernikahan akhir tahun ini?” inilah beberapa pertanyaan yang dilontarkan wartawan kepada Hitori-san.

Saat itu aku berada disamping Hitori-san, dia mengajakku untuk pergi ke Odatte, agar terhindar dari wartawan dan mencegahku untuk membuat prasangka baru. Meskipun Hitori-san tak mengatakannya, aku tahu didalam hatinya dia sedang kesusahan.

Karena keputusannya menghentikan kontrak sebelah pihak, perusahaan baja Inaga menuntutnya dengan ganti rugi yang sangat tinggi. Belum lagi Mai Inaga yang sakit hati karena telah ditampar dan diancam oleh Hitori-san, tak heran Mr. Takeshi Inaga mengambil sikap keras kepada Hitori-san.

Hitori-san meninggalkanku di Odatte sendirian selama dua minggu lebih. Aku tak tahu apa yang terjadi di kota. Dia hanya menelphone ku minggu lalu dan menanyakan kabarku. Pelayan pun memanggilku ketika aku sedang memancing di danau didekat rumah dan mengatakan ada telphone untukku dari Hitori-san. Aku pun berlari untuk menerima telphone itu.

“Hitori-san, bagaimana kabarmu?” tanyaku.

“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” suara Hitori-san yang lembut menghangatkan jiwaku.

“Aku baik, kapan kamu akan ke Odatte? Aku merindukanmu. Disini sungguh sepi tanpamu” keluhku.

Hitori-san terdiam sebelum melanjutkan kata-katanya. “Aku menyuruh Mr. Okuma menjemputmu. Kita akan bepergian. Kau dan Aku”

Aku terkejut mendengarnya tapi aku tak menyembunyikan kegembiraanku. Hitori-san dan aku akan berlibur, untuk pertama kali nya pikirku. Kemanakah dia akan mengajakku, apakah ke Osaka? Tapi apa yang aku tahu tentang Osaka? Hanya berdua dengannya saja aku sudah senang. Senyumku mengembang memikirkan liburan kami nanti.

Mr. Okuma menjemputku ke Odatte dan kami pun langsung menuju bandara, disana aku tak menemukan Hitori-san, Mr. Okuma hanya memberikanku tiket pesawat menuju pulau Okinawa. Hitori-san sudah menungguku disana kata Mr. Okuma. Aku pun menaiki pesawat seorang diri, meski sedikit kecewa karena belum bisa bertemu dengan Hitori-san. Tapi kekecewaanku sirna seketika ketika melihat Hitori-san menjemputku di bandara pulau Okinawa.

Dia tetap menawan seperti biasanya, tapi raut kelelahan dan stres tak bisa dia tutupi dari wajahnya. Hitori-san lalu mengajakku ke sebuah resort pribadi di tepi pantai. Kawasan resort itu masih sepi, sejauh mata memandang hanya ada resort yang kami tempati, tak ada pelayan, hanya kami berdua. Jantungku berdebar lebih kencang membayangkan kami berdua menghabiskan waktu tak ada yang mengganggu.

“Kita akan tinggal disini selama seminggu, pelayan dua hari sekali datang kesini, jadi kita berdua saja” senyumnya.

Hitori-san lalu meraih pinggangku dan memberikanku ciuman terbaiknya. Kami berciuman lama sekali, hari sudah sore ketika aku tiba disana.

“Aku sangat merindukanmu Oguri” kata Hitori-san. Aku menangkap kesedihan didalam suaranya, seolah didalam hatinya dia sedang bertarung dan harus membuat keputusan yang akan dia sesali. Aku pun mencium bibir Hitori-san, mencoba untuk menghiburnya.

“Aku disini Hitori-san, bersama mu. Tak ada yang akan memisahkan kita, OK?” aku sunggingkan senyum termanisku untuknya. Hitori-san kemudian mencumbuku, dia membisikkan kata cinta di telingaku.

“Oguri-kun.. Apapun yang terjadi, kamu harus tahu, aku selalu mencintaimu. Hanya kamu.....”

Keesokan harinya kami bergandengan tangan di pantai, Hitori-san mendorong tubuhku ke dalam ombak, aku pun mencipratkan air laut kepadanya. Kami bermain di pantai sepanjang hari seperti remaja yang sedang kasmaran.

Hitori-san memasangkan cincin berlapis emas di jari tanganku. Dia pun memakai cincin yang serupa. Meski hubungan kami tak bisa diungkapkan kepada orang lain, tapi cincin inilah saksi cinta kami. Tanda bahwa kami saling memiliki, apalah artinya pengakuan dunia bila orang yang kucintai berada disisiku. Atau begitulah yang ku kira.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.