"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 15, 2012

Third Drama - Chapter 14


Sepulang dari liburan kami di resort, aku bekerja seperti biasa dikantor. Mr. Okuma kemudian menghubungiku dan mengajakku bertemu disebuah restaurant di pusat kota. Ketika aku tiba disana, Mr. Okuma ditemani oleh seorang laki-laki, dia mengenalkanku dengannya.

Nama nya Mr. Kaneda Ichigawa, seorang pengacara. Mr. Okuma memberitahukan kepadaku bahwa Hitori-san telah memindahkan hak milik rumahnya di Odatte atas nama ku, Hitori-san juga memberikanku sejumlah uang di Bank Central, jumlah yang membuatku kaget. Aku pun bertanya kepada Mr. Okuma.

“Kenapa Hitori-san memberikan semua ini kepadaku Mr. Okuma?” tanyaku.


Mr. Okuma pun menjawab “Hal itu saya kurang tahu Oguri-san. Saya hanya ditugaskan untuk menyerahkan tabungan atas nama anda dan memohon anda untuk menandatangani sertifikat hak milik atas rumah di Odatte. GM Hitori-san bersikeras anda harus menandatanganinya meski saya harus memaksa anda. Beliau ingin anda memilikinya, saya harap kerjasamanya. Beliau juga memberikan surat ini agar anda membacanya”

Aku pun kebingungan, ketika aku hubungi Hitori-san, dia tak mengangkat telphonenya. Mr. Okuma meyakinkanku bahwa dengan membaca surat itu semua akan menjadi lebih jelas. Aku pun membaca surat itu. Disana Hitori-san memberitahukanku, bahwa dia ingin memberikan rumah itu kepadaku.

Hitori-san juga ingin aku menggunakan uang yang dia sediakan di rekening Bank atas namaku. Tapi apa aku perlu uang sebanyak itu? Meski banyak pertanyaan dikepalaku karena desakan Mr. Okuma akupun menandatangani surat sertifikat rumah milik Hitori-san di Odatte.

Sejak saat itu Hitori-san tak pernah menghubungiku lagi, apakah dia sesibuk itu? Pikirku. Aku pun tak pernah melihatnya ikut rapat dewan direksi, telphonenya tak pernah diangkat. Mr. Okuma pun tak pernah muncul lagi. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Hitori-san.

Hari berganti minggu, hari-hari biasa dikantorku, dan belum juga ada kabar dari Hitori-san. Sudah dua minggu kami tak berhubungan sama sekali. Saat itu aku sedang mengetik laporan di mejaku, Manager Sato memanggilku kekantornya. Aku pun duduk di depan meja Manager Sato, menunggu instruksi darinya. Manager Sato memandangku dengan iba. Dia berkata dengan berat hati.

“Hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja disini Oguri-san. Perusahaan memutuskan tidak menggunakan tenagamu lagi. Kamu akan diberikan kompensasi untuk pemecatan ini” katanya lirih.

“Aku tak tahu apa yang sudah kamu lakukan hingga membuatmu dipecat, jadi jangan tanyakan kepadaku alasannya. Keputusan ini datang dari General Manager. Namun aku ragu kamu akan menemukan dia dikantornya. Mr. GM belakangan tidak pernah hadir didalam rapat. Aku dengar dia sedang mengurus pernikahannya dalam waktu dekat ini” lanjutnya.

Mendengar kabar diriku dipecat sudah hampir menghancurkan kewarasanku, kini aku mendengar Hitori-san akan menikah? Wajahku pucat pasi, seperti orang yang melihat hantu, keringat dingin menetes ditengkuk ku. Hitori-san tak pernah mengabariku, bahkan dia tak pernah memberikan sinyal jika dia akan menikah.

Lalu apa artinya liburan terakhir kami di pulau Okinawa? Apa artinya dia memberikanku cincin emas ini? Apa artinya dia memberikanku rumah nya di Odatte dan uang ditabungan? Langkahku pun linglung, aku tak mampu berpikir lagi. aku pun berlari menuju kantor Hitori-san. Hanya sekretarisnya saja yang menemuiku. Pintu kantornya tertutup rapat. Tak bisa kubuka.

Aku berteriak histeris disana memanggil-manggil namanya. Namun tak ada yang menjawab. Aku pun terduduk lemas putus asa. Hitori-san telah mencampakanku. Dia telah merenggut hidupku. Sungguh pengecut!!! Teriakku dan berlari meninggalkan gedung itu. Aku berjalan tanpa arah, layaknya layang-layang putus. Tanpa talinya dia tak berdaya, hanya mengikuti angin dan terhempas ditanah.

Bagaimana bisa Hitori-san begitu kejam padaku setelah apa yang kami lalui. Tak ada artinyakah hubungan kami? Hingga dia tega mencampakanku seperti ini. Layaknya mainan yang tak ada gunanya lagi. Setelah bosan dan dibuang seenaknya. Begitukah artiku untuknya? Semurah itukah nilaiku dimatanya. Tak adakah penjelasan kenapa dia melakukan ini kepadaku?

Mataku sembab dan membengkak karena menangis sepanjang hari. Air mataku habis tak tersisa. Aku tak bisa mengerti pikiran Hitori-san. Dia begitu menggebu-gebu mencintaiku, namun akhirnya seperti ini juga. Harga diriku hancur, apa yang harus aku lakukan setelah semua ini terjadi. Aku pun tak sadarkan diri ditanah lapang taman kota dekat apartemenku. Bulan dan bintang bersembunyi dibalik awan mendung langit malam, mengintip hatiku yang hancur berkeping-keping, berdarah dan membusuk...

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.