"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 15, 2012

Third Drama - Chapter 15


Sebulanan aku mengurung diri di dalam kamar apartemenku. Tak ada yang aku lakukan, telephone dari kakakku tak kuhiraukan. Berat badanku berkurang drastis. Diriku tak terurus. Hingga kakakku menengokku ke apartemen dan terkejut melihat keadaanku. Dia menanyakan apa yang terjadi padaku. Aku hanya menjawab bahwa aku dipecat dari perusahaanku. Dia pun menghela nafas dan menyuruhku untuk bangkit kembali. Masih banyak perusahaan lain yang akan menerimaku bekerja.

“Kamu punya skill dan ijazah, kenapa harus takut kekurangan pekerjaan?” katanya.

Kakakku pun membersihkan apartemenku, mencucikan pakaianku yang berserakan. Membukakan tirai kamarku yang tak pernah terbuka sebulanan ini. Dia menceramahiku karena berat badanku yang turun.


Kakakku pun memaksaku untuk makan meski aku tak berselera sama sekali. Karena kasihan melihat diriku yang depresi, kakak pun menyuruhku untuk pulang ke Chiba, untuk memikirkan masa depanku dikampung halamanku. Semoga suasana pedesaan mampu membuatku berpikiran terbuka dan melanjutkan hidupku. Dia pun membantuku membereskan pakaian dan barang-barangku.

“Aku hanya akan membawa pakaianku, barang-barang ini biarkan saja disini. Apartemen ini sudah aku sewa setahun dimuka. Jadi aku belum perlu memindahkan barang-barang ini” kataku.

Kakakku mengantarkanku ke bandara, pesawatku akan berangkat pukul tiga sore. Kami pun berpelukan sebelum berpisah.

“Jangan lupa makan yang banyak. Sebulan lagi aku akan pulang bersama Kenji dan Noriko. Kamu sudah harus seperti dulu lagi ya” harap kakakku.

Didalam pesawat aku memandang terakhir kalinya keluar. Kota Tokyo, mungkin aku tak akan menjejakkan kakiku disini untuk sementara waktu, untuk melupakanmu.. Dan aku pun tertidur didalam perjalanan.

Di sebuah kantor terlihat seseorang menghisap rokoknya dalam-dalam. Wajahnya kusut tak karuan, mata nya menatap tajam ke depan namun pandangannya kosong. Seolah nyawanya telah dicabut dan badannya hampa. Air mata pun mengalir dipelupuk matanya.

“Oguri.. maafkan aku” bisiknya.


~~~~~~~~~~~~~~~~


Sudah dua tahun sejak kepergianku dari Jepang. Sejak kepulanganku ke Chiba, aku tak pernah mencari-tahu kabar tentang Hitori-san lagi, namun aku dengar dia telah menikah dengan Mai Inaga.

Pernikahannya diliput televisi swasta dan beritanya menghiasi halaman depan koran-koran nasional. Mungkin saat ini mereka sudah memiliki anak, pikirku. Dan disinilah aku, Korea Selatan. Negara tetangga yang memberikan banyak kesempatan baru untukku.

Aku mendapat pekerjaan disini dua tahun lalu. Kini aku sudah menjadi Manager di sebuah hypermall di Seoul. Aku bertanggung jawab dibagian pengembangan dan bertugas menciptakan kreasi iklan baru untuk counter-counter di mall kami.

Meski awalnya bahasa Koreaku tidak terlalu fasih namun lambat laun aku mulai menguasainya dan bahkan aku belajar sedikit bahasa china untuk mengembangkan kemampuanku sehingga pasar china pun bisa aku rangkul. Selama dua tahun bekerja di Korea, aku sudah mendapatkan beberapa promosi jabatan. Sebagai Manager aku memperoleh fasilitas dari perusahaan berupa mobil pribadi. Sebuah sedan mewah, mulai aku pakai sejak setengah tahun lalu, yah aku baru diangkat menjadi Manager sejak setengah tahun lalu.

Orangtua ku pun gembira dengan karirku disini. Namun sudah dua tahun pula aku tak pulang ke Jepang. Orangtuaku selalu mengancam dengan bercanda bila aku tak pulang mereka akan pergi ke Korea dan menyeretku dari kantorku. Orangtuaku yang tak pernah tahu pesawat terbang, bahkan mereka belum pernah ke Tokyo, ibukota negara, bagaimana mungkin mereka pergi naik pesawat ke luar negeri. Aku tersenyum memikirkan keluguan mereka. Mungkin aku harus mengajak mereka untuk liburan ke Korea atau mengunjungi kota-kota besar di Jepang sekali-sekali.

Kedatangan anak buahku menghentikan lamunanku. Mereka baru saja pulang dari kantor. Kami berjanji untuk berkumpul di sebuah cafe untuk mengadakan rapat. Minggu depan kami akan berlibur ke sebuah villa diluar kota, untuk merayakan kesuksesan departemen kami dalam proyek kemarin. Direktur Won juga berencana untuk ikut serta namun nampaknya dia belum tiba. Aku pun melihat jam tanganku. Sudah pukul tujuh malam. Mungkin dia masih rapat dengan pemegang saham.

Direktur Won adalah atasan kami, dia anak bungsu pemilik perusahaan tempat kami bekerja. Sedangkan kakak laki-lakinya menjabat sebagai President Direktur dan ayahnya sebagai Chairman perusahaan. Direktur Won usianya hampir sama denganku, atau begitulah yang dia selalu bilang.

Tahun ini umurku sudah duapuluh enam tahun. Sudah bukan bocah ingusan lagi, pengalaman hidup membuatku lebih tegar. Tak ingin terkecoh lagi akupun menutup diri dan tak mencoba menjalin hubungan pribadi dengan siapapun. Banyak wanita ku tolak, atau mungkin karena seleraku sudah berbeda? Aku tak tertarik lagi pada wanita? Itukah alasannya?

Namun aku pun tak tertarik dengan laki-laki lain. Orang yang paling dekat denganku saat ini adalah Direktur Won, tapi aku hanya menganggapnya teman, dia pun begitu. Direktur Won adalah laki-laki normal. Dia sering berganti-ganti pasangan dan selalu membanggakannya didepan kami.

Direktur Won suka berkumpul dengan kami, mungkin itu karena sebelum dia menjadi Direktur, dia ditugaskan untuk bekerja di departemen ini. Waktu itu aku dan dia saling bersaing didalam pembuatan desain iklan, meski akhirnya kami berteman dan dia diangkat menjadi direktur.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.