"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 15, 2012

Third Drama - Chapter 16


Dibelakang sofa tempat Oguri dan anak buahnya berkumpul, seorang laki-laki mengangkat kepalanya ketika dia mendengar nama Oguri disebut. Dia pun mencari sumber suara itu.

Rombongan pekerja kantoran baru saja datang, empat orang wanita dan dua orang laki-laki. Mereka memanggil nama orang yang sedng duduk di sofa dibelakang tempat dia duduk. Posisi mereka berbalik sehingga dia tak bisa melihat wajah orang itu. Dia pun menjadi kaku dikursinya. Telinganya awas, mencoba menangkap kata-kata yang datang dari kelompok dibelakangya.

“Manager Oguri” panggil anak buahku. Aku pun menoleh dan melihat mereka.


“Oh kalian sudah datang, baguslah. Direktur Won nampaknya masih belum selesai rapat. Kita tunggu dia atau kalian sudah mau memesan makanan? Aku takut dia terlambat datang lagi” kataku.

Jun Yi pun menjawab, dia sekretarisku. “Kita pesan makanan saja dulu Manager Oguri, kami sudah kelaparan nih”

Anak buahku yang lain pun menyetujuinya. Aku pun tersenyum.

“Baik, baik. Kalian pesanlah dulu. Aku belum lapar, tadi aku lambat makan siang” kataku sembari mengalihkan pandanganku ke arah laptopku.

“Serius amat Manager, kamu sedang melihat apa?” tanya Sung Ryu, salah satu stafku.

Aku tersenyum dan kujawab “Ah tidak, aku sedang mengirim email kepada kakakku. Bulan depan aku akan pulang ke Jepang. orangtuaku sudah wanti-wanti kalau aku tak pulang lagi kali ini mereka akan menikahkanku dengan Suzue, perawan tua di kampung kami”

Anak buahku pun tertawa. “Siapa yang akan menikah?” Direktur Won datang dari arah belakangku dan langsung duduk disampingku mengambil posisiku sebelumnya. Dia merangkul pundakku dan mulai meledekku.

“Oguri? Kamu akan menikah? Kenapa tak menikah dengan wanita Korea saja? Siapa tahu kamu bisa menikah dengan dua orang sekaligus. Kan penggemarmu banyakk..” ledeknya sambil tertawa.

Anak buahku yang lain pun ikut tergelak karena tahu apa yang Direktur Won maksudkan untuk meledekku. Kami bertaruh ketika pergi ke bar dan siapa yang berhasil merayu seorang wanita dialah pemenangnnya. Aku sesumbar sanggup membawa dua orang wanita untuk minum bersama kami. Tapi waktu itu Direktur Won selangkah lebih maju dariku. Dia merayu wanita yang duduk disamping kami. Akupun kalah telak dan membayar bill minuman kami waktu itu. Bukannya aku mengeluh, it just a small money, tapi Direktur Won menceritakan hal itu kepada anak buahku dan membuatku menjadi bulan-bulanan.

Setelah direktur Won datang, kami pun mulai menyusun rencana berlibur kami. Seperti biasa, direktur Won akan menyusul ke villa dan tak bisa berangkat bersama kami dengan bus yang sama. Begitulah kalau menjadi atasan, waktu untuk bersenang-senang sangat terbatas. Tapi kami akan berlibur selama tiga hari dua malam di akhir pekan. Kami berangkat jumat pagi dari Seoul dengan memakan waktu tiga jam perjalanan ke villa. Villanya berada didaerah pegunungan yang sejuk. Biasanya menjadi tempat wisata utama pada musim liburan, tapi kali ini hanya kamilah yang menyewa villa disana sehingga suasananya akan tenang.

Rombongan kami pun berpisah setelah selesai makan malam bersama. Aku dan Direktur Won berbincang-bincang sambil menghisap rokok kami. Aku bukanlah perokok sebelumnya, namun sekarang aku merokok tidak kurang dari dua bungkus sehari. Meski aku tak benar-benar menghisap rokokku. Hanya kuhisap hingga setengah kemudian aku matikan.

“Kalau kamu tidak suka merokok kenapa kamu harus merokok?” tanya Direktur Won.

Aku pun mendengus. “Apa harus suka untuk bisa merokok? Aku merokok hanya untuk menghangatkan badanku. Tadi aku buru-buru, syal ku ketinggalan di kantor” kataku sambil memasukkan tanganku kedalam saku celanaku.

Direktur Won pun mematikan rokoknya dan mengalungkan syalnya ke leherku. “Pakai punyaku saja. Aku juga sudah mau pulang” katanya.

“Kamu naik apa kesini? Mau pulang denganku?” tanyanya lagi.

“Tak usah, aku bawa mobil kok. Kamu hati-hati dijalan” kataku.

Direktur Won pun berpamitan dan menghilang di ujung jalan dengan mobilnya. Sedangkan aku belum ingin pulang. Aku pun berjalan disepanjang blok dan berhenti untuk membeli keperluanku di sebuah mini market.

Aku membeli kurisan, beberapa cemilan dan selusin bir. Aku mulai terbiasa minum bir sejak tinggal di Korea. Namun aku belum berani meminum arak Korea terlalu banyak. Araknya cepat memabukkanku. Sambil menenteng kresek belanjaan dan tas kerjaku, aku pun menuju tempat parkir dan menaiki mobilku. Mataku sudah mengantuk ketika aku keluar dari area parkir.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.