"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 15, 2012

Third Drama - Chapter 17


Hitori tak menyangka akan pernah melihat Oguri lagi. Dia tak menyadari kedekatan mereka yang hanya beberapa senti. Duduk saling memunggungi dibatasi oleh punggung sofa. Hanya ketika nama Oguri disebutlah ketika Hitori mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakangnya dan menyadari orang yang ada dibelakngnya adalah Oguri, laki-laki yang dia campakkan dengan kejam, dia bahkan tak sanggup menatap mata Oguri dan menjelaskan langsung kepada Oguri kenapa dia melakukan ini.

Hitori takut apabila dia melihat Oguri, dia tak akan sanggup mengucapkan kata-kata itu. Dia tak sanggup melihat mata Oguri, dia tak sanggup melihat Oguri yang hancur, Oguri nya yang berharga, dia tak sanggup melihat Oguri-nya menangis. Karena dia harus mengambil keputusan itu untuk mencegah hancurnya perusahaan yang telah dibangun oleh keluarganya selama duapuluh tahun lebih.


Dia tak bisa mempertaruhkan itu semua, dan Oguripun menjadi korban ke-egoisan Hitori. Hitori tak bisa mencari jalan keluar lain selain menikahi Mai Inagi. Meski sejak pernikahan mereka, dia tak pernah menyentuh Mai, dia jijik melihat Mai. Terbayang ketika Mai mencoba menciumnya di Suitenya dan Hitori tak bisa melenyapkan kekesalannya terhadap Mai.

Hitori kini berada di Korea untuk melakukan perjalanan bisnis. Dia sudah berada di Korea selama beberapa hari, dan akan kembali ke Jepang esok lusa. Namun dia bertemu dengan Oguri, meski mereka tak saling pandang, tapi mengetahui Oguri berada sedekat itu dengannya memunculkan kembali kenangan-kenangan mereka bersama dulu.

Ketika mereka masih bersama, masih bahagia, ketika Oguri masih berada dalam pelukannya, senyumnya yang menggoda, badannya yang selalu membuat Hitori mabuk kepayang, halus kulitnya yang menempel ditubuh Hitori, bibirnya yang menjeratnya setiap bibir mereka bertemu.

Hitori merindukan itu semua, dadanya bergejolak, emosinya memuncak. Namun dia tak berani menunjukkan dirinya pada Oguri. Oguri pasti sangat membencinya, Oguri bahkan tak pernah kembali ke Odatte, kerumah tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama, rumah yang Hitori berikan kepada Oguri.

Tabungan yang dia berikan dulu pun tak pernah tersentuh sepeserpun. Oguri benar-benar tak ingin berhubungan dengan dia lagi. Oguri bahkan pergi ke Korea agar tak melihat Hitori lagi, namun disini mereka dipertemukan lagi oleh takdir.

Hitori menyimak setiap perkataan Oguri. Suara Oguri menggema didalam kepalanya. Kemudian Direktur Won datang dan merangkul Oguri, Hitori pun dilanda cemburu. Dia mengepalkan tinjunya dan rahangnya mengeras. Matanya menyipit, sorot matanya dingin. Nafasnya memburu. Namun dia menundukkan kepalanya. Dia hanya bisa memandang Oguri dari jauh ketika Direktur Won memasangkan syalnya dileher Oguri. Hitori tak tahan melihat hal itu dan terduduk lemas diseberang jalan tempat dia melihat Oguri dari jauh.

“Kamu sekarang merokok Oguri? Kamu bahkan minum bir?” kata Hitori lirih.

Hitori pun mengikuti mobil Oguri hingga mobilnya berhenti di kompleks apartemen tempat Oguri tinggal. Hitori mengutus anak buahnya untuk mencari tahu nomber kamar apartemen Oguri. Dan diapun kembali ke hotel tempatnya menginap dan terjaga semalaman memikirkan Oguri.

~~~~~~~~

Apartemenku yang lengang menyambut kepulanganku dengan dingin. Furniture dan alat-alat elektronik yang mengisi apartemenku seolah tak pernah tersentuh. Kuletakkan plastik belanjaanku diatas meja dan menjatuhkan pantatku diatas sofa kesayanganku. Hanya didalam apartemenku inilah aku bisa memperlihatkan sisi asliku.

Aku tak pernah mengajak teman kerjaku kesini, apartemenku adalah tempat pelarianku bila perasaanku gundah. Terkadang aku masih memikirkan Hitori-san dan hatiku sakit ketika mengingat kebersamaan kami dulu.

Aku telah mencoba untuk menjalin hubungan baru dengan wanita lain ataupun laki-laki lain yang pernah aku temui, namun hatiku tak pernah merasa lega dan bebanku terangkat. Hatiku sesak, bukan oleh asap rokok yang aku hirup dua tahun belakangan ini, bukan oleh alkohol yang memenuhi aliran darahku karena hampir setiap malam aku menengguk berkaleng-kaleng bir diteras jendela apartemenku.

Akhirnya aku menyadari, selama dua tahun di Korea, aku hanya melarikan diri dari kenyataan, karena hatiku masih di Jepang, di Tokyo, bersama dengannya, orang yang paling aku benci dalam hidupku. Aku tak tahu apakah akan pernah bertemu dengannya lagi. Aku selalu menghindar apabila perusahaan tempatku bekerja menugaskanku untuk melakukan perjalanan ke Tokyo untuk mewakili perusahaan kami, dengan alasan yang tak masuk akal namun aku berhasil berkelit setiap saat.

Aku tak ingin hidupku disia-siakan seperti ini, aku bertekad untuk memulai hidup baru ketika menapakkan kakiku di Korea Selatan. Ketika bekerja dan bepergian dengan rekan-rekan kerjaku, semua bebanku seolah terangkat, namun apabila aku kembali bergelut sendirian, semua beban itu seolah pulang kembali kerumahnya, kedalam pikiranku.

Aku tak sanggup melupakan kekecewaan yang Hitori-san berikan padaku, tak sanggup menerima perlakuannya yang kejam dan pengecut terhadap hubungan kami. Seolah hubungan ini tak berharga untuk diperjuangkan. Tapi apa yang aku harapkan, bukankah sedari awal aku sudah tahu dunia kami sungguh berbeda, ada garis-garis samar pembatas dunia kami yang telah aku langkahi.

Aku tak akan pernah mengerti jalan hidup dan pikiran orang-orang seperti Hitori-san. Mereka memiliki beban dan jalan hidup mereka sendiri. Namun, hati kecilku terluka karena merasa tak dianggap. Apabila kami benar-benar adalah partner, pasangan, apakah tak pantas untuk dilibatkan didalam hidupnya, apakah aku hanya peneman tidurnya, tempatnya memuaskan nafsunya?

Aku merasa jijik memikirkan hal itu. Aku laki-laki normal yang terjatuh dalam hubungan tragis ini. Orang-orang akan memandangku rendah dan mendiskriminasikanku apabila mereka tahu tentang hidupku ini. Dan itulah yang bersedia aku korbankan ketika aku menerima ciuman Hitori-san, ketika aku menyerahkan tubuh dan jiwaku kepadanya.

Namun itu tak ada harganya, hanya sebuah selingan dalam hidupnya. Dan mungkin akupun harus melihatnya seperti itu. Melepaskan masa laluku dan memulai hidupku dengan pikiran lebih terbuka dan penuh harapan baru. Aku berharap tak akan pernah melihatnya lagi, sehingga aku bisa melupakannya sepenuhnya..

10 comments:

  1. mba SHin,,lanjutannya pliiiiiiissssss.....~~~muka memelas--

    ReplyDelete
  2. mba shiinnn... aq setia mnunggu sambungan nya lho *puppyeyes

    ReplyDelete
  3. Jdi Πγª malah heteroseksual... Kasian dech Oguri...

    ReplyDelete
  4. wahhh,,, oguri jadi pisau ganda yah????? Aduhhh,, mana lanjutannya??? mau donkkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... lanjutannya masih di awan :muahahhaa:

      Delete
  5. Jangan kau php kan aku ya saudariku ..tks

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.