"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Third Drama - Chapter 4



Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri untuk membuat sarapan. Karena aku yakin aku tak akan sempat untuk makan ditempat kerja. Aku tak boleh pingsan dan menghancurkan acara ini. Dengan semangat baru aku pun berangkat. Aku menunggu bus kota datang mengantarkanku ke area gedung Dalto.

Bus berangkat pukul tujuh pagi dan kalau terlambat bangun, aku terpaksa menunggu bus sejam kemudian dan tentunya aku akan terlambat sampai dikantor. Untungnya hari ini karena perutku yang keroncongan, aku bangun pukul empat pagi.


Setelah briefing dikantor departemen ku, aku pun langsung menuju ke arah ballroom. Disana aku memberikan pengarahan kepada para pegawai dan memastikan semua berjalan sesuai rencana dan tak boleh meleset dari jadwal. Dan apabila ada masalah harus segera dilaporkan kepadaku. Kamipun membawa sebuah walkie-talkie untuk tiap orang.

Aku kembali mengecek persiapan dari depan hingga ke bagian belakang. Para penerima tamu dan valet parkir sudah siap, papan nama sudah dipasang, ucapan selamat sudah berdatangan dan di tata disepanjang pintu hotel dan jalan menuju ke arah ballroom. Dibagian dapur semua bekerja keras untuk menyajikan makanan tepat waktu. Persiapan pun sudah 100%. Ehm... 99%. Karena aku belum berganti pakaian. Setelah memastikan semua berjalan dengan baik, aku pun menyuruh pelayan untuk bersiap-siap. Kemudian Mr. Okuma menghampiriku dan tersenyum.

“Oguri-san. Apakah anda sudah siap? Kita akan menuju ruang ganti” kata Mr. Okuma.

“Iya, baik. Terimakasih Mr. Okuma” kataku.

Akupun mengikuti Mr. Okuma dari belakang. Dia mengantarkanku ke arah President Suite, begitulah yang tertera di pintu kamar hotel itu. Didalam kamar itu, Mr. Okuma menunjukkan pakaian yang akan aku pakai. Dia menyuruhku untuk mandi dan dia akan kembali untuk membantuku memakai pakaian itu.

Setelah Mr. Okuma keluar dari kamar itu, aku pun bersiap untuk mandi. Kamar mandinya sangat mewah, mungkin bermimpi pun aku tak pernah bisa mandi disini. Berjenis-jenis sabun dan parfum berjejer disana. Aku pun mandi dengan air shower dan mencuci rambutku. Hari ini harus sempurna pikirku.

Setelah mengeringkan badanku, aku pun keluar ke ruang tamu. Mr. Okuma belum kembali. Namun jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah empat. Sedangkan aku harus sudah berada di ballroom pukul empat. Tanpa menunggu Mr. Okuma, aku pun memakai pakaian itu. Apa susahnya pikirku, semua pakaian semestinya sama saja.

Ketika aku hendak memasang dasi kupu-kupu, pintu kamar itu pun terbuka. Aku menoleh, berharap Mr. Okuma yang datang. Namun GM lah yang datang dan memandangku. GM sudah berpakaian lengkap, dia tampak menawan dan berkharisma dalam setelan jasnya. Dia mengamatiku dengan seksama. Aku berharap Mr. Okuma tidak salah menempatkanku dikamar ini. Karena nampaknya kamar ini adalah milik GM. Aku pun menelan ludahku karena gugup. GM berjalan mendekatiku. Tanganku kaku di udara. Kemeja ku belum terkancing sepenuhnya, ikat pinggangku masih terkulai diatas meja.

GM kemudian berhenti didepanku. Dia memandangiku dari kepala hingga ke ujung kakiku. Aku seolah-olah ditelanjangi. Ketika aku hendak membuka mulutku untuk berkata, GM bergerak kebelakangku dan membantuku memasang dasi kupu-kupuku. Kemudian masih dari belakangku, dia meraih kancing-kancing kemejaku dan mengancingkannya untukku.

Jantungku berdebar kencang, tak tahu apa yang sedang terjadi. GM pun mengancingkan kemejaku hingga yang terakhir. Dia kemudian memasukkan kemejaku kedalam celana panjangku tanpa berkata apa-apa. Aku hanya terdiam tak tahu harus berbuat apa. Dia mengambil ikat pinggangku dan memakaikannya untukku.

Ketika dia hendak mengambilkan rompi untukku, aku menyelanya dan mengatakan aku akan berpakaian sendiri. Dia memandang ku dengan tajam. Matanya mengatakan dia tidak setuju dengan hal itu. Aku pun terdiam dan membiarkannya memakaikannku rompi dan jas ku. Pakaian kami ternyata sama kompak. Dia memasangkan sapu tangan di kantong jas ku.

GM berdiri didepanku, badannya yang jangkung melampauiku. Aku hanya setinggi pundaknya. Sungguh mengkerdilkanku. Aku tiba-tiba merasa seperti anak kecil. GM juga menyisirkan rambutku, seperti seorang ayah yang menyisirkan rambut anaknya, pikirku. GM kemudian mengamatiku. Dia berkata “Tinggal sepatumu saja. Dan kita siap menuju ballroom”

Aku pun bergegas memakai sepatuku. Namun ternyata sepatunya pun sudah disediakan. Dan tak heran kalau sepatunya sama dengan GM. Aku hanya berharap tak ada yang akan mengira aku sengaja menyamakan diriku dengan GM dan berpikir aku tak sopan karena pegawai sepertiku mencoba untuk menyamakan dirinya dengan orang sekelas GM.

Ketika kami hendak keluar kamar, kakak perempuan GM dan suaminya datang bertamu. Kakaknya cantik, tinggi langsing seperti model. Meski sudah berusia hampir empat puluh tahun, dia masih terlihat menawan. Gaun malam merahnya melekat indah di tubuhnya yang elok. Lengan suaminya menggelung dipinggangnya. Kakaknya pun berkata menggoda adiknya.

“Wah..wah.. sungguh ganteng sekali adikku ini. Pasti semua mata wanita akan tertuju padamu malam ini”

Suami kakaknya hanya tertawa menyetujui perkataan istrinya. Kakak Gm pun melanjutkan perkataannya setelah dia melihat ku berdiri disamping GM.

“Siapakah ini? Cantik sekali. Upss... maaf.. aku mengiramu wanita. Tapi kamu memang cantik.. handsome pretty boy” katanya sambil mencium pipi ku.

Wajahku pun menjadi merah padam karena tersipu malu. Bukannya aku tak pernah berciuman, ciuman pertamaku dengan mantan pacarku dulu di SMU, tapi dia hanyalah anak SMP yang masih malu-malu kucing. Ciuman kami hanya beberapa detik tempelan bibir. Beda dengan ciuman kakak GM, dia adalah wanita dewasa yang menawan. Dari melihat penampilannya saja dia bisa membangkitkan gairah lelaki normal. Apalagi aku yang masih terhitung anak ingusan.

Namun GM tak membiarkanku berlama-lama dengan khayalanku. Dia menyela kakaknya dengan tak sabaran.

“Jangan kamu ganggu dia. Perkenalkan, dia lah yang akan bertanggungjawab atas acara kita malam ini. Dia lah yang akan mengatur semuanya sehingga acara ini bisa sukses dan tanpa masalah. Benar kan Oguri-san?” kata GM.

Namun tak sempat menjawab, kakak GM lebih dahulu memegang pundakku. Kakak GM yang belakangan kuketahui namanya adalah Mrs. Naomi Harada dan suaminya bernama Mr. Takumi Harada.

Mrs. Naomi berkata kepadaku “Oh... ic... Kalau begitu, mohon bantuannya ya Oguri-san.” Diapun tersenyum manis kepadaku.

Aku hanya bisa mengangguk terpana dengan senyumannya. Namun kemudian aku sadar dan aku menjawabnya “Iya, baik. Mrs. Saya akan lakukan yang terbaik yang saya bisa”


Ketika nampaknya Mrs. Dan Mr. Harada ingin mengobrol empat mata dengan GM, akupun berpamitan dan bergegas ke ballroom sendirian. Ketika aku menutup pintu President Suite itu, aku menoleh ke dalam sekilas dan melihat GM memandangiku dengan penuh makna. Jantungku berdebar kencang melihat sorot matanya.    

2 comments:

  1. mba shin jangan bilang kalo GM nya itu gay?

    ReplyDelete
    Replies
    1. awalnya sih enggak, dia cuman doyan ama Oguri aja kok lol...

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.