"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Third Drama - Chapter 5



Sudah pukul setengah lima ketika aku sampai di ballroom. Pelayan – pelayan sudah berbaris dan bersiap menyambut tamu. Hidangan telah disiapkan, bartender telah menyajikan minuman. Gelas-gelas sampanye sudah bertumpuk-tumpuk membentuk piramida. Sampanye dituangkan membentuk pancuran cairan berwarna keemasan.

Beberapa tamu undangan telah tiba dan sedang mengagumi ruangan dan riasan ballroom. Pemusik sudah memainkan lagu mereka, dan aku pun beranjak ke depan pintu penyambutan. Satu per satu para tamu undangan aku hantarkan ke dalam ballroom.


Terlihat mobil-mobil mewah berderet menunggu giliran untuk menurunkan penumpangnya di depan pintu masuk hotel. Bergantian pasangan-pasangan tampan dan cantik dengan penampilan yang elegan memasuki hotel. Dengan wajah yang ceria mereka memasuki ballroom, semoga menjadi awal kelancaran acara ini. Setelah tamu terakhir tiba, aku pun menuju ballroom.

Disana aku melihat GM dan keluarganya sedang berbincang-bincang dengan para undangan lain. Acara ini dihadiri oleh para pengusahawan, selebritis, pejabat pemerintahan hingga tamu dari negara asing. Aku pun berkoordinasi dengan supervisor yang mengawasi jalannya acara. Semua terkendali kata mereka.

Musik pun dimainkan berbeda ketika pasangan yang bertunangan malam ini memasuki ruangan. Nampak pasangan wanita sangat bahagia dan senyuman tak lepas dari wajahnya. Sedangkan sang pria menggamit lengannya dengan mantap menuntun ke arah meja utama tempat dimana akan diresmikannya pertunangan mereka itu.

Ketika mereka telah tiba dimeja, semua hadirin pun bertepuk tangan meriah. Acara pertunangan itu berjalan dengan lancar. Sekarang saatnya mengeluarkan hidangan untuk disajikan kehadapan tamu. Aku pun memeriksa kekurangan yang mungkin ada dan mengawasi setiap makanan yang disajikan dan mencoba berkomunikasi dengan undangan yang ada.

Mereka puas dengan pelayanan yang hotel berikan dan aku sangat senang mendengar komentar mereka. Tanpa aku sadari, sepasang mata terus mengawasi gerak-gerikku hingga aku keluar ke dapur untuk mencari segelas kopi. Sudah jam sepuluh lebih ketika itu, karena bekerja lembur selama hampir dua minggu, aku tak sempat tidur dengan lelap. Mata ku pun hampir tak kuat untuk terbuka.

Koki di dapur berbaik hati menawarkan ku dessert untuk peneman kopi ku. Ketika hendak meminum kopi ku, GM memanggilku, aku pun tersedak. Kenapa orang ini senang sekali memanggilku dari belakang, pikirku menggerutu. Nampaknya dia tak sadar dia telah membuatku tersedak, karena dia langsung menyuruhku untuk mengantarkan tamu-tamu yang hendak berpamitan.

Aku pun segera menuju ke ballroom. Para tamu undangan sudah beranjak pergi, aku berusaha memberikan senyum terbaikku dan mengucapkan selamat jalan kepada para tamu undangan. Ketika sejam kemudian akhirnya semua tamu sudah pergi, barulah kemudian aku bernafas lega.

Para pelayan pun membereskan dan membersihkan ballroom. Dan pekerjaanku pun selesai, pikirku. Esok adalah hari minggu sehingga aku dapat bersantai dan tidur seharian mengembalikan tenagaku. Tapi apa daya bila kemudian ternyata Mr. Okuma memanggilku dan menyuruhku menemui GM di President Suitenya.

Aku ragu dia akan membiarkanku libur esok hari dan mungkin malah menyuruhku bekerja hingga esok pagi. Bukannya aku mengeluh, pikirku tak berdaya. Dengan langkah terseret aku menaiki lift menuju lantai tigapuluh, tempat President Suite berada. Aku berpikir apakah GM tinggal disini, aku mengira dia memiliki rumahnya ditempat lain. Namun rupanya dia memang tinggal di dalam Hotel.

Di depan pintu President Suite, aku menghela nafas. Aku bahkan belum sempat mengisi perutku. Jika seperti ini terus aku akan sekering tiang listrik pikirku. Aku pun memencet bell kamar President Suite itu. Pintu pun terbuka dan GM membukakan pintu untukku.

Dia telah melepaskan jas dan dasinya. Hanya rompinya yang telah terbuka dan beberapa kancing kemejanya yang memperlihatkan dadanya dengan lebar. Mataku pun otomatis melihat ke arah sana, karena GM lebih tinggi dariku, aku pun mendongak untuk melihatnya. Dia menyuruhku masuk. Aku pun mengikutinya, dia menjatuhkan dirinya diatas sofa dengan santai.

Di meja sebotol wine telah terbuka dan ada dua gelas disana. Yang satu berisi setengah dan yang satunya kosong, nampaknya dia menunggu seseorang. Akukah? Tebakku. Dia melihatku, mengamatiku tepatnya. Dia kemudian menyuruhku duduk.

“Duduklah. Temani aku minum” katanya sembari menuangkan wine kedalam gelas didepanku.

Dia pun memaksaku untuk meminum wine itu. Aku bukanlah orang yang terbiasa dengan wine atau minuman beralkohol lain. Aku meminumnya seperti minum teh dan akupun tersedak. Alkoholnya masuk ke hidungku dan membuat mataku berair.

Dia pun tertawa. Pertama kalinya aku melihatnya tertawa, karena selama ini dia hanya terlihat dingin dengan mata nya yang tajam dan selalu mengamati orang dengan sinis. Atau begitukah menurutku?.

“Pelan-pelan. Ini bukah teh” ledeknya kepadaku.

Aku pun menjadi salah tingkah dan muka ku memerah karena malu. Dia tersenyum. “Acara malam ini lancar dan sukses, berkatmu. Semua undangan tak ada yang mengeluh dan keluarga kakak iparku sungguh senang. Mereka mungkin akan mengadakan pernikahannya disini meski sebelumnya mereka berencana menikah di hotel lain” pujinya.

“Ini semua adalah kerja keras para pegawai. Aku datang dua hari sebelum acara ini dilaksanakan dan ketika aku datang semua sudah berjalan 90%, jadi aku tidak tepat mendapat pujian ini” bantahku.

“Namun begitu, kamu telah bekerja keras. Terimakasih” katanya lagi.

Tak ingin berdebat, akupun mengangguk dan memberi hormat. Ketika tak ada yang berbicara lagi, akupun menjadi kikuk. GM memandangiku tanpa kedip. Akupun tak berani membalas tatapan matanya. Karena salah tingkah, akupun menegak minumanku dengan tergesa-geasa. Aku tersedak lagi. Kali ini aku menumpahkan isi gelasku pada kemejaku. Aku berpikir kali ini celakalah aku.

Pakaian ini tak boleh aku kotori, jika terkena wine pasti akan berbekas. Dan benarlah kemeja putihku pun berubah menjadi merah, rompi dan jas ku pun berbekas. Dada dan perutku terasa dingin terkena cairan wine dingin itu. Badanku merosot di sofa, aku pun membuka jas dan rompiku agar tak terlalu kotor. Ketika aku teringat aku masih didalam Suite bersama GM, aku pun salah tingkah dan meminta maaf karena sudah mengotori pakaian yang dipinjamkan untukku.

Ketika aku memandang GM, aku tak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Matanya tak terbaca, ekspresinya kaku, mulutnya terkatup, seolah dia sedang menahan emosinya agar tak meluap keluar. Aku bertanya dalam hati, apakah dia semarah itu karena aku menumpahkan minumanku?

Kemudian akupun melihat ke lantai, ternyata karpetpun terkena tumpahan wine ku. Aku pun menjadi panik, tak heran GM menjadi marah. Aku pun berdiri dan mencoba membersihkan karpet dengan tissue, pekerjaan yang sia-sia menurutku, tapi aku tak tahu harus bagaimana pada saat keadaan seperti ini. Karpet ini pasti sangat mahal harganya, apakah aku akan sanggup mengganti ruginya, keluhku lagi.

Mungkin kesal karena perbuatanku, GM pun berdiri dan menghampiriku, dia menarik tanganku hingga aku berdiri, dan tanpa kusadari bibirku telah diciumnya. Aku kaget setengah mati. Beberapa saat pikiranku kacau, aku tak bisa berpikir, aku tak bisa memilah apa yang sedang terjadi.

Aku hanya terfokus pada efek ciuman GM pada mulutku. Bibirku panas dilumatnya, badanku meleleh, kakiku tak kuat menopang badanku yang lemas. GM pun memelukku dengan erat, dia tak melepaskan ciumannya di bibirku, lidahnya bermain didalam mulutku, matanya terpejam dan anehnya akupun ikut memejamkan mataku.

Badanku kemudian terasa panas, seolah aliran listrik mengaliri tubuhhku, detak jantungku kencang, akupun membalas ciuman GM. Gairah yang panas membuat nafas kami terengah-engah. Ketika GM melepaskan ciumannya dari bibirku, matanya merah seolah darah memenuhi bola matanya. Dia pun melepaskan pelukannya dari tubuhku. Seketika itu juga dia berteriak menyuruhku keluar dari Suitenya.

Akupun tersadar dari sensasi itu. Aku kesal, malu dan tak berdaya. Lebih karena reaksiku terhadap ciuman GM. Aku pun keluar dari sana tanpa berkata apa-apa. Pakaianku masih tersimpan di kamar GM, mungkin aku tak akan mengambilnya lagi. Karena aku yakin setelah ini aku pasti dipecat.

Tapi bukan itu yang aku khawatirkan saat ini. Sudah pukul satu pagi ketika aku duduk didalam taksi menuju apartemenku. Bus terakhir telah pergi pukul sebelas malam tadi. Aku tak percaya aku bereaksi terhadap ciuman GM. Tidak, terhadap laki-laki. Apa??!! Aku pun menepis pikiranku. Aku masih normal ketusku.

Sesampainya di apartemen, aku membersihkan badanku dibawah shower, akupun mencuci rambutku, tak ingin kenangan tadi malam membekas dalam pikiranku.


Tapi kemudian aku menyentuh bibirku, masih teringat bagaimana hangatnya ciuman GM hingga berubah menjadi ciuman yang panas, bagaimana gairah kami mengalir dan membakar jiwa kami. Aku menolak mengakuinya, tapi jauh didalam hatiku aku menikmati ciuman kami tadi. Dan aku berkata sembari memandang bayanganku di cermin “Kamu GILA Oguri!!”

5 comments:

  1. Replies
    1. lol. i still have some more chapters in my documents. but now i'm focusing on put pictures on my other dramas. maybe you want to check older dramas too before reading the next chapter of this. though this story not finish yet too

      Delete
  2. Replies
    1. no.. it's yaoi.. lol.. bedanya apa coba ^__^

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.