"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Third Drama - Chapter 6



Sepanjang malam aku tak bisa terlelap, wajah GM membayangi pelupuk mataku. Aku pun bingung bagaimana harus menghadapinya nanti ditempat kerja. Atau mungkin aku akan cukup beruntung tak bertemu dengannya sehingga aku bisa melanjutkan pekerjaanku seperti biasa. Dengan pikiran itu akupun terlelap.

Keesokan harinya ketika membuka mata, matahari telah terik menandakan hari sudah siang. Aku terbangun dengan badan lemas, nafasku tak karuan. Kuperiksa suhu tubuhku, 39 derajat. Aku demam. Akupun bergelung seharian didalam selimutku. Aku hanya minum pocari sweat untuk menjaga tubuhku tak dehidrasi.


Ketika hari sudah malam, barulah badanku sanggup berdiri untuk memasak bubur. Aku meminum beberapa obat sekaligus, agar badanku cepat sembuh pikirku. Meski demikian, keesokan harinya badanku tetap payah seperti sebelumnya.

Namun aku tetap bekerja meski pakaianku berlapis-lapis karena demamku tak kunjung turun. Manager Sato melihatku dan menyuruhku untuk izin pulang, namun aku bersikeras untuk tetap tinggal karena sebentar lagi rapat pengumuman hasil iklan otomotif akan dilangsungkan. Manager Sato pun berkata dia yang akan mewakilkanku disana jadi aku tak perlu khawatir. Meski demikian aku tetap tak mau pulang, sehingga dia menyuruhku untuk beristirahat di klinik perusahaan di lantai lima.

Aku pun menuju kesana, dokter yang bertugas memeriksa suhu badanku dan membaringkanku diatas ranjang praktek, dia memasang infus untukku dan memberikan suntikan vitamin dan antibiotik. Aku hanya meringis karena jarumnya membuatku bergidik.

Dokter lalu menyuruhku istirahat, karena klinik terbuka 24 jam untuk karyawan, aku tak perlu khawatir sehingga bisa beristirahat lebih lama. Akupun memejamkan mataku setelah meminum obat yang diberikan dokter. Obatnya membuatku mengantuk.

Sementara itu di ruang rapat, dewan direksi mengumumkan ide iklan yang terpilih untuk dipakai menjadi thema otomotif ulangtahun ke-empat kali ini. Dan tak disangka ide iklan kreasi Oguri terpilih menjadi pemenangnya. Manager Sato pun berdiri dan mengucapkan terimakasih atas nama Oguri. GM yang sengaja tak memperhatikan jalannya rapat pun bertanya mengapa Manager Sato yang mewakilkan.

“Kenapa Manager Sato yang berdiri. Kemana Oguri? Apakah dia tidak bekerja hari ini? Aku tahu dia kemarin sabtu bekerja lembur, tapi itu tidak boleh menjadi alasan pegawai untuk tidak disiplin!!” bentak GM.

Manager Sato pun menjawab dengan tergagap “M..ma.aaf GM-san, O..oguri sekarang sedang beristirahat di klinik, dia sebenarnya sedang demam tinggi tapi memaksa untuk bekerja, saya kasihan melihatnya, jadi saya menyuruhnya pulang, tapi dia bersikeras, sehingga sa..saya terpaksa menyuruhnya untuk dirawat di klinik saja. Dia tidak membolos”

GM pun terkejut dan berdiri meninggalkan ruang rapat. Sekretarisnya membuntutinya dari belakang. GM lalu menyuruh sekretarisnya untuk melakukan beberapa pekerjaan dan meninggalkannya sendirian di koridor. GM lalu berbalik ke arah lift dan masuk kedalamnya. Dia kemudian memencet tombol turun ke lantai 5. Tempat dimana klinik karyawan berada.

Klinik saat itu sedang sepi, hanya ada seorang perawat yang sedang sibuk didepan komputer memasukkan pembukuan. GM pun melewatinya tanpa suara. Dia kemudian menghampiri ruangan tempat pasien istirahat, mencari Oguri. GM menemukan Oguri sedang tertidur diruangan tiga. Dia pun mendekatinya. Matanya menyipit ketika melihat infus mengalir lewat tangan Oguri dan tampak ekspresi menyesal diwajahnya. Apakah dia menyesal atas sikapnya terhadap Oguri sabtu malam itu? Hanya dia yang tahu.

GM kemudian mengambil sebuah kursi dan duduk disamping Oguri. Dia memperhatikan wajah Oguri yang sedang tertidur. Wajah Oguri pucat, putih seperti tak ada darah mengalir diwajahnya. GM kemudian membelai wajah Oguri, dia menyadari badan Oguri panas sekali. GM pun menghela nafas. Wajahnya berubah menjadi lembut, seolah tak berdaya. Dia pun berbisik ditelinga Oguri.

“Maafkan aku, aku berharap kejadian kemarin tidak berakhir seperti itu” GM pun berdiri. Dia membelai rambut Oguri sebelum meninggalkan tempat itu.


Oguri terbangun lima jam kemudian, panasnya sudah turun menjadi 37 derajat. Dokter pun memeriksanya dan mengatakan dia sudah boleh pulang. Dia perlu beristirahat minimal sehari, namun Oguri berkata dia baik-baik saja. Dokter pun tersenyum dan menyuruhnya untuk menjaga makanannya. Oguri kemudian keluar setelah berterimakasih kepada dokter dan perawat diklinik.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.