"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Third Drama - Chapter 7



Setelah baikan, aku kembali ke kantorku. Aku disambut oleh teman-temanku, iklan buatanku dipilih untuk menjadi thema ulangtahun otomotif. Aku sangat gembira. Itu berarti kami bisa mendapat bonus dan jalan-jalan ke Osaka.

Namun tentu nya aku harus bertanggung jawab terhadap iklanku. Aku harus mewujudkannya dulu baru kemudian aku bisa menikmati liburanku nanti. Aku pun tersenyum dan bersiap-siap untuk pulang bersama dengan yang lain.

Tetapi teman kerjaku tak ingin membiarkanku pulang tanpa merayakan kegembiraan itu. Mereka menodongku untuk mentraktir mereka makan malam dan karaoke. Sudah tradisi kalau seseorang mendapat promosi atau proyek dia harus mentraktir yang lain. Namun Manager Sato membelaku dan mengatakan aku harus beristirahat karena sedang sakit.


Aku hanya tersenyum, tak mau menghancurkan suasana akupun mengiyakan dan mentraktir mereka sepuasnya. Meski badanku masih lemas, tapi perutku memaksa untuk diisi, jadi aku cukup makan saja agar badanku cepat pulih kembali.

Didepan pintu restoran, aku merasa ada orang mengikuti dan mengawasiku. Tapi ketika aku menoleh kebelakang aku tak melihat siapa-siapa. Aneh, pikirku. Kemudian aku pun masuk dan melupakan hal ini. Sementara itu, seorang laki-laki membuang puntung rokoknya lalu menginjaknya dengan sepatunya. Dia kemudian masuk kedalam mobil dibagian penumpang dan mobil itu meluncur menjauh ditengah jalan raya kota.

Ketika teman-temanku asyik berkaraoke, akupun tertidur. Demam ku belum pulih benar, jadi badanku protes agar aku beristirahat lebih banyak. Ketika aku terbangun, aku sudah berada dikamarku. Sepatuku sudah dilepas, aku hanya memakai kemeja dan celana panjangku.

Namun aku bingung, bagaimana mungkin aku bisa pulang kerumah sendiri. Apakah teman-temanku yang mengantarkanku? Aku pun keluar ke arah ruang tamu. Aku melihat jam dinding, sudah pukul dua pagi. Tapi televisiku tampak menyala.

Ada seseorang yang sedang menonton? Tapi siapa? Orang yang mengantarku? Atau perampok?? Aku pun menjadi takut. Namun aku tak menyangka akan menemukan GM sedang tertidur disofa ruang tamuku. Aku hanya bisa termangu, bagaimana mungkin GM ada dirumahku? Sedang tidur di ruang tamuku? Apakah dia yang mengantarkanku pulang? Tapi bagaimana dia bisa menemukanku? Bagaimana dia tahu rumahku?

Saat pikiranku berkecamuk, GM pun terbangun. Dia melihatku termangu, dan dia tersenyum. Tersenyum?? Kenapa dia harus tersenyum setelah apa yang terjadi lusa kemarin??

Aku pun bertanya kepadanya “Apa yang anda lakukan disini?”

Ketika mulutku hendak bertanya lebih banyak lagi, dia berdiri dan menutup mulutku dengan tangannya.

“Duduklah. Bagaimana mungkin orang sesakit kamu punya tenaga untuk berpikir sebanyak itu? Dari wajahmu aku sudah tahu apa yang akan kamu tanyakan. Jadi tak usah membuang energimu. Aku akan jawab semuanya. Nanti.” Katanya.

Aku protes, namun tangannya tak juga mau melepaskanku. Oke, mungkin aku tak selemah ini biasanya, namun karena badanku masih demam, aku tak berdaya melawan tenaganya. Dia menguasaiku, seolah aku hanya anak kecil yang merengek meminta dilepas, tak ada tenaga sama sekali. Tahu bahwa aku tak akan menang melawannya, akupun diam tak melawan lagi. Dia kemudian tersenyum dan melepas tangannya dari mulutku.

“Nah, kalau begini kan bagus” senyumnya lagi.

“What do you want? I don’t understand with you. Why do you have to do this to me? What did i do wrong to you?” semburku.

GM kaget dengan pertanyaanku yang keluar tak terbendung. Namun tahu tak bisa berkelit lagi, dia pun akhirnya menjawab pertanyaanku.

“I followed you. Yes, to the restaurant, to the karaoke. When you’re falling to sleep I brought you home. I unlock the door with your key. I put you on the bed. I open your shoes and clothes so you can sleep comfortly” dia kemudian menghela nafas dan melanjutkan kata-katanya.

“Kamu tidak salah, akulah yang salah. Aku lah yang bodoh. Kamu bertanya apa yang aku inginkan?? Aku jawab, I want You!!” tegasnya.

Aku terkejut. Bingung dengan perkataannya. Kenapa dia inginkan aku? Tapi sebelum aku sempat bertanya, dia telah menjawabnya untukku. Dia bisa membaca raut wajahku rupanya.

“Kenapa aku inginkan kamu? Karena sejak pertama aku melihatmu aku tak bisa melenyapkanmu dari pikiranku tapi ternyata kamu datang bekerja di Dalto. Aku sudah coba untuk menghindarimu, bersikap dingin padamu dan mencoba untuk membencimu. Tapi malah aku semakin terjatuh. Malam itu aku tak bisa bertahan lagi, aku pun bertindak kelewatan”

“Kamu tahu, aku bukanlah orang aneh. Aku suka wanita jika itu yang kamu tanyakan. Karena itulah aku menjadi marah ketika ternyata aku menciummu, aku ingin saat itu juga menguasaimu, merengkuh tubuhmu dan merasakan tubuhmu menempel ditubuhku”

“Kamu tahu bagaimana bencinya aku pada diriku setelah aku malah membentak dan mengusirmu? Kemudian aku tahu bahwa kamu sakit?? Aku menyakiti diriku sendiri ketika mengusirmu”

”Dan ternyata aku tak sanggup menghapusmu. Aku perduli padamu. Aku ingin didekatmu. Meski pun mungkin kamu sekarang membenciku, tak apa. Asal kamu tak apa-apa. Asal kamu tak sakit. Melihatmu saja aku sudah senang” GM mengakhiri kata-katanya dan beranjak untuk pergi.

Aku hanya terdiam mengartikan kata-katanya. Hingga dia keluar dari pintu apartemenku aku tetap tak bergeming. Otakku tiba-tiba menjadi korslet, tak mampu berpikir rasional. Tapi apakah perlu pikiran rasional untuk mengetahui jawabannya? Atau apakah memang perlu jawaban ketika yang kamu perlukan hanya menerima?

Aku tak tahu apa yang aku rasakan saat ini, aku tak tahu apa yang aku rasakan untuk GM, aku bahkan tidak tahu siapa nama GM, tapi aku tahu, aku juga menginginkannya, aku juga memikirkannya, dan bodoh bila aku melepaskannya sekarang, karena aku akan menyesal esok. Aku tak perduli apa yang akan terjadi esok, aku tak perduli akan kemana dia membawaku, tapi sekarang.. aku ingin dia disini, bersamaku. Dan aku pun mengejarnya, berharap dia belum pergi jauh meninggalkanku.


Aku berlari menyusuri koridor apartemen, lift pun tak bisa dipakai. Aku beralih turun menuju tangga. Nafasku hampir putus ketika aku mencapai lantai dasar. Ketika dia menuju mobilnya dan lenyap sebelum aku sempat memanggil namanya.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.