"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Third Drama - Chapter 8



“GMMMM!!!!” teriakku. Namun dia sudah pergi, dan aku terduduk lemas disini, memegang dadaku yang kesakitan, nafasku tak beraturan. Kepalaku serasa akan meledak, panas, keringat dingin mengaliri tubuhku, mataku berkunang-kunang.

Hatiku sakit, aku terlambat. Dan tangisku pun jatuh. Aku bersender didinding masih memegangi dadaku, ketika dari samping ada yang menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Kami pun saling bertatapan mata. Tak hanya mataku, matanya pun buram berisikan air mata.

“Oguri...” katanya.

Dan dia pun menciumku dengan mesra. Dia memelukku dengan erat, tak ingin melepaskanku lagi. Aku pun tak ingin melepaskannya, kini kusadari..

“I want you too GM”


GM memandang mataku dengan bahagia, sambil merengkuh wajahku dia berkata pelan.

“Aku kira kamu tak akan mengejarku, hatiku hancur. Namun keluar dari lift aku melihatmu meneriakkan namaku. Ah tidak, itu bahkan bukan nama ku, tapi aku tahu, kamu memanggilku” dia pun tersenyum.

“Aku pun tak sabar ingin memelukmu, merengkuhmu dan mengatakan bahwa aku masih disini, aku ingin menghapus tangismu dan mencium bibirmu. Oguri.” Lanjut GM.

Jantungku berdegup kencang, namun kali ini berbeda. Dia tak sakit seperti ketika aku mengira GM meninggalkanku, mengira dia tak akan bisa aku temui lagi, mengira aku telah terlambat untuk memanggilnya kembali. Kini debaran jantungku membuatku nyaman, aman karena bersamanya. Semua sedih dan sesakku hilang. Yang terasa hanya kelegaan yang mendalam, karena tahu aku belum kehilangannya.

GM mencium bibirku lama, kami tak perduli ada yang melihat, kami tak perduli ada yang mencibir, kami hanya berdua didalam dunia kami. Aku dan Dia. Kemudian aku mengajaknya kembali ke apartemenku. Hari sudah hampir terang, aku tak ingin dia berkendara ditengah lengangnya jalan. Ah tidak, aku tak ingin dia pergi, setelah dia mengakui perasaannya kepadaku bagaimana mungkin aku membiarkannya pergi. Karena dia adalah laki-laki ku. Boku no Otoko.

Aku mengajak GM duduk diruang tamu. Tak tahu harus berkata apa untuk memulai percakapan, suasana terasa canggung. Begitulah yang kurasa, atau hanya perasaanku. Karena GM tersenyum melihatku, membuatku kikuk. Dia tidak tahu bagaimana kerasnya aku menyembunyikan debar jantungku. Wajahku pun memerah seperti kepiting rebus dipandangi seperti itu. GM membelai wajahku, dia suka sekali melakukannya.

“Kamu kenapa? Demam mu masih tinggi?” candanya sambil menyentuh keningku.

“Hmm.. tidak terlalu panas, tapi kenapa wajahmu semerah itu? Ah.. jangan-jangan kamu tersipu? Haha..” gelak tawanya memenuhi ruangan.

“GM, kenapa kamu meledek ku. Aku tak tahu harus memulai dari mana. Sekarang aku menyesal lari ke bawah mengejarmu” kataku pura-pura kesal.

GM menggenggam tanganku. Senyumnya membuatku makin tersipu, tapi tersipu bukannya milik wanita? Kenapa aku juga tersipu-sipu? Wajahku semakin merah memikirkannya.

“Jika kita berdua, panggil nama ku. Hitori, itu nama ku” senyum tetap membingkai wajahnya.

“Umurku tahun ini..hmmm...berapa ya? Tigapuluh satu. Heh.. aku sudah setua itu rupanya” tawanya.

Dia memberitahukanku bahwa dia dua bersaudara, kakaknya yang datang ke Suite nya malam itu bersama suaminya, mereka belum memiliki anak meski sudah menikah selama lima tahun. Orangtuanya sudah meninggal dan mewariskan perusahaan Dalto kepadanya. Baru kutahu nama keluarganya ternyata Daito. Hitori Daito itulah namanya. Nama yang akan selalu ‘ku ingat hingga akhir hidupku didunia.

Aku pun menyebut nama nya, untuk membiasakan diri pikirku.

“Hitori-san..” panggilku.

Namun dia memelototiku. “Hitori. Titik. Tak usah pakai –san” protesnya.

Tapi aku pun balik protes, bagaimana mungkin aku memanggilnya dengan nama depannya, sedangkan perbedaan usia kami cukup jauh.

“Aku baru duapuluh empat tahun dan kamu sudah tigapuluh satu” kataku.

Karena tak ingin berdebat denganku dia pun mencium bibirku yang membuatku kaget. Dia lalu tertawa dan mencubit pipiku. Mungkin lucu baginya, tapi tak lucu sama sekali bagiku.

Hitori-san lalu berkata “Tidurlah, kalau kamu masih disini dua menit lagi jangan salahkan aku bila terjadi hal-hal yang aku inginkan” ancamnya sambil tertawa.

Tentu saja aku bingung mengartikan maksudnya, tapi dia mendorongku untuk masuk ke kamar. “Kamu istirahat, besok tak usah ke kantor. Aku memberimu izin” katanya.

Aku pun kembali kedalam kamarku, masih mengartikan kata-kata Hitori-san sebelumnya hingga kemudian aku mengerti dan sensasi aneh mengalir di punggungku. Lima menit kemudian akupun terlelap. Sementara Hitori-san nampak menghisap rokoknya diruang tamu.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.