"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 14, 2012

Third Drama - Chapter 9


*note : please consider yourself. if you are offended of yaoi sex scene or below 18 years old, don't read this chapter. thx. i warned you already. lol

Keesokan harinya matahari bersinar cerah mengintip dari sela-sela jendelaku. Seseorang menguak tirai hingga membuka lebar dan cahayanya menerpa wajahku. Aku pun menutup mataku dengan tangan terkena silaunya sinar matahari. Aku melihat Hitori-san tersenyum ke arahku. Kenapa laki-laki ini begitu menawan dengan senyumnya, membuat hatiku meleleh tiapkali aku memandangnya.

“Kamu sudah bangun? Bagaimana tidurmu?” tanyanya.

“Iya, tidurku nyenyak sekali. Bagaimana denganmu? Apakah kamu bisa tidur semalam?” tanyaku sambil bangkit dari ranjang. Dia berjalan mendekatiku, menghalangi badanku agar tak terbangun. Hitori-san duduk dipinggir ranjangku, masih dengan senyumnya dia memberikanku sebuah ciuman yang sangat mesra.


“Aku memandangimu semalaman, memandangmu saja membuatku terjaga dan tak pernah bosan” rayunya.

Wajahku tersipu lagi. “Kamu pintar sekali membuat wajahku merah” kataku.

Hitori-san tertawa dan membantuku bangkit dari tempat tidur. Aku memaksa untuk masuk kantor, karena tubuhku sudah membaik. Hitori-san terpaksa setuju dan kami pun berangkat bersama terlepas keenggananku karena aku takut apabila ada yang melihat kami datang bersama maka akan terdengar gosip-gosip yang tidak mengenakkan.

Aku pun meminta Hitori-san menghentikan mobilnya beberapa blok sebelum gedung Dalto terlihat. Dengan terpaksa Hitori-san pun menurunkanku disini. Namun saat hendak berpamitan dengannya, mobilnya telah melaju dengan kencang menjauhiku. Suara ban berdecit nyaring terdengar dikejauhan. Sekilas aku melihat wajah Hitori-san sesaat sebelum dia menginjak gas mobilnya. Dia terlihat marah, marah besar.

Entah apalagi yang membuatnya marah pikirku. Aku pun berjalan kaki menuju Gedung Dalto. Disana Hitori-san telah menungguku, wajahnya kaku, ekspresinya dingin. Aku pun terpaku mematung melihatnya. Tiba-tiba aku dihinggapi ketakutan yang mendalam. Matanya seolah ingin menelanku, terlihat jelas kemarahan dimatanya.

Kobaran api seperti terpancar lewat bola matanya. Aku pun bergidik. Mencoba menghindar dan pura-pura tak melihatnya. Nampaknya penghindaranku menambah api kemarahannya, karena dia berteriak memanggil nama lengkapku.

“OGURI MADA!!!”

Langkahku pun terhenti, badanku serasa ditimpa beton seberat dua ton dan tak mampu bergerak. Orang-orang disekeliling kami pun mulai memperhatikan. Mereka mungkin berpikir aku telah melakukan kesalahan besar hingga GM meneriaki nama ku seperti itu. Namun aku bingung, apa salahku? Pagi ini kami masih tertawa bersama, dia selalu tersenyum kepadaku. Hingga tadi pagi ketika aku meminta turun ditengah jalan. Apa dia marah karena hal itu? Bukankah dia tahu pasti alasanku berbuat begitu? Atau ada hal yang lain?

Tapi aku tak sempat melanjutkan pikiranku. Hitori-san telah menyeretku masuk kedalam gedung Dalto. Dia mendorongku masuk ke dalam lift khusus untuk GM. Bahkan sebelum pintu lift tertutup dia telah menciumiku membabi-buta, dia mengigit bibirku hingga menyakitiku. Bibirku berdarah.

Pria bisa berubah menjadi monster ketika dia marah tak terkendali, badannya menguasaiku, tangannya mencekal lenganku, sementara tangannya yang lain membuka kancing kemejaku satu per satu. Kakinya masuk ke sela pahaku mencegahku untuk bergerak. Selagi memagut bibirku dia telah melepaskan semua kancing kemejaku. Dasiku dikoyaknya tak berbentuk dilantai.

Hitori-san lalu menciumi leherku, dia menghisapnya membuat kulitku memerah disekujur leher, dada dan perutku. Badanku berontak, aku ingin kabur, perutku bergejolak tapi tenaga Hitori-san lebih kuat dariku. Aku tak berdaya melawan. Hitori-san sungguh kasar. Dia lalu memasukkan tangannya ke dalam celanaku dan menggenggam kemaluankku dan membuatku terperanjat.

Jantungku berdebar kencang, nafasku memburu, aku memandang mata Hitori-san memohon dia menghentikan perbuatannya. Namun dia sudah khilaf, matanya merah melotot. Dia mengawasi wajahku ketika tangannya mempermainkan alat kelaminku. Dia menikmati wajahku yang tak berdaya. Badanku lemas, kakiku hampir terjatuh bila dia tak menyangganya.

Namun dia masih saja mempermainkanku. Semakin cepat gerakan tangannya, semakin cepat pula nafasku, desahanku tak terkendali, tanganku bergelung di pundaknya, aku tak tahan lagi, akhirnya air maniku pun keluar. Wajahnya tampak puas memandangiku.

Tak terasa air mataku jatuh, mata ku panas. Aku merasa malu. Apa yang aku pikirkan hingga bisa terjadi begini. Aku tak sanggup memandang matanya. Namun dia tak melepaskan pandangannya dari wajahku. Dengan saputanganya dia membersihkan air maniku dari tangannya, dia juga membersihkan kelaminku dan merapikan pakaianku kembali.

Mungkin dengan begini dia merasa berkuasa atas diriku. Karena dia tahu aku lemah dihadapannya. Dia tahu aku bereaksi terhadap dirinya, terhadap sentuhannya, terhadap ciumannya. Sesaat sebelum pintu lift terbuka, dia mencium bibirku dan keluar meninggalkanku seorang diri di dalam lift itu.


Tak berdaya, terkalahkan, harga diriku dirampas dengan paksa, mempermalukanku sedemikian hingga. Aku membencinya, namun aku tak bisa lepas darinya. Dia akan terus mengikatku tak akan membebaskanku. Namun apa salahku??!!!

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.