"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, December 2, 2012

Eight Drama - Chapter 10



Ji Han sedang berdiri mematung di depan meja kerja Jung Min ketika laki-laki itu memanggilnya dengan tak sabar.

“Ya!! Kamu tak mendengarku?”

Ji Han masih berada di dalam kamarnya saat Jung Min membuka pintu kamarnya itu dan memanggilnya untuk datang ke ruang kerjanya. Dia masih belum memberikan jawaban atas surat perjanjian yang Jung Min berikan padanya.


“Aku bilang mengapa belum kamu tanda tangani surat ini?” katanya lagi. Nada suaranya meninggi.

“Saya keberatan dengan beberapa butir di dalam surat itu, tuan” jawab Ji Han.

“Keberatan?” suaranya mengancam.

“Katakan alasannya padaku nona” tanya Jung Min padanya. Kini laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya yang nyaman.

Ji Han menatapnya mencari tanda jika laki-laki itu mempermainkannya. Dia hanya melihat Jung Min yang memandangnya tanpa emosi. Dia menelan ludahnya.

“Butir 3, 4, 5, 10 dan saya keberatan dengan jangka waktu kontrak ini” jawabnya berani. Dia mempertaruhkan kebebasannya saat ini. Dia tak ingin dikekang dalam rumah ini seperi budak.

Mata Jung Min menyipit, dia tidak merasa aneh dengan butir-butir yang Ji Han sebutkan padanya.

“Teruskan” katanya.

“Hmm.. butir ke 3. Bersedia bekerja tanpa batas waktu/jam tertentu”

“Saya rasa saya berhak mendapat jam istirahat, terutama setelah seharian bekerja tuan. Terutama pada malam hari” dia memandang mata Jung Min, namun laki-laki itu tak menghentikannya. Dia kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Butir ke 4, Bersedia dipanggil meski saat beristirahat. Saya rasa penjelasan saya untuk butir ini sama dengan penjelasan untuk butir ke 3”

“Untuk butir ke 5, Mematuhi perintah dari majikan tanpa bantahan. Ada perintah-perintah tertentu yang mungkin tak bisa saya patuhi, dan bila tertulis seperti butir ini, saya takut saya akan melanggarnya sehingga harus terkena sanksi”

“Kemudian butir ke 10, Hari libur bisa dibatalkan bila dianggap perlu oleh pihak 2. Dengan segala hormat tuan, anda memberikan saya hanya 2 hari libur dalam sebulan dan anda masih ingin membatalkannya? Saya rasa tidak tuan”

“Jangka waktu kontrak terlalu panjang, saya hanya bisa bekerja disini selama tiga bulan” dia sengaja tak memperpanjang penjelasannya untuk keberatannya yang terakhir. Dia tak punya alasan mengapa alasannya itu harus dipenuhi.

“Sudah semuanya?” Jung Min memandangnya dingin. Laki-laki ini merasa terusik dengan semua penjelasan yang dia dengar.

“Sudah, tuan” Ji Han memegang tangannya yang basah berkeringat karena gugup.

“Duduklah, nona Ji Han...” seperti biasa, laki-laki ini selalu tahu bagaimana membuat bulu kuduknya berdiri dengan nada suaranya.

Tak bisa membantah, dia pun menarik kursi di depan meja kerja Jung Min. Duduk dengan gelisah.

Jung Min meraba dagunya, dia menimbang untung rugi yang mungkin dia dapat bila menyetujui permintaan Ji Han.

“Pertama sebelum kamu salah paham dengan isi surat ini, nona. Apapun keputusanmu, kamu telah bekerja di rumah ini dan tak mungkin keluar lagi”

“..Kecuali kamu ingin pekerjaaan yang telah dirintis oleh kakakmu selama sepuluh tahun lenyap. Dia mempertaruhkan reputasinya dengan mempekerjakanmu disini. Apakah kamu punya bayangan apa yang akan aku lakukan padanya bila kamu dengan sengaja menolak menadatangani kontrak ini?”

Ji Han tak menyangka dia akan memakai kakaknya untuk menekannya. Tak pernah terbayang olehnya bahwa laki-laki ini sanggup untuk melakukan hal itu.

Oh ya, dia memang terkenal kejam pada lawan bisnisnya, tapi tak masuk akal bila dia juga melakukan hal yang sama pada seorang pengurus rumah tangga yang mencoba bernegosiasi tentang syarat-syarat dalam surat perjanjian mereka.

Lalu apa gunanya dia menyerahkan surat perjanjian itu padanya, bila pada akhirnya dia tetap akan mengeluarkan siasat ini.

“Kamu sudah merencanakan hal ini?” tanya Ji Han marah. Dia membenci laki-laki ini sebelumnya, sekarang pun amarahnya makin berkobar.

“Aku tak merencanakan apa-apa nona, Jung Nam lah yang membawamu kesini. Aku hanya memintanya mencarikanku seorang pengurus rumah tangga. Meskipun orang lain, aku tetap akan memberikan kontrak ini padanya. Dan tolong jaga bahasamu. Aku masih majikanmu” katanya geram.

Mata mereka berapi-api, saling menatap dan menantang kekuatan lawan. Tak ada yang mau mengalah.

Ji Han mengambil surat kontrak di atas meja dan melemparkannya ke depan wajah Jung Min. Laki-laki itu mengelak dengan tangannya.

Ji Han berdiri dengan kasar. Matanya bersinar murka.

“Bila kamu tahu aku tak mungkin menolak kontrak ini, mengapa masih memintaku untuk menandatanganinya? Kamu kira aku bisa dipermainkan?” matanya berkaca-kaca menahan emosi yang meluap dari dadanya.

Dia tak tahan lagi dengan laki-laki ini. Dia ingin pergi dari rumah ini, dari laki-laki ini. Dia hanya membuat hidupnya susah.

Jung Min terduduk diam di kursinya. Tak mampu berkata-kata. Dia hanya memandang Ji Han dengan ekspresinya yang aneh. Antara kaget dan terpesona. Dia terpesona pada keberanian gadis kecil di depannya ini.

“Aku akan pergi dari sini, aku tak ingin bekerja lagi di rumah ini” katanya sengit.

Dia melangkahkan kaki nya ke arah pintu. Membuka kenop pintu namun tangannya dihentikan oleh sebuah tangan yang muncul dari belakangnya.

Tubuhnya ditarik kedalam pelukan laki-laki itu. Tangannya menyangga pinggangnya hingga tak bisa melepaskan diri dari tawanannya.

Mereka saling berpandangan. Ada percik-percik api yang berpijar dalam mata mereka. Api kemarahan pada mata Ji Han. Dan api gairah dalam mata Jung Min.

“Jangan pergi” pinta Jung Min serak.

“Mengapa? Aku sudah tak sanggup lagi bekerja disini” desis Ji Han marah.

“...”

“Jika tak ada yang bisa kamu katakan lagi, tolong lepaskan aku, TUAN..” Ji Han mencoba mendorong tubuh Jung Min dari tubuhnya.

Bukannya terlepas dari pelukan laki-laki itu, tubuhnya malah didekap semakin erat. Ji Han hampir tak bisa bernafas karena eratnya pelukan laki-laki itu.

“Kalau kamu pergi, aku akan meminta kakakmu untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Apakah kamu sudah siap melihat dia kehilangan pekerjaan yang telah diperjuangkannya sejak lama?” suaranya terdengar sangat dekat di telinga Ji Han.

“Kamu sungguh tak tahu malu!!!” teriak Ji Han.

“Aku terbiasa mendapatkan apapun yang aku inginkan nona. Dan tak ada yang bisa menghalangiku untuk mendapatkan..mu.. ..sebagai pengurus rumah tanggaku” dia tercekat saat melanjutkan perkataannya. Seolah ada sesuatu di dalam lehernya yang membuatnya menambahkan kata terakhir pada kalimatnya.

“Pergilah. Kembalilah ke kamarmu” katanya sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Ji Han.

Wajahnya mendung, dia kelihatan tak tertarik lagi untuk melanjutkan pertengkaran mereka.

“Tapi aku akan...” kata Ji Han sebelum Jung Min memotongnya.

“Aku bilang pergilah!!” dia meneriakinya.

Ji Han menggigit bibir bawahnya. Tak siap dengan perubahan emosi Jung Min. Dia pun meraih kenop pintu dan membukanya.

“Jangan coba pergi dari rumah ini tanpa izinku, nona. Aku serius dengan ucapanku” katanya tanpa memandang ke arah Ji Han.

Setelah menutup pintu ruang kerja itu, Ji Han melangkah dengan letih ke dalam kamarnya. Pikirannya kalut memikirkan kata-kata terakhir Jung Min. Meski dia takut Jung Min akan berlaku semena-mena padanya, namun dia tak sendirian disini bersama Jung Min, masih ada keluarganya, bibi Ra Ni dan suaminya, seorang sopir yang belum pernah dia lihat dan rumah ibunya tak terlalu jauh dari situ, dia bisa pergi kapanpun dia mau.

Apa yang mungkin bisa terjadi disini? Dia menghibur dirinya sendiri, tak ingin memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi padanya. Jung Min adalah orang beradab, tak mungkin dia melakukan hal-hal hina padanya, kan? Senyumnya getir saat membuka pintu kamarnya. Dia menghela nafas panjang sambil bersandar pada daun pintu yang baru saja ditutupnya.

10 comments:

  1. mba shinnnnnnnnnnnnnn

    aku mau getok jung min nya boleh hihihiihi

    blg aja cinta susahnya dasar jung min stresss

    *marah2 depan kntrnya jung min

    ReplyDelete
    Replies
    1. kata Jung Min "woee.. satpam mana satpam mana?"

      Delete
  2. satpam dah aku bekep smua :P

    tuh mereka skrg dah di gudang smua

    hahahhahaha

    jadi aku puas skrg xixixixixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow.. wonder woman. Jung Min nya ngabur tuh sist

      Delete
  3. wonder girl aja ah mba biar keliata mudaan

    tenang mba di depan pintu dah da mas bale siap menangkap jung min klo kabur heheehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. hayoo Jung Min mau dijadiin apa? dia gk cocok jd gigolo. nah yoo...

      Delete
  4. mbak Haidoooooooo.. aku dataaaaaaaaaaang.. *teriak2 pake towa mesjid*

    eh eh, kok Jung min maen peluk aja sih??
    ketemu juga baru bbrp kali, ngelihat Ji Han juga gitu aja
    tp main peluk aja... iiih, dasar cowok ya!!! grrrrr....

    mbaaaak, aku baru komen, mianeee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. jawabannya ada di chapter berikutnya sist. aka chapter 11. ehhehehe.. ntar aku posting. :D

      Delete
  5. mbaaaaaa ini bsa jadi referensi bgus buat Wilizaa neh ahahahaha
    pemaksaann ny itu lohh wkkkk

    ReplyDelete
  6. Pas bagian baca kontrak itu langsung melayang ke adegan di fifty shades.. Hihi.. Bedanya ini kontrak utk jd pembantu rumah tangga.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.