"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, December 4, 2012

Eight Drama - Chapter 13



Kursus menjahit hari ini ternyata memakan waktu lebih lama dari perkiraannya. Dia baru saja keluar dari tempat kursusnya saat jam tangannya menunjukan pukul setengah tiga sore. Ji Han  hanya berjalan kaki menuju rumah keluarga Park, meski jaraknya tak terlalu jauh, tak kunjung keringat membasahi tengkuknya. Cuaca sore itu cukup panas. Dia pun berhenti di sebuah mini market yang ada di samping tempat kursus.

Saat dia duduk-duduk di depan mini market itu, sebuah motor dengan suara bising berhenti di depannya. Seorang laki-laki muda membuka helmnya dan masuk dengan tergesa-gesa ke dalam mini market itu.


Dia membeli sekaleng soft drink dan sebungkus rokok lengkap dengan korek api nya. Setelah keluar, dia duduk di samping kiri Ji Han.

Laki-laki itu berusaha untuk menyalakan rokoknya, namun angin yang bertiup kencang selalu mematikan api yang keluar dari korek gasnya. Dengan gemas dia memutar-mutar roda korek api yang tak kunjung menyala.

Ji Han kemudian membantunya dengan  menggunakan kedua telapak tangannya untuk menghalangi angin meniup api yang keluar dari korek api itu. Setelah rokoknya menyala, laki-laki itu menoleh ke sampingnya, dimana Ji Han berada.

“Terima kasih” katanya. Senyumnya sungguh manis. Dan dia sungguh tampan. Wajahnya yang ramah membuat Ji Han langsung menyukainya.

Wajah laki-laki itu mengingatkannya pada seseorang yang dibencinya namun sangat berbeda. Karena laki-laki di depannya ini sedang tersenyum padanya.

“Aku bilang terima kasih. Kok jadi bengong?” tanya nya pada Ji Han.

“Ah.. maaf. Iya, sama-sama” Ji Han tertunduk malu. Dia memalingkan wajahnya dari laki-laki itu.

Laki-laki itu bangkit dari duduknya, dia berputar dan mencari tempat duduk disamping kanan Ji Han. Ke arah pandangan gadis itu.

“Aku Jung Nam, Park Jung Nam. Siapa namamu nona?” tangannya terulur menawarkan perkenalan.

“Park Jung Nam?” tanyanya ragu.

“Yup, namaku Park Jung Nam. Namamu siapa?” Jung Nam nyengir memandang wajah Ji Han yang melongo.

“Ya.. kok bengong lagi?” tanyanya kemudian ketika Ji Han tak juga bereaksi pada pertanyaannya.

Ji Han menelan ludahnya. Dia bertemu dengan Park Jung Nam. Adik dari Raja Kegelapan. Tapi laki-laki di depannya ini sungguh sangat berbeda sekali dengan kakaknya. Seratus delapan puluh derajat berbeda. Tak ada ekspresi dingin dalam sorot mata ataupun perkataannya. Dia begitu tulus dan mata itu begitu hangat. Senyumnya sungguh manis. Semanis madu. Menyejukan hati Ji Han.

“Ehm.. namaku Ji Han. Lee Ji Han” jawab Ji Han akhirnya.

“Lee Ji Han??!! Adiknya Lee Ji Jeong??” dia berteriak dengan gembira.

Ji Han hanya mengangguk, laki-laki ini tak butuh jawabannya. Dia mulai memperhatikan setiap inchi garis wajah Ji Han. Mulutnya mengeluarkan suara “wah...” setiap saat matanya tertumbuk pada tekstur wajah Ji Han.

“Wah.. Ternyata kamu memang sangat cantik seperti kata ibumu” dia menyeringai lebar.

Pipi Ji Han merona merah mendengar pujian Jung Nam. Laki-laki itu membuatnya malu. Belum pernah ada laki-laki yang memuji wajahnya cantik selain ayah dan kakaknya. Tentunya bukan juga si Raja Kegelapan itu. Dia hanya membuatnya emosi.

“Sedang apa kamu disini? Bukannya kamu sekarang bekerja dirumah kami?” tanya Jung Nam setelah puas memandangi wajah Ji Han.

“Oh, aku baru saja pulang dari kursus menjahit” jawabnya.

“Ah.. ya!! Aku lupa. Ya..ya.. kamu sedang mengikuti kursus menjahit. Aku sama sekali lupa. Maafkan aku ya” dia tersenyum minta maaf.

“Tak apa-apa. Bukan hal penting” jawab Ji Han.

“Ya, kenapa tidak penting. Bagimu penting kan? Kamu bekerja dirumah kami juga agar bisa mengikuti kursus ini dengan baik kan? Itu penting. Jangan bilang tidak penting” dia tersenyum lagi. Laki-laki ini telah tersenyum puluhan kali meski mereka bertemu tak lebih dari lima menit yang lalu.

“Baiklah.. ini penting” Ji han tersenyum geli menyetujui pernyataan Jung Nam.

“Nah, gitu baru bagus. Kamu cantik kalau tersenyum. Dan manis” imbuhnya.

Tambah merona lah pipi Ji Han karenanya.

“Ehemm..” Jung Nam berdehem membersihkan tenggorokannya. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk menghilangkan kegugupannya.

Orang lain yang tak mengenal mereka apabila lewat dan melihat akan mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Wajah mereka sama-sama merah seperti kepiting rebus.

Setelah itu tak ada yang berbicara. Untuk lima menit lamanya mereka terdiam tak memiliki bahan pembicaraan.

“err.. Setelah ini, kamu mau pergi kemana?” tanya Jung Nam setelah lama memikirkan apa yang akan dia katakan.

“Aku harus pulang. Masih banyak yang belum aku bersihkan. Kamar tuan Jung Min, kamar anda juga tuan” kata Ji Han menjelaskan.

“... panggil aku Jung Nam. Aku tidak gila hormat seperti Jung Min. Aku akan marah bila kamu memanggilku tuan, OK? Deal?” dia menyodorkan jempolnya pada Ji Han.

Ji Han tak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Jung Nam menempelkan jempolnya pada ibu jari tangan Ji Han. Mereka tertawa akan kekonyolan mereka.

“Baiklah. Ayo kita pulang. Aku juga sedang menuju rumah sebelum berhenti disini. Pulanglah bersamaku” kata Jung Nam menawari Ji Han untuk berboncengan dengan motornya.

“Tidak usah. Aku jalan kaki saja” jawabnya menolak.

“Aishh.. Kalau bisa naik motor, kenapa harus jalan kaki? Cuaca juga sangat panas, kamu pasti kelelahan setelah sampai dirumah dan kamu harus bersih-bersih lagi kan?” kata Jung Nam.

“Naiklah. Aku memaksamu. Ayo..”

Jung Nam telah menaiki motornya dan memasang helm di kepalanya. Suara motor itu sangat berisik ketika di starter.

“Ji Han, cepatlah naik” suara Jung Nam tertelan suara motor yang memekakan telinga.

“Apa..??” teriak Ji Han tak mengerti.

“Kesinilah” teriak Jung Nam lagi padanya.

Dengan tak sabar, dia menarik bangun tangan Ji Han dan menyuruhnya naik ke atas motor dengan tangannya.

“Pegangan yang kuat. Kamu bisa jatuh bila tak berpegangan” kata Jung Nam, suaranya samar karena terhalang helm.

Karena tak kunjung dia rasakan pegangan tangan Ji Han pada tubuhnya, Jung Nam kemudian menaruh tangan gadis itu pada perutnya. Merangkainya sehingga pegangannya tak terlepas.

Dengan berteriak, dia menyuruh Ji Han agar tak melepaskan pegangannya. Motor yang mereka naiki kemudian meluncur dengan cepat menuju rumah keluarga Park.

~~~~

“Jangan pulang terlalu malam nanti” pesan nyonya Park pada Jung Min saat dia keluar dari mobil.

Setelah kunjungan ke rumah keluarga Kang, Jung Min mengantarkan ibunya kembali ke rumah mereka. Dia akan langsung menuju kantornya dengan sopirnya.

Namun sesaat sebelum ibunya menutup pintu mobil, mereka mendengar suara motor meraung dari kejauhan. Dia tahu itu suara motor adiknya.

Tak lama kemudian, Jung Nam terlihat datang dari arah berlawanan. Dia berhenti di depan mobil yang Jung Min naiki. Jung Min pun turun menyambut adiknya.

“Aku tak tahu kamu akan pulang hari ini. Bagaimana di Incheon?” tanyanya.

Belum sempat Jung Nam menjawab, Jung Min melihat sosok Ji Han turun dari boncengan motor Jung Nam. Rahangnya mengeras.

“Aku tak tahu kalian kencan saat jam kerja” katanya sinis di udara. Dia tak khusus mengatakan pada siapa kata-kata itu. Namun Ji Han tahu, padanya lah kata-kata itu ditujukan.

“Saya akan masuk ke dalam, tuan, nyonya” kata Ji Han sembari membungkuk memberi hormat pada nyonya Park dan Jung Nam. Dia tak menghiraukan perkataan Jung Min. Laki-laki itu menjadi sangat teramat murka.

Jung Min mengejar langkah Ji Han dan dalam sekejap dia telah berada disampingnya. Dia menarik tangan Ji Han dan menyeret gadis itu masuk ke dalam ruang kerja miliknya. Membanting pintu dengan keras dan menguncinya dengan kasar.

Tanpa menghiraukan protes Ji Han, Jung Min mendorong tubuhnya ke tembok dan mencium bibir gadis itu dengan membabi-buta. Dia mendesak tubuhnya yang besar menindih tubuh Ji Han yang terpenjara antara tubuhnya dan dinding. Tangannya mencekal leher gadis itu dan mencekiknya perlahan. Bekas cekalan tangannya terlihat membentuk tanda merah di lehernya.

Jung Min gelap mata karena cemburu melihat Ji Han berboncengan dengan adiknya. Dia tak dapat membendung emosi dan gairahnya pada gadis itu. Ketika semuanya meledak dia dengan kasar menyakiti gadis itu, melumatnya dalam ciumannya yang panas.

Dia menggigit bibir gadis itu dan membuatnya terluka. Namun dengan lihainya dia memainkan lidahnya, membelai luka yang telah dia buat. Tetes mata Ji Han mengalir di pipinya.

Ketika akhirnya Jung Min mengangkat bibirnya dari bibir Ji Han, bibir gadis itu bengkak dan mengeluarkan setitik darah pada bekas gigitan yang dia buat. Nampak Jung Min mulai sadar apa yang telah dia perbuat pada Ji Han.

Dia menyentuh bibir gadis itu. Menyentuh lukanya dengan jari telunjuknya. Tapi Ji Han memalingkan wajahnya, lalu Jung Min mengambil sapu tangan putih dari saku jasnya dan menghapus tetes darah itu dari bibir Ji Han. Tanpa beban, dia berlalu dari ruang kerja itu meninggalkan Ji Han sendirian dalam tangisnya yang pilu.

10 comments:

  1. iiih... JUNG MIN!!! pengen gue getok tu kepala looo..
    bukannya bilang maaf kek, sayang kek, ini main pergi aja.. rrrr...
    kyaa, dari hawa2nya bakalan ada cinta segi empat nih.. hihihihi.. ini udah chapter 13, sampe chapter brp mbak??
    *reader bawel!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum tahu sist sampe chapter brp. endingnya aj belum kebayang bakal gmn. lol... :kabur: jangan bosan2 ya sist ^__^ anggap aja CERBER yang panjang... lol

      Delete
  2. Aduuhhh,,baru di kissing ajja udh mnangis piluuu...kshn Ji Han..
    Mbaaaaa Shin Jung Min koq gt bgtz sih?? Gregetaannnnnn... Gggrrr...

    ReplyDelete
  3. jung min jahat, msak nyium ji han smpai bibirnya berdarah gitu.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... nanti jg jd baik cin.. ^^ makasi ya dah mampir..

      Delete
  4. mbaaaaa sumpah ini cerita khayalanku yg jd kenyataan dalam cerita mbaa wkwkwkwkw>>>>>kayax mba ga paham dech wkwkwkwkwkwkw

    ReplyDelete
  5. Pliss.. >_< jangan sampe jung nam ikutan suka ama Ji Han.. Jangan deh, ntar kayak sinetron. Wkwk.. tapi kan, drama sama dgn sinetron yah, apa bole buat. Begitulah drama.. ceritanya berbelit2.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.