"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, December 4, 2012

Eight Drama - Chapter 14



“Ji Han?? Kamu dimana?” Jung Nam berteriak memanggilnya dari arah ruang tamu.

Dia mencari-cari gadis itu sejak kakaknya menyeretnya ke dalam rumah. Dia tak sempat berpapasan dengan kakaknya saat Jung Min masuk ke dalam mobilnya dan pergi.

Lalu dia melihat pintu ruang kerja Jung Min yang terbuka, Ji Han terlihat keluar dari ruang itu. Matanya sembab dan basah oleh tangisan, wajahnya terlihat sangat ketakutan dan bibirnya terluka.


“Demi Tuhan, Ji Han. Apa yang terjadi padamu? Apa yang Jung Min lakukan padamu?” tanyanya geram. Dia merasa firasat buruk menghampirinya saat Jung Min dengan paksa menyeret tangan Ji Han sesaat setelah dia turun dari motornya.

Ji Han menggeleng lemah, dia tak ingin bercerita apapun saat ini pada Jung Nam. Laki-laki ini adalah adik Raja Kegelapan, haruskah dia mempercayainya.

“Aku tak apa-apa” jawabnya memalingkan wajahnya dari tatapan bertanya Jung Nam.

“Bagaimana ini bisa dikatakan tak apa-apa? Apa kalian bertengkar? Dia memarahimu?” suaranya mulai terdengar marah. Dia marah memikirkan kemungkinan kakaknya melukai Ji Han.

“Aku benar-benar tak apa-apa, tuan. Sekarang izinkan aku untuk kembali ke kamarku. Ada kamar yang harus aku bersihkan” Ji Han berusaha menghindar dari pertanyaan Jung Nam yang tak henti-hentinya datang.

“Ji Han. Tunggu” Jung Nam mengejar gadis itu dan menghentikannya. Tangannya memegang pundak gadis itu.

“Aku tak akan mengatakannya pada Jung Min bila kamu tak ingin dia tahu. Tapi aku harus tahu apa yang terjadi padamu. Aku lah yang membawamu kesini. Kamu adalah tanggung jawabku. Apa yang harus aku katakan pada ibu dan kakakmu bila mereka melihatmu seperti ini?” jelasnya putus asa. Dia merasa Ji Han menutup diri darinya.

“...Kami hanya bertengkar sedikit..mengenai jam kerja. Aku..terlalu gampang menangis. Sebenarnya tak seperti dugaanmu” dia menggigit bibirnya.

“Apa yang terjadi pada bibirmu? Bibirmu terluka” tanya Jung Nam lagi.

“..aku tak sengaja menggigitnya dengan keras karena terlalu gugup” jawabnya mencoba meyakinkan Jung Nam.

“Ikutlah” kata Jung Nam sambil menarik tangan Ji Han menuju kamarnya.

Jung Nam membuka pintu kamarnya, kamar itu sangat berbeda dengan yang terakhir dia tinggalkan. Kamarnya yang biasa berantakan kini bersih dan rapi.

“Kamarku bersih sekali. Terimakasih” katanya tulus.

“Duduklah” kata Jung Nam, dia menyuruh Ji Han untuk duduk di sisi ranjangnya.

Kemudian dia mengambil sebuah kotak P3K dan membawanya pada Ji Han.

“Bibirmu bisa infeksi bila tidak segera diobati” katanya.

Dia mengambil kapas dan menuangkan sedikit obat merah disana.

“Ini akan perih, tahan ya”

Dengan lembut dia menempel-nempelkan kapas itu pada luka di bibir Ji Han.

“Nah, bawalah kapas dan obat merah ini bersamamu. Jangan lupa diobati terus biar cepat sembuh ya” katanya tersenyum.

“Terimakasih, tuan” jawab Ji Han.

“Kembali kasih, nona”

Ji Han menatap wajah Jung Nam saat laki-laki itu menyebutnya nona. Mukanya merah saat menyadari kesalahannya. Jung Nam menatapnya masih dengan senyum menghias diwajahnya.

“Bila kamu panggil aku tuan lagi. Maka aku akan memanggilmu nona dan ku adukan pada kakakmu bahwa kamu tak sopan padaku” dia menyeringai memperlihatkan giginya yang putih bersih.

Ji Han berdecak. Laki-laki dalam keluarga ini senang sekali mengadu dan mengancam.

“Aku serius. Panggil aku Jung Nam. Jangan samakan aku dengan kakakku. Aku tak seperti dia” katanya lagi.

Mereka kemudian pergi ke dapur mencari bibi Ra Ni.

“Aku ganti pakaian dulu ya. Setelah itu aku akan bersih-bersih. Sampai ketemu lagi” kata Ji Han.

“Yup. Sampai ketemu lagi”

Jung Nam duduk di kursi dapur dan mulai merengek makanan pada bibi Ra Ni. Dia sangat suka merajuk pada bibi yang satu ini.

~~~~

Sudah pukul sembilan malam saat Ji Han masih berlutut membersihkan toilet di dalam kamar Jung Min. Membersihkan empat ruangan dan empat buah kamar yang masing-masingnya memiliki kamar mandi menyita waktu yang tak sedikit.

Karena dia memulai pekerjaannya saat matahari hampir tenggelam, maka pada saat jam-jam kepulangan Jung Min dia masih bergelut dengan pekerjaannya itu.

“Semoga dia pulang jam dua belas malam” doa Ji Han dalam hatinya. Dia tak ingin bertemu laki-laki itu lagi. Dia tak tahu harus bagaimana di depannya. Dia ingin marah dan menghindarinya selama dia bisa. Tapi laki-laki itu akan memanfaatkannya bila dia marah. Dia bisa dengan gampang melampiaskan kekesalannya pada Ji Han bila gadis itu melawannya.

Sementara itu, sesosok laki-laki mendorong pintu kamar dengan pelan. Dia tak menemukan siapapun di dalam kamar. Dia melepaskan pakaiannya hingga bertelanjang dada.

Dia merasa sangat capek hari ini. Pertemuan dengan klien dari Jepang ternyata menguras energinya. Mereka belum deal dengan jumlah nilai transaksi yang dibicarakan. Dia harus membuat mereka setuju besok, pikirnya.

Dia berjalan ke meja bar mininya dan mengambil sebotol Red Wine lalu menuangkannya di dalam gelas. Perhatiannya teralih saat mendengar suara benda jatuh di dalam kamar mandi. Matanya menyipit, dia tak mengharapkan ada penyusup dalam kamarnya.

Dengan kaki telanjang, dia berjalan menuju pintu kamar mandi dengan sebotol Red Wine ditangan. Tangan satunya lagi memegang gelas yang berisi Red Wine yang telah diminum setengahnya.

Langkahnya terhenti tepat di daun pintu. Di dalam kamar mandi dia melihat Ji Han sedang berjongkok di dalam bath tub sambil membersihkan dinding-dindingnya.

Ji Han tak menyadari Jung Min sedang mengawasi setiap gerak-geriknya. Nafas laki-laki itu berat. Dia telah menghabiskan Wine digelasnya. Kini dia meminumnya langsung dari botolnya.

Matanya tak lepas dari sosok Ji Han dan gerak yang dia lakukan. Bola matanya makin gelap saat melihat gadis itu merangkak di dalam bath tub dan mempelihatkan belahan dadanya dari celah bajunya yang terbuka.

Saat Ji Han mengangkat wajahnya, dia terkesiap melihat Jung Min sedang berdiri di hadapannya. Tubuhnya tinggi besar hanya menyisakan sedikit celah pada pintu, menutupi pintu itu dengan tubuhnya.


Dia meletakan gelas wine yang telah kosong di atas meja wastafel, tangannya memegang sebuah botol wine yang cukup besar. Wajah laki-laki itu begitu kaku, seolah dia sedang kesakitan. Dia menatapnya tak berkedip. Melihat tubuh Jung Min yang setengah telanjang, Ji Han merasa dirinya terancam. Laki-laki ini akan memperkosanya!!

5 comments:

  1. huwaaaaaaaaaaaaaaa.. tanggung banget ini mbaaaakk
    aku ga bisa tidur kalo kayak gini..
    huwaaaaaaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi aku selalu setia menuggu..
      pokoknya mbak Haido harus semangat
      HWAITING!!!
      ^__^

      Delete
  2. huahahahaha lelaki ini akan memperkosanya? wkwkwkwk

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.