"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, December 5, 2012

Eight Drama - Chapter 15



Ji Han bangkit dari dalam bath tub dan memakai sepatu nya kembali. Dia membenahi peralatan kerjanya dan membungkuk memberi hormat pada Jung Min. Dia ingin secepatnya pergi dari sana tanpa membangunkan emosi laki-laki itu. Ji Han tahu apa yang mampu Jung Min lakukan padanya bila dia memancing emosinya lagi.

Tapi dia terhenti di depan tubuh Jung Min yang berdiri kokoh tak bergeming. Dia menghalangi jalan Ji Han untuk keluar dari dalam kamar mandi itu. Mereka tak berbicara selama lima menit lebih. Ji Han tak ingin membuka mulutnya, karena hanya makian yang akan terdengar dari sana untuk laki-laki di depannya itu.


Jung Min bergerak maju sambil menutup pintu kamar mandi yang ada dibelakangnya. Matanya masih terpaku menatap Ji Han. Mengawasinya bila gadis itu mencoba melarikan diri.

Tapi dia tak bisa lari, satu-satunya jalan keluar adalah pintu dibelakang tubuh Jung Min yang telah tertutup. Ji Han berharap laki-laki itu tak akan mengunci pintu itu, sehingga bila seseorang datang ke kamar ini, dia akan mendengarnya dan membuka pintu itu bila dia berteriak nanti.

“A..apa yang kamu inginkan?” tanya Ji Han gemetar. Ketakutan mulai merambah hatinya.

Dia tak punya pertahanan, ditangannya hanya ada sebuah ember dan peralatan cuci lain. Dia membuang isi ember itu ke lantai dan memakai ember itu untuk melindungi tubuhnya dari depan.

Dia bisa memukulnya dengan ember itu bila Jung Min mendekatinya.

Jung Min merasa geli melihat Ji Han memakai ember sebagai pertahanan terakhirnya. Jung Min tak tahu apa yang akan dia lakukan pada gadis ini.

Oh ya, dia tergoda.. Sungguh tergoda untuk menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan memadu kasih di dalam bath tub yang penuh dengan air berbusa. Dia bisa membayangkan tubuh basah Ji Han berada diatasnya dan mengejang penuh nikmat.

Tapi gadis yang berdiri di depannya itu menatapnya penuh ketakutan dan kebencian. Dia pasti sangat membencinya setelah apa yang dia lakukan padanya siang tadi. Karena dia dengan paksa telah merenggut bibir gadis itu hingga membuatnya terluka.

Bibir yang bengkak itu adalah bukti bahwa dia bisa menjadi sangat buas bila emosinya meluap-luap. Dia cemburu melihat Ji Han turun dari motor Jung Nam. Gadis itu pasti memeluknya dengan erat karena Jung Nam tak pernah mengendarai motornya dengan lambat.

Dia ingin menyentuh bibir itu, bibir yang telah digigitnya hingga robek dan berdarah. Namun ketika tangannya hendak menjangkau bibir itu, tubuh Ji Han membeku dan wajahnya sepucat tembok.

Dia membatalkan niatnya saat itu juga. Matanya memandang ke arah lain, dia seperti bergelut dalam kepalanya. Dia tetap tak bergeming saat Ji Han mengambil kesempatan itu untuk segera keluar dari sana, bahu mereka bertabrakan.

Meninggalkan alat bersih-bersihnya masih berserakan diatas lantai kamar mandi, Ji Han berlari sekuat tenaga dan tak sengaja menabrak Jung Nam yang sedang berjalan di koridor menuju kamarnya.

“Ji Han? Kamu tak apa-apa?” tanya Jung Nam khawatir. Dia memandang ke arah asal Ji Han berlari. Kamar Jung Min.

“Kenapa kamu berlari? Jung Min sudah pulang?” tanyanya lagi.

Ji Han menenangkan debar jantungnya, nafasnya terputus-putus karena berlari sekuat tenaga dan bertekad untuk pergi dari Raja Kegelapan secepatnya.

“A..aku melihat hantu” jawab Ji Han. Dia tidak berbohong, Jung Min memang adalah hantu, hantu yang selalu menakutinya setiap kali dia muncul di dekatnya.

Jung Nam hanya melongo mendengar penjelasan Ji han. Tawanya meledak sesaat kemudian. Menertawakan wajah Ji Han yang kebingungan. Dia kemudian mengalungkan lengannya diatas bahu Ji Han dan mengajak gadis itu ke dapur.

Jung Min memperhatikan dari balik pintu kamarnya bagaimana Ji Han tak menolak sama sekali lengan Jung Nam berada diatas pundaknya. Rahangnya mengeras, dengan kasar dia membanting pintu kamarnya hingga menutup.

“Duduklah” pinta Jung Nam padanya. Dia menekan tubuh Ji Han hingga gadis itu terduduk di atas kursi.

“Kamu pasti lapar, aku akan menghangatkan makanan untukmu” katanya riang.

“Semua sudah makan, hanya kamu saja yang belum. Kamu tak usah bekerja sekeras itu Ji Han. Besok masih bisa dilanjutkan. Kalau kamu sakit aku akan kesusahan” dia memberikan senyum termanisnya pada Ji Han.

Perlahan-lahan senyum mulai mengembang di bibir gadis itu.

“Terima kasih Jung Nam” sahutnya.

“Never Mind” dia mengedipkan sebelah matanya dari balik kompor. Dia cukup telaten menggunakan alat itu. Tak heran, dia tinggal sendirian di apartemennya di Incheon.

Setelah selesai menyantap makan malamnya, Jung Nam mengajak Ji Han mengobrol di taman.

“Air kolamnya pasti dingin sekali malam ini” kata Jung Nam sambil membuat akting menggigil kedinginan. Dia mendekati pinggiran kolam dan menyentuh air di dalamnya dengan ujung kakinya.

“Kamu tak berpikir untuk terjun ke dalamnya kan? Kamu bisa mati kedinginan disana” kata Ji Han khawatir.

Jung Nam terbahak-bahak menyadari kekhawatiran Ji Han. Dia semakin tertarik untuk menggoda gadis itu dengan sengaja memasukan seperempat kakinya ke dalam kolam.

“Jung Nam, jangan main-main. Kalau kamu tenggelam siapa yang akan menolongmu? Aku tak bisa berenang” teriaknya. Dia berdiri menghampiri Jung Nam dan mencoba membujuk laki-laki itu agar menjauhi bibir kolam.

“Tenang saja, aku bisa berenang kok” dia menyengir jahil.

“Aku akan kembali ke dalam kalau kamu tidak menjauh dari sana” ancam Ji Han padanya sambil memutar tubuhnya menuju arah ruang tamu di depannya.

“Ya.. Jangan pergi” kata Jung Nam, dia mencoba mengejar Ji Han tapi kakinya terpeleset dan dia dengan sukses tercebur ke dalam kolam.

“BYURR!!!”

Ji Han panik melihat Jung Nam yang jatuh dan tak muncul-muncul lagi ke atas kolam. Dia tak tahu harus berbuat apa. Tak terpikir olehnya untuk memanggil orang untuk membantu Jung Nam, dia khawatir bila terlambat maka Jung Nam akan mati. Tanpa berpikir panjang, dia masuk ke dalam kolam bermaksud untuk menolongnya.

Ji Han tak bisa berenang, dan kolam dengan dalam dua meter itu menelan tubuhnya seketika. Kakinya meronta-ronta di dalam air mencari pijakan namun dia semakin jatuh ke dalam. Tangannya bergerak liar karena tubuhnya tercekik oleh air yang masuk melalui mulut dan hidungnya.

Sesaat sebelum dia pingsan, tubuhnya diangkat ke atas dan direbahkan diatas lantai disamping kolam.

“Ji Han.. Ji Han.. Sadarlah!!” teriaknya panik pada gadis itu.

Dia memeriksa pupil mata Ji Han dan mengecek debar jantungnya. Debar jantungnya lemah. Wajahnya mulai berubah pucat kebiruan. Dia mulai kekurangan udara.

“Maafkan aku Jung Min.. Aku tak tahu dia akan langsung masuk ke dalam kolam mencariku” kata Jung Nam menyesal. Dia telah naik dari kolam setelah Jung Min melompat ke dalamnya untuk menolong Ji Han.

Jung Min tak menghiraukannya. Dia mulai memberikan nafas buatan pada gadis itu. Dengan putus asa dia meniupkan udara berkali-kali hingga gadis itu mulai bernafas.

“Panggilkan dokter!!” teriak Jung Min pada adiknya.

“Ba..baik” Jung Nam berlari ke dalam rumahnya dan segera menghubungi dokter.

Setelah memberikan nafas buatan selama dua menit, akhirnya Ji Han siuman. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tenggorokan dan dada nya sakit. Dia ingin muntah. Jung Min membantunya duduk saat air keluar dari mulutnya. Dia memuntahkan air kolam yang masuk ke dalam perutnya saat tenggelam tadi.

Dengan posisi badan menyangga tubuh gadis itu, tangannya melingkar dibalik punggung Ji Han. Pakaiannya basah kuyup setelah masuk ke dalam kolam untuk menyelematkan Ji Han.

Dia melompat dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua untuk menolong gadis itu. Dia beruntung dibawahnya hanyalah tanah berumput yang gembur. Dia hanya mengalami kaki terkilir saat mendarat dengan kedua kakinya.

Ji Han tak dapat melihat dengan jelas siapa laki-laki penolongnya. Saat penglihatannya mulai buram dan gelap, Ji Han mengucapkan kata-kata yang membuat Jung Min menegang dibelakangnya.

“Terima kasih.. Jung Nam..”

Dia pun pingsan di dalam pelukan laki-laki yang paling dia benci dalam hidupnya. Laki-laki yang baru saja menyelamatkannya dari kematian, laki-laki yang salah dia kenali dengan orang lain.

9 comments:

  1. Jiaaaaahhh,,,,kacau nigh,,,
    + stres bin tegang bi mngamuk si Jung Min klo bgini,,,,


    Blom menyatakan apa2 keburu dtolak duluan,,,xixixixixixiixiiii...

    ReplyDelete
  2. eaaaa... Jung Min Jung Min, coba be nice dikiiiit aja
    pasti Ji Han mau sama kamu
    ini, muncul k ji han dalam sosok hantu mulu ya pasti ji han takut
    aa, atau jd hantu kayak casper aja, pasti ji han gemes.. hehehe..

    mbaaakk.. gomawooo
    aku tunggu next nya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha.a.. hantu kegelapan ya sist? ^__^

      Delete
    2. iya mbak, hantu kegelapan pasti bikin takut.. coba hantu keterangan gitu kayak casper, kan lucuuu.. *nah lo, ngaco kan?? hahahaha

      Delete
    3. hahaha.. bisa aja kamu sist ^__^

      Delete
  3. duuuuh pasti si jung min marah besar nih karena ji han pikir yg nyelametin dia jung nam hufffffft

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaaha.... ciri khasnya jung min tuh D:

      Delete
  4. aissshhhhhhhhh makinnn seruuuuuuuuu
    huaaaaa kang jung min aku padamu*ehhhhh

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.