"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, December 5, 2012

Eight Drama - Chapter 16



“Bagaimana kondisi gadis itu dokter?” tanya Jung Min pada dokter Han yang sedang membalut pergelangan kakinya dengan perban.

“Kini kondisinya sudah stabil. Dia menelan air terlalu banyak. Dengan bantuan oksigen yang saya bawa tadi, besok pagi dia akan jauh lebih baik” jawab dokter Han padanya.

Laki-laki berusia lima puluh enam tahun ini adalah dokter pribadi keluarganya. Dia telah menjadi dokter keluarga Park sejak tiga puluh tahun yang lalu. Bahkan sebelum Jung Min lahir. Dia jugalah yang membantu proses kelahiran Jung Min dan adik-adiknya di rumah sakit.


“Nah, kaki anda sudah saya obati. Tapi anda harus istirahat. Ambilah cuti hingga akhir minggu ini. Bila tidak, anda tak akan sembuh-sembuh” jelas dokter Han padanya.

Dia menutup koper alat-alat kesehatannya dan berpamitan dari sana.

“Untuk gadis itu, tuan Jung Nam sedang menungguinya. Bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan, segera bawa dia ke rumah sakit”

“Saya permisi dulu tuan” kata dokter Han.

Jung Min mengangguk  dan dokter Han pun keluar dari kamarnya menuju tempat mobilnya berada.

Sebelum kejadian itu, Jung Min sedang mengawasi Ji Han dan adiknya bersenda gurau di taman. Dia dapat melihat posisi mereka dengan jelas dari jendelanya. Dia telah mengganti pakaiannya dengan sebuah piyama tidur.

Suara percakapan mereka terdengar di dalam kamar Jung Min karena jendela kamar itu terbuka. Dia sedang menghisap rokoknya untuk meredam gairah di dalam tubuhnya tadi. Dengan kasar dia membuang puntung rokoknya saat melihat mereka berduaan di taman. Gadis itu tertawa riang pada adiknya yang mana tak pernah dia perlihatkan pada Jung Min.

“Kamu selalu mengasarinya, mengapa mengharapkan senyuman darinya?” kata bathinnya.

Ketika dia mencoba untuk tidur, suara mereka masih mengganggunya. Dia terlonjak dari tidurnya saat mendengar teriakan Ji Han dari luar jendelanya.

Dia menuju kesana dan melihat gadis itu masuk ke dalam kolam renang untuk menolong Jung Nam. Tapi dia tak bisa berenang. Jung Min melihat tangannya di dalam air menggapai-gapai udara meminta pertolongan. Tanpa memikirkan keselamatannya, dia melompat dari jendelanya di lantai dua. Karena hanya dari sanalah dia bisa menolong Ji Han secepat mungkin..

Dia memandang balutan perban yang terikat pada pergelangan kaki kanannya. Kaki yang dia pakai untuk bertumpu saat mendarat di tanah. Kini kaki itu terkilir dan bengkak. Dia tak bisa berjalan dengan baik.

Akan sangat menyakitkan bila dia memaksa untuk berjalan dan masuk kerja esok hari. Dia tak ingin menuruti nasehat dokter untuk mengambil cuti. Banyak pekerjaan yang tak bisa diselesaikannya dari rumah. Dia harus menemui beberapa klien penting yang tak bisa dia batalkan.

Dengan bantuan tongkat ditangan, dia menuruni tangga menuju kamar Ji Han. Gadis itu sedang terlelap di atas ranjang, masker oksigen yang mengalirkan udara dari dalam tabung terpasang dihidungnya.

Wajahnya masih terlihat pucat namun tak sepucat saat Jung Min mengangkatnya dari dalam air. Disampingnya duduk Jung Nam yang hampir tertidur di kursinya. Jung Min menyentuh pundak adiknya dan membangunkannya.

“Tidurlah dikamarmu. Aku akan menggantikanmu” kata Jung Min pada adiknya.

Jung Nam menggeleng, dia menggosok-gosok matanya yang mengantuk.

“Tidak, aku lah yang menyebabkan Ji Han seperti ini. Aku akan merasa bersalah bila terjadi apa-apa padanya” bantahnya.

“Dia sudah stabil. Dia akan baik-baik meski kamu tak menjaganya. Pergilah ke kamarmu” perintahnya lagi.

“Tapi, kamu tak harus melakukan ini. Kamu sudah menolongnya dan melukai kakimu” Jung Nam memaksa untuk tetap berada disana.

Tapi sesuatu di mata Jung Min memaksanya untuk bangkit dari sana dan menuruti kata-katanya untuk pergi ke kamarnya.

“Istirahatlah. Besok kamu yang harus menjaganya. Dan masalah tadi, rahasiakan darinya. Aku tak ingin dia tahu akulah yang mengangkatnya dari kolam” dia mengambil kursi tempat duduk Jung Nam.

“...baiklah kalau itu maumu. Tolong jaga dia baik-baik”

Sebelum meninggalkan Jung Min disana, Jung Nam memandang wajah Ji Han yang tertidur. Dia sangat menyesali leluconnya karena dia hampir saja menyebabkan Ji Han kehilangan nyawanya. Dia berjanji akan menjaga gadis itu untuk menebus kesalahannya.

Setelah kepergian Jung Nam, kini hanya Ji Han dan dirinya yang ada di dalam kamar itu. Untuk pertama kalinya dia bisa mengamati paras wajah dan lekuk tubuhnya yang sedang tertidur pulas.

Jung Min menyentuh tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. Dia meremas tangan itu dan memperbaiki selimut di atas tubuhnya. Lama dia memandangi wajahnya, mencoba memetakan wajah itu di dalam kepalanya sehingga dia tak akan pernah melupakan wajah gadis itu. Sebelum bersandar dikursinya, Jung Min mendaratkan sebuah kecupan ringan pada dahi Ji Han.

“Selamat tidur, Ji Han”

~~~~

“Ji Han? Kamu sudah sadar?” kata Jung Nam padanya.

“Jung Nam? Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa disini?” tanya Ji Han bingung. Dia tak ingat akan peristiwa semalam. Namun perlahan-lahan ingatannya pulih saat Jung Nam memberitahunya.

“Kamu tenggelam semalam saat mencoba menolongku. Aku terjatuh ke dalam kolam karena keteledoranku dan mengakibatkan kamu hampir saja kehilangan nyawamu, Ji Han. Maafkan aku..” suaranya serak. Dia sangat menyesal.

“ohhh... Tapi kamu baik-baik saja kan? Kamu tidak tenggelam juga kan?” tanya Ji Han khawatir.

“Aku kan sudah bilang aku bisa berenang, justru aku mengkhawatirkanmu karena kamu pingsan setelah jatuh di kolam. Untung kamu segera diselamatkan” dia memasang wajah cemberut pada Ji Han.

“Maafkan aku. Dan terimakasih karena kamu sudah menolongku” senyumnya tulus, dia ingin berterima kasih karena Jung Nam telah menolongnya.

“Ah.. bukan aku...” namun dia teringat akan pesan Jung Min padanya. Kakaknya tak ingin Ji Han mengetahui bahwa dia lah yang telah menolong gadis itu.

“Maksudku, bukan aku saja, dokter juga menolongmu. Dia datang tengah malam hanya untuk memeriksamu” dia menyeringai.

Ji Han tersenyum kecil. Dia merasa jauh lebih baik, meski dada nya masih terasa sakit dan ngilu saat menarik nafasnya. Ji Han menatap wajah Jung Nam, menatap wajah penolongnya. Simpati mulai tumbuh dalam hati gadis itu untuknya.

Ji Han teringat, saat pertama dia membuka matanya, Jung Nam sedang memberikan nafas buatan untuknya. Wajahnya merah merona menyadari laki-laki itu telah menciumnya secara tak langsung saat meniup udara ke dalam paru-parunya.

“Ya.. wajahmu kenapa? Kamu demam? Wajahmu merah padam” tanya Jung Nam, dia menyentuh dahi Ji Han dengan punggung tangannya.

“Tidak panas. Tapi kenapa wajahmu merah begitu? Aku akan panggil dokter untukmu. Kamu tetap berbaring ya. Jangan bergerak. Aku segera kembali” kata Jung Nam sambil berlari keluar dari kamar Ji Han.

Ji Han menutupi pipinya dengan tangannya, dia berharap rona merah itu akan segera hilang. Dia memandang dengan gembira saat Jung Nam kembali. Namun bukan Jung Nam yang dia temukan berdiri mematung di depan pintu kamarnya.

Musuh bebuyutannya sedang menatapnya dingin. Dia telah memakai pakaian resmi dan siap untuk berangkat ke kantornya. Untuk apa dia mengunjunginya kesini. “Pasti dia akan menceramahiku tentang isi kontrak itu lagi” keluh Ji Han.

Dia akan mengatakan bahwa Ji Han telah melanggar kontrak karena pada hari kerja masih bermalas-malasan di atas tempat tidur. Apa dia tak tahu bila Ji Han mengalami kemalangan semalam. Dia pasti tak tahu, orang itu tak akan memperdulikan hal yang bukan urusannya.

“Beristirahatlah. Hari ini kamu tak usah bekerja” katanya singkat.

Ji Han tak mempercayai pendengarannya. Raja Kegelapan memberinya libur? Apakah kedua Korea sudah bersatu? Sehingga dia memberikan hadiah yang tak disangka-sangka? Dia tak berterimakasih meskipun Jung Min memberikannya libur, dia membuang mukanya dan menolak untuk memandang laki-laki itu.

Ji Han melihat rahang laki-laki itu mengeras sesaat sebelum dia pergi dari depan pintunya. Jung Min memakai tongkat untuk menyangga tubuhnya dan Ji Han melihatnya. Tapi dia tak ingin tahu mengapa laki-laki itu bisa pincang. Itu bukanlah urusannya. Dia menolak untuk tahu apapun tentang laki-laki kejam itu.

4 comments:

  1. yah, tuh kan Ji Han jd sebel..
    salah paham deeeeh...
    bagoooss... terus aja Jung Min egonya dipertahanin..
    nyesel ntar baru tahu rasa.. *jitak jung min

    ReplyDelete
  2. tapi kasihan ya jung min. coba deh dia ngaku sama ji han kalau dia pincang karena nolong jihan ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. egonya dia kan tinggi say, jung min gitu lhoh... :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.