"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, December 6, 2012

Eight Drama - Chapter 17



Sudah seminggu Ji Han bekerja dirumah itu, tapi baginya serasa bagai setahun. Dia rindu rumahnya, dia rindu kakaknya yang selalu melindunginya. Dia rindu ibunya yang selalu membuat hatinya hangat.

Apa yang akan ibu dan kakaknya lakukan bila mereka tahu apa yang Ji Han alami disini. Terutama kakaknya, Ji Jeong pasti akan marah mengetahui Jung Min telah melecehkan adiknya.

Laki-laki itu tak bermoral. Dia dengan sengaja mengasari dan memanfaatkan dirinya. Dia tak tahu sampai kapan dia bisa melindungi dirinya dari sergapan Jung Min. Laki-laki itu selalu mengincarnya dimana pun dia berada. Seolah mereka selalu dipertemukan dalam keadaan termustahil sekalipun.


“Aku dengar kamu tenggelam semalam? Kamu tak apa-apa kan Unnie?” Jung In mampir ke kamarnya untuk melihat keadaanya. Dibelakangnya Jung Nam datang dengan seorang dokter.

“Aku tak apa-apa, sudah baikan” jawab Ji Han lemah.

Jung In duduk disampingnya selama dokter memeriksa kondisinya.

“Ah.. Sudah tak apa. Anda sudah lewat masa kritis. Juga tidak perlu menggunakan bantuan oksigen dari tabung lagi. Oh ya, hari ini beristirahatlah. Agar cepat sembuh” nasehat dokter padanya.

“Iya dokter” jawab Ji Han.

“Aku akan mengantarkan dokter keluar, Jung In, jaga Ji Han ya” kata Jung Nam pada adiknya.

“Iyaaa kak..” jawab Jung In.

Jung In duduk di sisi ranjang Ji Han dan memegang tangannya.

“Untung kamu tidak apa-apa, semua orang panik saat mengetahui kamu tenggelam, Unnie. Tapi aku malah tertidur dan tak bisa menemuimu. Maafkan aku ya..” katanya memohon.

“Bukan salahmu. Akulah yang ceroboh. Tidak bisa berenang malah nekat masuk ke dalam kolam. Untung Jung Nam tak apa-apa dan dia berhasil menolongku” kata Ji Han gembira.

“Kak Jung Nam? Kata bi Ra Ni justru Kak Jung Min lah yang menolongmu Unnie. Dia lompat dari jendela kamarnya untuk menolongmu. Makanya kakinya terkilir. Mungkin kamu belum melihatnya, dia memakai tongkat untuk berjalan. Aku ingin meledeknya pagi ini tapi dia memelototiku. Aku jadi takut” Jung In tertawa lepas saat menceritakan hal itu pada Ji Han.

Ji Han menatap wajah Jung In yang polos, tak mungkin gadis ini berbohong. Tapi jika demikian, bearti Jung Nam lah yang berbohong, tapi mengapa dia berbohong padanya tentang hal itu?

Mengapa dia tak ingin Ji Han tahu siapa penolongnya? Jung Nam tidak terlihat seperti orang yang suka berbohong. Apakah dia dipaksa oleh kakaknya agar tak memberitahukan hal ini padanya?

“Bagaimana bi Ra Ni bisa tahu tuan Jung Min yang menolongku?” tanya Ji Han pada gadis itu.

“Bibi Ra Ni dan suaminya melihat langsung, mereka mendengar ribut-ribut dikolam, saat itu kak Jung Min membentak kak Jung Nam menyuruhnya segera memanggilkan dokter untukmu, Unnie. Kak Jung Min baik ya. Dia tak memikirkan keselamatannya sendiri. Aku selalu bangga menjadi adiknya” senyum bangga terukir di wajah Jung In. Nampaknya dia sangat mengidolakan kakak tertuanya itu.

Ji Han hanya mengangguk, dia masih belum bisa memecahkan misteri tentang siapa sebenarnya penolongnya. Namun dia ingat melihat kaki pincang Jung Min dan bagaimana susahnya dia menyeret kakinya untuk melangkah.

Apakah dia harus mencari tahu tentang hal ini? Dan apa yang harus dia lakukan bila dia mengetahuinya? Apa dia harus berterimakasih pada laki-laki itu? Tidak. Dia tak ingin berbicara dengannya lagi. Dia akan melupakan apa yang dia dengar dari Jung In. Lebih baik bagi hatinya bila dia tetap mengingat Jung Nam lah penolongnya, bukan Jung Min, laki-laki kejam itu.

“Bagaimana kalau aku antar kamu ke rumahmu? Kita jenguk mereka, terus sore kita pulang. Katamu Jung Min memberikanmu libur hari ini. Jadi tak masalah kan kalau kamu keluar rumah. Kamu pasti merindukan keluargamu, apalagi setelah peristiwa semalam” kata Jung Nam pada Ji Han.

Mereka sedang makan siang bersama di dapur. Jung Nam mengikutinya seharian dan memperlakukannya bagai kaca yang gampang pecah. Dia menarikkan kursi untuknya duduk, mengambilkan makanan untuknya, bahkan dia ingin menyuapinya bila Ji Han tak menolaknya.

“Tapi, aku tak yakin tuan Jung Min akan mengizinkan untuk keluar rumah. Dia hanya berkata agar aku beristirahat. Kalau dia tahu..” Ji Han tak berani melanggar kata-kata Jung Min, bila laki-laki itu ingin dia beristirahat, maka itu berarti tidur sepanjang hari di atas ranjang. Dia pasti akan murka bila mengetahui Ji Han pulang kerumahnya.

“Ji Han.. Aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan meminta izin untuk mengantarkanmu kerumahmu padanya. Dia tak akan berani menolakku, dia tak punya alasan untuk menolakku, kan?” dia tersenyum, membujuk Ji Han hingga gadis itu setuju.

“Tapi.. aku..” kata-katanya dihentikan oleh Jung Nam, dia menutup mulut gadis itu dengan tangannya.

“Shhhss.. Ayo gantilah pakaianmu. Mereka pasti merindukanmu juga. Kamu tak ingin bertemu dengan ibu dan kakakmu?” goda Jung Nam padanya.

Dia menarik tangan Ji Han dan mendorongnya agar gadis itu segera beranjak ke kamarnya dan bersiap-siap.

“Aku akan menunggumu di depan” teriaknya agar terdengar oleh Ji Han.

“Halo? Jung Min? Aku akan mengajak Ji Han ke rumahnya untuk bertemu dengan keluarganya. Dia pasti sangat sedih dan rindu dengan keluarganya setelah peristiwa semalam. Kamu tak keberatan kan? Aku akan mengantarnya kembali setelah matahari terbenam” dia berbicara melalui handphone dengan kakaknya.

“....” lama Jung Min tak menjawab telphonenya.

“Ya.. Kamu masih disana?” tanya Jung Nam lebih keras, khawatir kakaknya tak mendengarnya.

“..Terserah kamu saja. Dia tanggung jawabmu” katanya sambil memutuskan percakapan mereka.

“Jizz.. malah dimatikan. Sok sibuk kamu kak” Jung Nam berdecak heran pada kakaknya.

“Jung Nam..?” panggil Ji Han dari balik tubuhnya. Dia sudah mengganti pakaiannya dan mengenakan kaos yang dipadu dengan jaket hangat diluarnya.

“Kamu sudah siap? Ayo naiklah” kata Jung Nam sambil menjulurkan tangannya agar Ji Han mengambilnya. Dia membantu gadis itu naik ke atas motor dan menyuruhnya memeluk tubuhnya dengan erat.

“Pegangan yang erat ya. Aku akan mengebut, aku tak ingin kamu terpental” dia tertawa menggoda Ji Han.

Ji Han pun menurutinya dan memeluk tubuh Jung Nam dengan erat, takut terjatuh saat laki-laki itu mengendarai motornya.

Dengan kencang, motor itu menghilang seketika, hanya suaranya yang melengking terdengar di kejauhan.

Sementara itu dikantornya, Jung Min menatap nanar tembok kosong di depannya. Dia membayangkan Ji Han sedang memeluk tubuh Jung Nam dan pikiran itu membuatnya marah.

“Presdir...” panggil Asisten Kim dari intercom.

“APA LAGI!!?” Bentaknya marah. Asisten Kim terperanjat dan kaget setengah mati.

“Itu.. Nona Rossy Kang menghubungi anda di telphone line nomer 2” katanya ragu.

Jung Min menggertakan giginya sebelum menerima telphone dari wanita itu.

“Park Jung Min disini” katanya datar.

~~~~

Setelah tiba di depan rumah Ji Han, gadis itu menarik lengan baju Jung Nam dan berbisik padanya.

“Jung Nam.. Aku ingin minta tolong padamu...”

“Tolong.. rahasiakan tentang kecelakaanku di kolam renang.. Aku tak ingin mereka khawatir dengan keadaanku” sambungnya.

Ibunya sangat mengkhawatirkannya, dia bekerja di rumah keluarga Park pun karena ibunya tak ingin dia pulang malam dengan berjalan kaki karena menunggu jadwal bus menjemputnya.

Meski tak mengerti, Jung Nam mengangguk kecil. Mereka menghabiskan waktu bersenda gurau dengan ibu Ji Han. Wanita itu sangat bahagia melihat anaknya menjenguknya. Ketika Ji Jeong pulang dari kantornya, waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Namun mereka tak diizinkan untuk pulang sebelum menyantap makan malam bersama. Ji Han dan ibunya memasak di dapur sementara Jung Nam dan Ji Jeong mengobrol tentang pekerjaan mereka di pabrik.

“Jung Nam nampaknya tertarik padamu, Ji Han” kata ibunya padanya.

Pipi Ji Han merona. “Ah.. Ibu, mana mungkin” kelitnya.

“Tuh kan.. pipi mu merah. Kamu suka dia juga ya?” ibunya menggodanya.

Tapi yang terbayang dalam kepalanya bukanlah Jung Nam dengan senyumnya yang hangat, tapi wajah Jung Min dengan mata gelapnya yang dingin. Wajah laki-laki itu selalu mengganggunya meskipun dia tak ingin memikirkannya.

“Kalian hati-hati dijalan. Sudah malam sekali. Jung Nam, jaga adikku. Kalau ada apa-apa padanya aku akan menghajarmu” Ji Jeong mengancam dengan wajah menyeringai.

Mereka pun berpelukan untuk yang terakhir kalinya sebelum meninggalkan tempat itu.

“Jung Nam.. Kakakmu sudah pulang..” bisik Ji Han khawatir.

“Tak apa-apa. Paling dia sudah tidur” hiburnya. Entah mengapa dia merasa Ji Han takut pada kakaknya itu.

Namun tebakan Jung Nam salah, Raja Kegelapan telah menunggu mereka di teras depan. Wajahnya tersamar karena redupnya cahaya di teras. Ji Han bisa merasakan sorot mata laki-laki itu menatapnya tajam meskipun wajahnya tersembunyi di dalam kegelapan.

“Aku ingin berbicara denganmu.. Jung Nam” katanya pada adiknya. Dia pun berdiri kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya.

“Kamu tidurlah, sudah malam, kita akan bertemu besok lagi. Selamat Tidur Ji Han” Jung Nam mengecup pipi gadis itu tanpa izin. Dia pun berlari dengan wajah menyeringai. Menghindari pukulan yang mungkin dia dapat dari Ji Han karena telah mencuri sebuah ciuman darinya.

Dengan wajah memerah sembari menahan debar jantung di hatinya, Ji Han masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Di dalamnya dia menyentuh dadanya, mencoba menenangkan debar jantungnya yang bertalu-talu. Jung Nam menciumnya dan terasa bibir laki-laki itu hangat menyentuh pipinya. Ji Han meraba tempat yang Jung Nam cium tadi, dia tersenyum dan menari-nari dikamarnya. Gadis ini sedang dimabuk asmara.

5 comments:

  1. ji han please sadar yah,,,,,
    yg sayang n cinta mati itu jung min bukan jung nam....


    sekarang aku mau jitak kepalanya ji han....

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada yg ngamuk nih kl akhirnya jihan vs jungnam ^__^

      Delete
  2. tapi kalau ji han dan jung nam kayaknya cocok jugaa tuh yaaa

    ReplyDelete
  3. aisshhhhhhhh gag mau ah jihan ama jung nam

    ji min (jihan jung min) forever ever after ahahahahahah

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.