"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, December 6, 2012

Eight Drama - Chapter 18



“Kapan kamu kembali ke Incheon?” tanya Jung Min pada adiknya. Mereka duduk berhadap-hadapan dihalangi meja kerja milik Jung Min. Terlihat sorot memusuhi dari mata kakaknya.

“Minggu pagi aku akan kembali kesana. Kamu tahu, perjalanannya sangat jauh dan melelahkan” jawab Jung Nam.

“Kenapa tidak pakai mobil saja?” tanya Jung Min lagi sambil memutar-mutar pensil ditangannya.

“Mobil terlalu lambat. Dengan motorku, aku bisa sampai dalam waktu setengah hari” jawabnya.


“Hoo.. Kamu pulang malam sekali, kalian... tidak terjadi sesuatu kan?” tanyanya pada akhirnya. Inilah alasan sebenarnya dia memanggil adiknya ke dalam ruang kerjanya. Dia ingin mengorek apa saja yang mereka lakukan diluaran berdua.

“Oh, tidak. Kami menunggu Ji Jeong pulang dan dipaksa untuk makan malam disana. Kamu tahu, aku tak bisa menolak Ibu Sung” dia tertawa ringan tanpa menyadari maksud dibalik pertanyaan kakaknya.

Setelah perbincangan basa basi itu, Jung Nam pamit pada kakaknya untuk pergi ke kamarnya. Dia mengaku kelelahan setelah diluaran seharian dengan Ji Han.

“Aku pun akan kelelahan bila dipeluk seharian oleh gadis itu” kata Jung Min sinis setelah adiknya keluar dari ruang kerjanya. Dengan gemas dia mematahkan pensil yang dipegangnya sejak tadi.

Esok paginya Ji Han mengantarkan sarapan ke kamar Jung Min. Dia menoleh ke arah ranjang tempat Jung Min tidur, laki-laki itu tak terlihat di atasnya, bahkan ranjang itu terlihat rapi seolah Jung Min tak tidur disana semalam.

Cahaya matahari menyinari kamar itu, jendelanya terbuka dan tirai telah dipinggirkan.

“Dimanakah Jung Min” tanya Ji Han dalam hatinya.

Laki-laki itu selalu pintar bersembunyi dan mengejutkannya bila dia muncul. Seperti kali ini.

“Aku disini” suara Jung Min terdengar dari balik meja yang terletak di sudut gelap kamar yang tak tersentuh matahari. Laki-laki itu memperhatikan Ji Han mencari-carinya dengan matanya saat dia masuk.

Ji Han tersentak, dia tergagap dan meletakan nampan ditangannya dengan terburu-buru hingga jus jeruk di dalam gelas tumpah membasahi karpet dibawah.

Jung Min bangkit dari duduknya. Dia berjalan perlahan menghampiri Ji Han. Dia hanya memakai celana panjang hitam yang dipakainya semalam saat menungu kedatangan mereka di teras depan. Nampaknya laki-laki itu memang tak tidur semalaman.

“Maafkan saya” kata Ji Han buru-buru. Dia tak ingin laki-laki itu mendapat alasan lain untuk memarahinya.

“Ada apa dengan laki-laki ini dan emosinya yang meledak-ledak?” keluhnya dalam hati.

Saat jarak mereka hanya tinggal satu meter, Jung Min mengejutkannya dengan pertanyaannya.

“Kalian puas berduaan sehari-semalaman kemarin?” suaranya sungguh menakutkan. Bulu kuduk Ji Han berdiri memikirkan apa yang akan dia lakukan padanya.

“Mengapa itu menjadi urusannya, apa yang dia lakukan seharian dengan Jung Nam, bukanlah urusannya” pekik putus asa Ji Han dalam hati. dia tidak berani mengeluarkan suara di hadapan laki-laki ini.

“Saya permisi tuan” kata Ji Han cepat. Dia ingin berlalu dari kamar itu secepatnya.

Tapi tubuhnya ditangkap oleh Jung Min. laki-laki itu memeluknya erat dari belakang tubuhnya. Tangannya melingkar diatas dadanya, lehernya bertumpu pada pundak gadis itu.

“Jangan pergi.. Sebentar saja.. Biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku tak akan melakukan lebih dari ini” pintanya memohon. Suaranya memelas, untuk pertama kalinya dia memohon pada gadis itu.

Ji Han membatalkan niatnya untuk melepaskan diri dari pelukan Jung Min. Dia tersentuh oleh kata-kata laki-laki itu. Dia kembali teringat akan perkataan Jung In yang mengatakan bahwa Jung Min lah yang menolongnya dari kolam dengan melukai kakinya.

Dia merasa bersalah pada laki-laki itu. Bukannya melayaninya dengan baik, dia malah ingin pergi sejauh mungkin darinya. Bisakah dia membalas hutang budinya nanti pada Jung Min.

Hampir sepuluh menit mereka berpelukan. Ji Han merasa tubuhnya mulai kaku. Dengan sentuhan kecil pada tangan yang sedang memeluknya, Ji Han melepaskan dirinya dari pelukan Jung Min. laki- laki itu tidak memaksanya tinggal, dia dengan pasrah melepaskan pelukannya dari gadis itu. Kepalanya menunduk ke bawah seolah dia baru saja melepaskan separuh nyawanya dari pelukannya.

~~~~

“Jung Min sudah berangkat?” tanya Jung Nam pada ibunya. Mereka sedang menyantap sarapan pagi bersama.

“Sudah, dia bilang mau pulang besok sore. Dia harus terbang ke Taiwan siang ini, besok baru kembali” jawab ibunya sambil meminta selai strawberry dari Jung In yang duduk di depannya.

“Yah, kak Jung Min jalan-jalan ke Taiwan kok nggak ngajak-ngajak sih bu?” Jung In mulai merajuk pada ibunya.

“Hey anak bodoh. Kamu kira Jung Min bersenang-senang disana? Dia kerja tahu” kata Jung Nam pada adiknya. Dia menggetok kepala adiknya dengan pisau roti.

“Aduh!! Sakit tahu!!” teriaknya. Dia merenggut hingga makan pagi usai.

“Kakakmu pergi ke Taiwan dengan Rossy Kang” kata ibunya singkat. Dia tahu bagaimana reaksi Jung Nam mendengar nama keluarga Kang disebut-sebut.

“APA??!! Jadi.. jadi.. mereka benar-benar akan menikah??” katanya tak percaya.

Dia tahu kakaknya tidak tertarik dengan perjodohan konyol yang dibuat oleh ayah mereka dua puluh lima tahun yang lalu. Namun dia tak menyangka Jung Min akan menyetujui hal itu.

“Kakakmu tak ada pilihan. Kamu tahu apa yang bisa Mister Kang lakukan pada perusahaan kita bila kita tak menyetujui rencananya. Setidaknya dia mau mempertimbangkan untuk mencoba dan mundur bila mereka tak saling mencintai. Cukup adil menurut ibu” nyonya Park menggigit rotinya tak berselera.

“Tapi tetap saja.. Jadi kakak tak akan pernah membuat keputusan untuk dirinya sendiri? Semua hal dalam hidupnya diputuskan oleh ayah. Bahkan dia tak bisa memilih wanita yang akan dia nikahi?!” jung Nam memukul meja dengan kasar.

Dia sungguh membenci ide perjodohan itu. Dia tahu kakaknya sangat kesepian, sejak usia empat tahun dia sudah memikul beban perusahaan dipundaknya, dengan menjadi ahli waris PKM Industry & Co sesuai pengharapan ayahnya.

Dia bahkan tak boleh memilih siapa saja yang bisa menjadi temannya. Ayah mereka telah mengatur semua itu untuknya. Dia tak pernah memutuskan apa yang terbaik untuknya, karena bagi ayah mereka, keputusannya lah yang terbaik untuk anaknya.

Tapi itu hanya berlaku untuk Jung Min. Ayah mereka menggemblengnya dengan keras. Menjejalkan semua pikiran dan siasat pada kepala kakaknya. Bahwa semua manusia di dunia akan memanfaatkannya saat mereka dekat dengannya. Bahwa Jung Min harus berhati-hati terutama dengan wanita yang akan dia pilih menjadi pendamping hidupnya.

Dan ayahnya pun telah memilihkan “hal itu” untuknya.

“Berdoa saja kakakmu menyukainya. Rossy adalah wanita yang didambakan semua laki-laki. Dia cantik, pintar dan kaya. Wanita seperti apalagi yang bisa diharapkan oleh kakakmu sebagai pendampingnya selain Rossy?” jawab nyonya Park tak acuh.

Dia tak ingin membicarakan tentang perjodohan Jung Min dengan Rossy Kang karena dia tahu Jung Min dan adiknya Jung Nam sangat menentang perjodohan itu.

Mereka terdiam sambil larut dalam pikiran masing-masing. Setelah sarapan pagi usai, Jung Nam mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi tanpa memberitahukan tujuannya. Dia nampak frustasi memikirkan nasib kakaknya. Meski mereka sering berselisih pendapat, tapi dia sangat menyayangi kakaknya itu.

~~~~

“Aku tak menyangka kamu akan setuju sekamar denganku” kata Rossy Kang dari sofa tempat duduknya.

“Jangan salah paham. Aku setuju hanya karena semua suite telah habis dibooking. Perjalanan kali ini hanya bisnis. Bisnis” katanya menjelaskan.

Jung Min sedang membaca kertas-kertas perjanjian kerjasama dengan kliennya di Taiwan. Mereka akan membuka pabrik baru di negeri itu.

“Lalu.. kapan kita akan memiliki perjalanan yang bukan bisnis, Jung Min?” Rossy menghampirinya, tangan wanita itu masuk ke dalam kemeja Jung Min yang setengah terkancing.

Tangannya bermain di dalam sana. Jung Min hanya bisa memejamkan matanya, dia merasa terganggu dengan parfum wanita itu. Memabukan kepalanya. Kini wanita itu telah menyandarkan kepala Jung Min pada dadanya. Menopang kepalanya hingga dia bisa merasakan kelembutan tubuh Rossy dibelakangnya.

8 comments:

  1. ahh, tanggung hihihi
    trims mbk shin *peluk*

    ReplyDelete
  2. mba shin,,,,,

    gini ya rossy itu sebenernya penyuka sesama jenis,,,
    dia merayu jung min cm untuk buktiin sama dirinya sendiri kalo dia bs suka sama cowo hehehhe

    dia juga gak mau ortunya tau kalo dia lesbi
    takut gak diaku anak

    hehehehehe



    kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha boleh jg idemu sist. tp kok km tahu sist?? jangan2...kalian... :kaget:

      Delete
  3. mba Shinnnnn,,,aq nemu....

    dchapter 18 ternyata...

    ReplyDelete
  4. pertama kali baca.. tapi udah penasaran *telat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayooo penasaran sama apanya nihhhh??? :v

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.